
"RRWaAAaaGhh ...!!"
*Bug, bug, bug, bug ....
Monster itu berlari sambil teriak beringas. Seperti keadaan penuh kemarahan, tidak terlihat sama sekali tanda-tanda kalau dia baru saja bangun tidur. Getar tanahnya begitu kuat, dari jarak sekitar dua puluh meter dia berlari lurus menuju diriku tanpa penghalang, membuat gempa lokal tersebut semakin hebat terasa.
"Heh, ayo kita mulai babak kedua," ucapku bergumam sambil berdeham kecil.
Kecepatan Monster itu berlari sangat luar biasa. Dia menggunakan tangan dan kakinya secara bergantian tapi bisa bergerak dengan lincah di wilayah kosong. Jika aku melakukan start yang adil, tentu tidak sampai satu menit aku sudah kalah telak.
Di sana aku langsung memasuki wilayah hutan dengan pohon lebat. Berlari dengan lincah melewati sela-sela pohon yang tentu tidak akan sanggup monster itu masuki. Berbeda kondisi ketika hari kemarin, kali ini aku bisa bermanuver lebih lincah bersama pohon-pohon tersebut. Bajuku yang ringan, tidak ada barang bawaan, dan sedikitnya sudah paham medan daratan membuatku bisa bergerak bebas walau dalam keadaan gelap malam.
Aku mungkin masih membawa senter, tapi ukurannya lebih kecil dari pada yang kugunakan kemarin. Membawa barang terlalu banyak hanya akan memperlambat dan menghancurkan ritme berlari.
*Krak, krak, krak ....
Terdengar suara rekahan pohon. Monster itu mulai menubrukkan diri dan melibas pohon-pohon yang menghalangi jalannya.
Aku tidak mengerti kenapa dia memilih untuk melakukan gerak lurus tepat ke arahku dan malah membiarkan dirinya terhalang banyak hambatan pohon. Tapi, pola lari itu memang sangat mirip seperti video game.
Dia tidak cukup pintar dalam strategi berburu. Bahkan, berpikir untuk mengambil jalan memutar dan memotong jalur lariku dari depan saja tidak dia lakukan. Padahal, itu cara yang biasa dilakukan oleh pemangsa seperti cheetah, harimau, atau singa. Aku anggap ini sebagai kemudahan, mungkin saja dia hanya memang tidak dapat melihat pepohonan hambatan tersebut dengan jelas.
Getar tanah mulai berkurang, terasa kalau kecepatan monster itu berkurang. Lalu, sebaliknya, suara rekahan pohon bertambah, terdengar jelas kalau sang monster masih fokus membuka jalan dari pada berlari mengejarku.
Akan tetapi, bukan berarti dia jauh tertinggal.
Satu detik dari langkah monster itu mungkin setara dengan lima detik langkahku. Masih butuh lebih banyak penghalang dan penghambat jika aku tidak ingin berakhir menjadi rujak di kepalan tangan besarnya.
Sambil berlari, aku sesekali melihat sekeliling hutan. Meneliti rute terbaik dan tentu mencari hasil kerja yang sudah kulakukan sebelumnya.
Ah ... masih ada.
*Cut, cut ....
Di perjalanan itu aku berhenti sejenak. Lalu, memotong sebuah pemicu yang sudah kusiapkan sebelumnya menggunakan kapak.
Itu bukan jebakan, aku hanya seperti mengembalikan posisi tanaman-tanaman ke posisi semula. Dari pekerjaan yang kulakukan, aku hanya membuat rute yang awalnya sulit menjadi lebih mudah. Cara sederhana seperti menarik tanaman kecil berduri ke samping. Lalu, sehabis melewati rute tersebut, aku melepaskan kembali persiapan tersebut. Tanaman-tanaman berduri, berkayu keras, dan semak tinggi yang sebelumnya aku sikap pun kembali aku lepas agar mengganggu monster itu nantinya.
Setelah banyak tanaman-tanaman yang aku kembalikan posisinya. Di rute tersebut aku juga memasang tali di antara dua pohon. Sedikit lebih tebal dan sesuai dengan tinggi monster tersebut.
Aku tidak tahu tali yang dipasang sejajar dadanya akan menghambat monster itu. Dengan kekuatannya yang bisa menumbangkan pohon, tentu tali tambang yang tersingkir itu mungkin hanya terasa seperti benang gelasan baginya. Tapi, itu sudah cukup, bahkan manusia saja bisa terganggu oleh jaring laba-laba yang tipis. Jadi, tali tambang itu bukan hal yang sia-sia.
Aku terus berlari dengan lincah. Lari sambil menunduk melewati sela terowongan, memiringkan badan melewati tempat sempit, melompat menghadapi perbedaan medan, dan berselonjor mengikuti turunan. Semua tetap kulakukan tanpa ada hambatan.
Huft ... hah ... huft ... hah ....
Sampai ketika aku sapai di satu titik, tubuhku mulai melambatkan langkah untuk beristirahat sejenak. Walaupun langkahku tidak berhenti, tapi kecepatan lariku kala itu berkurang secara signifikan.
"Kayaknya jarakku sudah jauh sama monster itu," gumamku sambil melihat ke belakang. "Iya, huft ... hah ... badan monster itu sudah gak kelihatan lagi."
Aku sekarang sudah berlari sekitar satu kilometer. Itu artinya, bersisa hanya satu sampai dua kilo meter lagi, bahkan aku mungkin sudah sampai di setengah jalan menuju goa tersebut. Oleh sebab itu, bersama lambat lari, aku ingin melanjutkannya dengan joging biasa yang tidak terlalu intens untuk jantung.
"Hmn ... kalau jaraknya kayak gini masih lancar, berarti harusnya sampai akhir gak bakal ada masalah—"
"RrrAaAaAAgGHHhhh! Rawhg, RHagh, RAAaaAArraAghH ...!!"
"Nhng!?"
Suara teriakan, raungan keras dari monster tersebut kembali aku dengar. Walaupun jaraknya yang jauh, suara tersebut terdengar berbeda dengan teriakan yang biasanya dia lakukan. Atmosfer di sekitar bergetar, daun-daun bergerak terpengaruh frekuensi keras, dan aku juga sampai menutup telinga tidak kuat dengan tinggi volumenya.
Aku sempat ingin mengabaikannya, mungkin itu adalah sebuah bentuk dari kemarahan kosong dari monster yang hampir kalah. Lagi pula, di hutan ini luapan dari raung tangisan perang tidak berpengaruh pada siapa pun. Tidak ada makhluk hidup yang berpengaruh di hutan ini, dia satu-satunya makhluk ganas yang mengacaukan hutan.
__ADS_1
Jadi, pikiranku soal teriakan itu adalah panggilan bantuan bisa dihapuskan. Lagi pula, walaupun volumenya besar, terasa jelas kalau teriakan tersebut punya sumber yang cukup jauh dariku—
BUGKH!!
"Hh!?"
Kali ini aku benar-benar terkejut. Tiba-tiba saja terdengar suara benturan yang sangat keras, bahkan suaranya sudah seperti ledakan granat di medan tempur. Refleksku saja di sana sampai berlindung menaruh kedua tangan menutupi kepala, getar dan gempa lokal itu juga membuat perasaan khawatir karena ketidaktahuanku atas apa yang terjadi.
Suara selayak benturan itu hanya berlangsung beberapa detik. Lalu, tentu aku pun mencoba menengok ke sumber suara, seharusnya benturan tersebut tidak jauh dari tempatku berdiri sekarang.
Eh? Pohon?
Bukan pohon yang ditanam, tapi pohon yang tumbang yang telah aku lihat sekarang. Tepat sekitar lima belas meter di samping, ada sebuah batang pohon besar jatuh terlentang bersama debu-debu susulannya.
Aku yakin pohon tersebut tidak ada di tempatku barusan. Dari bentuknya yang punya potongan akar dan tidak adanya tapak pohon tumbang, aku punya bayangan buruk tentang hal yang sedang terjadi—
BUGKH!!
"Hh!?"
Benturan kedua. Kembali lagi refleksku menaruh kedua tangan di kepala berlindung dari suara dan getarannya. Tapi, itu hanya sekejap dan logikaku mengambil alih melihat arah datang benturan yang kedua tersebut.
"..."
Lalu, di sana pun kembali terlihat sebuah pohon yang mengibas seluruh daun-daun tanaman lain ke samping. Bersama dengan debu, dia menindihi berbagai pohon lain dan bahkan membuat mereka sebagian tumbang.
Heheh, heheheh, hahahaha ....
Tentu saja, tentu tidak akan semudah itu.
Monster itu ternyata tidak menyerah, dia yang terjepit di hutan oleh pepohonan dan jebakan yang kugiring ke sana membuatnya melakukan tindakan baru. Tapi, ini di luar perkiraanku, apa yang dilakukan begitu gila karena melempar batang pohon utuh tepat mengarah padaku.
Benar-benar luar biasa.
Lalu, pohon yang dilempar dan jatuh dari langit punya diameter batang yang jauh lebih besar. Jika aku tertimpanya, sangat besar kemungkinan aku tidak akan bisa meloloskan diri mengangkat batang tersebut.
Di sana aku melupakan pilihan untuk berjoging, sebisa mungkin kembali tubuhku untuk dipacu berlari. Aku pernah menyukai ketenangan dari hujan. Tapi, aku tidak ingin mengalami yang namanya hujan batang pohon.
Aku kembali bermanuver di antara pohon-pohon, menerobos semak-semak dan sesekali melihat ke belakang atas untuk memastikan tidak ada batang pohon yang jatuh ke arahku. Rasanya memang cukup sulit, merusak ritme berlari dan memeriksa langit di keadaan hutan yang daunnya lebat.
BUGH!!
Tapi, batang pohon tersebut tidak berhenti berjatuhan.
Jatuh ke depan, jatuh ke samping, jatuh di belakang. Berbagai jenis batang pohon baik yang besar maupun yang lebih kecil terus berdatangan membuat gempa lokal di sekitar tempatku berlari. Ini membuatku sedikit khawatir. Di gelap malam, dia masih bisa melempar pohon tersebut dengan akurasi yang baik.
"RAahGgkh ...!!"
"E-eh!?"
Raungan dari sang monster terdengar lagi. Namun, kali ini aku merasakan kalau sumber suara tersebut jauh lebih dekat dari sebelumnya.
*Krek, krek, krek ... bug!
Aku sebelumnya ingin melihat arah datang pohon jatuh di belakang. Tapi, sesuatu yang kulihat malah lebih buruk dari itu. Monster itu sekarang sudah ada di dekatku, cukup dekat untuk bisa dilihat sosok tubuhnya sekarang. Dia sekarang bukan berlari, melainkan bergelantungan dan melompat lincah di pohon-pohon.
Mungkin pohon yang dia pakai akan langsung patah, tidak kuat menahan bobot tubuh raksasanya. Tapi, apa yang dilakukannya sekarang benar-benar membuat tubuhnya bergerak lebih cepat. Daru satu pohon, meluncur ke pohon lain. Melihatnya yang bergerak cepat di antara pohon membuatku teringat kembali, dari awal memang tubuh sang monster yang punya sedikit kemiripan dengan bangsa kera.
Rasa panik mulai menyerang, tapi yang bisa kulakukan hanya berlari lebih kencang lagi.
"Hkguaarrhg ...!!"
__ADS_1
*Throw
Di tengah pelarian, aku bisa merasakan atmosfer bergetar di udara, gelombang angin yang khas ketika ada barang besar yang membelah udara di langit. Di sana mataku kembali refleks melihat ke belakang, dan benar saja kalau ada batang pohon melayang ke arahku dengan cepat.
Batang itu dilempar dalam keadaan horizontal, melintang lebar ke arah kanan dan kiri tapi melaju tepat ke tubuhku. Lari lebih cepat tidak akan dapat menghindarinya, oleh sebab itu aku berlari belok arah samping di mana terdapat beberapa pohon lain untuk bersembunyi.
Bugkh!!
Batang pohon yang dilempar itu pun mulai mendarat di belakang, tapi lajunya masih tidak berhenti menggelinding dan sedikit memantul mengejarku.
Di sana aku sudah mengubah arah, ke samping dan berusaha menghindar dari terjang yang menyapu dari batang besar tersebut.
"Akhhtkh, AaAakh!"
*Jump
Kejadian itu berlalu begitu cepat, bahkan aku yang berlari ke samping perlu sampai melompat agar tepat waktu menghindarinya. Serangan tersebut begitu berbahaya, lemparan batang pohon tersebut begitu kencang dan hampir saja mengenai tubuhku. Tapi, sekarang aku selamat. Sedikit terjatuh dan dalam posisi terbaring di semak-semak, tapi masih hidup—
*Krek, krek ....
"HuuAaRH!"
*Throw
"Hh!?"
Raungan monster itu terdengar lagi. Bersama dengan suara rekahan pohon dan atmosfer yang bergerak kasar, aku melihat batang pohon susulan kembali dilempar.
"Sial, aku gak boleh berhenti— Gkhakh! Khth ...!"
Aku mencoba berdiri lagi, tapi rasa sakit menahanku. Kakiku kananku terasa perih, urat-urat di sana seakan tidak ingin menuruti perintahku. Begitu aku lihat sejenak, ternyata terdapat cipratan darah di celana yang kupakai. Sepertinya aku terluka ketika melompat dan menggusurkan badan di semak-semak barusan.
Bugkh!!
Batang pohon yang dilempar telah mendarat. Tapi, benda tersebut masih meleset koordinatnya dengan posisi tubuhku. Suaranya jauh lebih keras, sentak udara menggelegar dan bahkan menyikap terbang rambutku.
*Krek, krek ....
Lemparan batang pohon besar tersebut membuat pohon-pohon yang lain merunduk, membengkok, dan bahkan tumbang ke samping. Batang yang dilempar jauh lebih tebal, keras, dan berat kayunya. Karena pohon yang mengelilingiku sekarang punya jenis kayu yang tipis, maka semua pohon yang tumbang tersebut telah membuka tubuhku ke langit.
Daun-daun yang semula menutup tubuhku hilang, radius lima belas meter sekelilingku bersih seketika. Di titik ini, aku bahkan bisa menatap langsung monster tersebut. Dia sedang berada di posisi tinggi melihat dari jauh.
"RuuuaAaAaaGKH ...!!"
Lalu, dengan cepat si monster itu pun melompat jauh, lurus meluncur kembali mendekatiku. Dia yang bergerak di udara sangat lincah sudah tidak terkalahkan.
"Heh, aku mungkin boleh mati, tapi bukan mati diinjak."
Kakiku mungkin terluka, tapi tidak cukup parah untuk disebut lumpuh total. Dengan perlahan, sedikit demi sedikit, aku menopang kembali tubuhku. Walaupun tangan gemetar, walaupun gigi mengeram, walaupun seluruh tubuh terasa ingin remuk. Tapi, aku tetap berusaha bangkit.
Monster itu terus mendekat.
Bugh!
Sampai dia mendarat tepat di hadapanku dan membuat tubuhnya menggetarkan kembali tanah yang kutapak.
Di sana aku masih berdiri terhuyung, kaki sedikit terkilir dan stamina yang mengering, aku tetap menatap tajam walau keringat membanjiri wajah. Tanpa takut ... aku mengacungkan kapak ke arahnya.
"Heh," dehamku sambil menyungging senyum.
__ADS_1