Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3.5 All Round Healing : Chapter 7 - Hasil Akhir Geza


__ADS_3

Aku berjalan menuju rumah Pero, dan Amalia mengikuti di belakangku. Kondisi masih bersisa kecanggungan, dirinya menundukkan kepala tidak mau bertatap. Walaupun diamnya sekarang karena bisu tidak bisa bicara, tapi entah kenapa aku bisa merasakan kalau dia memang tidak mau bicara walau tidak bisu.


Perasaanku sekarang dipenuhi untuk keinginan agar dia bersikap seperti biasa. Tapi, ketika aku mengungkapkannya dia malah seperti terpojokkan.


Apa kata-kataku tidak benar ketika menghadapi gadis seperti dia?


Padahal, aku yakin kalau yang keluar dari mulutku tidak begitu kasar. Aku yakin dengan kekuatan deteksi emosi, kemampuanku berbicara dan menjaga perasaan lebih terlatih. Namun, hal tersebut sepertinya tidak berlaku untuk banyak kejadian jika lawan bicara tahu tentang kekuatanku.


Sekarang aku sudah sampai di rumah Pero, bangunan dengan nuansa tradisional dengan tanah halaman terbentang luas. Bagian depan rumah yang dibuka sebagai toko barang antik masih terlihat. Walaupun waktu sudah sore, tapi bisnis yang sepertinya tidak berjalan lancar itu tetap dilakukan.


Aku masuk ke ruangan depan tersebut dan langsung menerobos ke ruangan milik Pero. Berbeda dengan biasanya, kali ini aku yang memimpin tanpa harus dituntun Amalia. Lagi pula, pada kenyataannya juga aku pernah mengunjungi Pero tanpa keberadaan gadis tersebut. Tapi, baru kali ini aku mengambil tindakan mandiri ketika pergi bersama dengannya.


*flap, flap, flap ....


Dari lubang ventilasi di atas pintu muncul burung gagak. Dia terbang dan mendarat di kursi hitam besar yang bisa diputar biasa tempatnya duduk.


*Posh


Tanpa menunggu lama, Pero segera mengubah wujudnya ke bentuk manusia. Dia dan sihirnya masih tetap menghasilkan sedikit asap untuk menutupi detail perubahan.


Tentu di sana Amalia datang membantu. Seakan melupakan seluruh sikapnya barusan, dirinya maju berlari kecil menuju tempat duduk Pero. Dia yang sekarang bertugas untuk memasang kain untuk menutupi bagian tubuh yang secara jelas adalah tubuh dari wanita dewasa.


“Huft ... hah ... Kaivan, bagaimana kabarmu sekarang? Kalian sudah berbaikan?” tanya Pero sambil perlahan memutar kursinya perlahan menghadap ke arahku.


“Dari awal aku sama Amalia gak berantem.”


“Benarkah? Nada bicaramu tidak menunjukkan seperti itu.”


“Kamu cuman gagak, memangnya kamu tahu arti dari nada bicara?”


“Setidaknya aku sudah hidup cukup lama untuk mempelajari beberapa emosi manusia. Tapi, kalau kamu menolak, lalu bagaimana kamu menjelaskan ini.”


Pero yang mengatakan itu menggerakkan wajah ke samping, dia melihat Amalia yang semula membantu dia melebarkan kain ke tubuhnya. Di sana, siluman gagak tersebut memegang wajah Amalia dengan lembut di bagian dagu. Mungkin sedikit kasar, tapi dia menarik sedikit wajah Amalia mendekat dan mengarahkannya padaku. Ekspresi Amalia yang sejak awal menunduk adalah sesuatu yang ingin Pero tunjukkan. Biasanya gadis bisu itu tidak membentuk wajah walau dengan diam tidak bicaranya.


Pero bisa sadar tentang emosi manusia. Walaupun tidak dapat tahu detail penyebab dan solusinya secara rinci, tapi setidaknya siluman gagak itu tahu jika sesuatu tidak beres dengan individu—terutama Amalia sebagai partnernya.


Wajah Amalia masih tidak menunjukkan warna bahagia. Dagunya yang ditarik dan dipaksa menghadap ke arahku masih berusaha menghindari tatapan. Pero yang melihatnya dari dekat bisa sadar dengan itu.


“Oke, aku tahu, aku masih gak bisa atur semuanya. Tapi, kalau kamu bilang aku harus menyelesaikannya sekarang, rasanya gak mungkin,” jawabku yang mengakui tapi tetap menjaga posisi mental.

__ADS_1


“Hmn, baiklah,” jawab Pero sambil membebaskan dagu Amalia. “Lalu, bagaimana keputusanmu? Asal kamu tahu, Amalia pernah memintaku untuk tidak membawamu lagi dalam urusan sihir ini.”


Oh, aku baru dengar itu langsung sekarang. Tapi, memang dari kondisi mental yang dialami Amalia. Aku mengerti kenapa hal tersebut terjadi. Walaupun tidak memahami secara penuh, tapi kekhawatiran gadis tersebut tertuju padaku. Dia ingin meringankan, atau bahkan tidak memberi kesulitan lagi setelah kasus Geza yang mematikan.


Tapi, kembali pada pemikiranku sebelumnya ....


“Aku tetap ikut. Kalau ada masalah kayak kasus Geza lagi. Aku mau kalau informasi itu sampai padaku. Jadi, Pero, pastikan aku tahu dengan kondisi kalian ke depannya.”


Jika aku tidak ada, maka Amalia akan sendiri. Dan aku tidak mau membayangkan kemungkinan buruk yang terjadi padanya jika bertindak sendiri. Terlebih jika dia harus berhadapan dengan penyihir lain yang agresif seperti Geza.


“Hmn ... kamu yang berkata keren seperti itu terasa tidak meyakinkan dengan tangan patah tergantung bersama gips.”


“Memangnya masalah kayak Geza muncul lagi sekarang?”


Jika iya, itu bisa jadi gawat. Tidak mungkin aku bertarung secara seimbang dalam keadaan seperti ini.


“Tidak,” jawab Pero. “Sepertinya tidak akan ada penyihir seperti Geza lagi untuk sementara waktu.”


“Kalau gitu bagus.”


“Dan ... soal Geza, kita bahkan tidak perlu khawatir tentang Geza lagi sekarang.”


“Aku sudah memastikannya waktu kalian sekolah hari ini, terbang ke berbagai daerah sampai aku menemukannya. Hmn ... dan, iya ... penyihir bernama Geza itu sudah mati.”


Eh?


Aku terkejut mendengar hal tersebut. Berita tentang kematiannya jelas baru, karena yang kutahu seminggu lalu ketika di rumah sakit Pero hanya memberi tahu kalau Amalia tidak membunuhnya.


*Whoush ....


Rasa terkejut itu juga berlaku pada Amalia, dia mengeluarkan gelombang emosi yang tentu bisa kurasakan dari jarak kami berdiri. Alisku bergidik merespons, tapi secara keseluruhan aku mencoba mengabaikan gangguan dari gadis tersebut.


“Dari mana kamu tahu dia mati?” tanyaku dengan sedikit sinis akibat topik yang dingin.


“Dari mana ...? Hmn ... mudahnya sih aku bisa menemukan mayat mereka. Aku tidak datang tepat waktu, tapi sepertinya dia sudah mati sesaat setelah kabur pada malam itu.”


“Mayat?” tanyaku mengulang kata tersebut sedikit bingung. “Bukannya aneh kalau dia mati seminggu lebih dan gak ada yang nemuin mayatnya?”


Kejadian tentang pertempuran itu terjadi sebelum aku dirawat di rumah sakit, dan itu sudah lebih dari seminggu. Jika dia baru menemukan mayatnya hari ini, cukup aneh jika tidak ada yang menemukannya setelah lewat waktu selama tersebut. Manusia sangat cepat membusuk, apalagi jika dia posisinya ada di lingkungan luar.

__ADS_1


“Ketika seorang penyihir mati, mayatnya tidak lagi mati sebagai manusia. Di dalam tubuhnya terdapat sihir, dan itu membuat dia lenyap sebagai bentuk sihir.”


“Huh? Apa itu? Aku gak ngerti.”


“Baiklah, kalau begitu bagaimana dengan ini.”


*Put


Pero meletakkan botol kecil di meja depannya. Botol itu kecil transparan dengan bentuk bersudut-sudut layaknya kaca parfum. Pola simetris mirip dengan berlian itu cukup khas, dan hanya satu hal yang kutahu punya bentuk seperti itu. Itu adalah bentuk yang serupa dengan botol sihir pengumpul mana milik Amalia.


Berbeda dengan yang ditunjukkan Pero sekarang, pola tutupnya punya desain yang berbeda. Apa yang kulihat sekarang. Tapi, secara keseluruhan botol sihir Amalia dan botol sihir yang ditunjukkan siluman gagak itu sama. Berkas cahaya pelangi yang memantul akibat indeks benda padat juga terbentuk, aku bisa melihat aliran cahaya unik di dalam botol tersebut yang sepertinya bisa disebut mana.


“Jadi, botol itu ....”


“Iya, botol ini milik Geza,” jawab Pero ketika aku memanjangkan kalimat menagih penjelasan. “Asal kamu tahu, botol ini sudah seperti nyawa bagi seorang penyihir. Tidak mungkin dia meninggalkan begitu saja dengan isi sihir yang sudah 80% penuh seperti ini.”


Botol yang ditunjukkan padaku bercahaya terang di dalamnya. Aku tidak mengerti ukuran penuh dan tidaknya. Tapi, jika dibandingkan dengan botol milik Amalia, memang terdapat perbedaan signifikan dari tingkat terang dan tingkat ketebalan dari aliran sihir yang berputar di botol tersebut.


“...!?”


Aku kala itu tidak terlalu melihat botol sihir tersebut. Tapi, sepertinya Amalia di samping Pero punya pikiran berbeda. Tatapannya yang tidak bertenaga sesaat penuh dengan energi ketika botol tersebut disimpan di meja. Walaupun aku tidak mengerti kehebatannya, setidaknya aku mengerti gelombang emosi dari kekaguman Amalia sekarang.


“Oke, kesampingkan dulu tentang botol itu,” ucapku dengan nada serius memfokuskan topik. “Kalau yang barusan itu benar, terus apa penyebab Geza mati waktu itu?”


“Aku tidak bisa memastikan. Berbeda dengan tubuh manusia biasa, aku tidak bisa melakukan autopsi pada tubuh penyihir. Bisa jadi dia mati karena gagal regenerasi, bisa jadi dia mati karena kehabisan darah, bisa juga dia mati karena kecelakaan ketika berlari dalam keadaan terluka.”


Perasaanku sedikit campur aduk mendengar berita itu, entah karena emosi dari Amalia atau mungkin dari diriku sendiri. Pasalnya, Amalia juga sepertinya tidak menginginkan ada yang terbunuh.


Aku ingin menanyakan banyak hal lagi, tentang bagaimana nasib tubuh Geza sekarang dan bagaimana hasil akhirnya di mana tubuh penyihir yang telah mati. Apa hal tersebut akan dialami oleh Amalia? Apa hal tersebut tidak akan membuat efek samping lain seperti semisal dihapus ingatannya dari dunia? Apa hal tersebut tidak akan membuat Amalia terkurung jiwanya selayaknya film dan buku fiksi tentang kontrak terlarang?


Iya, itu bisa nanti. Tapi, sebelumnya aku ingin bertanya ....


“Terus botol Geza itu mau diapain sekarang? Apa kita bisa pakai dan dicampur sama botol sihir punya Amalia?”


“...”


“...”


Ketika pertanyaan itu keluar, seketika aku merasakan sebuah gelombang emosi yang khas. Dibanding terkejut atau takut, ini lebih seperti bingung. Sepertinya kedua orang di depanku ini belum berpikir demikian. Entah itu bentuk dari etika penyihir atau sesuatu yang membuat peraturan kontrak dilanggar.

__ADS_1


Tapi, aku kira hal tersebut tidak dilarang. Ingatanku masih cukup baik untuk menyimpan kata yang keluar dari Pero ketika dia memperingatkanku atas kedatangan Geza. Walaupun penyihir lobster tersebut datang bukan untuk membunuh Amalia dan merebut sihirnya, tapi Pero berkata kalau hal itu bisa terjadi. Artinya, jika ada penyihir yang melakukan perebutan botol sihir dari penyihir lain, itu bukan hal yang mustahil.


__ADS_2