Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 66 - Zombie


__ADS_3

“Jadi, maksudnya orang itu bisa hidup lagi kayak zombie?” tanyaku sedikit polos menduga-duga.


“Itu juga benar. Sihir bisa menggantikan anggota tubuh orang tersebut yang rusak agar kembali bekerja. Tapi, normalnya hal tersebut hanya berlaku untuk orang sakit. Sekali seseorang mati, maka cara tersebut akan menghasilkan sesuatu yang berbeda. Kamu tidak akan bisa menyelamatkan orang itu, yang kamu lihat hanyalah tubuh kosong bergerak tanpa akal. Jadi ... iya, persis seperti zombie.”


“...”


Suara Pero tidak terdengar bersahabat. Entah kenapa ekspresinya sendiri sudah melambangkan kalau dia sendiri bahkan tidak merekomendasikan cara tersebut. Aku tidak tahu Pero bisa bersikap seperti itu, setahuku dia adalah siluman yang tidak tahu banyak tentang manusia.


“Tapi, itu satu cara. Ada cara lain juga yang sebenarnya lebih bersih tetapi tetap merupakan hal tabu,” Pero melanjutkan bicara setelah terhenti beberapa saat.


“Apa lagi?”


“Kamu tahu, bukan. Sihir digunakan untuk menciptakan keajaiban. Menggunakannya, kita bisa membuat hal yang seharusnya tidak ada menjadi ada. Ketika kamu meminta untuk menghidupkan orang, sihir itu akan bekerja dengan cara berbeda. Dibandingkan membangkitkan mayat, apa yang terjadi lebih seperti membuat ulang manusia itu sendiri.”


“Membuat manusia? Huh?” responsku yang masih tidak bisa menangkap.


“Persis seperti dunia ini. Kamu sebelumnya diberi tahu, bukan. Ada orang palsu di antara kita semua. Iya, itulah yang persis terjadi ketika sihir dipakai untuk menghidupkan manusia.”


“...”


Ah ... jadi begitu, iya.


Aku mulai mengerti ke mana arah pembicaraan Pero di sana. Ini juga sedikit membuktikan kenapa aku begitu sulit menyelesaikan misi di dunia ini.


Dunia buatan tempat ini terlalu nyata, terlalu baik, dan bahkan berjalan dengan peranannya tanpa ada kejanggalan. Tapi, tanpa kejanggalannya inilah yang membuatku bingung, semua orang bersifat layaknya manusia asli, itu bisa kupastikan tanpa keraguan.


Walaupun Hanz bersikap dingin, bukan berarti dia punya tujuan buruk. Walaupun Azarin ditentukan sudah mati, atau mungkin Ann si anak kecil yang dikatakan Hanz memang sudah mati, mereka berdua sekarang berjalan dan berkomunikasi layaknya manusia normal. Begitu normalnya sampai membuat kejanggalan tersendiri kenapa bisa seperti ini.


“Jadi, sihir gak bisa hidupin orang. Tapi, sihir bisa bikin orang tiruan yang sama persis,” gumamku menyimpulkan.


“Tepat,” lalu tegas disetujui oleh Pero. “Manusia yang mati tetap mati, dan sihir hanya membuat manusia pengganti jika kamu mau. Dengan fisik, ingatan, dan bahkan sifat yang sama, bisa dibilang kalau dua manusia tersebut tidak dapat dibedakan.”


“Heh, tapi tetap saja, orang itu bukan orang yang mati.”

__ADS_1


“Iya, Kaivan. Akui juga sebagai animus paham betul dengan itu. Terlebih untuk manusia, mereka akan punya emosi khusus yang merepotkan jika hal ini benar-benar dilakukan.”


“...”


Iya, aku bisa mengerti hal tersebut.


Sesuatu yang pasti terjadi bukan berefek pada orang itu saja. Tapi, lingkungan akan sangat jauh berpengaruh. Sihir itu mungkin bisa membuat orang baru menggantikan orang yang sudah mati. Namun, lingkungan yang tidak tahu sihir tidak bisa menerima hal itu begitu saja.


Si orang pengganti punya ingatan kematian, dia tidak bisa diterima oleh lingkungan lamanya, dan ada tekanan khusus di mana dia sadar kalau dirinya tidak diizinkan hidup di dunia ini.


Bisa saja semua diulang dari awal, pergi ke tempat terpencil yang jauh dari lingkungan lama dan memulai hidup baru. Tapi, hal tersebut tetap tidak bisa dilakukan seutuhnya, masalah lama tidak selesai dan menjelang waktu akan timbul kembali. Pada akhirnya, orang yang mati seharusnya tidak punya tempat lagi untuk hidup di dunia. Cepat atau lambat dia akan tertekan oleh beban itu sendiri. Atau, setidaknya dengan bekal ingatan orang pertama yang sudah mati, dia akan sadar kalau hidupnya hanya bernilai untuk mati dua kali.


“Apa Amalia tahu soal ini?” tanyaku dengan nada rendah.


“Tentu saja. Aku yang menjelaskannya, dan Lia juga bukan gadis naif saat melakukan kontra denganku. Satu tahun yang lalu setidaknya cukup dewasa untuk tahu kalau hal seperti menghidupkan orang mati adalah permohonan yang mustahil.”


Heh, jadi Amalia tidak sebodoh itu ternyata.


Kondisi mentalnya yang sekarang mungkin sudah membaik. Aku tidak tahu tepatnya kapan, tapi Amalia bercerita kalau cerita tentang orang tuanya sudah berlangsung lama.


“Terus, sebenarnya apa yang dia minta?” tanyaku kembali pada Pero.


“Mungkin kamu akan sedikit sulit menerima, bunyi dari permintaan Lia adalah seperti ini, ‘aku ingin semua kebohongan yang menyakitkan hilang dari dunia, aku tidak ingin ada pengkhianatan yang dibungkus senyuman’.”


“...”


*Step


Langkahku berhenti di satu titik. Angkut batang pisang yang aku lakukan sejak tadi pun dipaksa berhenti.


“Hn?”


Lalu, di saat yang sama Pero yang masih terhubung denganku dengan batang pisang pun ikut berhenti. Dia sedikit menengok ke belakang dan melihat reaksiku karena perubahan tiba-tiba tersebut.

__ADS_1


“Ada apa, Kaivan? Kamu mau bilang kalau Lia itu bodoh?”


“Heh,” dehamku menyungging senyum. “Sepertinya kamu salah, Pero. Dari permintaan itu, aku tahu betul apa yang dirasakan Amalia. Aku tahu, apa ambisi dia dan apa yang dirasakannya sampai bikin permintaan kayak gitu.”


Melihat kondisi mental Amalia kala itu mungkin sedikit tidak jelas. Tapi, sebenarnya hal tersebut cukup sederhana, apa yang gadis itu impikan dapat aku mengerti. Layaknya seorang yang menginginkan harta dan kebahagiaan, Amalia juga sama tingkatnya seperti itu.


Ketika kalimat permintaan tersebut didengar, aku merasakan kalau rasa sakit Amalia mengalir di dadaku. Dari kalimatnya, aku bisa merasakan teriakan keras dari hati ketika orang tuanya meninggalkan dia.


Dia tidak membenci orang tuanya, dia tidak membenci takdir yang memang mengharuskan kedua orang tuanya mati lebih dulu. Akan tetapi ....


Dia hanya tidak ingin merasa sedih.


Huft ... hah ....


Aku menarik napas panjang-panjang, meringankan urat tubuhku dari beban akibat pembicaraan berat sebelumnya. Jujur saja, otakku serasa berat setelah menerima semua informasi tersebut. Tindakan menarik banyak oksigen ke paru-paru seakan menghidupkan kembali saraf-sarafku.


*Put


Aku menaruh batang pisang yang sebelumnya dipangku ke tanah, membiarkannya miring dan satu sisinya jatuh. Akan tetapi, tidak habis sampai di sana. Dengan sedikit persiapan, aku juga berputar balik dan segera berlari ke arah sebaliknya, menolak pulang ke arah penginapan.


“Tunggu, Kaivan. Kamu mau ke mana?” tanya Pero yang melihatku berlari menjauh.


“Menyelesaikan teka-teki ini.”


Memang benar apa kata Pero barusan. Dunia ini adalah dunia buatan yang membuatku bingung. Jadi, sudah sewajarnya Octa sebagai dalang membuatku dalam keadaan dilema untuk bisa memilih siapa pelaku kejahatan.


Tapi, semua itu tetap bukan mustahil. Aku selama ini berpura-pura buta, padahal jawabannya sudah aku temukan. Namun, perasaan di mana diriku mengira orang-orang di sini adalah asli telah membuatku ragu.


Jika aku terus menilai mana orang yang asli atau bukan, maka jawabannya tidak akan pernah terbentuk. Octa dan sihirnya memang membuatnya demikian, sifat, fisik, dan ingatan orang-orang ini sama persis dengan mereka yang aku kenal. Jadi, satu-satunya yang bisa menyelesaikan teka-teki tetaplah menyimpulkan dari latar belakang dunia, memecahkan misteri berdasarkan peran masing-masing.


Aku bergerak cepat setengah berlari, menyusul Farrel, Hanz, dan Ann yang sebelumnya masih tertinggal.


 

__ADS_1


 


__ADS_2