
Kak Dina datang dari pintu depan dan menggunakan rute ke ruang tamu sebelum sampai di ruang tengah, berbeda dengan aku yang biasa lewat belakang dengan dapur sebagai tempat singgah pertama. Tidak ada alasan yang mendalam tentang ini, hanya kebiasaan yang menurutku memudahkan.
Kak Dina lewat di ruang keluarga, aku yang ada di meja makan samping ruangan dapat melihatnya dengan jelas. Dia masih memakai pakaian yang sama sejak aku bertemu di bioskop. Wajahnya sendiri terlihat letih, tapi secara keseluruhan aku tidak merasakan gelombang emosi negatif. Walaupun melelahkan, aku tahu kalau dia sendiri tidak benar-benar membencinya.
"Oh ..., Ivan, kamu sudah pulang ternyata?" tanyanya sebagai ganti sapa pulang.
Gadis itu membanting lembut tubuhnya ke sofa melepas lelah. Sesekali dirinya menarik napas panjang dengan posisi kepala menengadah ke atas.
"Hapus make-up nya kalau mau tidur ..., atau kalau mau makan dulu, di dapur ada makanan."
"Enggak usah, kakak sudah makan tadi."
Iya ... seharusnya aku sudah menduga hal tersebut. Alasan aku pulang lebih cepat adalah untuk melewatkan acara makan siang setelah menonton bioskop. Tapi, hal itu tentu berbeda dengan kak Dina, dia memilih untuk makan di luar.
"Kalau gitu kenapa kakak gak bilang?"
"Ahaha ... maaf, kalau kakak tahu kamu bakal bikin, kakak juga bakal bilang. Tumben hari ini kamu ada inisiatif, memangnya kenapa?"
"Aku masak karena aku juga lapar. Karena kebiasaan, aku ujung-ujungnya bikin lebih."
"Oh ... oke, lain kali kakak bakal kasih kabar," ucap perempuan itu dengan santai ingin mengakhiri pembicaraan.
Ah ... perasaan ini, perasaan yang tidak menyenangkan. Ketika aku menyambut hangat seseorang tapi balasannya malah dingin. Mungkin hanya sebuah ketakutan berlebih, di mana pikiran terlalu liar membayangkan kemungkinan buruk yang ada. Pada dasarnya, kak Dina sedang membalas obrolanku secara normal.
Ah ... aku mungkin harus berhati-hati ketika bersikap pada orang lain. Perasaan ini cukup tidak enak bahkan sampai berpikir agar orang lain tidak merasakan hal yang sama.
"..."
"..."
Suasana di dalam rumah hening, aku dan kak Dina tidak memulai percakapan lagi. Dari semua suara, hanya sentak-sentak kecil jam dinding yang terdengar, kak Dina yang biasa memasang televisi membuat ramai rumah malah terdiam melamun di sofa merebahkan diri.
"Kak," panggilku yang tidak tahan dengan atmosfer di sana. "Di bioskop itu pacar kakak, 'kan? Dia orangnya kayak gimana?"
Teknik utama dalam berkomunikasi. Ketika obrolan habis hingga kedua pasangan diam membisu bingung dengan hal yang dijadikan topik, maka tindakan yang paling efektif adalah dengan membawa percakapan pada hal yang membuat lawan bicara tertarik. Untuk kasusku, kak Dina yang mempunyai pacar menjadi sasaran utama.
"Hmn ...," dengung kak Dina sebagai bentuk ekspresi. "Aku gak tahu kalau kamu akhirnya bakal tertarik sama obrolan kayak gini— Ah, kakak tahu, apa ini soal temanmu lagi? Kamu butuh saran tentang hubungan sosial? Heheh, ternyata kamu tumbuh jadi anak yang suka ikut campur urusan orang lain."
Aku memang tidak bisa membantahnya. Belakangan ini diriku terlibat dengan masalah Amalia, Imarine, dan Fany. Memang semua hal tersebut terjadi karena sebuah ketidaksengajaan atau lebih seperti kewajiban paksa. Tapi, di mata kak Dina aku lebih terlihat orang demikian, orang yang ikut campur terhadap masalah orang lain. Beberapa kali aku juga mengajak dia mengobrol tentang masalah yang kuhadapi, sebuah refleks di mana aku juga punya keinginan untuk menceritakannya pada orang terdekat.
__ADS_1
“Maaf, Kak, kali ini murni aku mau tahu. Barusan itu memang gak salah, bisa dibilang kalau sekarang aku ingin ikut campur urusan kakak.”
Sejak tugas dengan Amalia dimulai, aku jadi lebih sering belajar tentang kehidupan sosial. Menurutku sendiri, komunikasi akan sangat terjaga dengan baik jika kedua pihak bisa saling mengerti. Lalu, tentang bagaimana cara agar bisa saling mengerti, aku harus bisa banyak belajar dan mengetahui banyak sudut pandang. Kak Dina punya apa yang tidak aku punya, yaitu jenis kelaminnya yang sebagai perempuan. Aku tidak punya pengalaman tersebut, aku tidak bisa mendapat sudut pandang perempuan, yang bisa dilakukan hanya mewawancarai seseorang yang memilikinya. Kak Dina orang terdekat untuk diajak berdiskusi.
“Iya ..., waktu kita di bioskop juga gak bisa kita pura-pura kejadian itu gak pernah ada. Lagian, kakak juga tahu, kamu pasti ikutin kakak ke bioskop itu. Gak mungkin seorang Kaivan masuk ke bioskop yang isinya film romantis ... apalagi sendirian.”
“...”
Tentu saja, itu teori yang mudah untuk diketahui. Aku sendiri tidak pandai berbohong, di depan kak Dina, kebohonganku hanya seperti jalan memutar, di ujung yang sama akan mendapat jawaban serupa. Kekuatanku tentang pencicip emosi bisa memberikan petunjuk untuk intuisi isi pikiran seseorang, tapi kak Dina tidak perlu itu untuk membaca apa yang ada di kepalaku.
“Oke, tanya saja apa yang kamu mau, Van. Kalau masalah muka kamu sendiri sudah lihat, ‘kan. Jadi, kakak gak perlu jelasin lagi,” ujar kak Dina melanjutkan perkataannya.
“Paling pertama, siapa namanya?”
"Verdian, dia anak teknik elektro, beda satu tahun sama kakak, tingginya 171 cm, lebih pendek dari kamu sedikit, hobinya kumpul ngobrol bareng gangnya, entah ke cafe atau tempat hiburan lain, dia sendiri sudah kerja freelance di pom bensin, terus—"
"Oke, stop, Kak," ucapku menghentikan gerakan bicara kak Dina yang malah menjelaskan panjang. "Jelasin sedikit-sedikit, memangnya sesemangat apa kakak mau ceritain tentang dia?"
"Biasa aja kok. Daripada lama-lama, mending aku kasih tahu aja semua."
Responsnya terkadang mirip denganku, atau mungkin kami yang saling memiripkan satu sama lain, mengingat kami yang selalu bersama dalam waktu lama.
"Setidaknya aku batasi apa yang bakal kakak jawab, gak semua informasi itu penting sekarang."
"Jadi, kamu mau tahu tentang apa?" tanya kak Dina yang menagih kalimatku.
"Tentang sifat dia ... apa kakak nyaman dengan dia sekarang? Atau punya alasan lain memulai hubungan seperti uang dan masalah sosial?"
"Hmn ... jadi kamu pikir kakak orang yang bisa berpacaran dengan suatu niat belakang?"
"Gak usah ada kebohongan. Cewek suka uang, dan cowok suka cewek cantik. Realistis saja dengan apa yang terjadi di dunia, aku gak keberatan dengan itu selama kakak masih manusia sehat."
Kak Dina pernah bilang, berpacaran tujuannya memang sebuah pamer. Jika tidak dipamerkan, itu berarti terdapat alasan lain dibaliknya. Aku rasa sekarang kak Dina tidak bodoh untuk tenggelam begitu saja. Dia perempuan yang cukup cerdas untuk dirinya sendiri. Tapi, beberapa minggu sejak pengakuannya mempunyai kekasih, aku masih belum menemukan dia sedang memamerkan dan membanggakan pasangannya. Jika aku tidak memergokinya di mall, hal ini tidak akan dibicarakan sampai aku benar-benar menentukannya.
"Sebenarnya kakak waktu itu gak terlalu suka sama Verdian. Dia ajak kakak pacaran waktu kakak gak kenal dekat," ucapnya menjelaskan kejadian masa lalu. "Yah, daripada ditolak mentah-mentah, kakak terima dulu. Jalanin beberapa minggu, kalau emang gak nyambung iya sudahan. Kakak sudah jelasin itu dari awal. Makanya kakak baru kasih tahu belakangan ini. Kalau kakak sudah putus duluan gak cocok kan percuma juga lapor duluan."
"Hmn ... tepatnya sudah berapa lama kejadian itu?"
"Lebih dari satu bulan."
__ADS_1
"Oh, jadi jawaban kakak positif sekarang? Kakak sudah resmi terima dia?"
Mendengar ucapan dan kalimatnya, kak Dina memberi kesempatan dan berusaha menjalaninya di trial mode. Berdasarkan yang dia bilang, dia berniat menjalani beberapa minggu. Ketika fakta kalau kejadian itu terjadi di satu bulan lalu, kesimpulan tersebut bisa kudapat.
"Iya," jawabnya dengan tegas. "Selama minggu pertama, dia kasih banyak perhatian. Dari mulai chat, dengerin curhat, saling bagi cerita, bantu masalah tentang hubungan sama orang-orang, dan ... ah, dia juga sering kasih aku hadiah."
Tentu saja, itu hal yang wajar. Semua hubungan akan terasa manis di awal, pendekatan di mana memberi seluruh bagian baik di awal, berjuang mendapatkan hati dengan menampilkan yang terbaik dari diri sendiri. Tidak ada orang yang ingin terlihat jelek di hadapan pasangannya. Tapi, tentu saja semua itu ada batasnya. Jika dia hanya bersandiwara, atau sengaja menyembunyikan kejelekan, suatu saat juga akan terlihat hingga akhirnya meredupkan perasaan yang dulunya pernah tumbuh.
"Terus ... gimana sekarang? Apa dia masih sama kayak dia yang dulu?" tanyaku memastikan.
Kejadian lumrah ketika lelaki bosan menjalin hubungan dan berhenti memberi umpan pada perempuan yang sudah dimiliki.
"Sekarang? Sekarang sih sudah agak mendingan, waktu aku terima, dia jadi agak dingin."
"..."
Heh, sudah kuduga.
"Tapi, itu semua kakak yang suruh. Kadang agak susah juga ngikutin dia yang terlalu gift sedangkan kakak enggak. Jadi, biar seimbang, kakak minta dia jangan terlalu dekat. Lagian, kakak sama dia juga masih sama-sama kuliah."
"..."
Ah ... apa ini. Perasaan buruk bercampur kekacauan rasa bersalah. Kesimpulan yang baru saja kubuat malah dibalik dihancurkan oleh kak Dina. Padahal, perempuan itu punya niat baik, perasaan percaya yang menilai positif kejadian tersebut. Tindakanku yang menaruh curiga di sebelum-sebelumnya membuat diriku sendiri bernilai rendah sebagai manusia.
"Baiklah," kataku yang berdiri dari tempat duduk di meja makan dan berniat pergi. "Kalau gitu berarti gak ada masalah. Kakak yang putuskan semua, kalau kakak bilang baik, aku mungkin gak bisa bantah."
"Hmn? Kenapa? Kamu pikir kakak sekarang dalam masalah atau gimana? Jadi, tujuan kamu tanya ini apa?"
"Sedikit rumit, jadi lupakan. Selagi semua bahagia, kayaknya gak perlu aku jelasin."
Aku pun berjalan di kalimat terakhir teraebut. Tapi, bukan menuju kamar di lantai dua, melainkan keluar rumah menuju pintu depan.
"Tunggu, Van," panggil kakakku dari dalam. "Kamu mau ke mana?"
"Ke minimarket, mau cari AC sekalian beli minum. Lumayan buat gerakin kaki sebentar."
*Ceklek
Jawabku yang tidak menghentikan langkah hingga akhirnya benar-benar meninggalkan rumah.
__ADS_1