Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2 Jejamuan : Chapter 5 - Hubungan Dua


__ADS_3

Rasa kesal muncul di hatiku ingin memukulnya. Ucapannya sekilas terlihat benar, tapi tidak untukku yang ingat pembicaraan ini dengan jelas.


Lalu apa maksud dari ucapanmu yang bilang dia cantik dan dadanya besar!? Apa itu cuman itu!? Apa cuman itu alasanmu menyukai perempuan? Kau bahkan tidak bisa menjelaskan orang yang kamu sukai dengan jelas.


“...”


Oke, baiklah. Aku tidak peduli dengannya. Seburuk apapun Septian, dia tetap teman sekelasku yang sedang mengalami masalah. Mungkin aku perlu mengubah cara pandangnya agar pembicaraan ini bisa selesai.


“Oke, terserah kamu,” ucapku menyerah pada topik tersebut. “Kalau gitu, coba ceritain saja gimana sikap dia waktu kamu deketin—”


Duut, duut ....


Hn?


Suara getar Handphone yang terdengar memotong ucapanku. Dengan refleks aku mengangkat miring pantat yang sedang duduk untuk meraih benda tersebut dari saku.


Pesan? Amalia?


Lanjut kubuka tanpa mengkhawatirkan keadaan sekitar.


Amalia : Kaivan, kamu sekarang ada di mana? Kamu bisa ke tempatku sekarang? Aku ada di taman samping kantin. Ini tentang pengambilan mana, aku butuh bantuan.


Kaivan : Sekarang? Kenapa dadakan?


Amalia : Karena orangnya datang dadakan. Tapi, kalau kamu gak bisa juga gak apa-apa. Aku bakal minta dia buat datang lagi pulang sekolah.


Hmn ... bagaimana ini.


Pulang sekolah juga tidak begitu buruk. Tapi, masalahnya adalah aku yang selalu berdiam diri sepulang sekolah. Menyendiri di tempat khusus sampai tempat kondusif, itu artinya aku harus membuat orang itu menunggu lebih lama lagi.


Oh, tunggu, masih ada jalan lain seperti melakukan pertemuan di kamar mandi terpencil tempatku biasa makan sendiri. Walaupun tidak etis membawa perempuan ke sana ....


Ah, tidak. Amalia membawa orang asing bersamanya, sangat buruk jika aku melakukan hal tersebut.


“Kalau kamu mau pergi, pergi saja, Van,” ucap Imarine di belakang.


Aku terkaget mendengar suaranya, tidak kusangka kalau Imarine berada tepat di belakangku. Gadis itu sepertinya sudah membaca pesan yang kubaca, mempersilahkanku untuk pergi menemui Amalia.


“Beneran gak apa-apa?” tanyaku memastikan.


“Gak apa-apa ... jujur saja sebenarnya aku gak terlalu peduli masalah Septian selesai apa enggak. Aku malah lebih kasihan sama Amalia kalau ditinggal sendiri.”


Yah, ada benarnya juga.

__ADS_1


Dari awal kami di sini untuk membantu Amalia. Merasakan gelombang emosi Septian yang tidak terlalu mengkhawatirkan, lebih bagus jika aku pergi menemui gadis itu.


“Eh? Van,” ucap Septian yang terabaikan sesaat. “Kamu mau pergi?”


“Yah ... aku dipanggil sama orang lain,” jawabku yang membawa bekal minuman berdiri dari kursi.


“Huh? Jadi, buat apa aku ke sini!? Aku gak dapet saran apa-apa,” teriak Septian protes padaku.


“Coba saja kamu tahan sikap kamu. Terutama waktu ngajak dia ngobrol di depan teman ceweknya. Itu bisa bikin dia malu atau malah bikin dia kesel,” ujarku sambil pergi meninggalkannya. “Ima, aku duluan.”


“Yah, hati-hati ....”


Aku berjalan ke taman sisi kantin. Tempat itu adalah area yang ditanami cukup banyak tumbuhan dan dilengkapi beberapa set meja. Normalnya itu juga termasuk tempat ramai dijadikan spot berkumpul. Tapi, sisa waktu istirahat sekarang adalah dua puluh menit, aku tidak perlu khawatir karena sebagian besar siswa sudah ada di kelas.


Tak sampai lima menit aku berjalan untuk sampai di sana. Bisa kulihat Amalia menunggu dengan berdiri di tempat mencolok menandai keberadaannya. Aku yang melihatnya pun segera mendekat, berniat menyelesaikan tugas ini dengan cepat mengejar waktu sisa yang tak banyak.


“Jadi, sekarang aku harus apa?” tanyaku yang baru datang menghadap Amalia.


Aku mau minta pendapat kamu sebagai cowok.


Tunjuk catatannya padaku.


Aku mengangguk sebagai tanda selesai membaca, gadis itu pun berbalik dan mengantarkanku ke set meja tempat dia mempersilahkan client-nya. Sepertinya kali ini akan sedikit serius, dari tempatku berdiri saja bisa terasa gelombang emosi tak wajar.


“Heh?”


Perempuan yang duduk di meja itu awalnya tidak melihatku dari kejauhan, dia fokus pada Handphone sehingga belum sempat mengalihkan pandangannya. Tapi, ketika aku dan Amalia sampai, client perempuan itu dengan spontan melihat ke arahku, kami saling bertatapan.


“Ka-Kaivan? Sejak kapan kamu temenan sama Lia?”


“Aku di sini juga nanya, dari mana kamu kenal Amalia?”


Gadis itu adalah Fany, teman sekelasku. Gadis yang kurasakan gelombang emosinya waktu piket pagi ini. Seseorang yang sebelumnya aku ingin kenalkan pada Amalia. Namun, sepertinya dia bisa mendahuluiku dan kejadian ini malah terbalik.


“Aku dulu pernah ikut kelas campuran sama Lia. Jadi, aku kenal dia,” jawab Fany yang duduk menegadahkan wajah berbicara denganku.


“Oh, begitu, yah ...,” ucapku yang mengambil tempat untuk duduk.


Set meja ini didesain persegi panjang dengan sepasang kursi selonjor berhadapan di sisi panjangnya. Aku mengambil tempat duduk yang sedikit berjauhan dengan Fany, mempersilahkan Amalia untuk duduk berhadapan dengan Fany.


“Terus, kalian bisa kenal di mana? Kamu sama Amalia gak pernah sekelas, ‘kan?” tanya Fany yang belum mendapat jawaban.


Aku sama Kaivan ketemu di aula, waktu itu ada tugas buat bersihin ruangan dari sisa seminar.

__ADS_1


Tunjuk catatan Amalia yang barusan sudah duduk di hadapannya.


“Hmn ... kalau gak salah aku pernah dengar kamu ke sana buat bersihin. Hmn ... tapi ternyata Amalia juga di sana, yah.”


Aku sebagai babu sekolah cukup terkenal. Beberapa bahkan mewajarkanku ketika melihat dan melemparkan tugas merepotkan padaku. Fany yang satu kelas denganku pasti mengetahuinya dengan jelas.


“Soal itu bahas nanti saja,“ ucapku mengalihkan. “Fany, apa kamu ada masalah sekarang?” Tanyaku padanya dari jarak cukup jauh.


“Ah,” reaksi Fany yang mendadak berubah menjadi malu. “Umn ... Lia, kamu saja yang bilang.”


“...”


Amalia yang sejak tadi melihat Fany pun mengangguk setuju. Lagipula, jika aku si pemilik masalah, sangat menyebalkan jika aku harus mengulangi penjelasan beban pikiranku pada orang yang berbeda. Rasanya seperti dipaksa mengingat hal yang tak mau kuingat.


Gadis di sampingku telah selesai menulis catatan. Tapi, dia tidak langsung menunjukkannya padaku, lebih dulu dia periksa dan diserahkan pada Fany. Baru ketika Fany setuju Amalia membiarkanku membaca.


Kaivan, kira-kira bagaimana cara nolak cowok yang nembak cewek biar gak nyakitin hatinya.


Hmn ...?


Aku berpikir sejenak melihat catatan tersebut, merasakan suatu benang merah yang muncul di benakku.


Kebetulan? Tidak, hal seperti ini terlalu bagus untuk jadi kebetulan.


“Fany,” panggilku yang menengok mengganti lawan bicara.


“A-ada apa? Apa kamu punya cara yang bagus?”


“Apa ini cerita tentang Septian di kelas G?”


“Heh?”


*Whoush .....


Gelombang emosinya mendadak muncul. Kepanikan bercampur malu memunculkan rasa seperti puding kelapa tanpa susu. Bukti ini saja sudah cukup untuk memberti tahu, Fany memang cewek yang ditembak Septian dua hari yang lalu.


 


 


*****


 

__ADS_1


 


__ADS_2