Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 1 Sampah Organik : Chapter 21 - Sebenarnya Apa Salahku


__ADS_3

Mendengar ucapanku, gadis itu mulai mengangkat wajahnya. Bisa kulihat garis di bawah matanya yang membekas akibat lajur air mata, bisa kulihat kelopak mata yang sedikit membengkak akibat gosokan tangan. Wajahnya kini berbeda, tidak dipenuhi urat kemarahan, melainkan isak tangis sebuah kesedihan.


“...”


Sesaat setelah bertatapan denganku, dia mulai memalingkan wajahnya. Untuk alasan yang tidak diketahui, gadis itu menolak melihat ke arahku lebih lama.


“Sampai sekarang, Ima masih belum berhenti mencuri apa yang aku punya,” ucapnya melanjutkan kesedihan.


“...”


Kali ini suara Azarin memberat. Berbeda dengan kalimat-kalimat sebelumnya yang dipenuhi kesedihan dan kecemburuan, kali ini emosi kemarahannya yang jauh lebih dominan.


“Ayahku berselingkuh dengan ibunya Ima.”


“...”


Entah aku tertular emosi dari seseorang di sini atau bukan. Mendengar perkataan Azarin, otakku untuk sementara mengalami freeze.


Apa? Gimana?


“Ima bukan cuman ambil seluruh perhatian di sekitar, tapi dia juga mengambil ayahku. Sudah sejak lama ayah berselingkuh dengan ibunya Ima, Ibuku yang tahu langsung shock dan stres karenanya. Pada akhirnya keluargaku hancur, orang tuaku bercerai, ayahku pergi, dan ibuku jadi pemarah.”


Eh? Apa itu? Keadaannya sangat parah. Broken Home? Aku tidak mengira kalau masalahnya seserius itu.


Aku menelan ludah, mencari solusi dan reaksi yang tepat untuk menanggapi hal ini.


“Un,” responsku sambil mengangguk. “Aku sudah dengar, makasih kamu sudah cerita. Sekarang aku tahu kalau selama ini kamu cewek kuat.”


Aku mengatakan itu dengan santai. Seolah bijak dan mengerti apa yang dirasakan Azarin. Tapi ....


“Ck,” decak lidah Azarin cukup keras terdengar. “Kaivan ....”


Hn?


Keluar ... lagi-lagi keluar. Emosi kemarahannya terus meledak.


Dengan tarikan napas kencang, Azarin maju satu langkah untuk mendekat ke arahku sambil mengangkat wajah menatap ke arahku.


*Srek.


Tangannya memegang ... atau bahkan mencekik kerah bajuku. Tingginya yang berbeda sedikit denganku membuat dia bisa mengangkat sedikit tubuhku ke atas.


Dug ..., dug ...


Tapi, kemarahan itu hanya berlangsung sekejap. Setelah mencekik dan mencengkeram bajuku, kekuatan tangannya malah melemah. Tindakan Azarin barusan tidak dilakukan untuk melukaiku.


*Snif ....


Wajahnya kembali mengeluarkan air mata. Emosinya benar-benar tidak stabil, begitu rapuh dengan ketidakpastian. Tatapannya dipenuhi kesedihan dan keraguan, setelah menatapku dengan dekat, cengkeramannya pun dilepas.

__ADS_1


“Kaivan ....”


Tangannya turun perlahan mengikuti gravitasi, menjalar dan meraba tulang rusuk hingga akhirnya dia menempelkannya di dadaku. Dua kepalan tangan Azarin yang bergetar seolah menyalurkan seluruh emosinya ke hati.


“Bagaimana caraku agar bahagia?” tanyanya dengan lirih. “Aku bingung, ibuku sering memukuliku sekarang, dia sangat mudah marah. Belum lagi teman-temanku sekarang, banyak yang mengira aku jahat, mengira kalau aku tidak berperasaan. Aku bosan ... aku benci dinilai seperti itu."


“Jangan khawatir, aku tidak sama dengan mereka. Tidak sedikit pun aku berpikir kalau kamu itu jahat. Jika cowok yang kamu suka itu menolakmu, jika orang-orang di sekolah menganggapmu jahat, atau bahkan jika ibumu sendiri membencimu, merekalah yang sebenarnya buta.”


*Whoush ....


Emosi Azarin semakin melembut. Getaran di tangannya mulai berhenti, aku bisa merasakan kalau luka hatinya sedikit-demi sedikit terobati.


"Be-beneran?" katanya dengan melembutkan suara. "Kamu gak lihat? Aku sudah pukuli Ima, aku sudah membuat dia kesakitan, aku yang bosan dipanggil jahat malah berbalik dan mengikuti kemauan mereka .... Itu aku, lho. Aku membuat semua tuduhan itu benar. Apa kamu yakin bilang kayak gitu?"


Dibandingkan dengan ucapan tegas sebuah pengakuan, nada kalimat yang Azarin utarakan lebih mirip pada sebuah permohonan. Seluruh ruas tubuhku merinding mendengarnya, begitu hebat dia menaruh perasaan di sana.


"Mau sampai berapa kali pun akan tetap kukatakan," ucapku meyakinkan. "Aku tidak buta ... merekalah yang buta. Tidak pernah sedikit pun aku mengira kalau kamu orang jahat. Aku akan terus di sini menemanimu."


Isak tangisnya kembali terdengar, getaran tangannya muncul kembali mengikuti. Tapi ..., biarpun begitu ... aku juga merasakan kebahagiaan yang mengalir.


“Te-terus ... aku harus bagaimana?”


“Hentikan perbuatanmu pada Ima. Satu hal yang kamu lewatkan di cerita tadi. Ima juga orang yang selalu percaya padamu. Dia tidak menganggapmu orang jahat, dia percaya kalau kamu akan kembali ke jalan yang benar.”


*Snif ....


Azarin menurunkan tangannya dari dadaku, dia kembali menundukkan kepalanya ke tanah.


Tentu saja ... aku tidak bisa memutar balikan waktu. Sesuatu yang terjadi tidak bisa kubuat hilang dan anggap tidak ada. Fakta kalau orang tuanya bercerai tidak akan berubah.


“Azarin ... apa kamu benci ibumu?”


“...”


Dia tidak menjawab. Cenderung diam dan tidak ada tanda akan menjawab.


“Kalau kamu membencinya, kamu hanya perlu melaporkannya pada orang dewasa di luar sana. Mereka bisa menyelamatkan dan memisahkanmu dari ibumu.”


“...”


“Tapi, jika kamu tidak membencinya, jika kamu ingin mempercayainya, berharap kalau tidak ingin berpisah ... kamu bisa coba menyentuh hatinya. Buatlah dia berubah, jangan biarkan ibumu terus sendiri, kamu orang yang tahu apa yang dia lalui, dia sekarang dalam keadaan yang sama sulitnya denganmu.”


“...”


Reaksi Azarin masih lemah. Kedua tangannya yang menggantung lemas menunjukkan kalau dia tidak menaruh tenaga di tubuhnya. Gejolak gelombang emosi gadis itu juga sudah berhenti, membuat aku tidak tahu apa yang dia rasakan sekarang. Layaknya hujan lebat yang mengguyur sesaat, emosi Azarin sekarang lebih seperti gerimis berpelangi.


“Azarin ....?” panggilku yang sedikit khawatir.


Buk.

__ADS_1


Ghuak!?


Tapi, gadis itu tiba-tiba memukul perutku. Rasa sakit yang seketika muncul membuat tubuhku lemas dan akhirnya jatuh ke posisi setengah berdiri memegangi perut.


“...”


Rasa sakit itu membuat refleks memejamkan mata, pandangan di depanku terhalang untuk sementara. Sambil mengelus kulit di sekitar organ pencernaan, aku pun berusaha membuka mata untuk melihat Azarin di hadapanku.


Hmn?


Lagi-lagi gadis itu berbuat seenaknya, dia ternyata sudah pergi menjauh dariku. Langkahnya begitu cepat, saat mataku sanggup mengintip, Azarin sudah ada di ujung jalan keluar meninggalkanku.


Apa aku membuatnya kesal? Apa perkataanku terlalu berlebihan sebagai orang luar?


Beberapa usap dan pijatan perut kulakukan untuk menghilangkan rasa sakit barusan. Berbeda dengan serangan di awal yang membuatku terkapar, pukulannya barusan benar-benar di luar dugaanku. Ternyata gadis itu bisa memukul orang tanpa memunculkan emosi kemarahan. Akibatnya perutku belum siap mengeraskan diri untuk meningkatkan pertahanan dari serangan luar.


Setelah cukup kuat untuk berdiri, aku pun menghampiri gadis-gadis yang selama ini ada di belakang. Di sana aku melihat Imarine yang sudah berdiri di depan Amalia.


“Ima,” panggilku padanya sambil mendekat. “Kamu gak apa-apa— enggak, kamu pasti kenapa-napa, sih.”


Gadis itu dalam keadaan buruk dengan tubuh basah dan beberapa memar di tubuhnya.


“...”


Oleh sebab itu, aku pun mulai membuka jaketku. Berniat untuk memberinya pertolongan pertama agar dia tidak kedinginan dan bisa menyamarkan pakaiannya yang kotor.


“Ima ... pakai jaketku—”


Buk.


Ghuak!?


Pukulan di perut lagi. Aku menerimanya dari Imarine dan membuatku terjatuh untuk kedua kalinya. Rasa sakitnya menjadi berlipat-lipat karena dia menyerang di tempat yang sama dengan Azarin. Dan entah kenapa, Imarine yang barusan juga bisa melakukan hal yang sama ... memukul tanpa mengeluarkan emosi kemarahan.


Hah ... hah ....


Aku melihat Imarine, dia juga pergi meninggalkan tempat ini tanpa pamit. Ini sebenarnya membuatku sedikit khawatir tentang yang kulakukan. Padahal, setelah kalimat terakhir kukatakan, gelombang emosi depresi telah hilang.


Walaupun rasa sakitnya belum hilang, aku tetap berusaha mengangkat wajah untuk melihat kondisi Amalia.


“Woi, Amalia—”


Buk.


Kali ini dia memukulku di kepala menggunakan buku catatannya. Berbeda dengan Azarin dan Imarine, pukulan itu bisa kurasakan gelombang emosinya. Perasaan kesal gadis itu terasa, tapi kondisiku yang tidak memungkinkan untuk menghindari serangannya.


Mengikuti arah pukulan Amalia, kepala dan tubuhku terjatuh hingga wajahku mencium tanah.


Sial ... sebenarnya apa salahku?

__ADS_1


 


 


__ADS_2