
Kamar tidurku ada di lantai dua, dan tepat di bawahnya ada dapur. Lajur udara panas yang muncul dari masakan akan lewat ke lorong lantai dua akibat bentuk bangunan yang dibuat demikian. Jika pintu kamarku tidak ditutup, aku dapat dengan jelas mencium aroma masakan rumah ini.
“...”
Aku tidak tahu apa maksud si pembuat rumah dengan tidak menutupi seluruh langit-langit dapur dan membiarkannya berlubang ke lantai dua. Tapi, aku memanfaatkannya sebagai salah satu alarm pagi hari.
Hmn ... sop, yah.
Ada sedikit aroma tomat dan wortel. Tapi, tidak ada aroma minyak, maupun bawang. Mungkin hari ini tidak ada gorengan.
Setelah beberapa menit sadar sambil memejamkan mata, akhirnya aku pun bangkit sempurna dari tidur. Dari tipe suara yang muncul, aku tahu kalau makanan di sana sudah siap.
Aku turun menggunakan tangga, datang ke ruang makan yang berada di antara dapur dan ruang keluarga. Di sana aku melihat satu mangkok penuh dengan sop, lengkap dengan nasi dan sendoknya.
“Van ... sudah bangun?” ucap kakakku dari dapur yang sadar akan suara tangga saat aku melangkah. “Makan saja yang ada di meja, itu punyamu.”
Aku lapar, jadi tentu saja dengan senang hati menerima tawarannya.
Dengan cepat aku menghabiskan sop tersebut. Rasanya gurih dengan sedikit rasa asam, wortelnya renyah, dan tomatnya memberiku rasa manis yang tidak membuat mulutku lengket. Aku suka kombinasi makanan tersebut, semuanya seimbang dan saling melengkapi. Berbeda dengan camilan yang hanya tajam di satu rasa.
Makan pagi kali ini cukup nikmat, bahkan aku menghabiskan seluruh kuah untuk dijadikan pemuas dahaga di akhir.
“...”
Tapi, kakakku sejak tadi tidak datang ke meja makan. Apa aku terlalu cepat memakan semua ini?
“Oh ... kamu sudah selesai makannya, Van.”
Kebetulan sejalan dengan pikiranku, gadis tersebut datang sambil membawa masakan lainnya ke meja.
“Bilang apa dulu ke kakak? ‘kan sudah dibikinin.”
“Apa,” ucapku dengan cepat dan datar.
Ekspresi dan gerakan kakakku sesaat terhenti. Emosinya sedikit unik dengan sedikit rasa kesal tapi juga bahagia.
“Heh, bukan bodoh ... maksudnya—”
“Iya, iya ... masakan kakak enak. Enak banget sampai bikin hidung dan lidahku nyatu di dalam lautan rasa.”
Aku tidak mau melewati pembicaraan bodoh terlalu lama. Jadi, kukeluarkan saja semua. Pujian yang sejak awal dia pancing keluar dari mulutku.
“Ehehehe ... kakak gak minta segitunya sih," kata kakakku dengan emosi bahagia lainnya. "Tapi, syukurlah kalau enak. Sayur yang kamu makan barusan itu sudah layu dan ngeluarin bau aneh.”
“He!?" refleks kaget mendengar perkataan tersebut. "Tunggu, kakak jadiin aku tumbal buat makanan busuk!?”
“Ahaha ... santai saja. Kalau kata kamu enak, ya memang sehat-sehat saja berarti.”
“...”
Secara kasar, hal tersebut bisa saja aman. Sebagian besar bakteri juga akan mati pada proses pemanasan. Tapi, layaknya berjudi, ada kemungkinan penyakit yang tidak mati ketika dimasak muncul di makanan tersebut.
“Kamu juga kurang kerjaan di rumah, jadi gak apa-apa ‘kan aku pinjem perut kamu. Jadi ... pencicip makanan.”
“Kalau aku mati bagaimana?”
“Dikubur.”
“Bagus, dan kakak jadi pembunuhnya.”
“Gak usah paranoid begitu. Perutmu sudah kuat, kok. Buktinya sampai sekarang kamu masih hidup.”
“Apa maksudnya sampai sekarang, Kak? Memangnya kakak sudah dari kapan kasih makanan busuk?”
“Kakak juga lupa ... dari kapan yah, Van?”
Jangan tanya aku. Mana mungkin bisa kujawab. Dan apa itu? Apa dia sudah melakukannya sejak lama hingga bisa melupakan tanggalnya? Kuharap aku tidak menabung penyakit di tubuhku sekarang.
Percakapan akhirnya terputus. Aku yang tidak membalas, dan tangan kak Dina yang sibuk juga penyebabnya. Gadis itu menyiapkan dua porsi makanan, satu untuknya dan satu lagi untuk ibunya. Aku yang sudah selesai pun beranjak dari meja makan untuk pergi bersiap ke sekolah.
__ADS_1
Ibu Kak Dina adalah seorang buruh pabrik. Hari ini dia mendapat shift malam. Oleh sebab itu, pagi ini dia tidak hadir di meja makan. Sedangkan, Ayah Dina adalah seorang pekerja di perusahaan yang jauh dari rumah ini. Orang itu biasanya pulang dua minggu sekali pada akhir pekan.
Hampir sebagian besar rumah ini dikuasai olehku dan Kak Dina. Kondisi ini membuat Kak Dina mengambil alih tugas rumah tangga. Memasak, mencuci, dan membersihkan rumah terkadang memberi beban berat, di waktu tersebutlah aku punya jabatan sebagai asisten rumah tangganya.
Setelah siap dengan seragam dan wangi sabun mandi, aku pun kembali menuju meja makan. Di sana ada kak Dina, dia sedang fokus pada cermin sambil mempermak wajahnya.
“...”
Sebenarnya aku sedikit kesal melihat ini. Waktu yang dia habiskan untuk bercermin cukup lama. Bahkan aku pernah meninggalkannya bersiap-siap dari cuci muka hingga memakai sepatu, dan semua kegiatanku masih kalah lama dengan waktu dia bercermin.
“Buat apa sih lama-lama ngaca, mukanya juga gak akan berubah.” Ucapku sambil lewat di sampingnya.
*Whosuh ....
Gelombang emosi.
Rasa pedas dan pahit. Dia tersinggung dengan apa yang kukatakan, dilambangkan dengan perasaan kesal sambil mengutukku dalam hati.
“Ivan, itu kata-kata terlarang. Jangan pernah bilang kayak gitu ke cewek lain. Memangnya kamu gak kesel kalau ada orang bilang ke kamu ... ‘buat apa pakai minyak rambut, mukamu juga tetap jelek’”.
“Hmn ... jadi aku masih boleh kalau bilang kayak gitu ke kakak? Dan lagi, aku juga gak pakai minyak rambut.”
Rambutku cukup tebal untuk bisa diatur dengan mudah. Memakai minyak rambut hanya akan menambah beban di kepala dan membuatnya lengket.
“Lagian ... make up sendiri beda kayak minyak rambut," kataku meneruskan kalimat barusan. "Kakak pakai make up buat malsuin muka kakak yang asli ‘kan. Ditambah lagi pakai aplikasi dari HP. Terlalu banyak kebohongan, dan aku sebut semua itu penipuan.”
“Hah ...," napas panjang kakakku dengan nada kelelahan. "Ivan, bisa kamu ke sini sebentar.”
Aku sudah membawa sepatuku ke teras belakang, satu langkah lagi dan seharusnya aku sudah berangkat.
“Buat apa?” tanyaku menahan niat pergi.
“Kakak mau pukul kamu sekali.”
“...”
Gadis itu menaruh cermin sakunya di meja. Dia berdiri di belakang sambil menungguku berbalik padanya.
Aku berjalan mendekat ke arah kak Dina. Setelah terpotong jarak di antara kami, gadis itu pun mulai mengangkat tangannya.
Buk.
Heh.
Pukulan Kak Dina mengarah pada bahu kananku. Refleksku bekerja untuk menahan dan menghempaskan tinju itu dengan tangan. Akibatnya Kak Dina gagal memukulku.
Aku memang bersedia dipukul, tapi tidak bilang kalau aku akan diam tidak melawan—
Bug.
Ghuak!
“Heh.” Deham gadis itu dengan sombong. “Cuman orang bodoh yang percaya perkataan musuh.”
Tinju susulan datang. Kak Dina memukulku di perut dengan tangan kanannya. Rasa sakit yang diberikan membuatku meringkuk sambil memegangi perut.
Memang benar, seharusnya aku tidak menurunkan pertahanan setelah serangan pertama. Lagi pula, dari sifat orang tersebut, mana mungkin dia berhenti memukul jika pukulan tersebut tidak berhasil.
Kenapa ... kenapa wanita di sekitarku sangat suka berlaku kasar. Untuk beberapa alasan, aku sudah dipukuli oleh beberapa gadis. Padahal aku tidak benar-benar membuat masalah.
***
Kring ... kring ....
Bel istirahat berbunyi. Mendengar tanda tersebut, aku segera keluar dan menuju tempat yang dijanjikan. Hari ini adalah di mana aku akan menyelidiki latar belakang gadis korban bully bernama Imarine.
“Woi, Ivan. Kamu mau ke mana? Buru-buru amat,” panggil Farrel di belakang tepat setelah aku keluar dari ruang kelas.
“Maaf, Rel. Kalau mau ngobrol jangan sekarang,” ucapku sambil melanjutkan jalan.
__ADS_1
“Ah, Woi ...!” teriak Farrel yang menyebarkan suaranya ke radius lebih besar. “Kamu ambil tugas buat bantuin orang lagi, Van!?”
Aku tidak menjawabnya. Karena tidak berguna, jadi aku abaikan pertanyaan itu.
Lanjut perjalananku menuju taman depan perpustakaan. Aku dan Amalia berjanji untuk bertemu di selasar lorong aula. Tempat yang mencolok, dekat dengan area Imarine muncul, dan sedikit orang berlalu lalang.
Setelah sampai, Amalia sudah sampai lebih dulu. Dia berdiri menunggu di depan pintu aula. Tempat pertama kali aku bertemu dengannya, walaupun kali ini ruangan itu dikunci.
*Whoush ....
Ketika aku berjalan, aku merasakan gelombang emosi. Untuk kesekian kalinya ... gelombang yang kuat berasal dari Amalia.
Langkahku terhenti, pada jarak sepuluh meter aku sudah mengurungkan niatku untuk mendekat.
“...!?”
Ck.
Tapi, Amalia melihatku. Dia yang sadar keberadaanku di radius tersebut pun mulai berinisiatif mendekat. Hanya butuh beberapa langkah agar kami bisa berhadapan.
Ivan ... Imarine sudah ada di sana. Jadi, kita bakal ngapain sekarang?
Tulis Amalia di catatan yang dia tunjukkan padaku.
“...”
Gelombang emosi itu semakin kuat. Aku bisa merasakannya di kepalaku dengan sangat jelas. Terasa sangat mengganggu dan membuatku tidak bisa fokus. Jadi ....
“Gak ngapa-apain, biarin saja dulu Imarine. Tugas ini ditunda buat minggu depan. Sekarang kamu balik saja ke kelas,” ucapku sambil jalan berbalik menjauhi Amalia.
Srek.
Namun, Amalia lebih dulu memegangi lenganku. Dia menahan dengan cengkeraman kecil yang sebenarnya bisa kuhempaskan jika mau.
Tunggu ... kenapa ditunda?
“Kalau kamu mau lanjut, pergi saja sendiri, atau aku yang pergi sendiri.”
Maksudnya bagaimana? Kamu gak mau pergi bareng?
“Iya ... pergi bareng sama kamu itu sangat menyakitkan.”
Amalia mulai menyipitkan matanya. Aku bisa merasakan emosinya berubah tak stabil, pikirannya sudah tidak karuan karena hal tersebut.
Aku menarik napas panjang. Jika bisa ... sebenarnya kalimat ini ingin kuhindari.
“Amalia,” ucapku sambil mulai berbalik kembali menghadap gadis itu. “Kamu lagi mens, ‘kan?”
Gadis itu mengedip dua kali, membuka mulutnya sedikit sambil membuat ekspresi kebingungan.
“...”
Tapi ..., beberapa detik setelahnya ada emosi malu. Gelagat kebingungan yang dia buat membuatnya sedikit liar. Mulutnya terbuka seakan ingin teriak, tapi yang keluar hanya napas tak beraturan.
Bug.
Hingga akhirnya dia menggunakan catatan itu untuk memukul kepalaku.
Heh.
Tentu saja aku bisa menahan hantaman buku tersebut tepat waktu. Kemampuanku ini bisa memberiku intuinsi dan refleks pada serangan pertama. Mendeteksi perubahan emosi di awal kemarahan seseorang.
*****
__ADS_1