Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 10 - Bukan Tandingan


__ADS_3

Aku yang mulai sadar akan situasi punya gambaran kalau ini akan jadi hal yang merepotkan. Bukan cuman dari gelombang emosinya saja, tapi dari tingkah sang lelaki yang mengabaikan orang-orang di sekitar.


Mungkin jumlahnya tidak banyak seperti yang kujelaskan. Dari yang terlihat, beberapa orang lebih memilih untuk pergi tidak ingin terlibat dengan pertengkaran ini. Tapi, dalam jumlah tertentu, masih ada yang berkumpul menjadikan ini sebagai tontonan.


“... Aku ‘kan cuman kerja kelompok, Ver. Ini juga aku gak berdua, aku sudah bareng sama teman cewek yang lain,” ucap kak Dina di sana melakukan pembelaan menenangkan situasi.


“... Apanya yang gak berduaan, dari tadi aku lihat kamu duduk deketan? Memang kamu pikir aku gak tahu!?”


“... Aku gak duduk deketan, cuman ngomong saja karena memang lagi kerja kelompok.”


“... Iya kamu harusnya ngerti, donk. Aku ‘kan di sini pacar kamu.”


“... Aku gak mungkin jauhin semua teman cowok, Ver. Aku gak bisa ngerjain tugas kalau gitu.”


“... Pokoknya aku gak suka kamu kayak gitu.”


Eh ... sungguh bodoh, kebodohan dari drama. Aku tidak tahu kalau ternyata masih ada orang yang lebih bodoh walau dia hidup lebih lama dariku.


Laki-laki itu marah pada kak Dina dengan alasan tidak jelas dan seakan membutakan lingkungan. Kemarahannya seakan melambang rasa egois dan serakah di mana dia ingin mengeksploitasi kakakku sendiri.


“... Woi, woi, woi. Bentar, bentar. Kamu ... Verdian, ‘kan? Santai saja dulu, gak usah marah-marah.”


Tiba-tiba dari belakang ada satu laki-laki lain yang ikut masuk ke dalam obrolan. Berbeda dengan laki-laki pacarnya kak Dina. Dia sepertinya punya perangai lebih dewasa dan santai. Penampilan dan tampangnya juga terlihat lebih dewasa. Aku lebih bisa merasakan dia sebagai orang yang bijak dibandingkan dengan lelaki yang sedang marah itu. Aku bersyukur kalau masih ada orang yang terlihat berakal sehat sekarang.


“... Siapa kamu, Ha!? Aku pacarnya di sini!”


“... Rio, teman sekelasnya,” jawab lelaki tersebut dengan tenang di keadaan genting ketika si pacar kak Dina membentaknya. “Aku tahu kalian pacaran, aku gak ngapa-apain, kok. Jadi, santai saja, gak usah dibawa serius—“


“... Diam, kamu! Aku gak tanya kamu. Jauh-jauh kamu, Ha!”


“... Tunggu, Ver. Kamu apaan, sih. Dia lagi ngomong baik-baik,” balas kak Dina sambil memegang sebelah tangannya menghentikan bahasa tubuh yang kasar dari lelaki pacarnya itu.


“... Kamu, kamu kenapa belain dia? Kamu suka sama dia!?”


“... Bukan gitu, Ver. Tapi, dia memang gak salah apa-apa. Kita memang cuman kerja kelompok saja. Jadi, sudah, iya. Sudahan, aku juga bakal pulang sekarang.”


Posisi di sana cukup menegangkan. Dua laki-laki saling menatap dengan mengancam. Atau ... lebih tepatnya lelaki bernama Verdian itu yang lebih mengancam lelaki satu lagi bernama Rio. Verdian di sana bersikap seolah penuh kuasa, dia dengan keangkuhannya ingin memamerkan kekuatan dan satu tapak di kak Dina pada semua orang. Seakan bilang kalau kak Dina milik dia seorang dan akan mengancam semua yang mencoba mendekatinya.


Tapi, di sana Rio terlihat tenang. Dia tahu kalau dia ada di posisi yang tidak perlu panik. Dari gelombang emosinya dia mungkin sedang berpikir kalau tidak mundur akan menambah poin positif. Aku tidak merasakan dia sedang menolong kak Dina, aku lebih merasakan dia sedang menunjukkan kegagahannya kalau dia tidak takut dengan Verdian.


Pertengkaran ini sudah seperti drama sungguhan. Seperti kucing yang saling menatap ancam dan mulai mendekat. Mereka juga seperti sudah siap dengan ancaman terburuk.


Kak Dina sekali lagi sadar, dia berusaha menarik Verdian untuk tidak berkelahi. Satu atau dua tarikan membuat tangannya tergoyah, tapi tidak ada guncangan hebat yang benar-benar bisa menghentikan pergerakan Verdian. Aku tidak mengira kalau Verdian orang yang sangat kuat dari fisiknya, aku hanya berdalih kalau kak Dina saja yang tidak sebanding dengan kekuatan pria pada umumnya.


“... Verdian, please ... sudah, gak usah marah-marah di sini.”


“... Tch, berisik kamu!”


*Whoush ....


*Dug, dug ....


“Hh!?”


Situasi mulai bergerak cepat, satu kejadian membuatku terpacu.

__ADS_1


“... Nhf!? Ahn!”


Laki-laki bernama Verdian itu mengempaskan tangannya yang sejak dari tadi ditarik kak Dina. Tenaganya cukup kuat sampai membuat wanita itu terhempas gaya tolaknya. Tentu karena refleks dia sedikit berteriak kecil yang entah karena kaget atau sakit.


Itu tindakan kasar, melihat seorang lelaki melakukan itu membuatku ingin memukulnya. Namun, bukan itu yang benar-benar membuatku kesal.


Pasalnya, di detik-detik Verdian selesai mengempaskan tangannya, dia masih melanjutkan gerakan. Tangannya yang sudah bebas segera ditarik kembali mengambil ancang-ancang. Dari sudut tersebut, dia mengambil jarak yang cukup untuk membuat sebuah pukulan, pukulan keras ke arah wajah kak Dina.


Oleh sebab itu ....


*Punch


Buk!!


“...”


“...”


Kekuatannya keras, bunyinya bahkan bisa didengar sampai radius beberapa meter. Getar dan tumbukan tulang di sana membuat ngilu, siapa pun yang mendengar akan tahu kalau tinju melesat dengan kekuatan penuh.


“Heh,” endusku sekali napas meremehkan. “Berani sekali kamu arahin pukulan ke cewek pakai tenaga kayak gini.”


Orang yang mengatakan itu bukan satu dari orang yang sedang bertengkar, bukan kakakku, bukan Verdian, maupun bukan lelaki bernama Rio. Tapi, itu adalah aku, orang yang semula hanya melihat dari bayang abai oleh kekuatan Hanz.


Setelah aku merasakan sebuah gelombang emosi kemarahan, aku masih menahannya. Aku masih berusaha mencari hal positif dari pertengkaran yang mungkin ini adalah sebuah pertengkaran sehat. Tapi, semua itu rontok sekarang, perasaan tersebut hilang ketika rasa pedas yang pekat muncul hingga memicu jantungku.


Ketika satu ayunan tangan ke atas dia angkat, aku langsung menerjang dengan sekuat tenaga menghalangi tubuh kak Dina di sana. Gerakanku begitu cepat, efek gelombang emosi kemarahan membuat instingku menajam, itu membuatku punya ketangkasan yang cukup untuk bisa datang tepat waktu.


“Ha? Siapa lagi kamu? Apa itu? Baju seragam?”


Tentu saja sekarang aku terlihat, aku yang terlepas dari genggaman Hanz mulai keluar dari syarat kekuatannya. Sosokku yang tiba-tiba muncul dan dengan penampilan yang berbeda tentu membuat orang yang melihat bingung.


Mungkin aku sedikit berlebihan, karena pada aslinya aku tidak benar-benar cacat. Tapi, aku masih dalam keadaan di mana bisa masuk dalam kategori seorang yang mendapat prioritas disabilitas. Tanganku masih tergantung sebelah, diperban mencolok bersama gips hingga semua orang akan tahu kalau aku memang orang sakit. Jadi, tentu pukulan di wajah yang membuat memar termasuk dalam tindakan yang berlebihan untukku sekarang.


“Kamu sendiri yang datang, kalau gak halangin juga harusnya kamu selamat,” jawab lelaki itu.


“Hoo ... jadi itu jawabanmu sekarang? Jadi waktu aku halang kayak gini, kamu juga gak menyesal punya niat buat mukul cewek barusan.”


*Whoush ....


*Dug, dug ... dug, dug ....


“HaAa!?”


*Grip


Lelaki bernama Verdian itu mulai menarik kerah bajuku. Gelombang emosinya sudah jatuh pada satu titik di mana tidak bisa dipadamkan. Aku mengerti aku sendiri yang memberikannya minyak, tapi itu juga terpengaruh oleh sikap awalnya yang membuatku kesal.


“Dengar, iya. Dina itu pacarku,” ucap Verdian sambil mendekatkan wajahnya mengancam, tangannya terus mengeras di genggaman kerah bajuku.


Mata dan akal sehatnya benar-benar buta, dia sudah tidak memandang perbedaan siapa di depannya, hanya fokus pada apa yang diinginkan. Tidak peduli aku berpenampilan seperti orang sakit, dia tetap tidak menurunkan kepal tangannya. Tapi ....


“Terus? Apa? Cuman pacar?”


Aku menjawabnya dengan kalimat memancing sekali lagi, nada ejek dan ekspresi menghina juga kuutarakan di sana.

__ADS_1


*Whoush!


Verdian menarik lagi tangannya, ancang-ancang dari pukulan kedua mulai dia lakukan. Kepalan tangan itu keras, urat di tangannya keluar karena tegangan tinggi dari darahnya. Tapi, di saat aku bisa menggunakan instingku, menghadapi orang dengan gelombang emosi kemarahan akan memberi keuntungan.


“Heh,” endusku meremehkan.


*Kick


Dukg.


“Ghkth!?”


Sebelum ayunan itu dilancarkan, aku lebih dulu menendang tulang kering miliknya. Tendanganku kala itu cukup keras hingga mengukir rasa sakit di tubuhnya. Tinju yang diayunkannya gagal, ayunannya kacau dan pada akhirnya sangat mudah untuk dihindari.


Dia mungkin punya fisik yang lebih kuat dariku jika dalam segi manusia. Tapi, secara utuh dia tetap manusia, aku punya kekuatan bertahan diri dari hal seperti ini. Walaupun dengan keadaan terluka diikat tangan sebelah, menghadapinya setelah pengalaman melawan Geza itu menjadi sangat mudah.


Verdian mundur satu langkah, dia memegang kakinya yang kutendang barusan dan menerima rasa sakitnya.


Jujur, dengan kekuatan pencicip emosi ini, aku juga bisa merasakan rasa sakit yang dia derita ketika menendang tulang keringnya. Tapi, semua itu aku abaikan ditahan.


Lelaki itu ada di posisi setengah berdiri, memegang bagian kaki sambil memandangku dengan tatapan kebencian. Aku di sana menerimanya dengan senang hati, tidak ada rasa penyesalan baik ketakutan ketika menghadapi orang yang lebih tua seperti ini. Hatiku sudah tertutup untuk rasa belas kasih ketika dia mengangkat tangannya berniat memukul kak Dina.


“Tch, hahkh!!”


*Punch


Verdian masih mencoba memukulku, dia sekarang masih tidak sadar kalau dirinya dalam posisi memilukan ingin menghajar anak SMA yang sedang terluka.


“Heh.”


Tapi, aku tidak bisa dikalahkan semudah itu.


Pukulannya masih kacau, rasa sakit di kakinya bersisa cukup dalam. Ketika dia berdiri dan berusaha melancarkan pukulan, kuda-kudanya sedikit bergeser hingga tidak kokoh dan pada akhirnya bergetar. Aku bisa melihat itu, bisa merasakan itu, dan tentu bisa memanfaatkannya.


Dengan momentum yang pas, aku memutar tubuhku, sedikit meliuk tubuh membuat tinju tersebut meleset. Lalu, sesuai harapan, tinju dia meleset lewat di depan tubuh yang sudah kumiringkan. Aku di sana seperti melawan anak kecil, lesatan tubuhnya yang meleset itu aku balas dengan pukulan.


*Punch


Buk.


Dengan tangan kiri dan pukulan yang tidak terlalu kuat, aku sudah cukup membuat wajahnya terluka. Padahal tinjuku tidak keluar begitu keras, tetapi lelaki itu sudah terpental karena tenagaku itu.


Namun, dia belum terjatuh, dan aku juga tidak menyudahi serangan tersebut. Ketika dia masih dalam kondisi tergoyang tidak stabil, aku pun menendang tubuhnya agar berguling di tanah layaknya binatang yang telah terkapar.


Buk.


Suara keras kembali terdengar.


Kali ini serangan tendangan cukup keras, mengarah ke rusuk kanannya hingga dia merintih kesakitan. Aku tidak mendengar dia berteriak, ketika hantaman kaki mendarat di rusuk, dia juga sedikit kesulitan mengatur napas hingga hanya terdengar napas kacau menggambarkan rasa sakit.


“Akgth ... hah ... hah ....”


Lelaki itu sekarang tidak berdaya, aku bisa merasakan gelombang emosinya yang sedang dipenuhi oleh rasa sakit. Tangannya yang lemas hanya bisa memegang rusuknya yang telah kutendang barusan. Akibat paru-parunya terguncang, atur napas dan aliran darah membuat dia bersandar di tanah tidak bangkit lagi.


“Heh,” kembali endusku meremehkan melihat kondisinya kala itu.

__ADS_1


 


 


__ADS_2