Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 24 - Kombinasi . 1


__ADS_3

Kepercayaan diriku mungkin terlalu jauh, ini semua membuat kondisi di mana aku harus mempertanggung jawabkan seluruh beban yang mereka berikan padaku. Pero selama beberapa hari tidak tahu menahu detail si penyusup, aku yang melakukan investigasi terhadapnya.


Tapi, sesuatu tentang kekuatan sihirnya adalah hal yang tidak bisa kubaca. Hasil analisisku tidak memberikan hal tersebut, dan kukira Pero bisa paham semua hanya dengan bertemu dengan penyihir lobster ini.


"Jadi, kamu gak punya rencana apa-apa? Terus aku harus apa? Di depan ada penyihir yang bagiku termasuk makhluk asing." tanyaku dengan mengecilkan suara karena lawan bicaraku tepat bertengger di pundak.


Tenang, kalau tidak ada rencana, kita hanya perlu membuatnya sekarang.


Jawab Pero yang sepertinya tidak tertekan dengan kondisi. Walaupun aku sekarang sudah terluka cukup parah, tapi perasaan tenangnya bukan berarti tanpa alasan.


Stank, stank, stank!!


Suara besi beradu terus berdentang keras. Dari sisi kanan, ke sisi kiri, lalu melesat membuat udara di sekitarku bergetar tiada henti. Walaupun cukup asing merasakan sensasi masuk ke dunia animus sekarang, tapi aku bisa tahu betapa hebatnya serangan di antara mereka berdua dengan hanya melihat dan mendengar.


Di depanku adalah pertarungan antara penyihir menggunakan senjatanya masing-masing. Amalia begitu lincah menggunakan pisaunya. Bergerak kanan dan kiri, membungkuk dan melompat, dan bahkan bisa dengan mudah mengelak maupun menghempas serangan Geza.


Walaupun senjatanya pisau, tapi aku tidak melihat kalau ada kerugian dari senjata yang dipakai gadis tersebut. Malah, aku bisa melihat beberapa kali Amalia bergerak lebih lincah untuk menyerang tubuh Geza. Dengan jarak yang pendek, justru Geza semakin sulit mengayunkan tombaknya. Bahkan, aku bisa bilang kalau ketenanganku ada pada tahap dia bisa memenangkan pertarungan tersebut.


Berpikir sekali lagi, aku lupa kalau Amalia memang menyeramkan. Memang benar aku mengetahuinya, tapi melihatnya sekali lagi membuat perasaan yang berbeda.


"Ngomong saja memang gampang. Tapi, gimana caranya aku bisa masuk ke tempur gila itu?" tanyaku pada Pero.


Beri tahu apa saja yang kamu tahu, Kaivan. Sisanya kita cari sambil mengulur waktu.


Lalu, dijawab segera oleh Pero.


"Dia memang anak kecil, tapi tenaganya luar biasa. Tubuhnya kayak manusia, tapi sebenarnya lebih keras dari besi. Sebelumnya aku tendang dan malah kakiku yang balik hancur."


Hmn ... begitu, iya. Jadi, dia punya sihir yang menaikkan kemampuan fisiknya. Hm? Atau ... mungkin dia lebih ke arah menciptakan perisai? Tapi, kita pastikan saja nanti, mungkin kita bakal coba buat serang tubuhnya terus buat tahu apa pisauku bisa tembus.

__ADS_1


Pero bergumam, suaranya berdengung di kepalaku hingga dapat terdengar setiap kata yang terucap. Entah itu sengaja atau bukan, aku lebih ingin dia bicara ketika sudah mendapat jawaban jelas. Tidak membawa kalimat gumam menggunakan telepatinya.


Baiklah, Kaivan. Bantu Lia di sana dan coba serang bagian tubuhnya berkali-kali.


"Dari tadi kamu cuman ngomong. Apa kamu gak lihat kakiku patah sekarang?" tanyaku sedikit kesal dengan sikapnya. "Memangnya kamu gak punya sihir penyembuh atau sesuatu yang lain?"


Rasa sakit di kaki mungkin bisa ditahan. Indra tentang gelombang emosi terkadang menyamarkan rangsangan pada tubuhku sendiri. Tapi, aku tidak ingin mengambil risiko besar bergerak saat tubuh sedang pecah. Itu akan memperbesar luka yang ada.


Sayang sekali kami animus gagak tidak punya sihir penyembuh. Tapi, aku punya telekinesis sederhana. Sambil bergerak, aku akan menjaga setiap serpihan tulangmu pada tempatnya. Untuk sementara kamu tidak akan kesakitan dan khawatir tulangmu pecah berserakan di dalam.


Hmn ...?


Setelah Pero mengatakan hal tersebut, aku bisa merasakan rasa sakit di telapak kakiku perlahan menghilang. Walaupun tidak sembuh total, setidaknya aku masih bisa menggerakkan sendinya dengan normal.


"Heh, aku kadang bingung. Kamu gak bisa sembuhin luka, tapi kamu bisa bikin sihir yang kedengerannya lebih rumit," tukasku sambil melemaskan pergelangan kaki memastikan bagian tersebut berfungsi.


Bukankah sudah pernah aku beri tahu? Kami animus gagak tidak kuat. Tapi, tentang akurasi kendali sihir, kami lebih unggul.


Itu tidak penting. Jika kamu sudah siap, segera bantu Lia dan tunjukkan kalau jantan itu lebih dominan soal kekuatan.


Aku harap aku juga bisa begitu.


Setelah percakapan berakhir, fokusku kembali ditajamkan ke depan memerhatikan pertempuran. Dengan kaki yang bisa kugunakan lagi, aku mencoba duduk setengah jongkok layaknya posisi bersiap awalan lari.


*Dug, dug ....


Detak jantungku mulai terpacu kembali. Gelombang emosi yang sejak dari tadi berkumpul kembali kuterima sebagai bentuk kekuatan. Dengan tatapan tajam dan pisau digenggam, aku berusaha mencari titik yang tepat.


Geza di depan sana selalu mengayunkan tombaknya dengan lancar. Setiap Amalia mendekat, dia dengan hebat menjaga jarak melangkah mundur dan kembali mengayunkan tombaknya. Gerak lambat dari tombak dan jarak ayun yang panjang membuat jeda yang besar.

__ADS_1


Sangat jarang Geza punya kesempatan untuk menyerang. Tapi, di kesempatan yang sama, Amalia sulit menyentuh tubuh Geza yang sama kecilnya dengan anak remaja awal. Jadi, satu-satunya cara tercepat mengakhiri ini adalah dengan kerja sama.


Stank! Stank!!


Dua senjata mereka beradu, mereka berdua sama-sama terpental selayaknya tumbuk kekuatan yang seimbang. Namun, senjata tombak Geza yang lebih panjang membuat pemulihannya lebih lama. Itu membuat Amalia punya kesempatan untuk maju mendekat untuk melancarkan serangan.


*Step


Tentu itu bisa dibaca oleh si penyihir lobster. Responsnya yang melihat ancang serangan tersebut pun mencoba melangkah mundur.


*Swing


Untuk menghindar sambil menyerang, dia juga melancarkan ayunan panjang horizontal. Ujung tombak tersebut melebar dengan radius lebih dari satu meter mengitari bagian depan Geza, serangan yang umumnya sulit untuk dihindari.


*Jump


Tapi, tidak dengan seorang penyihir yang punya akselerasi di tubuhnya. Amalia dengan lancarnya melompat tinggi dan menaikkan kaki untuk menghindar. Gadis tersebut berniat meneruskannya dengan serangan horizontal menukik ke bawah.


"HAHA!! Bodoh!!" teriak Geza dengan nyaring mengejek.


Penyihir lobster tersebut ternyata tidak terpojokkan sama sekali. Ketika ayunan horizontalnya berakhir dan membuat posisi tombak miring di kanan belakang, dia pun mulai menarik gerakannya lagi. Kali ini, dari belakang, tombak tersebut diangkat ke atas untuk selanjutnya melakukan serangan membelah horizontal layaknya memotong belahan pohon menggunakan kapak.


Stank!!


"Sekarang!" teriakku yang sebenarnya tidak terdengar oleh mereka untuk menandai diriku sendiri.


Di detik ketika senjata mereka beradu, gerakan Geza terhenti. Dia dan Amalia dalam keadaan adu kekuatan dengan sisi-sisi senjata yang saling bergesekan. Cukup mengerikan melihat Amalia di sana, karena senjata Geza yang besar membuat gadis tersebut terlihat lebih terdesak.


Aku sekarang berlari kencang ke sisi kiri tubuh Geza. Selagi aku perhatikan, dia ternyata lebih dominan mengayunkan tombaknya ke kanan di banding ke kiri. Sambil memanfaatkan momentum membekunya gerakan dia, aku berusaha melancarkan serangan.

__ADS_1


Tubuhku sudah sampai di jarak yang cukup untuk menyerang. Tentu Geza di sana sadar, sempat sesaat kami bertatap mata di tengah adu senjatanya. Oleh sebab itu, penyihir lobster itu sempat terdorong beberapa senti oleh senjata pisau Amalia, walau di saat yang sama dengan cepat dia membalas dorongan tersebut.


__ADS_2