Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 26 - Mengulur Waktu


__ADS_3

*Whoush ....


*Dug, dug ....


"Hh!?"


Geza kembali melompat tajam, menerjangku sambil mengayun keras tombak miliknya menebas horizontal. Kemarahannya terasa jelas, itu kembali membuatku mendapat kekuatan dari deteksi emosi. Tapi, Amalia yang di jarak lebih jauh membuat kekuatan tersebut berkurang, apa yang kurasakan di tubuh tidak sama seperti sebelumnya.


*Dodge


Aku melompat ke belakang, menghindar dari serangan tersebut karena tidak percaya kalau tanganku bisa menahannya.


"HAHA!!"


"Gkh!"


Serangan penyihir lobster itu sangat cepat, gerak hindaranku tidak ada apa-apanya. Satu langkah, dua langkah, lompat pertama, geser kedua, terus seperti itu menghadapi ayunan tombaknya. Walaupun dengan indra yang menajam, aku tidak bisa mengimbangi Geza yang barusan sudah terbiasa melawan dua orang sekaligus.


Stank! Stank!


Pada akhirnya, aku tidak bisa terus menghindar. Beberapa serangan darinya bisa melebihi kecepatan tubuh, pada saat itu tidak ada pilihan untuk saling mengadu senjata. Seberapa cepat aku mundur, seberapa lihai aku menjaga jarak, ujung bilah tombaknya selalu mengikuti.


"HAHA!! Kaivan, Kaivan, Kaivan!!"


"Gkght!"


Sepertinya kita beruntung di sini?


"Huh?"


Di tengah-tengah pertempuran tersebut, muncul kembali suara Pero di kepalaku. Entah ada di mana lokasinya sekarang, tapi dia dengan bentuk burung gagaknya tentu tidak akan bertengger selamanya di pundakku saat bertarung.


"Apanya yang beruntung?" tanyaku bergumam sendiri dengan suara kecil agar tidak didengar jelas oleh Geza.


Dia membiarkan penyihirnya bertarung melawan Lia. Itu artinya pria pelayan itu tidak punya kesempatan menang.


Stank!!


Di percakapan dan kalimat-kalimat yang Pero katakan, aku masih sibuk mengatasi pertarungan tersebut. Tanganku berkali-kali perlu menahan dan membelokkan serangan tombak Geza. Ini membuatku kesal karena burung gagak tersebut seperti meremehkan kondisiku.


"Mustahil buat menang juga sama denganku. Gkht, hah, hh ... hah .... Aku gak bisa bertahan lama kalau gini."


Stank!


Tenang, Lia akan membantumu jika dia berhasil melumpuhkan pria berkacamata itu. Jadi, kamu cuman perlu mengulur waktu.


Jawab Pero yang masih menggunakan telekinesis berdengung di kepalaku.


"Rencana bagus, tapi gimana caranya aku bertahan dari ini?"


Pertahanan terbaik adalah menyerang.


"Kalau aku bisa serang dia sekarang, aku gak usah tanya barusan!" teriakku sedikit geram dengan jawaban bodoh tersebut.


Kuatkan saja tenagamu, sebelumnya barusan kamu sudah membuat lehernya retak.


"Kamu tahu, kadang aku benci padamu karena kepintaranmu bisa hilang di waktu acak. Dan itu termasuk sekarang!"


Stank!


"Kenapa!? Apa yang sedang kamu bicarakan!?" tanya Geza yang semenjak tadi bertarung dan melihat mulutku bicara sendiri. "HAHA!!"


Dan tentu saja dia juga masih menyerang.


Stank!


Itu adalah serangan tepat mengarah ke kepala. Karena sangat berbahaya, aku bahkan mengubah cara pegang pisauku dari berdiri ujung pisau mengarah ke atas layaknya koki, menjadi masuk ke bawah layaknya seorang ninja. Itu akan memberikan cengkeraman yang lebih kuat, terlebih dalam kondisiku yang terus melemah menghadapi serangan bertubi-tubinya.

__ADS_1


"Hah ... hh ... hah ...."


Aku tidak sempat bicara dengannya, tenagaku sendiri sudah terlalu terkuras untuk mengelak, menangkis, dan bicara dengan Pero barusan. Jadi, di serangan terakhir yang berhasil kutangkis tersebut, napas engah-engahku mencegah untuk melakukan percakapan lain.


"Kamu tahu, Kaivan." Kata Geza yang membuka percakapan dengan tombak yang dia taruh di pundak sebagai bentuk gencatan senjata. "Bahkan, sampai sekarang aku masih berharap kalau kamu setuju dengan tindakanku. Membunuhmu sekarang adalah tindakan yang sia-sia."


Aku terdiam lelah dalam posisi setengah berdiri, kemarahannya yang memudar membuat tubuhku juga ikut meredup. Rasa pegal, berat, dan tubuh keram menjadi jelas terasa sekarang.


"Hah ... hah ... gluk. Kalau kamu masih pegang kuat pendapatmu, kenapa kamu pikir aku enggak?" tanyaku menolak secara halus.


"Kamu hanya tidak tahu, Kaivan. Apa yang terjadi di dunia ini lebih buruk dari kata-kata impan-MU!!"


*Swing


Di satu vokal terakhir, Geza mengayunkan tombaknya sangat keras ke arahku.


*Whoush ....


"Hh!?"


Aku yang sadar dan kembali merasakan gelombang emosinya dengan refleks lompat mundur.


Bug!


*Crack


Aku sebelumnya berdiri di samping tembok rumah sakit. Karena hindaran yang kulakukan, ayunan tembok itu menubruk keras hingga membuat lubang pada dinding itu. Ukurannya lubangnya sangat besar dengan jari-jari satu meter, bahkan semakin besar dengan diikuti reruntuhan yang jatuh menyusul. Jika manusia biasa terkena serangan tersebut, dia akan terbelah dengan sangat rapi karena kekuatannya yang besar.


"Ukh, sial. Mungkin rumah sakit ini bakal masuk TV besok," gumamku sendiri setelah melihat kekacauan dengan kabut debu dan reruntuhan dinding yang berserakan.


Tidak, dia tidak bodoh, Kaivan. Kita sekarang ada di dunia animus, dimensi yang berbeda di mana kerusakan fisik di sini tidak berhubungan langsung dengan duniamu.


Jawaban dari keluhanku tiba-tiba saja dicerahkan oleh suara dengung dari telepati Pero. Dia sampai sekarang masih mengawasiku dari lokasi yang tidak diketahui.


Mungkin itu sedikit membuatku tenang. Karena jika memang hal itu benar, aku punya satu pilihan tambahan di kondisi yang terjepit ini.


Baiklah.


*Dash


"Ke mana kamu mau pergi, Kaivan? Mengurung diri di dalam gedung, Ha!?" tanyanya menyentak.


"Aku gak mungkin menang, jadi mungkin tempat sempit bisa mengurangi mobilitasmu," lalu kujawab dengan sedikit teriak, teriak dari dalam gedung rumah sakit yang jalan masuknya masih tertutup debu reruntuhan barusan.


"Jadi kamu pikir kurungan dinding ini bisa membuatmu menang? HAHA!! Aku tidak sabar melihat wajah kalahmu setelah melakukan ini," ucapnya sambil berjalan masuk ke lubang di dinding rumah sakit barusan.


Ini sebenarnya juga tidak memberi jaminan, bisa saja ruang sempit malah merugikanku dengan menghilangkan satu faktor kelincahan. Terima atau tidak, dinding semen seperti ini tidak cukup kuat untuk menahan kekuatan tebasan Geza. Jadi, yang aku lakukan sekarang juga adalah taruhan.


Aku menyelinap di sela-sela gedung rumah sakit yang cukup unik. Lorong-lorong di sini panjang dan punya banyak ruang di sepanjang jalan. Jika aku beruntung, aku bisa melakukan serangan tiba-tiba di sini.


Bagian dalam rumah sakit ternyata tidak ada satu orang pun. Suasana di sini sama seperti ketika di luar, indra-indraku bekerja dengan sedikit aneh layaknya memiliki tekanan udara yang berbeda. Tapi, jika dibilang sesuatu seperti interior, tempat ini sama persis dengan rumah sakit aslinya. Ini seperti dunia cermin yang meminjam bentuk tanpa ada makhluk hidup di dalamnya.


"Kaivan!" panggilnya dengan suara keras menggema dengan cara lain di lorong. "Aku mungkin benci mengatakan ini. Tapi, apa yang kamu percaya tidak sepenuhnya benar."


Aku sekarang sedang duduk bersembunyi di salah satu dinding ruangan, menunggu kedatangannya lewat di salah satu lorong untuk selanjutnya melakukan serangan. Jarak kami sendiri tidak jauh, aku bisa memastikannya dengan volume dan getar suara. Lagi pula, keadaan sepi di sini juga sangat mendukung untuk deteksi emosiku bekerja dengan baik.


*Step, step, step


"Kamu mungkin benar tentang orang sakit, kamu mungkin benar tentang ilmu pengetahuan untuk maju demi penyembuhan. Tapi, selebihnya kamu tidak tahu apa-apa."


*Dug, dug ... dug, dug ....


Geza mulai mendekat, adrenalinku di sana juga bahkan mulai terpacu lagi setiap langkahnya mendekat.


"Dunia ini kotor, dunia ini rusak ... orang yang mau bunuh diri bukan hanya orang yang sakit parah saja. Kamu juga pasti mengerti 'kan maksudku, Kaivan?"


Dari lokasiku sekarang, dapat terdengar jelas apa yang dikatakannya. Entah kebetulan atau tidak, tapi Geza bersikap seakan dia sedang bicara langsung dan tahu kalau aku sedang mendengar.

__ADS_1


"Setiap tahunnya ada kasus penyiksaan, ada kasus bully, korban penipuan, stres berat menjalani hidup, depresi ketika menghadapi banyak masalah, dan macam lainnya. Jika mereka ingin mati dan lepas dari beratnya dunia, itu adalah hadiah bagi mereka."


*Step, step ....


"Benar, 'kan? KAIVAN!!"


*Whoush ....


"Hh!"


Aku merasakan gelombang emosinya. Dia ada tepat ada di samping ruangan dan berhasil menemukan lokasiku. Bersama dengan teriak memanggilku, dia menaruh kekuatan dan mengayun keras tombak tersebut mengabaikan tembok di sekitar berniat menghancurkanku bersamanya.


Bug!


Suara senjatanya bahkan bukan berdentang lagi, lebih seperti efek ledakan di proyek konstruksi. Tembok yang pecah tersebut benar-benar menakutkan layaknya sedang menghadapi monster di film aksi.


Aku tidak benar-benar terkena serangan maupun terluka akibat reruntuhan tersebut. Gerak dan instingku yang terpacu sudah cukup untuk menghindarinya. Malah, aku punya kesempatan bersama kebul debu yang tercipta barusan.


*Dash


Kakiku mendorong keras permukaan lantai, tolakan tersebut dipakai untuk memberi gaya yang cukup melontarkan tubuhku. Arah serangan menuju ke lehernya, dengan ini aku bisa menyelesaikan serangan yang sebelumnya sudah kulakukan memberi retakan.


"HAHA!!"


Geza sadar dengan itu, dia kembali menebaskan tombak dengan keras horizontal.


Lariku ditahan sebentar, menunduk serendah-rendahnya dan membiarkan tombak tersebut melesat di atas. Entah berapa kali aku melakukan ini, tapi sepertinya sudah cukup karena memang tipe serangan tombak yang kaku.


Bug!


Sekali lagi tombak tersebut menabrak tembok menghancurkannya berkeping-keping. Walaupun ujung bilahnya masih lurus menembus dinding itu, tapi setidaknya Geza merasakan dampak ayunan tombaknya yang melambat.


Aku kembali melontarkan tubuhku, ke samping dan mencari sisi belakang. Dengan segala manuver tersebut, aku pun akhirnya sampai ke leher belakangnya. Lalu ....


*Slace


Serangku mengenai leher di tempat yang sama.


"..."


"..."


Hn?


Aku melamun beberapa detik, sensasi ketika aku menyerangnya tidak sama dengan sebelumnya. Serangan yang seharusnya berasa seperti merusak keramik sampai belah tidak ada, terusan tangan tentang bilah pisauku bahkan melesat lancar tidak memberi kesan sedang bergesekan.


"Heh ... HAHA!!"


*Dug, dug!!


Kembali kemampuan deteksi emosiku bekerja. Geza yang terpicu kemarahannya berusaha menyerangku dengan ganas.


Aku menghindar, melompat cepat seperti kucing yang sedang kabur dari kejar ketakutannya.


"Kaivan, jika kamu mengincar leherku lagi, lebih baik lupakan saja."


"..."


Geza yang sudah melancarkan serangan pun kembali menarik posisi bertarungnya. Dia yang melihatku melompat menjaga jarak juga berusaha mengambil kesempatan untuk bicara lagi.


"Aku ini lobster, dan ketika lobster kehilangan cangkang, dia akan menggantinya dengan yang lebih besar dan kuat."


"Hh!?"


Geza memperlihatkan sisi leher yang sebelumnya retak akibat seranganku. Tapi, kini luka tersebut sudah hilang, dia meregenerasi kulit kerasnya dengan cepat.


Baiklah, sekarang aku berhadapan dengan monster bertubuh keras dan regenerasi cepat. Sesuatu yang aku pikir hanya akan ditemukan di film superhero ternyata nyata kuhadapi.

__ADS_1


 


 


__ADS_2