Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 1 Sampah Organik : Chapter 23 - Aku Kenal Kamu


__ADS_3

Imarine menceritakanku dari awal sampai akhir. Perjalanan pertemanan mereka tentang bagaimana penyebab pertengkaran dan terciptanya lingkaran bullying mereka.


Hal pertama adalah pertemuan. Singkatnya Imarine dan Azarin adalah teman masa kecil, lebih tepatnya mereka sudah berteman sejak sekolah dasar. Nama mereka mirip dan mereka juga memiripkan diri mereka sendiri layaknya kakak adik.


Awal mula pertemuan mereka adalah ketika keluarga Imarine memutuskan tinggal di rumah yang ternyata berdekatan dengan tempat tinggal Azarin. Walaupun tempat sekolah mereka berbeda, tapi frekuensi pertemuan tidak kalah banyak dengan teman sekelas.


Azarin adalah anak periang dan cenderung memiliki sifat memimpin, itulah yang dikatakan Imarine. Waktu kecil, dia selalu membawa Imarine bermain dengannya selayaknya anak bawang. Dari mulai permainan kecil hingga tugas sekolah, Azarin kecil mengajarkan banyak hal pada Imarine kecil.


Perjalanan terus berlalu, umur mereka semakin dewasa dan masuk ke jenjang SMP. Azarin dan Imarine kala itu memutuskan untuk bersekolah di tempat yang sama. Dengan pengajaran yang dilakukan Azarin, Imarine bisa masuk sekolah pilihan mereka bersama.


Kehidupan mereka cukup menyenangkan sebagai sahabat. Tapi, Azarin sedikit khawatir dengan sikap Imarine yang terlalu membuntutinya setiap saat. Dia takut kalau Imarine nanti tidak bisa tumbuh mekar sendiri. Oleh sebab itu, Azarin meminta agar Imarine mengambil ekskul yang berbeda dengannya.


Satu tahun berlalu, Azarin mengambil ekskul karate, sedangkan Imarine mengambil olahraga voli. Mereka berdua cukup menikmatinya. Memiliki hobi berbeda ternyata bisa meraih sesuatu baru dalam pertemanan. Dengan melihat langit yang berbeda, bertemu orang yang berbeda, dan meraih impian yang berbeda, mereka mendapat pengalaman dan sudut pandang yang berbeda. Hal tersebut membuat Azarin dan Imarine bisa memiliki ceritanya masing-masing.


Terdengar kalau mereka memiliki kisah pertemanan yang bahagia. Namun, yang terjadi sebenarnya adalah berkembang pesat di satu sisi.


Imarine yang ditinggal Azarin ternyata tumbuh jauh lebih pesat dari. Mulai dari aspek kepintaran, kekuatan, teknik bersosial, dan bahkan paras fisiknya. Hal itu yang membuat Azarin kehilangan posisinya sebagai kakak pemimpin yang membimbingnya tumbuh. Karakternya semakin hilang karena Imarine yang ternyata lebih baik dari Azarin.


Namun, Imarine tetap menganggap Azarin sebagai temannya yang berharga. Dia tetap menghargainya dan tidak pernah melihat status yang orang lain berikan.


Waktu terus berlalu, sekarang mereka sudah SMA dan kembali memutuskan memilih sekolah yang sama. Kali ini Azarin sudah bisa tertarik dengan lawan jenis, orang itu adalah kakak kelas di ekskul basket. Tapi, sayangnya kakak kelas itu malah tertarik pada Imarine.


Imarine yang mengetahui perasaan Azarin pun mundur menolak perasaan dari kakak kelas itu. Tidak terima ditolak dengan jawaban tak jelas oleh Imarine, si kakak kelas basket itu mencari alasan di balik itu sendiri.


Lalu, bertemulah masalah di sana. Kakak kelas itu sadar kalau Azarin menyukainya, tentu saja dia juga tahu kalau Azarin dan Imarine berteman, pada akhirnya dia melemparkan semua kegagalannya pada Azarin. Akibatnya, Azarin menjadi tokoh jahat dalam waktu yang cukup lama.


Menuju ke waktu sekarang, Azarin dan Imarine naik ke kelas dua. Belum reda dengan kasus perusak cinta orang, kali ini Azarin harus dikagetkan dengan sebuah tragedi besar di keluarganya.


Yah, itu adalah saat-saat di mana ayah Azarin tertangkap berselingkuh dengan ibunya Imarine.


Dari sana mental Azarin mulai terganggu, dia yang terbawa kemarahan dan kebencian akhirnya menyalahkan Imarine atas kehancuran hidupnya. Kekerasan yang diterima dari ibunya dia limpahkan kembali pada Imarine.


Rasanya sedih. Walaupun bukan itu penyebab satu-satunya, tapi fakta kalau seorang anak ikut menanggung beban kekacauan keluarga terasa begitu ironis.


“...”


“...”


Cerita Imarine berakhir. Dia sendiri tidak menceritakan detail tentang kasus perselingkuhan orang tuanya, mungkin masih banyak hal yang tidak ingin dia bicarakan.


“Baiklah ... apa sekarang aku boleh bertanya?” tanyaku pada Imarine yang berhenti bercerita.


“Silahkan.”


“Kenapa kamu diam waktu dipukulin sama Azarin?”


“Kamu sudah tahu jawabannya ‘kan ..., Ivan?”


“Aku ingin dengar dari mulutmu, bisa saja perkiraanku salah.”


“... Kamu sudah tahu, tapi suruh aku ucapin semuanya,” gumamnya yang terdengar samar-samar olehku. “Tentu saja karena Arin itu temanku. Aku masih percaya kalau Arin bakal berhenti nanti. Sadar dan kembali jadi Arin yang aku kenal.”


Yah ... aku senang bisa mendengarnya.

__ADS_1


“Pertemanan kalian memang hebat.”


“Kalau begitu bilang hebatnya ke aku.”


“Kamu hebat, Ima. Kepercayaanmu pada Azarin bikin aku tahu kalau kamu punya hati yang hangat.”


“...”


Tiba-tiba keadaan menjadi sunyi. Imarine tidak menjawab perkataanku dan juga tidak menunjukkan reaksi terhadapnya.


“Ima?” panggilku sambil berbalik melihatnya.


“...”


Hnn?


Tapi, dia juga ikut memalingkan wajahnya menghindari tatapanku. Menghadapi hal tersebut, aku pun berdiri dan berjalan mendekatinya.


“Woi, kamu kenapa— Hngh!?”


Buk.


Tangan Imarine tiba-tiba saja mengayun keras ke bahuku. Untung saja kali ini aku sempat untuk melakukan pertahanan. Dengan membentuk perisai menggunakan dua tangan, pukulan tersebut tidak terasa begitu sakit.


Hah ... hah ....


Aneh, entah di hari itu maupun hari ini. Dia bisa melakukan pukulan tanpa mengeluarkan emosi kemarahan. Layaknya petarung profesional, dia menggerakkan tangan kencang tanpa dilandasi keinginan membunuh.


“Be-berisik, ini juga salah kamu. Su-sudah kubilang aku benci sama laki-laki,” ucapnya terbata-bata yang masih menyembunyikan wajahnya dariku.


Eh ...? Eh?


“Oke, oke ... aku pergi sekarang,” kataku sambil berjalan meninggalkan tempat itu.


“Ah, Kaivan ... tunggu,” panggilnya menghentikan langkahku.


Menjawab tindakan Imarine, aku pun berhenti dan berbalik kembali. “Ada apa? Kamu ingin memukulku lagi?”


“Bukan ... iya, sebenarnya aku juga mau. Tapi, bukan itu.”


“...”


Alisku sedikit bergidik mendengar ucapan barusan, tapi kemudian kuabaikan.


“Kamu masih punya satu hutang padaku,” kata Imarine yang sekarang bisa menatap mataku.


“Hutang?”


“Iya ... aku sampai sekarang belum dengar ceritamu. Karena aku sudah cerita semuanya, sekarang kamu juga harus ceritain kisah kamu ... semuanya.”


Timbul rasa campur aduk di pikiranku. Berbeda dengan cerita miliknya, kisah hidupku sedikit tidak masuk akal bagi orang biasa. Lagi pula, ada hak Amalia juga di dalamnya, aku tidak bisa sembarang membeberkan semuanya.


“Apa dari awal kamu datang dan ceritain kisah kamu itu buat jebak aku kayak gini?”

__ADS_1


“Setengahnya benar ... gak adil ‘kan kalau cuman aku yang kebongkar rahasianya. Aku masih gak tahu apa-apa tentang kamu.”


“Hah ....” Aku menarik napas mengumpulkan energi. “Kenapa kamu mau tahu cerita hidupku? Memangnya kamu kira ceritanya bakal seru?”


“Setidaknya aku tahu kalau ada sesuatu yang terjadi dan bikin kamu berubah.”


“Aku gak pernah berubah.”


“Kamu berubah. Kamu beda jauh sama kamu yang waktu kelas satu.”


Kelas satu?


“Memangnya kita pernah sekelas.”


Aku memang tidak mengingat seluruh anggota kelasku dengan baik. Tapi, aku yakin wajah Imarine tidak muncul di ingatan kelas satuku.


“Ahaha ... aku lewatin kisah itu, yah?” ucapnya sambil tertawa riang. “Aku sama Arin itu tahun kemarin sekelas, dan aku sama dia itu ada di kelas B. Kamu yang di kelas A sering banget aku lihat diam sendirian di teras lorong kelas.”


Oh ... jadi begitu.


Itu sebabnya kenapa Azarin dan Imarin tahu namaku. Memang benar aku ada di kelas A, dan tidak berubah ketika aku naik kelas. Mereka yang dulunya ada di kelas sebelah cukup mudah mengetahuinya, penasaran dengan orang menyedihkan yang selalu menyendiri.


Waktu itu aku sadar kalau beberapa kali diriku menjadi pusat perhatian, tapi tentu saja aku abaikan. Orang-orang seperti itu juga lama-kelamaan akan membubarkan dirinya sendiri.


“Terus, kalau kamu sudah kenal aku, bukannya gak guna kalau aku cerita kisah hidupku? Ceritanya mungkin sama membosankannya kayak mukaku waktu itu.”


“Aku kenal kamu ... waktu itu aku pernah disuruh Arin buat coba sapa kamu, buat latihan jadi orang sosialis. Tapi, aku gak mau karena kelihatannya kamu itu galak.”


“Heh, itu fitnah kejam. Padahal sampai sekarang aku belum pernah memukul orang.”


Dilihat dari mana pun, orang yang lebih menakutkan adalah kalian berdua. Sangat sedikit perempuan yang mampu memukul laki-laki sampai seperti ini.


“Kenapa kamu bahas itu terus? Apa kamu takut banget aku pukul?”


“Enggak juga ... pukulanmu gak terlalu sakit sebenarnya.”


Rasa sakitnya tidak sebanding dengan siksaan akibat kekuatan deteksi gelombang emosi yang kumiliki. Tapi, jika aku pilih antara takut dan tidak. Aku bisa bilang kalau aku sedikit takut. Pukulannya yang tidak terlalu sakit malah menimbulkan sensasi baru.


Aku takut kalau akan muncul rasa ketagihan.


“Hmn ...,” dengung Imarine yang seakan memutus topik barusan. “Jadi, mau sampai klapan kamu muter-muter ... kamu masih gak mau cerita perjalanan hidup kamu? Perubahan apa yang bikin orang kayak kamu repot-repot bantu masalah aku sama Arin?”


Aku menghela nafas ... berbalik ke arah Imarine dan menatap matanya dalam-dalam.


“Ima, apa kamu percaya semua yang aku ceritain nanti?”


“Un,” angguknya sekali sambil tersenyum. “Kadang kamu suka bawa obrolan jadi candaan, tapi aku tahu kalau kamu gak akan bohong.”


Baiklah ....


 


 

__ADS_1


__ADS_2