Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 47 - Rangkuman Pemain Lain


__ADS_3

"Akhirnya kamu datang juga, Kaivan."


Suara tersebut adalah hal pertama yang menyambutku. Bukan sebuah sanjungan hangat, lebih ke seperti sebuah hinaan halus yang menunjukkan kalau aku terlambat. Orang yang berkata itu adalah Pero, wanita dewasa itu sekarang sudah baju yang lebih layak sejenis denganku, pakaian tebal yang memang cocok dengan hutan.


Aku melihat ke sekeliling ketika dikatai seperti itu. Lalu, benar saja, ternyata aku adalah orang yang paling akhir di sini. Amalia, Pero, Imarine, Azarin, kak Dina, dan bahkan di ujung memisahkan diri Hanz yang sedang duduk, semuanya sudah berkumpul. Mereka diam di sini dan melihat ke arahku serentak, seakan mereka memang sudah menunggu kedatanganku sejak awal.


"Kalian sudah berapa lama di sini?" tanyaku dengan mewakili pandangan perempuan-perempuan di sana.


"Aku sama Amalia selesai satu hari di hutan itu."


Satu hari? Wow ....


"Ternyata kamu bisa pecahin teka-teki itu. Aku gak nyangka kamu tahu cerita legenda itu," ucapku terkagum.


"Teka-teki? Enggak, aku tidak pernah pecahin maksud dari tiga kalimat itu, Kaivan."


Eh?


"Terus, gimana cara kamu bisa keluar dari hutan itu? Kamu punya tantangan sama yang bikin kamu ditaruh di hutan dan kumpulin barang dari box, 'kan?"


"Benar, sesuai dugaanmu, Kaivan. Aku dan Lia juga sempat dibawa ke hutan tersebut. Lalu, di sana juga ada monster yang mirip gorila raksasa."


"Iya, terus di sana juga ada gajah, 'kan? Jadi, kalian bisa bawa monster itu ke tempat gajah di selatan?" tanyaku memastikan.


"Gajah? Aku dan Lia tidak pernah menemukannya?"


"Huh? Terus gimana cara kalian bisa keluar dari hutan itu?"


"Setelah kami membunuh monster itu, kami segera dibawa kembali ke tempat ini."


"..."


Ua ....


Kembali aku dibuat berpikir, respons Pero mengatakan dia menjalani sesuatu yang jauh berbeda dariku. Memang benar aku tahu kalau Amalia punya kekuatan tempur. Tapi, aku tidak menyangka sama sekali dia bisa menumbangkan monster gorila raksasa itu sendirian.


Ah ... iya, mungkin karena sudut pandangnya adalah aku yang tanpa kekuatan. Jadi, monster gorila itu terlihat lebih kuat dari seharusnya. Keadaan di mana aku bisa memanfaatkan gelombang emosi kemarahan musuh untuk melawan balik tidak berlaku saat melawan monster atau sesuatu yang tidak termasuk manusia.


Heh, baiklah. Aku menemukan satu kondisi di mana Amalia punya peran penting di hidupku.


Aku melirik ke arah Imarine dan Azarin. Mereka berdiri di sudut ruangan yang sebenarnya masih dekat dengan kami. Hanya saja, karena sebuah atmosfer, mereka menjaga jarak layaknya tidak ingin mengganggu percakapan. Sama seperti Farrel, dia juga selalu menjaga jarak ketika aku melakukan komunikasi dengan orang lain.


"Ima," panggilku pada perempuan berdada besar yang sedang bersandar tembok itu. "Syukur kalian bisa lolos. Tapi, gimana cara kalian kalahin monster itu?" lalu lanjutku bertanya melemparkan percakapan.


"Hmn ... monster, iya," ucap gadis itu mengulang sesaat. "Aku gak pernah ketemu yang namanya monster."

__ADS_1


"..."


Wajah Imarine tidak lagi bahagia, kembali raut wajahnya ke arah dingin seperti biasanya. Bukan berarti dia sedang membenciku atau sejenisnya, tapi memang begitulah ekspresi normalnya ketika bicara denganku. Kebahagiaan ketika menunjukkan sisi feminin hanya berlaku ketika sedang berkomunikasi dengan Azarin sahabatnya.


"Aku sama Arin sama cuman satu hari di hutan itu. Tapi, waktu aku tidur, bangun-bangun aku sudah dibawa ke sini. Sudah itu saja."


"Hmn ...?"


Aku memiringkan kepala, berpikir kembali dengan apa yang diucapkan Imarine dengan ceritanya.


Selama ini tidak ada alasan untuk gadis itu berbohong padaku, jadi bisa dianggap apa yang diucapkannya adalah penuh sesuai apa yang dia lihat kala itu. Jika memang ada kemungkinan dia tidak bertemu dengan sang monster, apa itu artinya teka-teki yang timku, tim Imarine, dan tim Pero masing-masing berbeda?


"Ngomong-ngomong, kamu masih ingat isi dari kalimat teka-tekinya?" tanyaku pada Imarine.


"Yang tentang kepala tergantikan itu, 'kan? Aku ingat, tapi aku gak ngerti maksudnya. Aku mau pikirin sampai di hari kedua, tapi anehnya aku sudah dibawa balik lagi waktu tidur. Terus obrolan kalian, aku juga gak pernah ketemu sama monster itu. Aku keliling hutan seharian dan kayaknya hutan itu beneran kosong."


"..."


Tidak ada yang salah dari ingatan Imarine. Dari apa yang dia jelaskan, aku juga tidak melihat ada perbedaan dengan dunia yang kulihat dengan hutan yang dijelaskannya barusan. Satu hal yang berbeda adalah timing ketika mereka dibawa kembali dan ketidakhadirannya monster gorila.


Baiklah, mungkin itu masih sebagai sampel acak. Dari kasus Pero saja aku baru tahu kalau kita bisa selesaikan tantangan dengan membunuh si monster, itu artinya memang ada berbagai cara sah untuk bisa menang di sini.


Aku melihat ke arah Hanz. Dia masih diam dan duduk bersama anak kecil yang pergi bersamanya. Selama ini aku cukup penasaran bagaimana kemampuan tempur yang dimiliki Hanz. Dia terlihat cukup hebat ketika melumpuhkan tiga orang di awal permainan, tapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia melawan monster besar.


Pasalnya, yang dia tunjukan kala itu adalah trik, bukan kekuatan yang besar. Berbeda dengan Amalia yang punya sayatan pisau hingga membelah batu keras, Hanz terlihat lebih mengandalkan gerakan efisien.



Anak kecil yang bersama Hanz sempat bertatapan denganku. Dia punya wajah imut selayaknya anak perempuan pada umumnya. Tapi, di sana aku sempat melihat tangan yang diperban.


*Hide


Aku tidak tahu penyebab dan asal luka tersebut. Ketika anak tersebut sadar kalau aku melihat bekas perban tersebut. Dia pun mulai menyembunyikannya di balik kain bajunya yang longgar. Pakaian yang cukup unik tersebut seakan membuatku bertanya, dari mana dia mendapatkannya.


Hanz memberikan aura penahan agar dia tidak diajak bicara. Ditambah, kondisi orang-orangku yang sedang dalam kondisi buruk memberikan dinding tambahan agar aku tidak berurusan dengan Hanz. Oleh sebab itu, aku mencoba berjalan ke arah lain, arah kak Dina. Dia sedang duduk bersandar dan menyendiri, melipat dan mengangkat lututnya sejajar muka, lalu memeluk lipatan tersebut hingga dijadikan bantal muka sederhana untuknya sendiri.


"Kak," panggilku yang berjalan mendekat ke arah kak Dina.


Untuk alasan yang tidak diketahui, aku tidak melihat Verdian pacar dari kak Dina. Lelaki itu tidak ada di samping kak Dina atau bahkan di ruangan ini sekarang. Itulah sebabnya aku dapat datang menghampiri kak Dina dengan tenang. Keberadaan Verdian biasa membuat dinding penghalang antara kami membuat komunikasi benar-benar terbatas.


"Hn ...? Ivan ... ada apa?" sahut kak Dina mengangkat wajahnya mengarahkan pandangan padaku.


"Aaa ...."


Responsku di sana sedikit tertunda. Berbeda dengan orang lain, dia kali ini menunjukkan ekspresi penuh kesedihan di wajahnya. Matanya melebam, bekas lembab di mata membuat kerut dan garis utama menjadi kacau, terlihat jelas dia dalam kondisi tidak bahagia.

__ADS_1


"Kenapa? Muka kakak kayak—"


*Grip


"Hh!?"


Belum sempat untuk bertanya menyelesaikan kalimat, tiba-tiba saja cengkeraman kuat aku rasakan di pundak cukup kencang. Bukan dari sebelah, tapi dari dua sisi kanan dan kiri.


Aku melihat ke belakang kanan, lalu belakang kiri secara cepat. Lalu, ditemukan segera kalau yang memegang tanganku adalah Amalia dan Pero. Mereka dengan cepat menaruh kekuatan untuk menarikku menjauh dari kak Dina. Dengan rasa kaget dan sedikit panik, aku memilih untuk mengikuti arus yang terjadi di sana tanpa protes.


Tapi ....


"Enggak, enggak apa-apa. Aku bakal kasih tahu sendiri, kok. Makasih Amalia, Pero."


"Hn?"


Kak Dina menghentikan usaha Amalia dan Pero tersebut. Dengan kalimat pernyataan tegasnya, dia dengan cepat membuat Amalia dan Pero diam tidak jadi menarikku menjauh.


Aku masih di keadaan bingung, melirik kanan kiri ke arah dua pasang perempuan bisu dan siluman gagak. Tapi, di antara mereka tidak ada yang menjawab dan malah kembali mundur memberiku ruang bersama kak Dina kembali.


Aku tidak tahu kalau hubungan mereka sudah lebih baik, sepertinya di titik ini aku tahu kalau komunikasi sudah terjalin lebih baik.


"..."


"..."


Tapi, hal tersebut tidak menjelaskan keadaan kak Dina sekarang. Apa dia sedang kesal padaku atau semacamnya? Apa dia punya dendam dan bilang kalau dia tidak ingin mengakuiku lagi sebagai adiknya? Atau ... sesuatu yang sepele seperti hubungan tidak baik dengan Verdian.


Dan bicara tentang laki-laki itu ....


"Dari tadi aku gak lihat Verdian, Kak. Ke mana dia sekarang?"


"... Iya, Ivan. Kamu memang gak lihat."


"Hn? Gimana? Bukannya aku yang tanya sekarang?"


"Kamu gak lihat Verdian. Karena memang dia gak bakal ada lagi di sini. Dia sudah meninggal, kayaknya cuman aku yang gagal di tantangan itu."


"..."


Jariku bergidik, menerima kabar buruk tersebut dengan tatapan kosong karena sebuah rasa marah dan ketakutan. Kembali mengulang detik-detik ketika aku tahu kabar Geza, orang yang aku benci sama sekali tidak kuharapkan untuk mati. Jadi, rasa simpati dan iba masih mengalir ketika kak Dina mengatakan hal tersebut.


"Kakak yakin dia sudah mati—"


"Aku lihat sendiri, Ivan. Kepala Verdian ... putus ditarik sama monster itu."

__ADS_1


 


 


__ADS_2