
Ruang penuh debu dan jaring laba-laba. Setiap sudutnya bukan hanya gelap dan tidak terurus, benda-benda penghiasnya juga punya kesan kalau rumah ini sangat tua. Patung-patung hiasan kayu berbentuk hewan dan tumbuhan tersebar di mana-mana. Dari bentuk burung, sapi, harimau, katak, dan patung bertema miniatur alam.
Rumah Pero punya luas yang besar untuk bangunan yang ditinggali satu orang. Bahkan, dengan seluruh barang-barang antik hiasan kayu dan seni tua miliknya yang bisa menghabiskan luas satu meter, masih ada ubin-ubin tersisa untuk berleluasa.
Tembok ruangan begitu tinggi, mungkin lebih dari tiga kali tinggi badanku. Dengan luas tembok seperti ini, tidak heran ruangan dipenuhi oleh lukisan besar. Tapi, aku tidak melihat hal tersebut, bentuk ruangan yang luas dengan tinggi yang menjulang membuat sirkulasi udara menjadi lebih baik.
Iya, dari sekian banyak barang yang memenuhi rumah Pero, masih cukup lagi ruang luas untukku bisa berleluasa bergerak dan bicara. Mungkin ini memberikan kesan horor sebelumnya, bertempat di area sepi, rumah luas dengan satu penghuni terdengar tidak meyakinkan. Apalagi, pemiliknya adalah siluman.
Namun, aku sudah mulai terbiasa. Seluruh detail rumah ini mulai kuingat di otak dan entah kenapa bisa memberikan rasa tenang yang lebih dibanding aku ketika pertama kali datang. Lagi pula, aku adalah tipe orang khusus yang lebih terpengaruh oleh gelombang emosi dibanding interior benda mati.
Jadi, ketika gelombang emosi sedikit saja terasa di tempat sepi. Aku bisa merasakannya. Layaknya getar asing di tempat tanpa getar.
“Hmn ... jadi kamu memandang hal ini seperti itu iya, Kaivan,” kata Pero memulai kembali percakapan yang sempat terputus.
“Aku cuman mikir. Kalau barusan kamu bilang botol Geza itu hampir penuh, mungkin saja kalau disatuin sama punya Amalia bisa jadi penuh.”
Aku sudah jarang melihat botol milik Amalia, mungkin terakhir ketika kasus bersama Fany. Tapi, itu juga hanya sekejap. Selain karena Amalia tidak memberikan kesempatan, aku juga tidak tertarik dari awal karena tidak memiliki tujuan.
Tidak jelas berapa jumlah sihir yang terkumpul di botol Amalia sekarang. Jika dari jumlah Imarine, Azarin, dan Fany saja tidak mencukupi untuk angka dua puluh persen sisa dari kepenuhan botol. Kurasa ini akan menjadi misi yang panjang.
“Secara teknis, dugaanmu benar, Kaivan. Jika kita menggunakan mana punya Geza di botol ini, botol Lia akan penuh dan kontrak sihir denganku akan selesai.”
Ah ... jadi begitu. Kesempatan tersebut memang terbuka lebar. Tapi ....
“Dari cara bicaramu, kayaknya kamu gak dukung rencana itu? Memangnya ada masalah kalau semisal kita pakai botol sihir milik Geza?”
Penglihatanku mungkin salah, karena Pero sebenarnya bukan manusia seutuhnya, dia adalah siluman gagak. Walaupun aku merasa dai punya aura manusiawi, terkadang aura tersebut hilang begitu saja dengan cara berpikirnya yang berbeda secara keseluruhan. Jadi, perasaan ketika Pero tidak semangat membahas topik mengambil mana Geza, instingku yang berkata kalau Pero baru menjelaskan setengah dari pikirannya menggebu di hatiku.
“Jika kamu lihat efek samping langsungnya, tidak ada yang salah. Seorang penyihir masih sah menggunakan sihir yang dikumpulkan orang lain. Bahkan, sejarah mengatakan kalau tradisi mewarisi mana erat digenggam oleh para penyihir zaman dulu.”
“Hoo ... apa itu artinya ada efek samping tidak langsungnya?” tanyaku yang mengikuti alur pembicaraan.
“Un, bisa dibilang seperti itu,” jawab Pero sambil mengangguk kecil. “Mungkin kamu bilang ini hal aneh. Tapi, ketika kamu menggunakan mana di botol tersebut, maka seluruh ingatan dari orang-orang sumber sihir tersebut akan bersatu dengan penyihir. Terutama, untuk ingatan terbaru di mana penyebab luapan emosi tersebut muncul. Jadi, aku tidak setuju penggunaan mana karena Geza—”
“Oke, Pero. Aku ngerti sekarang,” ucapku memotong.
“...”
__ADS_1
“...”
Ketika ucapanku memotong, seperti Pero menerjemahkan itu sebagai bentuk untuk diam tidak banyak bicara. Dia berpikir aku akan membalas bicara dan menjelaskan balik. Tapi, karena aku diam, dia diam, apalagi Amalia yang bisu, beberapa detik menjadi sunyi.
“Huft ... hah ...,” napasku berusaha kembali mencairkan suasana. “Kalau gitu gak usah dipakai saja, aku juga dari awal gak terlalu berharap dari Geza untuk diambil mana-nya.”
“Ah ... aku suka pria yang cepat mengerti.”
“Tapi, maaf. Aku gak berniat melakukan hubungan dalam dengan siluman.”
“Kamu tidak perlu meminta maaf, karena aku juga tidak berniat demikian,” jawab Pero dengan nada datar layaknya pembicaraan normal. Bukan nada canda, bukan nada marah, dan juga bukan nada mengelak malu romantis. “Setidaknya aku senang yang terluka sekarang tubuhmu, bukan isi kepalamu,” lalu semua itu didukung dengan perkataan lanjutan yang begitu realistis.
Kalimat yang keluar dari Pero tidak menunjukkan romantis sama sekali, dia juga tidak menunjukkan warna muda layaknya remaja kasmaran, semua yang keluar dari mulutnya selayak petuah tua. Tapi, jika disebut bijaksana juga tidak terlalu tepat, dia punya pikiran tentang pikirannya sendiri yang terkadang meleset dari kemanusiaan. Semua itu mungkin tepat, penampilan Pero di wujud manusia persis seperti wanita dewasa umur di atas tiga puluh.
“Aku bakal abaikan kata tersebut dari sisi negatif. Jadi, akan kuanggap kalau pernyataan itu bilang aku punya harga di depan matamu, Pero.”
“Jahat juga, padahal tidak pernah aku menganggapmu sebagai beban sama sekali.”
“Heh, aku gak pernah tahu apa yang di kepalamu sebenarnya,” jawabku sedikit sinis.
Sebenarnya alasan aku bisa menerima perasaan penolakan Pero adalah karena aku sudah merasakannya sendiri. Tentang pengambilan mana, ketika pecahan mana mengalir ke tubuh akan ada sebuah reaksi di mana aku menerima semua perasaan dan ingatan tersebut.
Sebenarnya itu bukan efek samping, jujur saja ketika aku merasakan hal tersebut tidak ada efek samping yang diderita. Ini seperti aku melihat ucapan terima kasih mereka-mereka yang telah dibantu sebelumnya secara langsung dari kamera hati.
Namun, hal tersebut akan berbeda untuk kasus mana milik Geza.
Dari pengakuan Geza sendiri, dia mengumpulkan mana dari mengabulkan permintaan orang yang menginginkan untuk bunuh diri. Walaupun hasil yang dia ambil benar adanya sebuah mana dari luapan emosi, tapi tetap saja apa yang dikerjakan dipertanyakan sebagai bentuk kemanusiaan. Boleh jadi dia yang berhasil mengumpulkan mana adalah bukti kalau seluruh orang yang dia bunuh benar-benar senang. Tapi, ini menjadi sedikit masalah ketika mana tersebut digunakan.
Penjelasan Pero sudah membuktikan kalau apa yang kulihat dan kurasakan di aula tentang ingatan orang pemilik mana bukanlah kebetulan. Itu artinya, jika Amalia menggunakan mana milik Geza, dia akan melihat seluruh ingatan orang yang dibunuh oleh Geza. Tentu itu bukan hal yang baik dalam hal kejiwaan seorang gadis SMA.
Aku sendiri orang yang pernah merasakan rasa sakit kematian, kemampuan deteksi emosi ini membuatku bisa merasakan banyak hal. Terlebih, belakangan ini aku mendapat luka tikam dan sayat yang parah. Aku mengerti rasa sakitnya, dan jika itu dilihat oleh Amalia secara berulang, aku tidak kaget dia akan mengalami syok. Dari jumlah mana yang terkumpul, aku bisa yakin jumlah orang yang dibunuh Geza cukup banyak untuk membuat trauma.
“Baiklah, topik botol Geza ditutup. Aku hanya ingin memberi tahu berita yang bisa dikatakan baik untuk kematian penyihir tersebut. Jadi, kita bisa lupakan saja untuk sementara,” ucap Pero sambil kembali mengambil botol sihir milik Geza dan meletakannya ke dalam laci meja. “Lagi pula, aku yakin Lia juga tidak menginginkan cara yang terlihat seperti curang seperti menggunakan hasil kerja orang lain. Benar ‘kan, Lia?”
Pero yang sudah meletakkan botol sihir pun melirik ke arah Lia. Memang ketika kami terjun ke dalam perdebatan, aku terkadang lupa dengan keberadaan gadis tersebut.
“...”
__ADS_1
Huh?
Aku melihat Amalia sedikit memainkan matanya. Dia menggerakkan kepala dengan gugup dan mencoba menghindari tatapan ketika pertanyaan tersebut dilempar. Matanya sedikit berbelanja, mulutnya terbuka layaknya gugup, sampai akhirnya dia memberanikan diri melihat langsung wajah Pero sambil mengangguk kecil.
Ahaha, aku tahu itu.
Bersama dengan gelombang emosi miliknya, aku mengerti kalau sempat Amalia ragu dengan keputusan. Kemungkinan kalau dia menggunakan mana tersebut muncul di kepalanya sesaat. Tapi, dia membaca situasi dan mengikuti dugaan positif dari Pero barusan.
Huft ... hah ....
Aku bernapas mengeluarkan keluhan sebagai pengganti komentar melihat tingkah Amalia.
“Soal botol Geza itu, kamu simpan buat apa? Kalau gak dipake kenapa gak dibuang saja?”
“Dibuang? Tentu jangan,” jawab dengan nada halus. “Walaupun kita tidak menggunakan ini, tapi itu tidak menentang fakta kalau mana pecahan emosi adalah benda berharga.”
“Hmn ... jadi, kamu tetap harus jaga itu dari orang lain.”
“Iya. Tapi, lebih tepatnya aku menjaga ini dari penyihir lain.”
Oke, aku sudah mengerti.
Situasi di tempat itu sudah mereda. Dengan atmosfer yang lebih ringan, aku pun dengan santai berbalik badan dan berjalan menjauh meninggalkan mereka berdua.
*Step, step, step
Beberapa langkah aku pijak hingga sampai di tengah ruangan membuat jarak.
“Tunggu, kamu sudah mau pergi, Kaivan?”
“Gak ada gunanya aku di sini sekarang. Aku cuman mau melapor, sedikit bicara, dan tentu mengantar Amalia padamu, itu saja,” ucapku yang tidak melambatkan jalan sama sekali meninggalkan mereka.
“Aku pikir kita masih punya janji. Lalu, selain janji itu juga kamu masih perlu membantu Lia berlatih dengan sihirnya.”
“Kamu gak usah khawatir, aku tahu apa yang kulakukan. Kalau soal latihan, tunggu saja sampai aku benar-benar sembuh,” jawabku yang kali ini sedikit berteriak akibat jarak yang semakin menjauh.
Huft ... hah ....
__ADS_1
Di saat seperti ini, setidaknya aku mau satu orang untuk mengelus kepala dan membiarkan tubuhku tidur nyenyak. Pero siluman gagak itu sepertinya tetap memandang Amalia sebagai kebutuhan utama. Walaupun aku tidak protes, tapi setidaknya aku ingin dia juga memperlakukanku lebih manusiawi.
Langkahku akhirnya sampai di pintu masuk, udara dari luar yang membelai pakaian mulai terasa karena perbedaan suhu. Tanpa ada yang menghentikan lagi, aku dengan segala rasa berat sesaat membiarkan Amalia sendiri di sana.