
Pada saat film berakhir dan orang-orang dalam perjalanan keluar, aku sudah lupa dengan keberadaan Septian dan Fany seutuhnya.
"..."
Tapi, sepertinya Septian tidak demikian.
Aku yang sedang duduk di bangku lebih belakang dan posisi lebih atas masih tidak bergerak. Di saat itulah aku juga merasakan gelombang emosi dari Septian. Sebuah kekhawatiran yang sebenarnya cara dia menatapku lebih menyakitkan dari gelombang emosinya.
Namun, situasi ternyata telah berjalan jauh dari apa yang kutahu. Amalia saat itu sudah ketahuan. Dia tidak bisa mempertahankan kekuatan sambil menikmati film di depannya. Lagi pula, emosi yang dipakainya ternyata memang terbatas, cepat atau lambat dia akan terlihat oleh pasangan itu.
Aku, Amalia, Septian, dan Fany, kami berempat pun keluar dari bioskop bersama dan berkumpul.
Mereka sendiri berbicara padaku kalau apa yang kulakukan hari tidak benar-benar membuat mereka marah. Kencan sebenarnya masih bisa dilakukan dengan pasangan ganda atau di grup yang telah disiapkan sebelumnya. Setelah apa yang mereka bebankan padaku dan Amalia, hal tentang ini dapat mereka tolerir.
Kepalaku tidak terlalu fokus dengan penjelasannya, di dalam pikiran masih tersangkut sebuah kejadian dari gelombang emosi asam yang kurasakan dari pasangan Kak Dina.
Tapi, menanggapi profesional dalam kejadian yang sudah kutetapkan. Pada akhirnya aku menyelesaikan semuanya dan meminta maaf secara resmi.
Kesimpulannya selama ini, gelombang emosi mereka tidak berubah secara tiba-tiba, tidak seperti yang kupikirkan di mana aku mungkin dalang dari keanehan tersebut. Mereka murni jatuh cinta, setidaknya aku tidak bisa menemukan pembantah teori tersebut sekarang.
Aku dan Amalia pun pamit dari mereka, dengan ini juga aku menyuruh Amalia undur diri membuntuti mereka berdua.
Tentu kami tidak melupakan Imarine, setelahnya dia juga menghubungiku untuk kepastian. Jujur saja aku sedikit bersalah meninggalkannya sendiri hari ini.
Pembicaraan kami dimulai sesaat, sebelum perkumpulan kami bertiga benar-benar dibubarkan, aku ingin tahu penyebab Amalia kehilangan kendali kekuatannya secara pasti.
Amalia sendiri menjelaskan sesuai dengan dugaanku. Kemampuannya tentang mengubah emosi menjadi kekuatan baru akan sejalan dengan emosi yang dialaminya sekarang. Jika dia tidak cukup merasakan malu, maka kekuatan itu perlahan akan melemah dan lenyap. Lalu, hal itu juga mendapat katalisasi. Emosi rasa ketegangan, adrenalin, dan perasaan bahagia ketika menonton film meluap keluar hingga emosi rasa malu yang sedang ia gunakan pun tenggelam.
Amalia menjelaskannya sedikit gugup. Dengan tingkahnya yang sedikit kekanak-kanakan ditambah kemampuan pencicip emosi, tentu aku bisa menyadarinya.
Ketika aku bertanya tentang alasannya, dia malah dengan polos menunjukkan catatannya.
Kamu gak akan pegang dadaku, 'kan?
Dengan kalimat itu, otakku seakan terperanjat, paham dan mengerti maksud dari semua sikapnya.
"Heh, ternyata kamu dengar obrolanku waktu itu," ucapku santai sesambil menggunakan nada mengelak. "Kenapa kamu baru bahas sekarang? Kenapa gak semprot aku aja langsung di telepon lewat pesan?"
"Uaaa ... menjijikkan," ejek Imarine di samping yang tentu saja mendengarkan. "Ternyata si keren dan baik Kaivan itu aslinya menjijikkan."
Ck ... entah kenapa aku sudah mulai terbiasa dengan ejekan itu. Hal yang sebenarnya tidak ingin aku terbiasa di dalamnya. Lagi pula mengingatkannya terus juga merepotkan, lama kelamaan dia juga akan bosan.
"Memangnya salahku di mana?" tanyaku pada Imarine.
__ADS_1
"Niat ***** cewek saja sudah salah, Van. Kenapa masih tanya."
"Aku sudah bilang kalau itu bercanda, dan lagi dari arah obrolannya, kamu bilang jijik itu ke omonganku barusan, bukan yang meremas dada waktu di telepon."
"Dua-duanya tetap menjijikkan, Van. Apalagi aku gak suka cara kamu yang seolah kalau kamu itu gak salah. Katanya kamu benci kebohongan? Tapi, kenapa kamu juga masih suka berbohong demi candaan bodoh."
"Itu bukan sepenuhnya candaan, itu memang cara darurat yang mungkin bisa aku pakai. Cuman kali ini situasinya gak sedarurat itu makanya aku sebut bercanda."
"Itu gak bikin lebih baik!? Apa kamu mau kalau meraba k*ntol atau p*nismu jadi bahan waktu keadaan darurat?"
"Woi! Tunggu, Ima. Mulut cewek remaja gak boleh kotor."
"Terserah ...! Aku gak mau dengar ceramah itu dari orang yang dengan santainya bilang meremas dada dan ***** depan cewek."
"Huh!? Iya— Aku mungkin pernah bilang meremas dada, tapi kapan aku bilang *****!?"
"Waktu kita berdua lagi ngomongin kucing."
"Iya kalau itu jangan disamakan sama meremas dada—"
*Whoush ....
Gelombang emosi.
Buk.
"Hh!? Hh!? Hh!?" napas engah-engah Amalia di samping yang sepertinya masih kacau ketika ingin memukulku.
Dari timingnya, Amalia berusaha menghentikan perdebatanku dengan Imarine. Dia berjinjit-jinjit kecil sambil mengayun ringan catatan seakan mengibarkan bendera genjatan senjata.
"..."
Tapi, perbedaannya dia kala itu, catatan ringan di tangannya telah diisi. Dia mendesak kami karena percakapan terus berjalan dua arah tanpa mempedulikan komunikasi kecil di catatan bisunya.
Oke Maaf, semuanya salahku. Makanya, berhenti bilang meremas dada sekarang!!
Tulisnya yang sepertinya dia sedikit marah.
Baiklah, tadi mungkin memang berlebihan. Walaupun kami tidak benar-benar bertengkar menggunakan urat, tapi obrolan itu hampir mengarah ke emosi negatif lain.
"..."
Namun, biarpun begitu ..., kenapa cuman aku yang dia pukul? Bukankah Ima juga punya beban kesalahan di sini— Oke, baiklah, aku tidak akan membahasnya. Ternyata aku juga masih bocah untuk tidak bisa mengendalikan emosi secara penuh.
__ADS_1
Keadaan dengan itu mendingin. Aku masih tidak cukup egois untuk labur dari keadaan dan melewatkan kesempatan berbaikan. Akan konyol jika kami bertengkar karena penggunaan kata alat vital yang berlebihan.
Di saat kami benar-benar ingin bersiap pulang, Imarine malah bertanya, "Ivan, Amalia ke mana? Kamu lihat dia?"
"Hmn?"
Gadis itu bertanya dengan wajah bingung dengan gelombang emosi sedikit asam. Perasaan di mana dia memang cukup khawatir.
"..."
Tapi, sebenarnya Amalia tepat berada di sampingnya. Fenomena ini terjadi sama seperti ketika dia menggunakan kekuatannya.
Heh, ternyata aku tidak perlu benar-benar melakukannya. Dengan ucapan alat vital saja sudah cukup untuk memancing emosi rasa malu Amalia kembali keluar. Lagi pula, Amalia sedikit berbeda dari Imarine yang tomboi.
Tapi, baiklah, sebisa mungkin aku tidak ingin menggunakan kekuatan itu lagi. Setelah mengalami ini, ternyata persyaratannya lebih merepotkan dari yang aku duga.
****
Matahari mulai tergelincir ke ufuk barat, dengan warna langit yang menguning, ini sudah menunjukkan kalau waktu telah menyentuh sore hari.
Kak Dina adalah mahasiswa. Berbeda denganku yang masih punya waktu belajar konstan, dirinya kerap kali menghilang walaupun di hari libur karena kesibukannya. Keberadaanku waktu pulang di hari libur tidak disambut orang itu membuat perasaan sepi tersendiri.
“...”
Tidak, tentu saja kali ini berbeda. Jika aku memang terbiasa dengan kehidupan sendiri di rumah menyendiri, perasaan ini tidak akan lewat hari ini secara kebetulan. Dari semua hal, tentu saja yang berbeda adalah pertemuanku dengan kekasih kak Dina.
Huft ... hah ....
Semua akan berakhir dengan kesendirian, cepat atau lambat. Jika aku tidak berpisah hari ini, suatu hari juga akan terjadi. Entah dia bekerja merantau, entah dia memiliki pendamping hidup dan ikut bersamanya, atau mungkin yang paling parah adalah kematian.
Dari semua orang yang hadir dunia ini, kak Dina adalah sosok yang paling lama menemaniku. Bahkan jika dibandingkan dengan orang tua yang tengah sibuk bekerja sekarang, kakakku tentu jauh lebih dekat.
Sejak kecil, kami selalu berdua. Aku masih ingat kisah kecil dulu, di mana aku masih pemula dalam mengurusi rumah. Aku ingat, baju yang pertama kali kami bersihkan menggunakan mesin cuci ternyata tidak bersih dibilas hingga terkesan gatal saat digunakan. Waktu itu aku tidak menyadarinya, tapi kak Dina tentu mengetahuinya. Dia beberapa kali memberiku nasehat dan petunjuk bagaimana cara melakukannya yang benar. Tapi, dengan kegagalan itu, dia tetap mengutarakan pujian atas inisiatifku saat itu.
Aku masih ingat kisah kecil dulu, di mana aku ditinggal sendiri oleh mereka bertiga hampir semalaman hingga tidak ada yang memberiku makan. Oleh sebab itu, hari tersebut adalah pertama kalinya aku menggunakan dapur. Sebelumnya aku selalu melihat dan membantu kak Dina sebagai asisten, jadi untuk naik menjadi pemeran utama di dapur tidak terlalu membingungkan. Tapi, keterampilanku tentu masih jauh dari kata baik. Gerakan tangan yang sia-sia, kegugupan, hingga keterampilan mengatur ruang, sebuah skill kecil yang hanya bisa dilatih dengan praktik tentu tidak bisa dikuasai. Walaupun aku bisa makan dengan masakan seadanya, tapi keadaan dapur kala itu sangat kacau, maka kembali lagi aku dimarahi oleh kak Dina.
Jika aku terus mengingat masa-masa tersebut, kebaikan-kebaikan kak Dina tidak habis untuk aku sadari. Bagiku, dia adalah kakak yang sekaligus seorang ibu di waktu yang sama, ibu yang asli di rumah ini sangat sedikit sekali bicara, itu membuatku bingung tentang arti keberadaanku yang sebenarnya. Apa dia senang? Apa dia menganggapku beban?
Waktu terus berjalan, kejadian yang lewat tersebut muncul terus ketika aku sedang mengurusi rumah sekarang. Lamunan yang pergi melambung dan melayang terkadang membuatku sakit ketika membayangkan kak Dina akan pergi. Padahal, hari ini dia hanya sedang punya kekasih, belum benar-benar pergi seutuhnya. Tapi, ketakutan itu lebih dulu menghantui.
Setelah selesai beres-beres kecil, aku pun mulai mengurusi urusan perut. Rasanya tidak pas jika aku tidak membuat jatah lebih, jadi begitulah sisanya kubuat untuk siapa pun yang datang.
Aku berdiam di meja makan, melamun kembali setelah benar-benar menghabiskan makanan di sana. Ketika langit mulai menggelap dan kehilangan cahaya oranyenya, barulah saat itu aku mendengar sebuah gersak-gersuk di teras rumah, menandakan keberadaan orang yang mungkin tengah masuk.
__ADS_1
Ibu tidak pulang di waktu tersebut, dan orang asing cenderung akan mengucap salam pembuka bahkan sebelum masuk ke daerah teras. Jadi, dapat dipastikan itu adalah kak Dina, aku juga bisa paham dengan tipe kegaduhan yang dia buat, ritme membuka sepatunya sangat khas ditelingaku.
*Ceklek