
Dugaanku yang semula orang tersebut hanya bermain awalnya hanya pemikiran sekilas. Dia mungkin hanya sedang mengerjaiku untuk memancing amarah atau mungkin sekadar mengecoh agar pikiranku tidak bisa fokus.
Pasalnya, penampilan dia jauh dari kata orang yang humoris. Badan tinggi, berjubah hitam, memakai topeng dengan corak mengerikan, dan tentu dirinya yang bicara menggunakan suara serak kasar. Ciri-ciri tersebut membuatku membuang kemungkinan awal tersebut. Tapi ....
“Bermain game?” ucap ulangku bertanya memastikan.
Kali ini malah dia sendiri yang membuatku menarik kesimpulan seperti ini. Orang tersebut secara terang-terangan menawarkanku untuk masuk dalam permainan.
“Iya, permainan.”
“Kenapa topiknya jadi melenceng ke arah sana?”
“Tidak juga, ini masih dalam satu bahasan yang sama. Jalur pembicaraan ini sangat mudah, Kamu hanya perlu menerima tawaran permainanku dan memainkan taruhan di dalamnya. Jika aku menang, aku punya hak wilayah di sini. Jika kamu menang, aku akan pergi dan membebaskanmu tanpa meninggalkan apa pun. Akhir dalam game akan mempengaruhi kondisi masing-masing. Bagaimana?”
“Hmn ... apa yang terjadi kalau aku menolaknya tawaran permainan itu?”
“Tidak ada, kalian hanya akan diusir dari sini dan dicoret dalam daftar tamu. Aku akan melakukan hal yang kulakukan, dan kamu tidak akan bisa mengganggu tanpa mengangkat pisaumu untuk berperang. Artinya, jika kamu ingin mengakhiri dengan damai, ini adalah kesempatan terakhir.”
“...”
Begitu, iya.
Jadi, tawaran ini juga membahas tentang posisiku di mata dia. Jika aku mengambilnya, itu berarti aku akan menerima permintaan negosiasinya. Secara tidak langsung, aku dan dia menerima penyelesaian tanpa darah.
Begitu pun sebaliknya. Aku yang menolak game artinya tidak ingin berurusan dengan orang ini. Aku mungkin bisa keluar tanpa masalah, tapi aku secara bersamaan telah menutup hati padanya. Secara tidak langsung, aku dan dia tidak boleh berurusan kembali. Jika suatu saat terjadi persinggungan baik sengaja maupun tidak sengaja, maka aku dan dia akan menjadi musuh.
“Bagaimana?” kembali tanya orang itu dengan khas suara seraknya.
Mungkin ini adalah kesempatan emasku, kelihaiannya mengendalikan situasi bahkan sudah pada tingkat dapat mengetahui apa yang kumau. Tapi ....
“Entahlah.”
Aku menjawab pasif pertanyaan tersebut.
“Ada apa? Bukankah ini tujuanmu dari awal?”
“Sebenarnya bukan itu. Memang benar aku punya tujuan buat mengakhiri tanpa kekerasan. Tapi, pilihan buat tolak game ini lebih menggiurkan. Aku akan dilepas dan cuman dilarang buat gak ganggu kamu lagi, ‘kan? Itu lebih baik dari pada harus menaruh usaha hanya karena gak mau bertetangga dengan animus.”
Aku tidak tahu game apa yang dia akan ajukan, aku tidak tahu apa itu adalah game yang menguntungkan atau malah merugikan ke pihakku untuk dimainkan, aku tidak tahu apa hal tersebut pantas untuk dijadikan taruhan. Intinya, membuang kesempatan tersebut agar tidak menaruh risiko tersebut lebih manusiawi bagiku.
“OooOoohhHH ... intinya, kamu hanya kekurangan rasa benci padaku. Kamu ada di tingkat di mana kamu bisa menerimaku karena mendengar tujuanku yang hanya untuk bisa hidup di sini. Apa itu benar?”
“Jadi, tujuanmu barusan itu bohong?” tanyaku sambil menyipitkan mata.
“Tidak, aku tidak bohong. Apa yang kuinginkan hanya ingin bisa tinggal di dunia manusia ini lebih lama dari siapa pun. Tapi, apa kamu yakin ingin membiarkanku seperti ini? Dari pernyataanmu barusan, sepertinya kamu masih belum mengerti, iya.”
“Kalau menurut kamu gitu, iya aku anggap saja begitu. Aku memang gak tahu banyak tentang kalian, seberapa pun kalian menjelaskannya, aku tetap tidak tahu banyak.”
Ini selalu terjadi, selalu terulang ketika aku mempelajari dunia tentang sihir. Satu fakta terjawab, maka akan muncul pertanyaan lanjutan. Ketika aku sudah percaya diri dengan pengetahuan, maka akan ada kejadian di mana aku terpuruk pada ketidaktahuanku lagi. Berapa kali pun aku mengulang, tetap saja aku ada di ranah tidak tahu. Aku memang tidak terikat langsung dengan dunia sihir.
Tapi, itu bukan tentang dunia sihir saja. Aku memang seperti ini dari dahulu. Seluruh kejadian di dunia memang berjalan tanpa ada yang bisa memprediksi secara tepat. Biarpun aku sudah mempelajari berbagai ilmu, tetap akan ada satu titik di mana aku menemukan lubang ketidakpastian.
__ADS_1
“Salah satu di kelompokmu itu ada burung gagak, ‘kan? Setidaknya kamu tahu nilai dari keberadaan kami sebagai animus,” ucap orang tersebut dengan nada menduga-duga.
“Iya, aku tahu,” dan dijawab olehku dengan cukup tegas.
“Kalau begitu, apa kamu tahu kenapa animus melakukan kontrak dengan manusia?”
“Animus punya tujuan menjadi manusia, dia butuh mana untuk melakukan sihir besar yang nanti dikumpulkan bersama dengan manusia partnernya nanti.”
“Tepat sekali,” jawabnya dengan suara seraknya.
“Terus, apa hubungannya fakta sama percakapan barusan?”
“Tentu saja ada, tentu saja berkaitan langsung. Jika memang animus perlu melakukan kontrak dengan manusia. Lalu, apa yang terjadi jika mereka tidak melakukannya?”
“Bukannya itu buat kalian para animus bisa mengambil mana?” tanyaku dengan nada sedikit ragu.
“Iya, manusia mungkin memang bisa membantu kami dalam mengambil mana. Tapi, pada dasarnya animus itu sendiri sudah bisa mengambil mana secara mandiri. Lagi pula, kekuatan penyihir yang dikontrak semuanya murni berasal dari animus.”
“...”
Hmn?
Jika aku pikirkan secara rinci, ada benarnya juga. Pero bilang kalau dia melakukan kontrak dengan Amalia untuk dapat mengambil mana dari manusia yang dikumpulkan di botolnya. Namun, hal sesederhana itu seharusnya bisa dilakukan sendiri, cukup aneh jika dia tidak tahu tentang ini. Apalagi, sang animus juga nanti perlu mengajari penyihir untuk melakukan sihirnya.
Ketika animus melakukan kontrak, dia akan mengalami penurunan kekuatan secara drastis. Sihirnya dibagi dua, atau malah diserahkan banyak pada penyihir yang dikontraknya. Bukankah kalau begitu, seharusnya animus hanya akan memperlambat langkahnya sendiri? Dia bisa menggunakan sihir dengan skala besar, hanya perlu menangkap mana dari manusianya yang sebenarnya itu juga bisa dilatih tanpa perlu melakukan kontrak.
Kalau begitu, masih ada faktor lain yang terlewatkan oleh Pero untuk diberi tahu padaku. Satu faktor yang menjadi alasan lain kenapa animus bergantung pada manusia.
“Benar, normalnya memang begitu,” jawab orang tersebut tegas padaku. “Animus tanpa kontrak punya kekuatan sihir yang hebat. Tapi, di sisi lain dia juga perlu mana yang tidak kalah besar. Konsumsi mana itu tidak akan bisa dikendalikan, terbakar secara sendirinya seperti tumpahan bensin yang terpercik api.”
“...”
Aku masih mendengarkan, menunggu penjelasan lanjut dari orang berbadan besar itu. Walaupun aku memahami apa yang dia jelaskan, tapi aku masih belum mendapat inti dari pembicaraan ini.
Oke, bukan hal yang mengejutkan. Ketika ada kata kekuatan besar, itu berarti sumber bahan bakarnya pun juga harus besar.
“Apa? Kenapa kamu diam? Kamu masih belum mengerti?” tanyanya sedikit menyentak. “Intinya, menjadi lemah ketika kontrak bersama manusia bukanlah sebuah efek samping. Itu memang sebuah prosedur yang harus dilalui untuk bertahan hidup.”
“Hn? Ah ... jadi, animus yang sudah mendapat kontrak dengan manusia akan punya sihir yang terkendali. Kekuatan sihir yang kecil itu akan sejalan dengan konsumsi mana-nya. Artinya, dia bisa hidup lebih lama.”
“OoooHhh ... iya, akhirnya, kamu bisa mengerti.”
“Kalau gitu, kamu mau bilang apa sekarang?” tanyaku kembali yang masih belum menyentuh inti percakapan.
“Kamu tahu, mana adalah hal yang langka. Bahkan, dengan kerja sama manusia dan bantuan sihir, itu tetap benda yang sulit dicari. Kamu yang bekerja sama dengan seorang animus juga bisa mengerti, ‘kan?”
“...”
Keadaan animus tanpa kontrak bisa dibilang tidak stabil. Dia yang menggunakan sihir terlalu banyak akan membuat dirinya punya kebutuhan mana yang besar. Jadi, cara dia agar bisa bertahan hidup tanpa kontrak adalah dengan mengumpulkan mana lebih banyak sesuai dengan kebutuhannya itu.
“Hh!?”
__ADS_1
Tiba-tiba saja raut wajahku berubah drastis. Kelopak mataku terbuka lebar, urat wajahku menguat, napasku tersentak, dan beberapa otot tubuhku bergidik. Aku baru menyadari satu hal tersendiri, di mana satu kelangkaan ini membuat satu kejadian yang membuatku takut.
Aku ingat dengan pasti, Geza melakukan pengumpulan mana dengan caranya sendiri, membunuh orang yang sekarat. Biarpun begitu, dia masih kesulitan mengumpulkan mana dalam jumlah banyak. Jika dia bilang animus murni perlu sumber mana besar, maka pertanyaannya hanya ada satu.
“Jadi ... selama ini gimana caramu bisa terus hidup?” tanyaku dengan sedikit mengancam, tatapan tajam dan suara dingin keluar bersamanya.
“Ohoho, ahaha, ahahaha ... pada akhirnya kita sampai di penghujung acara.”
“...”
Orang itu tertawa, tertawa dengan nada menjijikkan di atas sebuah emosi kekesalan. Aku tidak mengatur bagaimana cara dia hidup, hanya saja aku mencium bau keganjilan dari setiap kalimat dan apa yang dia ingin katakan.
“Iya, iya, iya ... kamu tahu, manusia itu memang makhluk yang berguna. Ketika aku mengisap mana mereka dalam keadaan maksimal mereka, aku bisa mereset kembali ingatan mereka dan membuat penyelesaian itu dilupakan.”
“...”
“Aku bisa mengendalikan mereka, aku bisa membuat mereka mengulang apa yang mereka berikan padaku. Dari pada membuat semua orang diselesaikan masalahnya, manusia-manusia lebih pantas untuk dikendalikan seperti itu.”
“...”
“Ahaha ... iya, kalian sangat mudah dikendalikan. Caraku bisa hidup adalah dengan melakukan ternak pada kalian manusia. Tidak mungkin aku melakukan kontrak dengan makhluk yang lebih rendah dariku. Ketika manusia dicuci otaknya, aku bisa menghasilkan mana sebanyak yang aku mau.”
“...”
Hoo ... jadi ini maksudnya.
“Bagaimana? Jika kamu tidak menghentikanku, aku akan terus melakukan hal ini—“
“Aku gak peduli.”
“...”
“...”
“Huh?”
Respons orang tersebut sedikit bingung ketika mendengar jawabanku. Kepercayaan dirinya tersebut seakan dihancurkan seketika oleh jawaban dan nadaku yang bersifat netral datar tanpa emosi.
Aku tidak tahu kenapa dia melakukannya, tapi terlihat jelas kalau dia sekarang sedang memancing amarahku. Sebuah negosiasi akan gagal jika lawanmu tahu apa yang kamu inginkan, itu menjadi kerugian di mana lawanmu bisa memanfaatkannya dengan melakukan pancing balik.
Lagi pula, dia berurusan dengan orang yang salah. Aku adalah orang yang tidak mudah tergeser emosinya. Beberapa kali aku mungkin bisa merasa kesal, tapi untuk tahap selanjutnya menuju marah, aku hampir tidak pernah merasakannya langsung.
“Aku gak tahu apa yang mereka rasakan. Tapi, ketika orang mengeluarkan mana dan berhasil diisap, itu artinya dia mengalami kebahagiaan sejati. Jika kamu mereset pikirannya untuk bisa mengulang kembali kebahagiaan sejati itu, aku di sini gak lihat hasil buruknya.”
“...”
Kami berdua sekarang punya posisi terbalik. Aku yang sebelumnya selalu diam kini menjadi pemimpin percakapan, orang besar itu hanya diam tidak paham dengan apa yang di pikiranku.
“Maaf, saja. Aku menolak tawaran game itu. Caramu mengambil mana mungkin sedikit tidak manusiawi, tapi bukan berarti menyiksa secara batin. Kalau tujuanmu hanya untuk bertahan hidup, aku tidak keberatan berbagi tempat dan bertetangga denganmu. Itu saja.”
__ADS_1