Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2 Jejamuan : Chapter 16 - Tidak Selalu Benci


__ADS_3

Bahasan ini akan kusimpan lebih lanjut untuk nanti, hari ini cukup melelahkan untuk membahas hal tidak jelas seperti sihirnya.


Aku pun akhirnya pulang bersama Amalia, menyusuri jalan sebelum kami dipisahkan oleh persimpangan perbedaan jalur pulang. Gadis tersebut mengikuti di samping, diam tidak memulai pembicaraan.


Beberapa saat suasana terasa sepi, di mana aku membencinya ketika Amalia mengeluarkan emosi negatif kegugupan.


“Amalia ... apa kamu suka waktu ada cowok yang ngejar kamu?”


Jadi, aku pun mencoba mencairkan suasana dengan memulai percakapan.


*Whoush ....


Gkh!?


Tubuhku merasakan sensasi sengatan listrik. Pertanyaan tersebut membuat Amalia kaget, walaupun gelombang emosinya kali ini tidak cukup besar untuk membuatku kesemutan.


“...”


Gadis itu berhenti dari jalannya, membuat tertinggal satu langkah karena fokus melirikku.


“...”


Tapi, dengan cepat dia mengalihkan pandangannya untuk menulis catatan.


Aku yang ada di depannya pun berbalik untuk menghadap dan menunggu jawabannya.


Aku gak tahu.


“Kalau begitu cari tahu,” jawabku dengan cepat.


“...”


Amalia membuat pose berpikir dengan menempelkan jari telunjuk di mulut sambil melirik-lirik ke arah samping. Renungan cukup lama, mungkin sekitar sepuluh detik hingga aku berniat untuk membantu meluruskan pikirannya.


“Bayangin saja kalau misalnya Septian itu suka sama kamu.”


Kalau begitu aku gak suka.


Dengan cepat dia menunjukkan tulisan itu. Kebingungan barusan seakan hilang ketika aku mengatakan kalimat tersebut.


“Tunggu ..., pikirin sekali lagi,” ucapku menahan jawabannya. “Aku yang salah ... buang bayangan tentang Septian barusan.”


“...”


Tentu saja setelah melihat perilaku posesif seperti itu perempuan cenderung jijik dan membencinya. Tapi, itu semua hanya pandangan satu sisi. Dunia ini punya hukum yang sedikit tidak adil, atau bahkan bisa disebut curang.


“Kamu pernah nonton film? Film romance barat, drama Korea, atau film indo yang tenar tahun-tahun kemarin?”


Aku nonton ... karena Fany juga kadang nonton. Film barat aku gak terlalu suka, seringnya sih drakor.

__ADS_1


Ternyata perempuan sekarang memang sangat mempopulerkan negara itu. Tapi, baiklah ... aku tidak peduli karena sepertinya dia bukan maniak yang terlalu mengagungkan artisnya.


“Coba ingat ... film-film yang punya karakter utama cewek. Di sana kadang suka ada karakter cowok yang ngejar ceweknya sampai mati-matian. Apa kamu jijik sama cowok di film itu?”


Kadang aku gak suka. Cowok-cowok kayak gitu suka bikin masalah.


Masalah, yah ... menurutku tidak begitu. Lagipula, masalah dalam sebuah film itu hal yang wajar, termasuk di dalamnya berasal dari laki-laki pesaing yang keras kepala.


“Kadang kamu gak suka, ‘kan ... berarti kadang yang satunya lagi kamu suka,” ucapku yang mencoba mengambil sudut pandang berbeda. “Bukan berarti setiap ada cowok yang ngejar cewek kamu pasti gak suka. Kadang kamu juga malah dukung pasangan yang cewek benci cowok, tapi cowok terus ngejar cewek.”


“...”


Amalia membeku mendengar itu. Dia kembali berpikir arti dari ucapanku sambil mengingat beberapa film yang bersangkutan. Aku bisa melihatnya dari bahasa tubuhnya, fokusku selalu mengarah ke hal tersebut karena dia tidak bicara.


Iya ... soalnya kadang memang cowok kayak gitu jadi pasangan utamanya.


Oh ... jadi itu yang kamu pikirkan.


Aku tidak merasakan aura kebohongan. Memang benar sepertinya Amalia tidak sadar dengan apa yang terjadi dalam peristiwa film, tentunya juga tentang maksud apa yang kutunjukkan dalam perkataan ini.


“Kamu tahu bedanya cowok di film dengan kejadian Fany? Mereka sama-sama melakukan adegan film di mana cowok usaha keras buat ngejar cewek.”


“...”


Amalia menggeleng untuk menjawab.


Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan ini dengan jelas. Tapi, sepertinya tidak ada pilihan lain. Beberapa orang yang tidak bisa menangkap arti perkataanku memang harus begini. Bukan berarti aku pintar berkomunikasi, tapi memutar-mutar kalimat salah satu kebiasaanku.


“...”


Benar, aturan yang selama ini mengikat lingkungan sosial, hal yang membuat sesuatu di dunia terasa tidak adil. Mau sejelek apapun perilaku seorang laki-laki, asalkan dia tampan dan kaya, tetap masih ada yang membelanya.


Sangat banyak contohnya, seperti artis tampan yang terkena kasus narkoba. Di dalam peristiwa itu pasti saja akan muncul beberapa komentar orang yang mendukungnya. Berbeda dengan artis jelek, mereka akan di-bully habis-habisan.


Peristiwa itu mirip dengan ini. Bukan cara mendekati Septian yang dibenci oleh perempuan, tapi sesuatu yang lebih mendasar.


“Dengan kata lain, kalian cuman gak suka sama Septian yang miskin dan jelek.”


“...!?”


Amalia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat. Ekspresi mukanya yang memaksa menolak membuatnya sedikit kacau.


Itu jahat banget, Van. Fany gak kayak gitu, kok.


Tunjuk catatan Amalia dengan wajah kesal.


Aku tahu ... Septian sebenarnya juga tidak jelek, tapi dia juga tidak tampan. Begitu pula kondisi ekonominya yang tidak kuketahui dengan jelas, yang pasti dia tidak cukup kaya untuk membeli sepeda motor sendiri. Semua itu akan berbeda jika latar belakangnya Septian berubah layaknya film di drama korea.


“Coba bayangin sekali lagi. Kalau misalnya ada cowok ganteng, kaya, dan romantis ngejar kamu terus kayak di film drakor. Apa kamu bakal benci sama dia dan minta aku buat jauhin dia? Bayangin saja kalau itu juga Fany, apa kira-kira hasilnya sama kayak sekarang?”

__ADS_1


“...”


Amalia kembali terdiam.


Efek samping menjadi bisu membuat gadis itu terpaksa menjadi pendengar yang baik. Dia tidak bisa menyela omongan orang karena hanya bisa membalas dengan tulisan. Ini membuatku sedikit bersalah karena selalu mendominasi percakapan.


“Gak apa-apa, kok. Wajar saja kalau memang ada orang yang menilai dari fisik dan materi, barusan itu bukan berarti aku salahin Fany.”


Karena memang kesimpulan aslinya tindakan Septian itu menyebalkan.


Terus dari tadi kita lagi ngomongin apa?


“Amalia ... menurut kamu, gimana cara nyelesain masalah ini? Apa benar dengan menjauhkan Septian bisa membuat Fany senang?”


Aku tidak merasakan kalau kondisi sekarang dekat dengan penyelesaian. Septian yang sekarang mungkin akan menjaga jarak, tapi itu tidak menimbulkan efek positif pada Fany.


"Kenapa dia tidak langsung menolak Septian? Apa benar hanya karena dia tidak bisa berkata kasar pada laki-laki?"


Dia memintaku untuk mencari cara menolaknya secara halus, seharusnya ada cara lebih cepat dengan meminta pada teman perempuan lain untuk menyampaikan pesan tersebut.


"Menurut kamu ... sebenarnya apa yang direnungi dan apa yang ada di pikirkan Fany selama ini, apa hanya tentang menolak dan menerima? Apa memang sesederhana itu?" ucapku bertanya pada gadis itu.


“...”


Ekspresi Amalia berubah, pergerakan garis wajah gadis itu menunjukkan sesuatu yang baru. Tatapan matanya melebar, senyum di wajah juga ikut membesar. Seakan tercerahkan, dia pun berlari menjauhiku.


“Wo-woi, tunggu, kamu mau ke mana!?” teriakku tidak terlalu keras memanggil gadis tersebut.


Duut, duut ....


Handphone di sakuku bergetar, aku pun langsung mengambilnya.


Amalia : Kamu pulang saja duluan, Van.


“...”


Hmn ... begitu, yah.


Aku tidak tahu ke mana dia pergi, keputusan itu muncul atas kehendaknya sendiri. Tapi, aku tahu kalau tujuannya berlari bukan ke rumahnya.


Heh, apapun yang kamu lakukan ... semoga berhasil dengan kasus ini.


 


 


*****


 

__ADS_1


 


__ADS_2