
Tidak, sangat jelas ini bukan kebetulan. Kalau ini terjadi di awal-awal jam pulang mungkin masih wajar, tapi sekarang kondisi sekolah hampir sepi dan yang paling utama adalah Fany telah melihatmu menunggu di sini.
“Oke, Ian. Aku langsung ke intinya,” ucapku dengan menegaskan. “Kamu itu ganggu, keberadaanmu sendiri sudah menjijikkan.”
“...”
Aku bisa merasakannya, gelombang emosi yang bergetar. Septian sedikit tersinggung dengan itu, ekspresi wajahnya yang tersentak sesaat juga bukti lain.
“Ya-ya ..., itu ‘kan cuman kamu, Van. Fany kayaknya gak masalah tuh aku ikut jalan bareng.”
Tapi, Septian menanggapinya dengan setengah bercanda. Layaknya hinaan sesama teman lelaki, dia berusaha untuk menghindari perasaan dalam atas ucapan tajamku.
“Hmn ....”
“...”
“...”
He!?
Fany tidak menjawab. Gadis itu merapat ke belakang tubuhku untuk bersembunyi dari tatapan langsung Septian yang berusaha mendekat. Aku sedikit kaget dengan gelombang emosi ketakutannya yang memekat, tapi sentuhan tangan yang dia lakukan di serat-serat bajulah yang membuat dadaku terpacu.
Aku melihat ke belakang untuk mengetahui kondisi Amalia.
Sialan ... kenapa selalu berakhir seperti ini.
Gadis itu berada jauh dari tempatku berdiri. Sepertinya dia sudah berlari dan bersembunyi di sisi gerbang untuk kabur dari percakapan ini, meninggalkanku dan Fany berdua menghadapi Septian.
*Whoush ....
Di tengah pandanganku ke belakang, aku malah merasakan gelombang emosi baru.
“Woi ... apa ini? Kenapa Fany jadi dekat sama kamu, Van?” ucap Septian dengan nada berat.
Pedas ..., dan juga pahit. Septian yang sebelumnya tersinggung dengan ucapanku mulai mengeluarkan emosi negatif. Ancaman mulai keluar dari mulutnya.
“Ini reaksi wajar ... dia cuman takut sama kamu, Ian.”
“Takut ...? Enggak, itu gak mungkin. Fany sudah terima ajakan nonton bareng minggu ini, masa sekarang dia takut sama aku.”
Itu kenyataan, aku bisa merasakannya dengan jelas.
“Ah ... aku tahu, kamu sekarang ngincer Fany, ‘kan?” lanjut Septian menanyaiku.
“Enggak, dari mana kesimpulan itu datang?”
“Jangan bodoh, Van. Aku tahu kelakuanmu waktu kelas satu. Kamu sering bantu-bantu orang biar kamu disukain mereka, ‘kan? Biar kamu bisa main sama semua cewek itu, ‘kan? Jujur saja, itu sebenarnya bikin semua laki-laki juga benci sama kamu.”
“Ha!? Siapa yang bodoh? Membantu orang itu wajar, gak ada hubungannya sama hal ini. Kebodohanmu yang lebih terlihat ketika menyambungkannya dengan kejadian itu.”
Dug, dug ....
__ADS_1
Dadaku terpacu. Seluruh ruas mulutku mulai merasakan pedas dan panas yang menyebar. Gelombang emosi Septian terus mengental mempengaruhi tubuhku.
*Srek.
Septian menarik kerah bajuku, tubuhnya yang lebih pendek tidak cukup untuk mengangkat cengkeraman tersebut ke atas.
“Bodoh? Jadi, kamu bilang aku bodoh?”
“Iya, akan kuulang terus kalau kamu gak berhenti ngelakuin hal konyol ini.”
“...”
Septian mulai mengeraskan tangan, ekspresinya terasa begitu berat. Dia memperlihatkan urat wajah dan gigi menggeramnya.
“Kaivan,” panggil Septian dengan nada dingin. “Bisa kamu menjauh dari Fany?”
“Aku akan menjauh kalau kamu menjauh.”
“Bukannya kamu tahu perasaan aku sekarang!? ”
“Aku tahu ....”
“Kalau begitu kenapa!? Apa artinya obrolan kita waktu itu!?”
Septian kembali membentak, dia mencengkeramku lebih kuat melalui teriakan tersebut.
“Hah ....” Aku bernafas santai mendinginkan suasana. “Memang benar aku tahu perasaan kamu sekarang ..., tapi bukan berarti kamu bisa bebas berlindung dari itu.”
Aku memang menghargai orang yang berjuang keras demi tujuan dan mimpinya. Mereka yang terus maju tanpa melihat kegagalan dan kemungkinan negatif, tidak pernah berhenti melihat ke depan.
Tapi, hal ini berbeda. Cinta adalah sesuatu yang lebih rumit, tidak melibatkan satu orang melainkan dua orang. Tidak bisa melihat satu parameter, tapi harus menyesuaikan dua pemain. Hal yang salah jika ada orang yang memaksa pasangannya berlari kencang di luar kemampuannya. Masing-masing individu punya batas kemampuan masing-masing.
Kali ini ... Septian melakukan hal tersebut. Mendorong penuh seluruh tubuh Fany dan tidak mempedulikan luka yang dialami gadis itu. Berlindung dari kata cinta untuk terus melakukan hal yang dia percayai.
“Apa kamu tahu ... Fany itu dulu sekolah di tempat khusus perempuan,” lanjut ucapku pada Septian.
“Yah, aku tahu ... aku sudah tahu dari dulu.”
Ck.
Aku mendecakkan lidah, menarik nafas panjang untuk siap kukeluarkan.
*Plak.
Tamparku menyingkirkan tangan Septian yang dari tadi mencengkeram kerah baju.
“Lalu kenapa sampai sekarang kamu masih buta!?” teriakku padanya. “Apa kamu tahu? Sampai sekarang Fany masih ketakutan, dia cewek baru, dia cewek yang gak pernah berhadapan sama cowok ....“
“... Ka-kalau itu ... aku, aku sudah tahu itu.”
Sudah tahu?
__ADS_1
“Ternyata kamu memang bodoh ....”
“Ha-huh? Apa maksudnya?”
“Bodoh itu bodoh ... sesuai dengan perkataan tadi,” ucapku dengan nada merendahkan. “Apa kamu sadar kalau selama ini Fany terus gelisah? Dia masih berpikir tentang perasaanmu yang mungkin terluka jika menolakmu.”
“Ta-tapi, dia terima ajakanku, ‘kan?”
“Apa kamu tuli? Dia selama ini terus berpikir tentangmu, menghargai usaha dan rasa cinta yang kamu berikan. Tapi ..., kamu malah memaksakan perasaan kamu sendiri. Mendorong Fany terlalu keras dan terus bilang kalau itu bukti cinta.”
*Srek.
Kali ini aku yang mencengkeram kerah baju Septian, maju satu langkah mendekat hingga Fany tertinggal di belakang.
“Ke mana matamu selama ini, ha!? Di mana perasaan yang kamu luapkan!? Apa kamu pernah berpikir bagaimana perasaannya sekarang!? Apa yang kamu lakukan itu bukan cinta, itu cuman egoisme.”
“...”
Wajah Septian membeku melihatku mengucapkan kalimat itu. Posisiku sedekat cukup dekat. tanganku dalam keadaan mengancamnya, tapi aku tidak merasakan rasa pedas. Pikirannya telah terjernihkan dari amarah dan kebencian.
“Kaivan ...,” panggilnya dengan nada tenang. “Lepasin ....”
“...”
Aku tidak merasakan ancaman apapun, oleh sebab itu aku menuruti perkataannya. Lagipula, aku masih unggul dari fisik. Ditambah dengan kemampuan deteksi, aku bisa dengan segera mengetahui pergerakannya.
“...”
“...”
“...”
Kami bertiga jadi mendadak diam. Suasana menjadi canggung akibat ledakan emosi yang tiba-tiba padam. Sesuatu yang dilakukan selama sekitar dua menit hanyalah merapikan pakaian.
“...”
Septian mulai melirik ke arah Fany, gadis itu masih termenung tidak bisa berkata-kata melihat kondisi ini.
“Fany,” panggil Septian dari kejauhan. “Kalau memang benar apa yang dibilang sama Ivan, aku minta maaf ... janji hari Minggu anggap saja gak pernah ada. Aku bakal dinginin kepala dulu,” ucapnya sambil berjalan meninggalkanku.
Sekarang aku merasakan gelombang emosi negatif dari mereka berdua. Ini seperti sebuah beban berat dan rasa bersalah. Fany dan Septian masih belum menyelesaikan masalah utama dari kasus ini.
Hah ....
Ternyata untuk menghentikan laki-laki seperti Septian butuh kekuatan yang besar. Tapi, apa itu keputusan yang benar. Sebenarnya aku ini ada di pihak siapa?
******
__ADS_1