Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 1 Sampah Organik : Chapter 26 - Stop


__ADS_3

Aku dan Amalia akhirnya pulang ke rumah. Emosi gadis itu sedang dilanda kekacauan karena rusaknya buku catatan yang dipakai untuk memukulku. Pada tingkat ini, entah kenapa aku merasa bersalah dan ingin mengganti rugi. Tapi, Amalia menolaknya.


Sebelum pulang, Amalia memberiku satu pesan yang selama ini tidak kuperkirakan. Dia menahanku tepat sebelum aku pergi untuk menyatakannya.


Terima kasih.


Aku tidak percaya melihat apa yang dia tunjukkan. Bisa saja dia lupa atau mungkin salah menunjukkan halaman catatan padaku.


“Untuk apa? Apa ini tentang kasus Imarine dan Azarin?”


Itu juga aku terima kasih. Tapi, bukan itu yang aku maksud.


“Kalau gitu apa?”


Kalau gak ada kamu, waktu itu mungkin aku bakal lukain Azarin.


“...”


Oh ... jadi dia ingat secara penuh tentang apa yang terjadi di bawah tol itu, yah? Walaupun kekuatannya aktif dan membuat kesadarannya hilang, tapi Amalia masih bisa mengingat kejadian seluruh kejadian tersebut.


Kami pun berpisah di gerbang utama, Amalia memiliki jalan yang berbeda dari rumahku. Tidak ada alasan untuk kami mengambil jalan yang sama.


“...”


Karena ... aku juga punya urusan lain.


Mengambil jalan berbelok, langkahku tidak mengarah ke rumah Amalia maupun rumahku, melainkan mengarah ke rumah Pero. Toko barang antik dengan penjaga siluman gagak. Ada satu hal yang ingin kutanyakan tanpa kehadiran Amalia.


Ini adalah pertama kalinya aku mengunjungi tempat itu sendiri. Bukan karena larangan atau apapun, tapi aku sendiri yang sebelumnya selalu melapor Amalia setiap ingin ke tempat itu. Toko antik Pero sendiri sebenarnya terbuka untuk umum. Aku juga masih sedikit bertanya di dalam hati, tentang bagaimana toko barang antik itu berjalan, dan atau bagaimana kehidupan Pero berjalan.


Apa dia pernah kedatangan pelanggan? Apa dia menunjukkan wujud manusianya pada orang lain ketika pelanggan datang? Lagi pula, apa Pero tinggal sendiri? Kenapa mantan burung gagak bisa memiliki tempat tinggal manusia? Apa dia masih memakan biji-bijian sebagai burung gagak, atau sudah bisa memakan daging ayam sebagai manusia? Semua itu masih misteri.


Ngomong-ngomong ... kalau benar Pero mulai memakan daging ayam, apa itu berarti dia termasuk kanibal? Bukankah ayam termasuk unggas bersayap?


Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menghiasi perjalananku kali ini. Sekelibat pikiran tersebut membuat waktu lima belas menit jadi tak terasa. Tanpa sadar kalau ternyata aku sudah sampai di depan rumah Pero.


“...”


Lingkungan di sini tergolong sepi, akses jalannya juga tidak strategis untuk berjualan. Jika pun ada orang yang membuka toko di sini, itu berarti dia tidak mengerti bisnis atau berjualan hanya sekedar passion.


Aku berjalan masuk ke tempat itu. Melihat tanda ‘open’ tertempel di dinding, tanpa ragu aku melangkah dan terus melaju ke dalam rumah.


Sampai di sini aku masih selamat. Tidak ada hal magis atau kesialan yang menimpaku karena menerobos tempat ini sendirian. Mengingat kalau yang kutemui itu siluman, beberapa kemungkinan seperti itu juga lewat di pikiranku.

__ADS_1


“Pero,” panggilku yang sudah ada di tengah rumah. “Kamu ada di sini ‘kan? Kalau kamu gak keluar, aku bakal masuk ke pintu itu,” ucapku sedikit mengancam.


Pintu yang kumaksudkan adalah pintu yang mengarah ke ruang di mana Pero muncul. Selama ini aku tidak pernah masuk karena Amalia yang selalu menjemput gadis gagak itu dari sana.


*Plok, plok, plok ....


Suara kepakan sayap muncul. Burung gagak tersebut muncul dari ventilasi udara di atas pintu yang kusebut barusan. Dari atas sana, Pero dengan cepat terbang dan hinggap di kursi kantor temat biasa dia duduk.


*Posh.


Asap keluar.


“Jadi ..., ada apa kamu—”


“Tunggu, tunggu, tunggu, STOP ...!” kataku sedikit terbata-bata menghentikan gerakan Pero dan semakin meninggi.


“Hn? Ada apa?”


“Kamu yang ada apa!? Kamu sekarang lagi gak pakai baju. Jangan berbalik dan menunjukkan tubuhmu padaku.”


“Kamu tidak perlu terperanjat. Bukankah ini sama saja dengan milik ibumu.”


“Maaf ... aku orang yang bahkan tidak ingat dan tidak ingin melihat demi ingat bagaimana bentuk tubuh ibuku.”


Ah, benar ada.


Lalu, dengan cepat kuambil dan kututupi bagian tubuh Pero. Melakukan gerakan memutar layaknya tukang potong rambut, aku pun berhasil membuat tubuh wanita itu terlapis kain.


“Aku masih tidak mengerti ..., kenapa manusia selalu menggunakan pakaian? Bukankah itu merepotkan?” tanya Pero.


“Jika kamu ingin jadi manusia, kamu sangat diharuskan membiasakan diri,” ucapku yang sedang mengikat kain itu di lehernya.


“Baiklah ... aku juga sedikitnya mengerti. Manusia tidak punya bulu untuk menangkal suhu, oleh sebab itu mereka membuat pakaian.”


“Yah, itu ada benarnya juga, walaupun alasan utamanya bukan seperti itu.”


“Alasan utamanya karena kalian tidak ingin melihat tubuh telanjang orang lain ..., ‘kan?”


“... Benar, begitulah kira-kira.”


“Hmn ... makhluk yang benar-benar aneh.”


“Aku juga berpikir demikian.”

__ADS_1


“Tapi, karena itu juga aku mau jadi seperti kalian. Hehe ....”


“...”


Aku sudah selesai, kali ini Pero sudah dalam keadaan yang aman untukku melihat ke arahnya. Dengan begitu, aku kembali mundur agar bisa berbicara dengannya seperti biasa saling berhadapan.


“Ekhem ...,” batuknya yang mengatur suara. “Jadi, ada apa kamu ke sini ..., Ivan?” ucapnya sambil memutar kursi menghadap ke arahku, mengulang tindakan yang sebelumnya aku potong.


“...”


Apa ini. Walaupun aku telah menutupi tubuh Pero, tapi otakku merespons dan membayangkan kembali tubuh telanjangnya. Bentuk dada dengan lingkar sekitar delapan puluh, ** yang tertutup rambut hitam lebat, dan kulit mulus berwarna krem yang memantulkan sedikit cahaya.


Yah ... aku yang bisa mendeskripsikannya berarti sudah melihat. Secara tidak sengaja penampakan itu muncul dan terngiang-ngiang sekarang.


Aku menggeleng. Menggerakkan kepala agar kepala dan otakku bersih dari hal tersebut.


“Huft ... Hah ...,” napas panjang untuk menenangkan diri. “Oke, ada beberapa pertanyaan yang ingin kuberikan. Apa kamu akan menjawab?”


“Tentu saja aku jawab. Kamu sudah membantu Amalia, kalau hanya pertanyaan, berapapun akan kujawab,” ucap Pero terbuka terhadapku.


“Kalau begitu ...,” kataku yang mengangkat tangan dan mengacungkan jari. “Apa kamu selalu jaga Amalia dari kejauhan?”


Pero awalnya termenung mendengar kalimat itu, tapi dengan cepat dia membaca situasi dan menanggapinya dengan santai.


“Memangnya kalau benar kenapa? Amalia sudah seperti keluargaku sendiri sekarang. Apa kamu sadar tentang ini waktu aku menggiringmu ke tempat bawah tol—”


“Tidak, aku sudah sadar sebelum hari itu.”


“... Oh,” jedanya karena memproses perkataanku. “Lalu dari bagaimana kamu sadar?”


“Tentu saja itu semua karena kekuatanku. Deteksi emosi ini hanya berlaku pada manusia, tapi beberapa kali aku merasakan sensasi gelombang emosi bergerak dari langit.”


Mungkin karena Pero masih setengah manusia, gelombang emosi yang kurasakan padanya sedikit berbeda. Ini seperti emosinya sangat stabil di satu arah hingga sulit untukku untuk sadar akan keberadaannya. Tapi, itu semua berbeda jika Pero melakukan gerakan tiba-tiba, sensasi yang awalnya kuanggap biasa menjadi tiba-tiba hilang atau sebaliknya.


“Baiklah, aku mengakuinya. Aku di sana, melihat kalian dalam bentuk burung dari kejauhan agar memastikan Amalia aman. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah, memangnya apa yang kamu harapkan dari fakta itu sekarang?”


 


 


Kebenaran ... satu hal yang aku masih tidak tahu adalah hal-hal yang bisa Pero lakukan. Dia mungkin hanya seekor burung gagak, tapi tidak membantah fakta kalau dia makhluk mistis yang bisa menjelma ke bentuk manusia. Itu hanya salah satu sihirnya, dari sini aku tidak tahu sihir apa lagi yang bisa dia lakukan.


 

__ADS_1


 


__ADS_2