
Gadis berambut panjang sebahu, tinggi lebih pendek sedikit dariku, badan tegap, dan ukuran dada yang lebih besar dari rata-rata. Dengan tatapan yang lebih tajam dibanding perempuan lain, Imarine bersikap tenang mengajakku bicara.
“Ivan, jadi tanganmu sekarang sudah sembuh?” tanya Imarine yang melihat tanganku tidak terikat.
“Enggak, aku belum sembuh,” jawabku tanpa keraguan. “Kita sekarang ada di dunia buatan, aku dipaksa dibawa ke sini sama orang lain. Tapi, aku gak tahu kalau kamu juga masuk ke sini.”
“Dunia buatan? Hah ... kamu sekarang mau ngapain lagi? Gak cukup kamu hancurin tangan sama kakimu sebelumnya?”
Imarine bicara sambil mengeluh, dia menatapku layaknya sedang menatap sebuah beban. Dia sekarang sedang mewakilkan ekspresi lelah yang seharusnya dirasakan olehku.
*Whoush ....
Hn?
Gelombang emosi?
Aku sedikit terkejut, karena aku kira awalnya di dunia buatan ini aku memainkan peran dan tidak dapat menggunakan kekuatanku seperti biasanya.
Di sana aku bisa merasakan gelombang emosinya. Rasa asam dari sebuah kekhawatiran dan dingin dari rasa takut. Walaupun wajahnya terasa tenang, tapi ternyata dia juga masih memendam emosi di dalam hatinya.
“Asal kamu tahu, aku juga sudah usaha buat gak ikut campur ke masalah ini. Cuman, orang lawanku yang paksa aku masuk,” jawabku mengelak untuk disalahkan.
“Iya sudah, terserah. Sekarang kasih tahu saja aku harus apa?”
“Pertama mungkin kita harus masuk ke pintu itu,” ucapku sambil menunjuk salah satu arah di sudut ruangan.
Tempat kami sekarang berada di ruangan khusus. Di sini tidak apa pun selain pintu di salah satu sisinya yang tidak tahu mengarah ke mana. Tidak ada jendela, tidak ada perabot, yang ada hanya satu lubang ventilasi di langit-langit.
“Di sana kita akan tahu bakal disuruh apa. Mungkin bentuknya kayak sihir, ilustrasi, atau perintah yang bikin kita mainin satu game.”
“Kamu yakin itu bukan jebakan?” tanya Imarine yang masih ragu.
“Enggak, enggak ada, aku yakin itu.”
“Dari mana kamu bisa tahu?”
“Tujuan orang di balik ini semua itu cuman mau main game. Dia sudah siapin kita satu set dunia khusus buat main peran di sini. Gak mungkin dia bunuh kita sia-sia gitu saja.”
Setidaknya sekarang, game belum dimulai dan tidak ada yang menarik hanya dengan melihat reaksi kami dipanggil ke dunia barunya. Aku yakin dia akan lebih mengulur waktu, atau sesuatu seperti pemanasan sebelum sampai dia menikmati kesenangan melihat game dimainkan.
Kegigihannya hingga membuang harga diri untuk memaksaku masuk ke dalam game dapat menjelaskan hal tersebut. Jika dia ingin membunuhku langsung, dia tidak akan menggunakan cara bertele-tele seperti membawaku ke dunia lain.
“Kamu kayaknya tahu banyak, apa sebelumnya kamu sudah dijelasin?” tanya Imarine yang masih diam berdiri.
“Sebenarnya sebagian itu hasil analisaku sendiri. Kalau kamu ragu, kamu boleh berdiri di belakangku buat perlindungan.”
“Enggak, makasih. Kalau kamu yakin kamu gak mati, aku juga gak keberatan ada di depan.”
Imarine pun di sana mulai berjalan, kali ini dia melangkahkan kakinya cukup cepat meninggalkan ruangan yang luasnya sekitar tujuh meter persegi.
“Hnm ...?”
Aku tidak langsung mengikutinya, lebih seperti diam sesaat sambil melihat gadis tersebut berjalan melewatiku dengan tatapan fokus menelaah. Ketika posisi kami sudah bertukar—di mana Imarine lebih dekat dengan pintu dari pada diriku sekarang, gadis tersebut pun kembali membalikkan badannya.
“Kenapa lagi? Bukannya kamu yang suruh buat pergi ke pintu sekarang?” tanya Imarine yang menagihku bergerak cepat.
“Enggak, aku cuman sedikit mikir. Kenapa kamu tenang-tenang saja sekarang. Padahal, kamu lagi terjebak di dunia asing tanpa tahu bisa keluar atau enggak.”
Normalnya perempuan mungkin akan bereaksi berlebihan, seperti tidak mau bergerak karena takut atau marah-marah tidak jelas.
__ADS_1
“Memangnya salah?” timpal Imarine dengan nada melawan. “Atau ... kamu lebih suka cewek cengeng yang minta tolong dan berisik waktu kejepit kayak gini?”
“Enggak juga, aku cuman tanya. Kalau ini beneran sifat kamu, aku bersyukur jadi gak usah tenangin mental cewek sebelum mulai.”
Kalimatku menutup percakapan. Dengan sikap tenang, aku pun mulai menyusul Imarine yang ada di dekat pintu. Begitu jarak di antara kami sudah dekat, gadis berdada besar itu pun melanjutkan jalannya dan mengerti kalau aku akan mengikuti.
Gadis seperti Imarine cukup mudah untuk diajak kerja sama. Pengambilan keputusannya cepat dan dia tidak bergantung pada siapa pun. Dia bisa jadi orang hebat dan mandiri, dengan sedikit keterampilan, aku yakin dia akan menjadi orang yang sukses.
Namun, di lain sisi aku juga punya sedikit pemikiran. Terkadang di beberapa detik ketika gadis tersebut memutuskan, terasa timbul gelombang emosi yang bertentangan. Aku mungkin mengira, walaupun perempuan sepertinya punya sifat kuat, tapi tetap di dalam dirinya adalah perempuan yang perlu dukungan seseorang.
Jika aku bilang seperti itu langsung padanya, mungkin dia akan bersikap sok kuat. Jadi, lebih baik jika aku membuat situasi di mana dia akan menerima bantuan secara tidak sengaja. Satu kegiatan di mana dirinya tidak akan dirusak harga dirinya apabila menerima bantuan. Ketika berpikir seperti ini, aku lebih berpikir kalau Imarine memang punya sifat tomboi.
Huft ... hah ....
Beberapa waktu berlalu, aku berjalan tepat di belakang Imarine selama beberapa menit dengan kecepatan konstan. Setelah pintu di ruangan tersebut dilewati, kami di sini berjalan menelusuri lorong panjang. Tidak ada jendela, tidak ada pintu di samping, hanya jalan lurus menuju pintu lain di ujungnya.
Walau bisa dilihat dengan mata telanjang, tapi tetap jarak tersebut cukup jauh. Mungkin seperti kita melakukan perpindahan dari gedung satu ke gedung dua, atau mungkin seperti kita sedang mengikuti arus lorong yang ada di bandara.
“Hmn ... jadi ini ujungnya, iya,” ucapku di belakang Imarine yang masih diam menatap pintu tersebut. “Ada apa? Kamu gak mau buka pintunya?” lalu lanjutku bertanya.
“Di luar sana, aku dengar suara.”
“Hoo ... kalau gitu yang masuk di dunia ini bukan kita berdua saja.”
“...”
*Whoush ....
“Hn?”
Gelombang emosi.
“Jadi, kamu gak suka ada orang lain di sini,” kataku sedikit menyimpulkan melihat respons diam Imarine bersama gelombang emosinya.
“Kenapa kamu bilang gitu?” tanya gadis tersebut dengan sedikit menyentak.
“Aku masih bisa rasain gelombang emosimu. Sekarang ada rasa kekecewaan, rasa yang berlawanan dari kesenangan.”
“Gak usah pikirin. Itu mungkin cuman kamu yang salah ngira. Bisa saja kamu salah cium bau karena mulutmu dekat sama hidung.”
*Whoush ....
“Ah, ada lagi,” kataku yang mengabaikan kalimat perintah abai miliknya.
Gelombang emosi kali ini sedikit berasa pedas, perih menusuk hidung dan kulitku secara bersamaan.
“Apanya yang ada lagi?” tanya Imarine dengan nada sinis.
“Iya, kamu yang kenapa, Ima? Memangnya masalah waktu kita gak berdua?”
“Tch, ah ... kan aku bilang kamu gak usah pikirin,” katanya sambil terus mengelak dan langsung membuka pintu di depan.
Aku sempat berpikir ulang tentang apa yang dia pikirkan. Terkadang memang aku juga tidak mengerti apa yang dipikirkan gadis ini. Walaupun dia punya sifat sedikit tomboi, tapi tetap perasaan dan perasaan rumitnya masih memegang kuat ke arah perempuan pada umumnya.
*Ceklek
Pintu dibuka, dan di sana aku disambut oleh sebuah cahaya terang. Aku ada di belakang Imarine, tapi tetap respons memicingkan mata tidak dapat dihindari.
Penahan tangan kujulurkan ke atas, menutup sebagian cahaya yang mengarah ke mataku. Bersama dengan pandangan baru, aku melihat lurus di tengah ruangan yang sedang aku hadapi.
__ADS_1
Satu, dua, tiga, empat ... eh? Ada banyak?
Ruangan besar, berbentuk lingkaran layaknya kubah dari planetarium, bersinar terang layaknya cahaya utama di aula mall, dan diisi orang layaknya ruang rapat. Kumpulan orang tersebut berkumpul di tengah ruang dengan sisi wilayah mereka masing-masing, berdiri layaknya menunggu pengumuman dari pembina upacara.
Ketika aku dan Imarine datang, semua pandangan mengarah pada kami. Memandang layaknya kami membawa informasi baru pada mereka.
Jumlah mereka tidak terlalu banyak. Ketika kami sedang berjalan mendekat, aku sempat mencoba menghitung kembali mereka secara rinci. Lalu, didapat kalau ternyata orang yang berkumpul itu berjumlah sebelas orang.
“Woah, Ivan. Ternyata beneran memang ada kamu di sini.”
Dari beberapa orang tersebut, aku akhirnya melihat satu orang lagi yang kukenal. Mulanya mereka terlalu jauh untuk dikenali wajahnya, dengan penerangan berlebih, aku juga tidak bisa melihat dengan detail wajahnya.
Tapi, begitu jarak mulai terpotong, aku pun mulai bisa mengenalinya. Suara yang menghampiriku adalah Farrel, dia salah satu laki-laki yang menjadi teman sekelas. Walaupun berbagai kejadian telah membuat kami jarang bertemu, tapi tentu aku tidak melupakannya dari ingatan.
Imarine di sana memberiku jalan, dia layaknya membaca situasi dan melangkah minggir membiarkan aku dan Farrel berkomunikasi.
“Aku ada di sini? Yang lebih kaget itu kenapa kamu ada di sini, Farrel?”
“Enggak juga, kok. Yang ada di sini bukan cuman aku.”
Farrel membalikkan wajahnya, memberi arah dengan kepala agar aku melihat apa yang ada di balik badannya.
Oh ....
Di sana aku kembali terkejut. Anggota-anggota dari setiap orang yang ada di sana ternyata adalah orang yang kukenal. Dari sisi kanan dan ujung, aku bisa menyebutkan namanya.
Amalia, dia menggunakan seragam sekolah berdiri menyembunyikan tubuhnya. Lalu, tentu saja Pero, dia dengan wujud manusianya memakai pakaian kemeja longgar tanpa bawahan menemani Amalia.
Di sudut lain, aku melihat kak Dina. Dia dengan pakaian kasual kaos longgar dengan celana jeans yang biasa dipakai menjadi khas. Kemudian, di sana ternyata muncul juga sosok yang memandangku sinis, pacar kak Dina yaitu Verdian.
Mungkin cukup aneh jika aku melihat ini dengan kejelasan, tapi keberadaan Verdian yang berdiri berdekatan dengannya membuatku mengingat kejadian buruk. Pasalnya aku juga belum melupakan kejadian waktu menghajar dan memukulnya berkali-kali. Dia dengan menggunakan jaket kulit masih memandang tegas seakan melarangku mendekati kak Dina.
Lanjut di sisi lain, ternyata di sana juga ada Hanz. Dengan pakaian tebal tertutup berwarna hitam, pria itu memandang kosong seluruh lingkungan layaknya orang buta. Mungkin karena cahaya di sini terlalu terang. Sesuai dengan apa yang disebutkan sebelumnya, dia sedikit sensitif dengan penerangan berlebih.
Dia sedang bersama dengan banyak orang di sana, sekitar empat orang lain sedang berdiri di dekatnya. Mereka memakai pakaian bermacam-macam yang cukup aneh, dua di antaranya memakai pakaian adat, satu lagi hanya memakai kain tipis berbahan seadanya dibuat menjadi daster, dan terakhir adalah anak kecil dengan pakaian lusuh dengan desain lebih modern.
Aku tidak mendekati Hanz kali ini. Dia yang sedang berdiri di tengah kerumunan orang ‘tak dikenal menimbulkan dinding tersendiri.
“A-Arin ...?”
Hn? Arin ...?
Aku mendengar suara tersebut dari samping, di sisi di mana Imarine berada kala itu. Dengan cepat aku pun menoleh ke arahnya, dan kudapat sebuah fakta mengejutkan.
Imarine berlari kecil, menghampiri satu sisi ke arah seseorang yang sebelumnya lewat dari penglihatanku. Dia mempercepat langkahnya, dan mendekat tanpa melakukan rem sedikit pun. Hingga pada akhirnya ....
“Arin!”
*Hug
Imarine memeluk orang di sana dengan erat, menubrukkan tubuhnya merekat kuat agar tidak terpisah.
“Kamu, kamu masih hidup!?”
“...”
Tidak mungkin ....
__ADS_1