
Aku sadar, semua orang juga seharusnya sadar. Tempat yang sedang dipijak sekarang ini adalah dunia yang berbeda dengan kenyataan. Sebuah dimensi khayalan yang diciptakan oleh siluman bernama Octa. Itu artinya, tidak semua yang ada di sini itu nyata, semua pasti ada batasnya di mana hal tersebut hanya dibuat oleh sang dalang.
“Ima, kamu gak usah peluk aku kayak gini.”
“Emn, ehmn,” respons Imarine sedikt menggeleng sambil erat memeluk Azarin.”Sebentar saja gak apa-apa, ‘kan? Cuman sebentar.”
Aku melihat sebuah percakapan singkat, di mana itu adalah sebuah reuni mengharukan dari dua gadis.
Mungkin satu dari yang ingin aku komentari adalah sikap Imarine yang terang-terangan seperti gadis ceria pada umumnya. Gadis tersebut bersuara riang, melakukan bahasa tubuh, sentuhan hangat, dan bahkan ekspresi penuh kebahagiaan. Padahal, dia selalu memperlakukanku dengan dingin. Perbedaan tersebut membuatku sedikit kesal.
Namun, satu hal yang penting dari kejadian tersebut adalah lawan dari reuni tersebut, Azarin. Di dunia nyata, aku sudah mendapat kabar kematiannya. Dia bunuh diri, dan bahkan aku dengan Imarine sudah pernah beragumen tentang hal tersebut.
Melihat ini, aku tahu Imarine sepertinya masih tahu kalau ini adalah kebohongan. Hanya saja, aku tidak ingin secara langsung jadi orang yang mengatakan dan mengingatkan fakta tersebut.
“Farrel,” panggilku sedikit menyudutkan satu orang di sana, berbicara layaknya memisahkan diri dari keramaian.
“Ada apa, Ivan?”
“Kamu sudah kenal ‘kan sama cewek yang namanya Azarin di sana?” bisikku bertanya sambil menunjuk keadaan.
“Seluruh angkatan kita tahu dia. Hampir seminggu topik dia di sekolah jadi trending. Aku di sini cuman pura-pura gak tahu soal dia, tapi sebenarnya aku memang gak tahu apa-apa di sini.”
“...”
Baiklah, anggap saja ini mimpi. Tidak ada salahnya sedikit berkhayal karena seseorang memberikan platform untuk kami di sini.
“Farrel, kamu tunggu di sini.”
“Hn? Kamu mau ke mana, Ivan?”
“Cari informasi,” jawabku dengan singkat.
Aku mulai berjalan lebih jauh, sedikit mencari sesuatu untuk setidaknya memulai hal ke arah yang lebih baik. Di sini aku menghampiri Amalia dan Pero, sejak tadi mereka berdua berdiri tanpa bertukar komunikasi. Tidak seperti biasanya di mana setidaknya Pero adalah pribadi yang paling sering memberiku laporan.
“Amalia, Pero,” panggilku sambil mendekati untuk berkomunikasi. “Kalian tahu apa yang terjadi di sini?”
“...”
Aku sempat melihat ke arah Amalia, tapi gadis itu diam tidak menjawab. Respons yang dilakukannya hanya gerakan mata, melihatku untuk memberi tahu kalau dia sedang mendengarkan. Tapi, dia di saat yang berkelanjutan dia juga melemparkan pandangannya ke arah Pero.
Aku mengikutinya, pandanganku sedikit naik untuk menatap Pero.
“Iya, tepat seperti yang kamu pikirkan, Kaivan. Lia masih bisu, dan kali ini dia gak punya catatan atau pun HP buat bantu dia bicara,” ucap Pero menggantikan.
__ADS_1
Memang benar, ketika dibawa ke dunia ini, aku sama sekali tidak membawa bekal apa pun selain pakaian. Itu mungkin tidak berefek banyak untukku, lagi pula dari awal aku adalah orang yang tidak bergantung pada alat seperti ponsel.
Namun, hal itu berbeda ketika korbannya Amalia, dia dalam kondisi minus sekarang. Tidak ada kertas, tidak ada pulpen, dan tidak ada gadget digital. Dia hampir tidak bisa melakukan komunikasi dengan siapa pun.
“Oke, sebelumnya aku minta maaf, negosiasi waktu itu gagal. Kayaknya sekarang aku sudah tarik banyak orang sekaligus.”
“Tidak masalah. Aku dan Lia waktu itu lihat, kamu memang sudah mencoba, tidak ada alasan buat aku untuk menuntut keberhasilan darimu sekarang,” ucap Pero menerima keadaan sekarang.
“Oh, kamu lihat?” tanyaku sedikit terkejut.
“Iya, aku dan Lia melihatmu. Waktu itu Octa memang sengaja, dia memperlihatkan kondisinya kepada kami layaknya layar televisi.”
Pero bahkan sudah menyebut nama siluman besar itu, fakta tersebut sudah menjelaskan kalau dirinya memang sudah tahu dan melihat apa yang terjadi padaku. Mungkin itu bagus, tapi sepertinya hal tersebut sedikit memalukan dan menakutkan mengingat perlakuan keji yang kuterima dari Octa sebelumnya.
“Oke,” ucapku memotong topik. “Kalau gitu langsung saja, Pero. Kamu tahu sekarang kita harus apa?”
Di sini tentu kita tidak boleh diam saja. Perlu satu langkah di mana aku dan semua orang di sini melakukan kemajuan untuk bisa keluar dari dunia ilusi. Melihat ada wajah Azarin membuatku terasa aneh, terlebih lingkungan ini juga diisi oleh orang yang tidak kukenal. Hanz bersama empat orang di sekitarnya masih memandangi kami dari jauh tanpa mencoba mendekat sedikit pun.
“Kalau kamu tidak mengerti, aku juga seharusnya tidak mengerti. Tapi, satu hal yang paling mencurigakan adalah tentu desain dari tiga belas bilik yang ada di sana.”
“Bilik?”
Aku kembali mengalihkan pandanganku, kali ini mengikuti arah tunjuk dari Pero siluman gagak.
Ruangan yang kutempati sekarang dari awal punya penerangan yang luar biasa. Bahkan, aku masih merasakan silau walaupun sedang menutup mataku. Ini membuat kondisi di mana kelelahan penglihatan untuk jangka panjang jika terus membuka mata. Jadi, keberadaan bilik yang tersusun di ujung sisi ruangan terlewat olehku. Mereka semua terhalang oleh penerangan luar biasa di ruangan tersebut.
“Hmn?”
Kali ini aku mendengar suara, suara yang sama layaknya orang serak. Di kesempatan kali ini, aku sudah memendam perasaan di mana suara tersebut terasa menyebalkan secara tata bahasa.
Semua di ruangan mengarahkan kepala ke atas, mencari sumber suara tersebut untuk melakukan tatap muka secara responsif. Octa di sana berbicara masih dengan cara yang sama, sebuah suara yang besar mewakili langit tanpa arah yang jelas. Jadi, beberapa orang masih kebingungan mencari sumbernya.
Kaivan ... apa kamu dengar? Ini adalah pesan terakhir dariku, baik padamu maupun pada orang lain yang hadir di sana. Kalian berada di dunia buatanku, dan hal pertama yang kalian lakukan adalah masuk ke dalam bilik tersebut untuk mendapat penjelasan.
Aku tidak akan datang menjelaskan lagi setelah ini. Semua penjelasan dan pertanyaan akan terjawab setelah masuk ke dalam bilik tersebut. Pastikan kalian hadir di bilik dan menekannya bersama.
Itu saja pesan ini. Semoga berhasil memainkan game ini, dan tekad kalian untuk menyelesaikannya. Sampai jumpa.
*Bip
Pesan singkat itu pun berakhir layaknya efek putus dari telepon. Meninggalkan pesan singkat tanpa menghapus ketenangan yang ada di ruangan itu.
Beberapa orang ada yang mulai bicara, berkomat-kamit dengan partnernya masing-masing hingga membuat suara layaknya sedang terjebak di kerumunan. Bahkan, beberapa dari mereka melihatku dengan pandangan sinis.
__ADS_1
Ada hasrat diriku untuk memimpin, menggunakan suara keras layaknya pembina upacara atau pemimpin di tim pramuka. Tapi, anggota di sini tidak semuanya ada di bawah naunganku. Selain teman sekolah, ada juga beberapa orang yang tidak kukenal.
Baiklah, mungkin Hanz bisa menaruh kepercayaan dengan sifat rendah hatinya dan meyakinkan empat orang di sekitarnya. Tapi, aku tidak yakin kalau Verdian pacar kak Dina akan menurut begitu saja jika aku melakukan ucapan perintah.
“Hmn ....”
*Step, step, step ....
Jadi, aku langsung saja melakukan inisiatif sendiri.
“Kaivan? Kamu mau ke mana sekarang?” tanya Pero yang melihatku berjalan mendekati tiga belas bilik di sana.
“Ke mana? Gak ada apa-apa lagi di sini. Kita cuman bisa turutin orang itu saja.”
Di sini aku hanya bisa melakukan perintah tidak langsung. Aku sendiri tidak tahu detailnya, tapi orang cenderung akan mengikuti gerakan dominan. Seperti keputusan mayoritas, manusia cenderung berpikir sesuatu yang lebih banyak itu lebih benar.
Hal tersebut juga terjadi sekarang, aku berjalan menuju bilik sambil diikuti oleh Pero dan Amalia. Beberapa waktu selanjutnya, aku juga sedikit menoleh ke belakang memberi isyarat. Di sana, Imarine, Azarin, dan juga Farrel menjawab singkat dan ikut berjalan mengikuti tindakanku.
Pada akhirnya, terbentuk setengah jumlah orang sedang menuju bilik-bilik itu. Hanz dan empat orang di sekitarnya mulai berjalan, lalu terakhir adalah kak Dina, dan Verdian. Entah menyerah tidak punya pilihan atau karena terkena efek psikologis tersebut, kami semua sekarang menyerbu barisan bilik tersebut dan memilih kepunyaan masing-masing.
“...”
Aku orang pertama yang sampai di salah satu bilik di sana, letaknya lebih tengah karena memang cukup strategis untuk aku tuju.
Ketika aku perhatikan, bilik tersebut tidak lebih dari sekadar tempat kecil seukuran tempat khusus untuk telepon umum atau seperti bilik ruang kecil ATM. Ruang di sana berbentuk persegi panjang dengan tinggi dua meter dan panjang lebar tidak lebih dari satu meter. Di dalamnya terdapat sebuah tombol besar cahaya, ditaruh di tengah meja di dalamnya begitu besar dan mencolok, layaknya tombol yang dipakai acara kuis di televisi.
Dari awal, bilik itu memiliki pintu yang transparan, jadi aku bisa melihat isinya dari satu sisi di depan. Jadi, analisis bisa melihat di dalamnya lebih dulu sebelum masuk.
“Baiklah, Kaivan. Apa kamu ingin melakukannya sekarang?” tanya Pero di sampingku.
Aku merespons dengan menoleh ke sumber suara. Pero di sana juga sudah berdiri di depan bilik sejajar denganku masih menunggu. Tidak tahu kapan waktu yang jelas, tapi ternyata semua orang di satu jalur tiga belas orang ini melakukan hal yang sama berdiri di depan pintu. Pertanyaan Pero kala itu memang sedang menunggu aba-aba dariku.
“Iya, sekarang saja,” ucapku memutuskan.
*Open
Aku membuka pintu tersebut, masuk dan diam di sana untuk beberapa saat.
Di saat menunggu, aku juga mendengar beberapa suara dari pintu terbuka dari berbagai arah. Tanpa melihat, aku bisa mengerti kalau orang-orang mulai masuk juga mengikuti.
Di dalam, aku sedikit merenung melihat tombol tersebut. Tapi, di sana aku tidak ingin membuang waktu lebih banyak lagi. Dengan satu tarikan napas, aku pun menekan tombol tersebut dengan seluruh telapak tanganku.
*Press
__ADS_1
*Whosuh ....
“Hh!?”