Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2 Jejamuan : Chapter 2 - Cara Diterima Cewek


__ADS_3

Memang benar. Tidak enak juga istirahat sambil melihat orang sibuk bekerja. Orang normal yang tahu harga diri tidak akan membiarkan dirinya tergeletak tak berguna di tengah kesibukan.


Aku akhirnya selesai menurunkan seluruh kursi dan merapikan barisannya. Pekerjaan itu jauh lebih cepat dibandingkan membersihkan jendela, jadi aku pun menyusul Fany dan membantunya di sana.


Kelas pun bersih, setidaknya lebih nyaman dipandang dan tidak menimbulkan kesan terbengkalai. Farrel datang terlambat untuk seorang petugas piket, tapi dia masih lebih pagi dari siswa biasa.


Biarpun begitu, tetap saja tidak ada pekerjaan yang tersisa. Jadi, yang dia lakukan hanya meminta maaf atas ketidakhadirannya.


Fany tidak mempermasalahkan hal tersebut, keadaan juga membaik dengan keberadaanku yang membantu sedikit. Lagipula gadis itu mengerti kalau kejadian hari ini setara dengan kecelakaan. Tidak ada yang patut disalahkan.


Tugas piket termasuk penting di sekolahku. Hasil dan kehadirannya sangat mempengaruhi nilai sikap di rapot. Kepala sekolahku bilang, kami sebagai pelajar harus belajar menanggung tanggung jawab. Jika tugas kecil seperti ini saja tidak bisa dikerjakan, mana mungkin kami siap untuk terjun ke masyarakat.


Untuk penilaian, setidaknya ada satu guru yang bertugas berkeliling memantau kegiatan ini. Guru tersebut juga sudah datang, dia cukup puas melihat hasil kerja kami.


Hmn ....


Tadinya aku ingin menanyakan langsung hal yang mungkin membuatnya galau. Tapi, mungkin akan lebih baik jika perempuan yang melakukannya.


******


Pembelajaran sekolahku sudah berlangsung hingga awal September. Bulan ini akan diadakan UTS, tapi itu masih sekitar dua minggu lagi. Bagiku ini belum waktunya untuk belajar.


Bel istirahat berbunyi, aku keluar memojok hingga kondusif dan pergi ke kantin untuk membeli makan.


Hmn ....


Terkadang aku pergi ke tempat gudang kursi di mana aku dan Imarine makan bersama. Tapi, sepertinya hari ini aku akan pergi ke kamar mandi saja. Entah kenapa kemalasanku lebih mendominasi sekarang.


Duut, duut ....


Imarine : Kamu ke sini ‘kan, Van? Ke sini yah ... Ke sini donk. Pokoknya harus ke sini!


“...”


Yah, alasan aku kembali makan ke tempat itu adalah Imarine. Terkadang gadis itu memintaku untuk makan bersamanya, persis seperti hari ini.


Semenjak hari itu, dia jadi lebih dekat denganku. Kami melakukan sedikit obrolan karena dia juga sedikit tertarik dengan kemampuan membaca emosiku.


Kaivan : Kemarin aku sudah ke sana. Aku ‘kan bilang gak bisa ke sana tiap hari.


Kalau bisa aku ingin menolaknya. Mengingat apa yang dia katakan tentang waktu pribadi, aku juga ingin saat-saat istirahat seperti ini dihabiskan sendiri. Pergi bersamanya setiap hari cukup melelahkan dan membuang banyak waktu.


Imarine : Hari ini aku bakal cerita tentang orang yang punya masalah, bisa saja nanti mana-nya kamu ambil.

__ADS_1


“Oh ....”


Alasan kedua kami tetap berteman adalah hal ini. Imarine dengan seluruh jaringannya bisa membantuku untuk menemukan orang yang punya masalah berat dan berkemungkinan jadi target Amalia. Dua kepala lebih baik dari satu, begitupun seterusnya. Penambahan Imarine sebagai pencari sangat membantu.


Hmn ....


Tapi, aku juga punya laporan tentang gadis di kelas yang piket hari ini. Apa aku abaikan saja dulu?


“...”


Aku diam di tengah jalan berdiri dengan sambil memandang pesan dari Imarine.


Baiklah, aku abaikan dulu. Mungkin akan kuminta Amalia untuk menemuinya saat pulang sekolah. Berbeda dengan Imarine, Fany ada di kelasku dan cukup mudah untuk dijangkau.


Setelah kuputuskan, arah jalanku berubah haluan. Dari arah barat menjadi ke timur, area khusus yang lebih sepi dengan keramaian sekolah, tempat Imarine memanggilku.


Aku tidak makan bersama Amalia karena kami tidak pernah saling mengajak satu sama lain. Selama ini tidak diketahui bagaimana dia menghabiskan waktu istirahatnya. Aku dan dia terkadang berkomunikasi lewat telepon, tapi tidak pernah ada acara makan bersama.


Akhirnya aku sampai di tempat yang dijanjikan. Hal pertama yang kulihat di sana adalah Imarine yang menjemputku. Gadis itu berdiri di lorong dekat perpustakaan, posisi terdekat yang bisa membuatnya melihat kedatanganku.


“Ivan ... kadang aku tuh mau gitu jadi orang yang ditunggu,” ujarnya saat aku mendekat. “Kenapa kamu selalu lama keluar dari kelas?”


“Kenapa aku harus keluar kelas lebih cepat buat kamu?” tukasku membantah lembut.


Itu bukan jawaban.


Imarine menarikku berjalan ke tempat gedung tak terpakai.


“...”


Tapi, gedung tak terpakai sepertinya sudah tidak berlaku sekarang. Selama satu bulan berlalu, Imarine sudah membersihkan tempat itu. Aku tidak mengerti alasannya melakukan hal tersebut. Akibat usahanya, di sana sudah lebih nyaman dengan satu set meja terpasang siap dipakai.


Eh?


Kali ini aku telah berdiri di teras gedung tak terpakai. Tapi, aku tidak langsung duduk karena melihat hal mengejutkan.


Laki-laki?


Tempat itu lebih dulu diduduki oleh siswa laki-laki. Aku memang mendengar Imarine akan bicara tentang orang yang punya masalah, tapi aku tidak mendengar satu kata pun tentang dia yang membawanya sekarang.


*Grek.


Suara terhentak kursi karena pergerakannya yang tiba-tiba. Laki-laki itu berbalik dan mulai menghadap ke arahku.

__ADS_1


“Kaivan?”


“...”


Aku ingat wajahnya, tapi tidak ingat namanya. Siswa itu adalah orang satu kelas denganku di tahun pertama. Dia bertubuh cukup pendek untuk seorang laki-laki, mungkin sejajar dengan Azarin dan Amalia. Berambut tipis cepak dengan ukiran garis di samping kepala, orang ini terlihat cukup modis dengan kepribadiannya.


“Kenapa kamu ada di sini?” tanya laki-laki itu.


“Aku diundang. Tapi, kalau kamu gak mau, aku bisa pergi,” kataku yang mulai berbalik.


“Tunggu, Van~ siapa yang bilang kamu boleh pergi,” potong Imarine yang kembali memegangiku.


Langkah yang kuambil barusan setengahnya bercanda. Aku melakukannya karena tahu kalau Imarine akan menahanku.


“Ima, kenapa kamu gak bilang kalau ada orang di sini,” tanyaku pada gadis yang memegang bajuku.


“Iya, bener. Aku ‘kan minta orang yang kira-kira bisa ngajarin aku disukain sama cewek, tapi kenapa malah Ivan yang—”


“Hh!?” dengan panik gadis itu memotong ucapan lelaki itu.


“Gmbukh, mhngh ....”


Imarine membungkam mulutnya. Napas orang itu tertahan kuat hingga dia tidak bisa bicara.


*plak, plak, plak ....


Tampar tangan lelaki itu pada bungkaman mulut yang dilakukan Imarine. Dia terlihat sangat menderita dengan wajah sesak kehabisan napas.


“Ima, lepasin. Kasihan dia kesakitan.”


Dan kasihani juga aku yang merasakan gelombang emosi kesakitannya.


“Ah,” responsnya yang sadar akan perlakuannya. “Oke, aku lepasin,” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tangan untuk melemaskannya.


“Fhuah ... hah ... hah ....” Suara napasnya yang lega terbebas. “Ima, beneran ... kenapa belakangan ini kamu jadi kasar? Dulu-dulu gak gini perasaan.”


“Oh, maaf ... kasarnya yang kayak gimana, yah? Padahal aku belum mukul kamu lho, Ian.” kata Imarine sambil mengepalkan tangan.


“Cara ngomongmu saja sudah begitu ... dan please, jangan pukul aku lagi.”


Lagi? Woi ..., Ima. Bahkan tanganmu sekarang sudah kotor oleh korban pukul selain aku?


 

__ADS_1


 


__ADS_2