Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 44 - Terkapar


__ADS_3

Monster itu menyerang ke arah kanan, mengayun keras melewati ujung rambut hingga terhempas beberapa helainya. Aku menghindar, melontarkan tubuhku secara paksa berpusat pada satu kaki.


Jari monster itu besar dan tebal, terlihat mengerikan bagiku. Satu jarinya saja bisa sama lebarnya dengan tengkorak manusia. Tapi, itu juga menjadi sedikit kelemahan baginya untuk bisa menangkap benda yang kecil baginya.


Beberapa kali aku menghindari serangan si monster, berlari ke berbagai arah, mengayunkan kapak, dan bersembunyi kembali di balik pohon untuk mengulur waktu. Dari serangannya, sepertinya monster itu tidak ingin benar-benar membunuhku. Tindakannya lebih seperti ingin menangkapku hidup-hidup.


Ayunan tangannya tidak terlalu ganas hingga bisa menghempaskanku begitu kuat sampai membuat tubuh remuk. Dia lebih menahannya walau di saat yang sama dia juga ingin mengatasi gerakanku yang lincah masuk ke sisi-sisi sempit.


Aku keluar dari area terbuka, masuk kembali ke hutan yang kaya akan pepohonan ramping yang tinggi. Monster itu mengejar, dengan kekuatan tangannya dia juga mengibas banyak pohon untuk dilewati.


Aku berlari seperti itu, menganggap bisa lolos dan menyatu dengan hutan.


“Ah.”


Sampai aku sadar kalau ternyata hutan yang penuh pohon sekarang sudah gundul terlibas. Banyak bangkai pohon-pohon besar yang tergeletak menebang pohon kecil lainnya. Bukan hanya menghabiskan, tapi pohon besar itu juga membuat sebuah tanjakan khusus. Di medan yang menanjak, aku tidak akan bisa memanjat bangkai batang pohon tersebut, terlebih dengan kakiku yang masih sakit.


Heh, ternyata lemparan yang dari tadi meleset itu bukan sepenuhnya meleset. Monster ini tahu aku bisa lari, dan dia menutup semua jalur lariku sebelum benar-benar menangkapku. Sungguh, sekarang aku tahu perasaan para hewan yang dipotong jalan larinya sebelum diburu.


“RrRaakhg!”


*Throw


Suara raungan terdengar, monster tersebut membuat ancang-ancang melempar yang entah kenapa dapat kurasakan.


“Hh!?”


Aku melihat ke belakang, dan mencoba menunduk menghindarinya. Untungnya lemparan tersebut melayang lebih tinggi, tidak menggelinding menyusuri tanah. Jadi, merendah menjadi pilihan mudah untuk menghindar.


Batang pohon kali ini ternyata lebih ramping, dia mungkin mengambil pohon tersebut dari daerahku sekarang. Sentak keras ketika dia membentur daerah belakangku tidak semerikan sebelumnya.


“RRrrRaaaAAHkh ...!!”


Datang, monster itu kembali datang dengan hempasan tangannya yang ganas menuju ke arahku sekuat tenaga.


Di depanku daerah kosong tanpa pepohonan lagi, malah bekas pepohonan yang tumbang sangat mengganggu lariku. Berlari ke arah samping juga tidak akan mengubah kondisi, medan berat dan batang pohon besar yang dilempar sebelumnya banyak menghalangi jalanku.


Aku pun berbalik sekali lagi, bersiap menerima serangan monster tersebut.


“RhawH!”


*Krek ....


Monster itu menyikap batang pohon tipis yang membatasi menggunakan tangan kirinya, lalu dia mencoba menangkapku dengan tangan kirinya.


*Dodge


Aku menghindar, melompat kecil untuk membuat jangkau tangannya meleset. Lalu ....


*Slash


Dengan satu gerakan kuat, aku menyerang punggung tangan si monster tersebut. Walaupun serangan tersebut tidak membuat putus tangannya, tapi aku bisa melihat banyak darah keluar di serangan tersebut.


“Rrkh!?”


Si monster merasakan rasa sakitnya, dia menggeram dan terlihat tubuhnya bergidik.


“RRAaakh!!”


Tapi, itu hanya sesaat. Dengan cepat dia melakukan gerakan balasan.Dengan menggunakan tangan kanannya yang terluka barusan, monster itu pun menghempaskan tangannya ke arah berlawanan. Punggung tangan yang barusan kusayat menggunakan kapak dengan cepat bertubrukan dengan tubuhku.


“Gkhakgh!?”


Aku melayang, tubuhku melesat di udara dengan kecepatan luar biasa membelah udara. Karena banyak di antara pohon-pohon sudah tersikap dan tumbang, aku di sana terlempar cukup dan bahkan berpikir akan mati.


Bukh.

__ADS_1


“Aakhkh ...!”


Dua puluh meter sudah tubuhku terpental, pada akhirnya aku tetap menubruk salah satu pohon di sana.


Sangat sakit, tulang punggungku terasa ingin remuk. Melayang kuat dan diakhiri dengan terbenturnya tubuh belakang dengan pohon rasanya sangat sakit. Walaupun tulang belakangku masih belum remuk, tapi memar otot dan sendiri terkilir sudah bertebaran di seluruh ruas tubuh.


Badanku sudah terkapar, mencium tanah penuh tanaman, lemas tidak berdaya kesulitan bergerak. Di sana aku bahkan bisa merasakan getaran penuh di tanah, seluruh badan yang menapak tersebut membuat rangsangan tersebut menjadi tajam.


Tentu aku di sana berusaha berdiri, melakukan dorong tubuh dengan tangan layaknya push up.


“Ghkuah, ghuahk ...,” batukku yang mengarah ke tanah.


Tapi, tetap gagal, rasa sakit di setiap ruas tubuh membuat gidik sendi menjadi tidak normal dan mengganggu perintah setiap otak. Pada akhirnya, kembali lagi badanku mencium tanah.


*Step, step, step ....


“Dari awal sudah aku bilang kalau kamu gak bakal kuat buat bawa ini.”


“H-hn?”


Dari sisi lain aku mendengar langkah kaki. Bukan getar hebat dari sang monster, tapi riuk-riuk ringan dedaunan diinjak oleh manusia. Itu adalah Farrel, dia datang menyusulku. Dia berjalan dengan tenang menghampiri tubuhku yang terbaring.


“Fa-Farrel? Kenapa kamu bisa di sini?” tanyaku sambil menahan rasa sakit tubuh yang memar.


“Kamu beneran tanya itu? Harus kujawab? Setelah banyak gaduh gempa dan pohon tumbang di sini?”


Farrel mengatakan itu sambil mengambil posisi, dia menunduk dan segera menarik tanganku ke pundaknya. Dia dengan cepat mengubah keadaan yang semula terbaring menjadi berdiri sambil bertopang tangan di bahunya.


“Bukannya kamu juga ada—“


“Selesai,” potong Farrel dengan cepat. “Tugasku sudah selesai, sekarang tinggal tugasmu. Dari awal kamu sudah meleset sekitar lima puluh meter dari rute utama.”


“Maaf, kalau aku gak dipukul terbang, mungkin aku masih bisa lari di jalur utama—“


Kali ini yang memotong adalah suara dari sang monster. Dia masih meraung keras menunjukkan kekuasaan dan kemarahan ke sekitar. Volumenya yang luar biasa masih tidak berubah, tetap membuat getar seluruh rindang pohon sekitar.


“Gak ada waktu lagi, kamu bisa lari?” tanya Farrel yang masih menaruh tanganku di pundaknya membantu berjalan.


Aku mungkin masih kesakitan di berbagai tubuh. Kaki masih sakit terkilir, punggung masih pegal setelah dipukul melayang terhantam pohon, dan beberapa sendi juga lemas mati rasa. Tapi, dibandingkan lari sambil gendong sebelah tangan seperti itu ....


*Pull


Tarik tanganku dari bahunya untuk memisahkan diri.


Aku lebih baik jalan sendiri.


Lalu, lanjut berlari kecil lebih dulu di depan Farrel.


Gerakanku masih tidak sempurna. Lari yang patah-patah, sedikit pincang, dengan tubuh yang naik turun tidak beraturan, semua faktor tersebut tidak akan menghasilkan kecepatan yang cukup untuk melarikan diri dari sang monster yang bahkan bisa melesat dari pohon ke pohon dengan cepat.


Itu yang aku pikirkan awalnya.


*Krek ...


Bukgh!


“H-Hn?”


Tapi, setelah beberapa waktu berlalu kami berlari ke dalam hutan, aku malah mendengar suara yang unik. Suara rekahan pohon, lalu disusul dengan suara getar hebat di tanah layaknya si monster sedang mendarat.


Aku yang penasaran ingin melihat ke belakang, dan hal tersebut aku lakukan ketika sampai di sebuah tempat dengan blokade batang pohon yang sebelumnya menghalangi. Sambil menunggu Farrel menyusul, aku ingin tahu apa yang terjadi di belakang.


“Pohon di sini tipis-tipis, aku juga sudah tebang sebagian biar gampang roboh. Jadi, dia gak bakal bisa lompat-lompat lagi kayak barusan,” kata Farrel yang baru datang mendekat dan sadar akan pandangan penasaranku.


Aku di sana salut, tidak aku sangka kalau kemampuannya yang lincah memanfaatkan pepohonan malah berbalik menjadi jebakan sabotase itu sendiri.

__ADS_1


Sambil berpikir, aku juga sambil bergerak. Farrel yang kondisi fisiknya lebih kuat segera memanjat batang pohon tebal yang memblokade jalur. Dia yang sudah di atas segera menjulurkan tangannya untuk membantuku naik lebih mudah.


Keadaan sekarang membuat si monster itu tidak akan bisa mengejarku dengan kecepatan yang sama. Kondisi pohon di daerah timur dan selatan memang berbeda secara keseluruhan. Walaupun sekarang tipis dan tidak akan menghalangi tubuh besar si monster, tapi itu cukup untuk mengganggu dan menyegel kemampuan melompatnya.


Tapi ....


“Dari mana kamu tahu kalau monster itu bisa lompat? Kamu siapin ini dari awal ‘kan, Farrel?”


Aku yakin itu kemampuan baru, dan baru diketahui di pengejaran malam ini. Memang benar aku meminta Farrel membuat jebakan di daerah selatan, tapi aku tidak punya informasi itu sebelumnya untuk bisa meminta Farrel merapuhkan pohon-pohon sebagai bagian dari jebakan seperti sekarang.


“Aku gak tahu, jebakan pohon ditebang sebagian biar gampang roboh sudah niat awal. Aku juga gak tahu bakal jadi kayak gitu fungsinya.”


Farrel mengatakan itu sambil tetap membantuku bergerak. Melewati blokade hanya satu hal saja, sebenarnya dia terus membantu dari belakang seperti melakukan dorongan kecil dan terus berjaga arah belakang.


Aku tentu tidak ingin disebut beban, dengan sekuat tenaga aku kembali mengerahkan kemampuan berlari.


Namun, sempat setelah beberapa puluh meter berlalu, kembali serangan dari si monster muncul.


“RRuaAawgh ...!!”


*Throw, throw, throw ....


Batang pohon kembali beterbangan, lebar yang tipis dari karakteristik pohon itu membuat sang monster memungkinkan melempar batang tersebut secara beruntun.


Serangan tersebut mungkin terlihat buruk, apalagi ketika Farrel memutuskan untuk memotong pohon-pohon di sekitar dan lebih memudahkan monster untuk menarik dan melemparnya sebagai senjata. Tapi, kemungkinan tersebut masih lebih baik daripada si monster pergi menghadang kami lurus dengan tangannya langsung—


“Ivan, awas!!”


“Hn?”


Bugkh!


Tiba-tiba saja sebuah lemparan pohon menusuk lurus ke arahku. Batang dengan ranting besarnya mengait ke tubuh dan menggusurku jauh ke depan dengan kasar.


“Gkhahk!?”


Tangan tertusuk, kaki terkait, dan berbagai tubuh bergesekkan mengikuti luncuran batang pohon tersebut. Lebar yang tipis dari pohon ternyata dimanfaatkan kembali oleh monster itu dengan cara yang berbeda. Alih-alih melempar dengan posisi horizontal sebagai blokade jalan, monster itu kali ini melempar pohon secara lurus layaknya tombak.


Masalahnya, aku tidak tahu kalau dia bisa melempar batang pohon seakurat ini. Dengan kekuatannya tersebut, seluncur pohon menjadi lebih stabil dan bahkan membuatku tergusur berpuluh-puluh meter.


Untuk kesekian kalinya aku mengalami sebuah perasaan yang di mana aku berpikir akan mati.


“Ivan!”


Farrel memanggilku dari kejauhan, dia bahkan berteriak khawatir dan segera berlari menyusulku yang sudah tergusur jauh.


Saat itu, mataku bahkan tidak bisa terbuka sempurna. Debu dan berbagai kotoran lain menutupi wajah hingga menaruhku pada posisi membuka mata adalah tindakan menyakitkan. Di gelap malam, aku juga tenggelam dalam kegelapan pribadi.


Tubuhku tersangkut di batang cabang yang agak tebal dari pohon tersebut. Ranting-ranting kecil yang masih tidak kalah keras menusukku ke berbagai tubuh hingga mengeluarkan darah. Kali ini aku tidak bisa bergerak, karena aku ada di posisi di mana bergerak hanya akan menambah pendarahan.


“Ivan.”


Namun, pendengaranku masih utuh. Dari semua indra, pendengaran punya cara sendiri untuk bisa bertahan dari kerusakan fisik. Ketika aku terluka parah seperti ini, panggilan dari Farrel ternyata masih jelas berdengung di tengkorakku.


*Whoush ....


Gelombang emosi.


Ah ... tidak disangka kalau tiba waktunya di mana Farrel bisa mengeluarkan gelombang emosi sekuat ini. Dengan pandang tertutup, aku bisa merasakan kehadirannya dari suara dan gelombang emosi tersebut. Begitu dingin, begitu asam, dan tercampur oleh sebuah kemarahan.


“Fa-Farrel,” panggilku dengan suara lirih. “Kamu pergi saja, aku sudah gak bisa selamat.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2