
Kami masih menunggu di depan rumah, menatap halaman depan yang kosong tanpa tanda kehidupan. Lingkungan rumahku sendiri sama sepinya, selain karena pribadi orang yang lebih individualis, faktor waktu di mana jam kerja sedang berlangsung juga penyebabnya.
Waktu tunggu sudah berlangsung cukup lama, di kesunyian tersebut akhirnya timbul suara yang dominan mendekat.
“Hmn?”
Itu adalah suara dari sepeda motor, menggerung keras menggelegar di perumahan yang bahkan tidak ada suara orang melangkah.
Awalnya aku mengira hanya pengendara biasa yang sekadar lewat menuju tempat tujuan. Tapi, hal itu berubah ketika dia berhenti tepat di rumahku.
“Apa kau kenal orang itu?” tanya Hanz yang tentu ikut sadar dengan kehadirannya.
“Enggak.”
“Hmn ... apa itu berarti dia datang untuk kakak kau di sana?”
“Kayaknya memang cuman itu pilihan yang tersisa.”
Orang yang telah berhenti di depan rumahku adalah seorang laki-laki. Dandanannya tidak terlihat seperti pengantar barang, jasa ojek, atau pun pegawai penagih tagihan bulanan. Dari tipe wajah yang muda, sepeda motor merek baru, dan tentu setelan unik tersendiri yang entah kenapa aku bisa yakin kalau dia adalah mahasiswa.
Selama dia berhenti di depan rumahku, tindakan yang dia lakukan hanya melihat ponselnya. Bukan mengetuk masuk atau mengucap permisi, orang tersebut lebih seperti sedang menghubungi seseorang.
*Ceklek
Lalu, tidak lama muncul kak Dina membuka pintu, dia dengan setelan mahasiswanya membawa tas keluar menyambut lelaki tersebut.
Aku tidak berpikir itu teman biasa, lagi pula kak Dina juga tidak pernah membawa teman lelakinya ke rumah sekali pun. Dia pribadi yang dulunya bahkan dijauhi karena takut dengan protektif ayah. Jadi, ketika hal ini lepas dan ada datang ke rumah langsung menjemputnya, aku cuman bisa berpikir dia adalah kekasihnya.
“...”
Jarakku dengan rumah dan kak Dina sekarang tidak cukup dekat. Tapi, aku yakin tidak mendengar percakapan dalam tentang mereka. Dari ekspresinya, kedua orang tersebut tidak saling senyum ketika memulai hari.
Iya, aku sendiri juga tidak melakukannya dengan kak Dina. Hanya saja aku pernah berpikir kalau pasangan seharusnya melakukan hal tersebut.
*Grung ....
Suara motor kembali terdengar, laki-laki itu mulai menyalakan mesin dan bersiap untuk pergi.
“Ah, sial. Aku gak tahu kalau jadinya dia bakal berangkat pakai motor,” kataku yang bergumam kecil pada diri sendiri.
“Apa maksud kau dari kata ‘sial’?”
Tapi, Hanz mendengar dan bertanya balik.
__ADS_1
“Kalau mereka pakai motor, itu artinya kita gak bisa kejar. Tadinya aku masih mikir kalau kak Dina masih pakai umum kayak biasanya.”
“Apa maksud kau dari kata ‘kita’?”
“Hn?”
Aku pikir kalimatku tidak terlalu sulit untuk dicerna. Normalnya juga orang pasti mengerti kenapa kejadian ini adalah titik buntu dari misi tanpa rencana. Bahkan, aku yakin Amalia saja mengerti situasi yang ada sekarang.
“Gak mungkin kita kejar motor. Aku gak punya kendaraan pribadi, dan kalaupun misal kita kejar pakai umum. Jejak mereka bakal hilang pisah di jalan.”
*Grung, grung ....
Ketika perkataanku keluar, dengan bersamaan kak Dina dan lelaki itu mulai pergi. Suara mesin motor yang awalnya mendominasi menjadi mengecil karena jarak yang tercipta. Aku di sana hanya bisa melihat dan menyaksikan sosoknya mengecil hingga belok di persimpangan.
Semangat yang awalnya menurun kembali turun mengikuti kepergiannya. Pasalnya, aku membawa satu orang bersamaku sekarang. Membuatnya menunggu lama tanpa kepastian dan malah berakhir menjadi hasil tidak jelas membuat tekanan dan pikiran burukku jadi kenyataan.
Huft ... hah ....
Tarik napasku mengeluh.
“Kaivan ... kau menyerah terlalu cepat. Sepertinya kau masih belum mengerti kekuatanku, iya.”
“Kenapa? Masih ada kekuatanmu lagi yang tersisa? Apapun itu kayaknya gak bakal bisa selesein masalah— Hh!?”
Aku yang awalnya dalam kondisi lesu mendadak disentak keras. Tubuhku menerima gaya besar bersamaan dengan pergerakan atmosfer mengacau pandangan. Perasaan melayang, dorongan kuat, dan bahkan getar udara keras yang membuatku tuli sesaat.
Iya, aku ada di udara lepas sekitar dua puluh meter setara gedung beberapa tingkat.
“Woa, wo-woah!!”
Tanpa sadar aku mengeluarkan suara keras terkaget-kaget. Refleks tersebut keluar begitu saja ketika aku merasakan kalau ujung kakiku tidak menapak pada apa pun. Di lepas udara ini aku melihat banyak rumah-rumah kecil, jalan-jalan yang saling menyambung, dan manusia yang berupa titik bergerak. Tapi, semua itu diabaikan karena aku sekarang sedang panik tentang berbagai kemungkinan buruk tentang caraku jatuh nanti.
“Ah, hah, hah, hah, hah,” respons napasku yang terengah-engah karena panik.
“Kaivan, kau sebaiknya menutup mulutmu kalau tidak mau ada benda asing masuk.”
“Hah, ah ... huh!?”
Aku mengalihkan wajah dan menoleh ke samping, berusaha mencari sumber suara tersebut. Di sana ternyata masih ada Hanz yang sedang mengunci sebelah lenganku sambil memegang baju di dada. Untuk sesaat aku terlalu terpaku dengan langit sekitar sampai tidak menyadari keberadaan dia yang sebenarnya paling dekat.
“Hah, hah, hah, hah!?”
Namun, aku tidak sempat untuk menjawab. Napasku yang tidak teratur terpengaruh oleh gesekan udara juga tidak kunjung berhenti. Bukan tidak bisa tenang, tapi memang kondisi kala itu tidak dapat membuatku tenang.
__ADS_1
Ketika daya lontar dorongan menuju ke atas dirasa habis, aku dan tubuhku sadar kalau kecepatanku berkurang dan akan segera berbalik jatuh mengikuti gravitasi. Tentu itu membuatku panik, karena kesadaranku yang bilang telah terbang puluhan meter di udara membuatku berpikir akan mati jika jatuh.
Jantungku kala itu berdetak kencang, aku yang awalnya tidak punya fobia ketinggian pun tetap shock menghadapinya.
“Hmn, sudah kuduga aku seharusnya memberi aba untuk ini.”
Akan tetapi, di sana Hanz begitu tenang. Dia yang menghadapiku sedang panik sama sekali tidak bergeming. Padahal, kala itu aku sedang memegang tubuhnya dengan erat.
Belum tenang dengan keadaan, aku kembali dikejutkan dengan kejadian selanjutnya. Di saat aku merasakan sensasi jatuh mengikuti gravitasi, ternyata di sana ada gaya lain yang diberikan padaku. Hanz yang memegangiku mulai kembali melakukan dorongan ke atas.
Aku yang panik tidak membiarkan diriku didorong, jadi pertahanan diri untuk tetap erat memegang tubuh Hanz kulakukan.
*Blink
“Eh!?”
Tapi, hal tersebut ternyata tidak dapat dilakukan. Ketika sensasi dorongan kuterima, tubuh Hanz menghilang begitu saja. Ini membuat shock di dadaku kembali mencuat. Jika aku bukan lelaki, mungkin aku sudah membasahi diriku dengan air kencing. Perasaan terjun di getaran udara tanpa alas di ketinggian untuk orang yang tidak berpengalaman itu ngilu rasanya.
Aku ingin berteriak, melakukan berontak yang mungkin cuman itu yang bisa kulakukan. Namun, kembali rasa kejut diberikan.
*Hook
“Hh!?”
Karena pada saat itu aku mendapat sebuah kait yang mencegahku untuk jatuh. Tepat di sekitar baju dan tas seakan ada yang menarik dan membawaku bersama.
Aku mulai melihat ke atas, menelaah bagaimana situasi terjadi sekarang.
*Flap, flap, flap ....
Dan ketika aku berhasil, aku masih belum berhenti terkejut melihat apa yang diterima mataku.
“Ha-Hanz?”
“...”
Di sana aku ternyata sedang dibawa oleh seekor burung hantu raksasa. Tubuhnya yang lebih dari satu meter sedang terbang dan mengaitkan cakarnya ke tas dan bajuku.
Huft ... hah, huft ... hah ...
Aku benar-benar terkejut. Berbagai pertanyaan muncul karena sebelumnya aku memang tidak mengenal Hanz dengan baik. Tapi, satu orang yang kukenal bisa mengubah wujudnya menjadi hewan adalah Pero. Jadi, kesimpulan yang kudapat setelah melihat ini adalah ....
Hanz ternyata kamu juga adalah makhluk yang sejenis animus.
__ADS_1