
Bullying, perilaku agresif disengaja yang menggunakan ketidakseimbangan kekuasaan atau kekuatan. Pelaku biasanya menggunakan jumlah untuk menyudutkan salah satu korbannya.
Aku tidak mengerti apa yang dibanggakan dari perilaku tersebut. Tapi, ternyata si pelaku bisa mengajak orang di sekitar untuk melakukan bullying bersama. Orang yang diajak dan menjadi anak buah biasanya hanya ingin mendapatkan posisi aman. Terhindar dari kemungkinan menjadi korban, layaknya menjadi perokok aktif untuk tidak menjadi perokok pasif.
“...”
Setelah mendengar kata bullying di mulutku. Wajah Pero berubah, wanita gagak yang semula mengeluarkan aura dewasa nan santai kini berubah menjadi tajam. Kedua tangannya saling menggenggam, diangkat sejajar mulut dengan sikut menyentuh meja. Pose dan wajahnya mirip seperti penanya serius di wawancara kerja.
“Tadi ... kamu bilang bully?”
Aku menatap wajah wanita itu dengan mantap, lalu dengan perlahan mengangguk menjawab pertanyaannya.
“Kenapa kamu menanyakan ini padaku?” lanjutnya bertanya.
“Aku butuh referensi. Kalau benar burung gagak itu pintar, mungkin saja mereka bisa mengatasi hal ini.”
Pero menatapku kembali. Dia kembali terdiam sambil sesekali melihat ke sekeliling.
“Apa korbannya perempuan?” katanya dengan serius sambil menyipitkan mata.
“... Iya.”
Aku bisa pastikan dia bukan laki-laki. Terlihat jelas dari bentuk tubuhnya, Imarine adalah seorang perempuan.
“Kalau begitu pelakunya harus mati.”
“... Ha!?” ucapku dengan wajah kaget dan bingung.
“Gunakan paruh kalian— ah, tapi kalian gak punya, yah. Hmn ..., kalian lebih nyaman seperti apa? Menggigit ... atau memukul orang sampai mati?”
Woi, woi ... tunggu sebentar.
“Ini bercanda, ‘kan? Kenapa tiba-tiba jadi pembunuhan?”
“Ivan, jika kamu tanya aku, itulah jawabanku. Kami burung gagak punya aturan keras di koloni. Hakim gagak pasti menyuruh gagak terdakwa kekerasan pada gagak betina untuk mati. Aku pernah melihatnya, dan memang hakim di koloniku waktu itu mengharuskan semua gagak melihat. Detik-detik gagak terdakwa dipatuki sampai mati.”
Ini sangat jauh dengan apa yang kuperkirakan sebelumnya. Memang benar Pero memiliki pribadi bijaksana dan entah kenapa aku serasa bicara dengan orang pintar.
“...”
Tapi, tetap ini tidak mengubah kenyataan kalau sebenarnya wanita di depanku bukanlah manusia. Dia punya riwayat hidup yang berbeda, cara hidup yang berbeda, dan tentu saja aturan yang berbeda. Tidak mungkin aku menggunakan saran ini sekarang.
“Aku tahu ... kamu pasti tidak menerimanya, ‘kan? Aku adalah burung gagak, aku menjadi animus karena ingin menjadi manusia. Sampai sekarang aku masih tidak mengerti seluruh hati nurani manusia, oleh sebab itu kami butuh users untuk mengumpulkan mana pecahan emosi.”
Baiklah, jadi menanyakan solusi pengobatan luka hati pada Pero itu tidaklah berguna. Dia tidak punya sudut pandang sebagai manusia seutuhnya.
“Untuk memahami perasaan manusia, gunakan manusia itu sendiri,” gumamku di setelah mendengar ocehan Pero sebelumnya.
“Yah, benar,” jawab wanita mengangguk. “Mungkin sampai di sini saja. Waktuku benar-benar habis hari ini.”
“Oke, terima kasih. Aku bakal datang lagi kalau ada pertanyaan.”
Pero mulai memutar kursinya membelakangiku.
“Ah ... ada satu lagi,” ucap wanita itu tanpa melirik. “Aku tidak bohong soal hukuman yang diberikan ketika menyakiti perempuan. Jadi, Ivan,” tekannya dengan sedikit sinis. “Jangan sampai itu terjadi pada Lia.”
Amalia bukan burung gagak, tapi Pero menganggap dia sebagai bagian dari keluarganya. Ancaman yang dia keluarkan itu sungguhan, aku dapat merasakannya emosi ancaman darinya.
“Ho ... jadi kamu punya kemampuan untuk membunuhku? Dengan paruh dan cakar burung gagak?” jawabku yang berusaha tidak terbawa.
“Burung gagak juga pendendam. Kami bisa mengingat wajah manusia, bisa membedakan mana orang yang berperilaku baik dan mana yang tidak. Sama seperti manusia, cakar dan paruh bukan satu-satunya senjata," kata Pero dengan sedikit menggertak. "Intinya, aku tidak tahu cara apa yang kulakukan nanti ketika kamu menyakiti Lia.”
Jadi, apa itu artinya dia akan mencari cara lain untuk menyiksaku secara perlahan? Ahaha ... cukup menyeramkan.
“Tenang ... aku tidak akan melakukannya.”
Lagi pula aku juga tidak diizinkan oleh kemampuanku sendiri untuk melakukan itu. Baik luka fisik maupun mental, keduanya akan memberikan efek balik padaku. Aku tidak akan melakukan hal buruk pada orang yang memberikan rasa sakit kepala klaster seperti istirahat hari ini.
*Posh.
Kebul asap yang muncul menutupi perubahan Pero kembali menjadi burung gagak. Aku sedikit penasaran apakah dia aku bisa berkomunikasi dengannya saat dalam wujud burung, tapi hal itu tidak akan kutanyakan sekarang.
__ADS_1
Suasana menjadi sepi, Pero yang dalam wujud gagaknya terbang dan masuk ke ruangan lebih dalam lewat celah udara di atas pintu.
“Amalia ... kamu di sana, ‘kan?”
Aku merasakan gelombang emosi mendekat.
“Tunggu, jangan ke sini dulu,” ucap susulku untuk mencegahnya. “Aku cuman mau bilang kalau aku bakal pulang sendiri nanti. Dan untuk di sekolah, aku tetap bakal jaga jarak. Jadi, bisa kasih nomor telepon biar kita lebih gampang ngobrolnya?”
Beberapa saat aku menunggu, tapi Amalia tidak menjawab.
Yah ... tentu saja karena dia bisu, dia tidak bisa menjawab.
Aku mundur beberapa langkah untuk mendapat jarak aman, memanggil Amalia untuk keluar, dan kemudian meminta nomor teleponnya dengan cara kertas jarak jauh. Teknik komunikasi yang sebelumnya kami lakukan di perjalanan hari ini.
Setelah semua urusan beres, aku menyakukan kertas bertuliskan nomor telepon dan pulang menuju rumah.
***
Hari ini aku pulang cukup larut. Perjalanan menuju tempat Pero dan segala urusannya ternyata memakan cukup banyak waktu. Walaupun dari semua itu, yang membuat lama mungkin tindakan Amalia dengan kertas catatannya.
Sekarang aku sudah sampai di belakang rumah. Dari sini aku bisa merasakan aroma makanan yang sedang dimasak. Terlihat dari bayang-bayang jendela kalau memang ada yang sedang menggunakan dapur.
Tentu saja itu kakakku.
Aku membuka pintu belakang, masuk setelah menaruh sepatu pada tempatnya.
“Van ... pas banget kamu datang. Bisa bantuin kakak sebentar?”
Sebenarnya aku merasa lelah setelah banyak yang terjadi hari ini. Hari yang melelahkan lain, dan begitu aku berpikir bisa bersantai, orang di depanku malah memberi pekerjaan tambahan.
“Bantu apa?”
Tapi, aku tidak ingin menolak. Tidak setiap hari dia meminta bantuan, dan jika aku menolak ketika melakukannya, gadis itu akan mengeluarkan emosi negatif. Salah satu dari kelemahanku.
“Kakak lagi masak perkedel, kamu bantu hancurin kentangnya, yah.”
“Oh ... oke, tapi entar, ganti baju dulu di atas.”
Setelah menggunakan baju santai, aku kembali ke dapur untuk membantu kakakku. Menu kali ini perkedel kentang, dia sudah selesai menggoreng, jadi tugasku adalah melumatkannya bersama dengan bumbu.
“Sekolah kamu bagaimana, Van?”
Kakakku sekarang sedang mempersiapkan bahan tumis kangkung sebagai lauk tambahan. Aku di sini hanya membantu, koki utama tetaplah gadis tersebut. Jadi, ketika aku tengah melumatkan kentang, dia dengan inisiatifnya mencampurkan adonan itu dengan bumbu-bumbu pilihannya.
“Sekolah? Rasanya luar biasa, Kak. Sangat menyenangkan bagai taman mimpi. Gurunya baik kasih charger ilmu sampai ke rumah, terus teman-temannya perhatian saling bantu waktu ujian.” Ucapku dengan datar.
“Kenapa kamu selalu lebay waktu ditanya kayak gitu?”
“Kakak tahu jawabannya juga buat apa tanya? Sekolahku gak berubah, begitu-begitu saja.”
Aku selesai melumatkan kentangnya. Lalu bersiap ke tahap selanjutnya untuk membentuknya bulat-bulat.
“Stop, Ivan. Kakak saja yang bikin buletnya. Kalau sama kamu bikinnya suka besar-besar.”
“...”
Apa boleh buat, tanganku lebih besar darinya. Walaupun diperingatkan untuk memperkecilnya, entah kenapa aku tetap kembali pada bentuk awal yang kata dia besar.
Dari sana kak Dina mengambil alih. Sebagai gantinya dia memberiku tugas lain berupa memotong bawang sebagai bumbu tumis kangkung.
“Terus, kamu di sekolah sudah punya pacar?”
Mendesak kembali kak Dina membawa percakapan ke arah kehidupan pribadiku.
“Kalaupun punya, buat apa aku kasih tahu,” ucapku sambil memotong bawang.
“Hmn ... jadi kamu gak punya, ya,” jawabnya yang tengah membentuk adonan perkedel kentang.
“...”
Sebenarnya aku tidak peduli dengan tidak atau punyanya seorang pacar. Hanya saja, aku merasa kesal ketika ada orang yang bersimpati karena aku tidak memilikinya.
__ADS_1
“Dari mana kakak simpulin itu? Aku gak bilang kalau aku gak punya.”
“Orang punya pacar buat dipamerin, Van. Kalau kamu rahasiain, itu artinya hubungan kamu terlarang, cuman iseng, atau malah memang sebenarnya gak punya.”
“Dan kenapa aku masuk ke pilihan terakhir?”
“Pilihan pertama dan kedua kayaknya gak mungkin. Terus, waktu kita ngobrol, kamu sampai sedih ngeluarin air mata.”
*Srkhk ....
Aku menghisap udara di hidung dengan keras, membuat lendir yang menyangkut kembali masuk ke dalam. Dan dilanjut dengan mengelap daerah sekitar mata dengan lengan baju. Untuk penegasan, walaupun semua orang pasti tahu ....
“Ini air mata gara-gara bawang.”
“Ahaha ... iya, iya ....”
“...”
Berisik. Aku kesal dengan nada dan gelombang emosi yang bersimpatinya itu.
“Ah.”
*Plok.
Hn?
Aku melirik ke arah kakakku di samping. Tangan gadis itu berhenti bergerak, dia tidak sedang membentuk adonan. Arah pandangannya tidak melihat ke loyang, melainkan lebih bawah menuju telapak kakinya.
"..."
Mengikuti arah matanya, aku sadar dengan apa yang terjadi. Suara misterius barusan ternyata adalah adonan perkedel kentang yang terjatuh ke lantai akibat keteledoran si pembuat.
“Sip, yang satu itu punya kamu ya, Van,” ucap kak Dina dengan santai.
“Woi, buang saja kenapa!?” jawabku sedikit kesal.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya tugas asisten dapurku pun selesai. Selebihnya hanya tinggal pekerjaan ringan yang bisa ditangani sendiri. Aku sekarang berganti tugas menjadi tukang bersih-bersih.
“Kakak suka tanya pacar-pacar terus. Memangnya kakak sendiri punya?”
“Ehehe ...” Kak Dina yang terkekeh sedikit. “Kakak sekarang sudah punya pacar, donk. Hebat, ‘kan?”
“...”
Aku sedikit terkejut dengan ucapan kakakku. Bukan karena ucapannya yang tiba-tiba, melainkan sesuatu yang lain.
Hn? Apa ini?
“Dari kapan kakak sudah punya pacar?”
Bersamaan dengan kalimat yang keluar, dia ternyata tidak berbohong. Tapi ....
“Baru kemarin, kok.”
Ada sedikit kejanggalan di gelombang emosinya. Aku tidak merasakan rasa manis dari emosi jatuh cinta. Memang benar ada perasaan bahagia, tapi waktu satu hari setelah hari jadi seharusnya masih meninggalkan rasa manis di gelombang emosinya.
"..."
Ah, masa bodoh.
Aku tidak peduli dia berpacaran demi uang atau janji tunangan yang tidak didasarkan cinta. Itu tidak berpengaruh dalam hidupku.
****
__ADS_1