Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 31 - Kebangkitan . 1


__ADS_3

Aku tidak membenci Geza.


Walaupun aku baru bertemunya beberapa saat, tapi gelombang emosinya yang terasa begitu lama dan panjang seakan membuatku mengenalnya jauh lebih lama. Semua rasa sakitnya, semua dendamnya, semua kemarahannya, semua kesedihannya ... mengalir jelas di tubuh dan nadiku.


Mungkin perasaan tersebut hanya sepihak, di mata penyihir lobster itu aku masih sekadar orang asing. Kata-kataku tidak sampai ke hatinya, apa yang terucap tidak sanggup untuk mengubah pikirannya. Semua hanya lewat ke telinga, dan diterimanya sebagai bentuk hinaan. Dia ada di posisi sulit di mana dia pikir tidak ada yang bisa paham perasaannya, berpikir seperti itu dan terus menjadi seluruh dunia sebagai musuhnya.


Aku mengerti kenapa dia dalam keadaan seperti itu, apa yang dia lewati terlalu kejam untuk seorang anak. Ingatannya kala itu masih muda, tertumpuk begitu lama hingga menjadi neuron bagian dalam, hingga menjadi pusat utama dari seluruh ingatan yang sulit terhapus.


Keberadaanku saat ini terlalu lambat, rasa sakit itu sudah terlanjut memaku dalam di ingatannya. Walaupun aku tidak setuju dengan seluruh ideologi dan tindak pembunuhannya, tapi secara penuh aku tidak benar-benar membenci Geza karena keputusannya.


Satu-satunya yang kusesali adalah keberadaanku yang sangat lambat untuk bisa membantunya. Lalu, jika masih ada satu harapan, aku ingin dia mencoba berpikir lebih dalam, memberi kesempatan pada dunia yang sudah dia kira sakit untuk menunjukkan cahaya kedamaian.


Walaupun aku hampir dibunuh olehnya ... walaupun aku diberikan banyak rasa sakit, tetap tidak ada sedikit pun keinginan murni untuk membunuhnya.


*Dug, dug ....


Aliran darahku mulai stabil, detak jantungku cukup untuk memompa darah ke otak dan mengirim oksigen ke sana. Akibatnya, kerja saraf di kepala mulai bekerja, sedikit demi sedikit aku mendapatkan kesadaran kembali.


Huft ... hah ....


Napas lemah, setidaknya itu yang kudapatkan sekarang. Pergerakan udara di tubuhku begitu pelan, tapi untuk alasan yang tidak diketahui, aku tidak bisa membuatnya semakin kencang. Ini seperti ada penghalang yang menekan tubuhku untuk bernapas lebih keras.


Tiit ... tiit ....


Pendengaranku mengikuti, kesadaran tersebut juga membuatku sadar dengan getar suara. Dari arah yang tidak jauh, aku mendengar suara mesin yang berkelanjutan layaknya bunyi mesin stabilizer.


Di saat yang berkelanjutan, aku juga mulai bisa merasakan saraf di wajahku. Ketika bicara soal wajah, itu saatnya tiba untuk menggerakkan kelopak mata.

__ADS_1


Begitu berat, tapi bukan seperti mustahil. Sesuatu yang menahanku adalah sensasinya yang begitu asing, padahal hanya membuka mata, tapi entah kenapa rasanya silau ... dan lengket, layaknya lendir keras menahan kulup mata tersebut untuk terbuka.


"..."


Mataku terbuka sekarang. Walau hanya dengan penerangan ringan dari kamar rumah sakit, cahaya tersebut sudah cukup membuatku memicingkan mata karena tidak biasa.


Hal pertama yang aku lakukan tentu adalah analisis keadaan.


Ketika pandangan di mataku mulai jernih, hal pertama yang kulihat adalah satu ruangan yang lengkap dengan peralatan medis. Kasurnya sangat khas, keberadaan tirai di samping, selang-selang dan perban saling bersatu, mesin deteksi detak jantung.


Tanganku yang terlilit perban sangat tebal membuatku tidak bisa menggerakkannya, dan itu ada di kedua tangan. Walaupun sama-sama terluka, tapi keduanya punya luka yang berbeda. Sebelah kananku lebih ke patah tulang, mereka dililit bersamaan dengan gips keras menjaga bentuknya. Sebelah kiri lebih ke arah luka jahit dan cangkok kulit, patah tulang yang kualami di tangan kiri tidak sampai pada tahap mereka memasang gips.


Melihat ke arah kaki, ternyata anggota tubuh itu tidak mengalami luka parah. Dari seingatku, memang tidak ada luka serius di mana kakiku menerima serangan langsung. Jadi, kala itu memang kaki lemas karena disposisi atau sesuatu seperti keseleo.


Hmn?


Aku cukup senang ... atau mungkin bisa disebut lega. Barang tersebut bukanlah barang biasa, itu adalah peralatan yang biasa dibawa kak Dina. Kain tersebut adalah jaket dan syal khusus miliknya, tas dengan warna cerah merah dan biru juga, ditambah dengan roti tawar yang biasa dia beli saat tidak memasak. Jejak kehidupannya saja bahkan bisa aku ketahui dari barang peninggalannya.


"Akhirnya kamu bangun juga ... Kaivan."


Suara tersebut muncul di balik tirai tertutup kasurku. Bukan berasal dari kak Dina, maupun salah satu sanak keluargaku. Gelombang suaranya sangat kukenali karena belakangan ini kami saling berbincang.


"Pe-Pero—" ucap gagalku menyahut karena tenggorokan kering dan tidak terbiasa bicara.


Aku lupa kalau keadaanku sedang dalam penyembuhan. Infus terpasang di tubuh, dan entah kenapa aku juga merasakan gatal di beberapa tempat layaknya kesemutan tidak bergerak begitu lama. Memahami hal tersebut, setidaknya aku tahu kalau tubuh ini telah berdiam cukup lama.


"Ehkhm, ekmn ... huft ... hah ...," tarik napas sekali lagi merenggangkan otot pernapasan. "Pero, aku tidur sudah berapa lama?" lalu dilanjut dengan pertanyaan utama padanya.

__ADS_1


Pero pun mulai muncul menghadapkan dirinya dari balik tirai menuju depan kasur. Tentu wujudnya sekarang ada pada manusia, dengan pakaian kasualnya, dia melipat tangan di depan dada bicara denganku.


"Totalnya ... dua malam, dua hari. Jika kamu menghitung satu di pagi ini, itu berarti kamu ada di hari ke tiga. Setelah operasi dan sebelum dipindah ke ruangan ini, kamu juga sempat sadar. Tapi, melihat responsmu barusan sepertinya kamu tidak ingat betul."


"Hmn ... begitu, iya," jawabku yang mulai paham.


Ketika mendengar petunjuk tersebut, sedikit demi sedikit ingatanku juga mulai muncul. Memang sebelumnya aku pernah sadar. Walaupun masih dalam keadaan bius, tapi aku masih ingat samar kalau beberapa tenaga medis menanyakan keadaanku sebelum akhirnya dipindahkan ke ruang inap ini bersama kak Dina.


Tapi, hmn ... terserah, aku tidak membutuhkan detail itu sekarang, setidaknya aku tahu berapa lama waktu sudah terlewat.


Segudang pertanyaan ingin kulontarkan sekarang, rasa penasaran membudak ketika aku bangun tanpa layaknya sudah tertidur sangat lama. Tapi ....


"Pero," panggilku sedikit merendahkan posisi dan nada bicara, "Bisa aku minta minum?"


Mulut dan tenggorokanku yang kering benar-benar mengganggu. Dalam kondisi ini, bicara dan bernapas terlalu banyak cukup untuk menggores dinding dalam hingga membuat sensasi perih.


"Aku tidak bisa memberikannya, hanya pihak medis yang memperbolehkan. Walaupun sudah sadar, mungkin saja organ dalammu masih tertidur akibat bius sehabis operasi," jawab Pero menjelaskan.


Aku terdiam melihat menurunkan pandangan sesaat. Memang jika dirasa, aku seperti kehilangan beberapa perasaan dari hidup beberapa organ. Ini seperti aku sedang di alam mimpi di mana aku tidak bisa merasakan rangsangan dari luar begitu jelas. Tapi, jika aku berpikir dan sedikit fokus, rangsangan tersebut sebenarnya masih ada. Keadaanku memang lemah dari dalam dan luar.


"Oke, jelasin saja apa yang bisa kamu jelasin. Kenapa kamu muncul di sini, ada yang terjadi padaku, dan apa yang terjadi setelahnya sampai hari ini?" tanyaku secara beruntun.


"Ah ... kamu memang orang yang tidak menahan sesuatu, bertanya sekaligus secara penuh."


"Jangan bikin aku ngomong lebih banyak lagi."


Karena aku tidak main-main soal tenggorokanku yang kering serasa ingin minum. Jujur saja, mulutku yang kering dan berisi lendir kental begitu mengganggu.

__ADS_1


__ADS_2