Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 5 - Saksi Mata


__ADS_3

Kami bertiga masuk ke kamar yang dipesan, tempat itu ada di lantai tiga di gedung berjumlah empat lantai. Interior hotel tersebut tidak mewah, lebih mirip seperti rumah besar yang kebetulan dijadikan hotel. Aku tidak terkejut, mengingat kalau hotel ini tidak menyandang gelar bintang satu pun.


Di dalam kamar aku disuguhi dua kasur terpisah. Memang benar kalau ruangan ini dipesan untuk tiga orang. Tapi, setelah melihat ini aku mulai mengira bagaimana mereka akan menempatinya.


Apakah menggunakan kasur masing-masing dan meninggalkanku di lantai, atau menggunakan satu kasur untuk Amalia dan Pero berdua dan ditinggal satu untukku?


Aku tidak keberatan untuk pilihan itu. Lagipula tidur di lantai hal yang wajar ketika seorang tamu berlebih memilih untuk menginap. Terutama untuk kaum laki-laki.


"Amalia, Pero, aku mandi duluan. Jadi, kalian tunggu di kasur kalau mau pakai kamar mandinya," ucapku sesegera mungkin menancapkan posisi tersebut.


"Hmn ...? Kaivan, bukankah manusia juga punya sedikit prioritas dan kehormatan pada seorang wanita?" tanya Pero di samping di depan yang sedang membantu menaruh dan membereskan barang.


"Apa burung gagak perlu mandi? Kenapa gak berubah jadi gagak dan bersihkan badan pake semprot setrika?"


"Hmn ... Sebenarnya pilihan itu memang benar ada. Terlebih, dulu aku masih melakukannya," jawab Pero sambil memiringkan pandangan.


"Hn?"


Tidak kusangka dia akan membalas ucapan setengah candaku dengan serius.


"Terukir di ingatan bagaimana Amalia memandikanku kala itu. Tapi, karena aku punya bentuk manusia, dia pun akhirnya mengajariku mandi menggunakan sabun. Sampai sekarang aku merasa mandi dengan metode manusia jauh lebih nyaman."


"..."


Hmn ....


Aku sedikit berpikir, menganalisis pendapat dan juga keadaan yang terjadi pada percakapan tersebut. Sampai akhirnya aku menemukan titik terang bagaimana aku harus menanggapi.


"Pero," panggilku dengan nada serius. "Bisa ceritakan padaku detailnya bagaimana Amalia mengajarimu mandi."


"Detailnya? Hmn ... waktu itu Amalia sedikit takut masuk kamar mandi di rumahku. Mungkin karena rumah itu tua, lalu dia mengajakku mandi bersama. Karena bentuk gagak tidak mengobati rasa takutnya, jadi aku menggunakan bentuk manusia dan– Hmn!?"


*Whoush ....


Di sisi lain, ada Amalia yang menghentikan Pero untuk bicara. Gadis itu menutup mulut, membuat wajah panik, dan gesture serta tenaga seolah sedang mengancam partnernya tersebut.


Aku yang berdiri di sekitar jalan masuk tentu melihat Amalia yang berada di kamar sebelumnya. Justru, dari awal ketika dia mendengar pertanyaan dan sedikit kaget, aku sudah melihatnya.


Efek bisu membuat dia tidak bisa berteriak berhenti dari kejauhan, gesture-nya terkadang tidak tersampaikan jika tidak dilihat. Artinya, aku melihat tindakan dia yang bergerak panik menuju Pero kala itu, walau sedikit cerita bisa kutangkap dari kalimat awal yang sempat Pero ucapkan.


"Huft ... Hah ...," hela napasku menghindar dari kejadian. "Pokoknya aku pakai kamar mandi duluan, sesudahnya kalian bisa pakai sepuasnya. Dan soal keamanan, waktu kalian mandi aku bakal pergi keluar. Jadi, gak usah panik atau curiga."


"..."


Pandangan Amalia berubah ke arahku, fokusnya yang tadi sedang membungkam Pero pun terhenti. Mata dan wajahnya seakan berkata kalau dia ingin mendengarku lebih jelas.


Aku kala itu sedang mengambil barang dan pakaian ganti, persiapan untuk ke kamar mandi. Tapi, sebelum masuk ke ruangan tersebut, aku kembali menoleh dan bicara pada Amalia.


"Aku keluar karena memang mau keluar. Bukan cuman biar kamu tenang, Amalia," ucapku dengan nada lembut, gelombang emosi yang sepertinya timbul dari rasa sungkan dapat terasa di lidah. "Jadi, kalian bebas mau main air atau teriak-teriak di kamar mandi. Aku gak akan dengar waktu kalian mandi bareng nanti," lalu dilanjut dengan nada sinis sedikit canda.


*Whoush ....


Setelah kalimat itu keluar, aku pun segera masuk ke kamar mandi.


*Throw ....


Buk!!


Terdengar suara benda terlempar, dari waktu dan gelombang emosi sebelumnya, sudah dipastikan itu berasal dari Amalia. Dia yang tidak bisa bicara hanya bisa mengungkapkan ekspresi dari tindakannya. Oleh sebab itu belakangan gadis tersebut mulai jadi kasar padaku, ternyata bisu juga bisa mengubah pribadi seseorang.


****


Rasanya sedikit asing juga. Ketika aku menggunakan kamar mandi selain di rumah untuk kegiatan privasi tingkat lanjut seperti mandi, keamanan yang ada di hati entah kenapa tidak tertanam dengan baik. Mungkin ini juga disebabkan oleh kehidupanku yang tidak pernah berpindah rumah dan meminimalisir kegiatan menginap.


Tubuhku sudah bugar kembali, rasa lelah dan letih seakan larut bersama keringat yang terbasuh saat mandi. Aku mengganti pakaian di dalam kamar mandi, seluruh kegiatanku dilakukan secara privasi. Jadi, saat keluar kamar di mana ada dua orang perempuan, aku tidak kerepotan sama sekali.


“Amalia, Pero ... aku bakal keluar sekitar satu jam, Tapi sebelumnya ...,” ucapku sambil mengganti arah fokus pada Pero di sudut ruangan. “Sampai sekarang ada tanda dari si penyusup yang kamu bilang?”

__ADS_1


“Belum ada,” jawab Pero sambil menggeleng.


“Heh, aku mulai curiga kalau ini semua mungkin perjalanan sia-sia.”


“Tenang ... aku yakin kita ada di tempat yang tepat. Jarak radius dari hotel ini sangat strategis untuk mendeteksi sinyal anomali dari batas sihir wilayahku. Aku sudah bilang kalau dia aktif malam hari, masih ada sekitar lima jam lagi sebelum jam dua. Jadi, kamu bebas mau istirahat atau ke luar dulu.”


“Hmn ...,” responsku menaruh tangan di dagu. “Oke, aku pergi dulu. Kalau semisal ada sesuatu, panggil aku. Atau ... pakai saja HP Amalia. Aku gak bakal jauh-jauh.”


*Ceklek


Aku berjalan dari hotel menuju daerah luar, melangkah melewati area parkir dan terus ‘tak berhenti hingga sampai di salah satu wilayah umum.


Tempat yang kutuju adalah di mana daerah-daerah yang biasa dipakai pedagang kecil. Aneka-aneka jajanan malam yang khas seperti minuman hangat, kuliner unik, dan beberapa barang lain non kuliner seperti pakaian dan mainan. Mereka semua meramaikan dan membuat malam tersebut penuh gerlap-gerlap ramai kegiatan masyarakat. Memang bukan tempat wisata yang ramai, tapi daerah yang kutempati ini setidaknya punya warnanya sendiri.


Aku ke tempat tersebut bukan untuk berbelanja, hanya sekadar memuaskan hasrat mata yang kebetulan kala itu juga aku tidak bisa diam di kamar hotel.


Perjalananku di sana cukup singkat, hanya membeli satu minuman hangat rempah-rempah pedagang kecil dan selanjutnya pergi menjauh. Tentu semua itu juga kembali lagi pada kekuatan deteksi emosi, terlalu lama juga tidak akan membuat baik pada kesehatan mentalku.


Waktu baru berjalan sekitar tiga puluh menit, sisa waktunya mungkin akan kuhabiskan dengan duduk santai. Kali ini aku menuju minimarket, setelah berjalan beberapa menit, kembali aku ingin merasakan suhu dingin AC di sana.


Minimarket bukan tempat yang langka, bahkan untuk di wilayah yang kudatangi sekarang. Jadi, tidak ada jarak jauh antara tempat daerah perdagangan dengan minimarket tersebut.


Di sana aku masuk dan membeli beberapa camilan, duduk di tempat yang disediakan sambil sesekali memainkan ponsel. Ketika aku dalam keadaan seperti ini, sendiri tidak ada kegiatan berarti, menghabiskan waktu dalam ketidakbergunaan, dan merasakan waktu berjalan lambat, itu semua membuatku kembali berpikir arti dari aku hidup.


“Huft ... hah ....”


Hela napas panjang kuhirup, membuat dadaku mengembang sekitar satu senti karena banyaknya udara. Tapi ....


“Hn?”


Aku merasakan hal yang berbeda dari biasanya. Sesuatu yang tidak asing menyengat hidung dan mulutku.


“Ini ... gelombang emosi ....”


Tepatnya gelombang tersebut berbau busuk layaknya sampah, ini mengingatkanku pada Imarine dengan aroma sampah organiknya. Tapi, tidak seperti gadis tersebut, apa yang kurasakan sekarang lebih murni seperti bau bangkai.


Ini mungkin kesempatan, aku punya kesempatan untuk menemukan orang yang dihisap mana-nya lagi selain di sekolah. Kalau dipikir-pikir, memang seharusnya aku berkelana mencari orang seperti itu dibanding setiap hari menunggu siswa-siswa menimbulkan gejalanya. Ini jauh lebih efektif dibanding hanya mengandalkan satu area kecil seperti sekolahku.


Aku berdiri dari tempat duduk di depan minimarket, berjalan perlahan mengikuti arah dari sumber gelombang emosi tersebut. Dari kepekatan aroma yang kurasakan, sumber itu masih cukup jauh.


Pada saat itu kekuatanku digunakan lagi seperti metal detektor, menggunakan sinyal gelombang emosi untuk menemukan seseorang layaknya aku yang mencari Imarine di sekolah, hanya saja kali ini skalanya lebih besar. Dari arah minimarket, aku berjalan semakin menjauh dari keramaian yang sumbernya wilayah perdagangan sebelumnya. Ini membuat langkahku terus melaju ke suatu tempat sepi di mana lampu semakin sedikit.


Gelombang emosi tersebut semakin kuat, aku berjalan dan semakin lama semakin keras kepekatan aromanya. Sampai tepat di mana aku menemukan sebuah area kosong dengan banyak tumbuh-tumbuhan tinggi menutupinya.


Daerah tersebut tidak memiliki akses jalan, layaknya tanah kosong ‘tak terurus tidak ada yang punya. Tidak ada lampu, jika mataku tidak membiasakan diri, apa yang kulihat hanyalah kegelapan. Sempat terpikir kalau apa yang kucium adalah aroma bangkai sungguhan, tapi semua itu dipatahkan dengan cara simpel menutup hidung. Kemampuan deteksi emosiku tidak bisa dinonaktifkan hanya dengan menutup indra tersebut.


Tumbuhan-tumbuhan yang membentuk semak aku sikap satu persatu, tanah-tanah yang memiliki ketinggian beragam juga aku langkahi terus. Keadaan di mana tempat yang kurang terjamah memang memiliki medan tersendiri, aku perlu mengeluarkan sedikit tenaga dan fokus agar tidak terjatuh atau bahkan sekadar membuka jalan.


Sampai pada saat terakhir, sikap sebuah ranting daun tebal menghalangi, aku melihat sesuatu yang cukup mengejutkan. Di ujung penglihatan terdapat seseorang bertubuh kecil, tenggelam dalam kegelapan sedang membelakangiku dan berhadapan dengan satu orang lainnya.


“Hh!?”


Aku tidak mengerti kondisinya, tapi satu yang membuatku kaget adalah kejadian yang terjadi selanjutnya.


*Shine


Cahaya-cahaya terang yang semula tidak ada mendadak keluar, berwarna putih kebiruan sangat menyilaukan mataku yang sudah terbiasa melihat gelap. Efek tersebut membuatku memicingkan mata, menutup bagian tersebut dengan lengan untuk mengurangi cahaya masuk. Tapi, tetap saja hal tersebut membuatku buta sesaat tidak tahan untuk menutup penglihatan.


Tidak hanya itu, suara-suara layaknya mesin plasma juga mengotori lingkungan sekitar. Memang tidak separah cahaya yang benar-benar memblokir mata, tapi itu cukup untuk membuatku ingin menutup telinga karena bising—walaupun pada dasarnya tanganku lebih ditempatkan untuk menutup mata.


“... Permohonanmu, aku kabulkan ....”


Huh? Permohonan?


Aku mendengar suara, tidak terlalu berat dan bernada cukup tinggi layaknya anak kecil menggunakan logat dewasa. Dalam keadaan mata memicing, aku hanya bisa mengetahui arah suara tersebut, yaitu ada tepat di sumber cahaya sekarang.


Rasa penasaran terus muncul, aku pun mulai memberanikan dan memaksakan diri untuk melihat apa yang terjadi di depanku. Tapi ....

__ADS_1


Grek!!


Stank!!


Suara keras tumbukan besi, menggelegar ke seluruh permukaan atmosfer hingga dentingannya berubah menjadi suara ledakan. Aku tidak dapat memperkirakan penyebab suara tersebut terjadi, tapi getaran udara akibat sentak benda tersebut bahkan terasa sampai angin-angin sekitar menghembus pakaianku.


Whoush ....


“Ghuak!!?”


Tapi, tetap hal yang paling berpengaruh dan menimbulkan efek bukanlah sesuatu seperti fisik. Apa yang kurasakan dan apa yang menjadi batas nilai adalah sesuatu yang pasti di indra ke enamku ini.


Gelombang emosi ....


Bukan depresi berbau busuk, bukan kemarahan berasa pedas, bukan ketakutan berasa dingin, atau emosi-emosi berwarna lainnya yang biasa mewarnai hidupku. Kali ini lebih ke arah yang sangat tajam menusuk seluruh indraku secara bersamaan ... rasa sakit.


Sakit, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit, sakit ... sakit ...!! Aa-a-a-aaaAAaakh ...!!


Mataku terbakar, tertusuk layaknya oleh banyak jarum sekaligus. Gigi dan gusiku ngilu, layaknya setiap gores pisau gergaji operasi mengikisnya. Gendang telingaku terasa penuh berdengung-dengung, layaknya ada hantaman udara kuat telah meledak di dalam tengkorak.


Aku ingin berteriak, rasa sakit ini begitu luar biasa sampai-sampai tubuh dan sarafku bingung bagaimana cara untuk melanjutkan sinyal tersebut.


Paru-paruku berhenti, membeku layaknya otot di sana membeku. Aku tidak merasakan detak jantungku, setiap ruas tubuh rasanya kaku mereset semua menjadi keadaan nol. Kesadaranku mulai hilang, mata berkunang-kunang, dan tenaga di kaku mulai runtuh.


Bruk ....


Layaknya sedang bermimpi, mataku masih bisa melihat kabur apa yang terjadi dalam keadaan terbaring di tanah. Napasku tidak terasa, setiap sel aerob mulai mengganti posisi menjadi anaerob akibat darurat oksigen. Darah-darahku mulai teracuni, asam laktat timbul hingga menimbul rasa keadaan genting lain di sekujur tubuh.


“... Hn? Ada orang ...?”


Kembali aku mendengar suara tinggi dari anak kecil tersebut. Sepertinya dia sadar dengan keberadaanku dan mulai berjalan mendekat.


“... Saksi mata, iya ...? Hmn ... kenapa dia pingsan?” kata anak kecil itu sekali lagi.


“... Entahlah, mungkin dia kaget ketika melihat apa yang tuan lakukan.”


E-eh ...? Orang lain? Suara siapa? Tuan ...?


Aku berusaha menjaga kesadaran, tapi tetap saja konsentrasiku benar-benar terganggu karena sel otak yang sudah sebagian besar terganggu. Dalam keadaan memegangi kepala dan dada, aku terus menahan rasa sakit dalam keadaan berbaring layaknya orang yang tiba-tiba kambuh penyakit stroke atau serangan jantung.


“... Kalau begitu harus diapakan dia?”


“... Sepertinya organ dalamnya rusak karena shock, tanpa perawatan dia akan mati dengan sendirinya. Apa tuan ingin menyelamatkannya?”


“... Menyelamatkannya? Kenapa?”


“... Dengan kerusakan seperti ini dia mungkin akan tersiksa dalam waktu lama sebelum mati. Tuan mungkin tahu maksudnya?”


“... Mati, iya ... kalau begitu mungkin tidak ada pilihan lain.”


“...”


“...”


“...”


“...”


Mati?


Aku sudah tidak kuat menahan penglihatan untuk terbuka, kelopak mata yang terbentuk dari selembar kulit itu semakin lama semakin berat ditahan. Begitu mereka semua menutup, aku pun mulai kehilangan kesadaran. Semua menjadi gelap, dan telingaku juga seketika menghening.


 


 


*****

__ADS_1


 


 


__ADS_2