Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 1 Sampah Organik : Chapter 19 - Munyu Munyu Munyu


__ADS_3

Perjalanan terus kutempuh. Dengan berlari aku bisa mencapai tempat itu jauh lebih cepat. Kemampuan mendeteksi gelombang emosi ini juga cukup membantu, aku bisa tahu letak orang-orang sebelum aku bisa bertabrakan dengan mereka.


Hah ... hah ....


Tubuhku sendiri tidak cukup terlatih staminanya. Selama ini aku hanya mendapat kemampuan bertarung dari adrenalin tiba-tiba yang muncul akibat emosi kemarahan seseorang. Tanpa itu semua, kekuatan di tubuhku tidak terdorong seperti biasanya.


Kaivan, di pertigaan itu ambil jalan ke kanan, lalu setelah dua persimpangan kamu belok ke kiri, dan lari sampai ujung kemudian kembali belok ke kanan.


Heh, penjelasan itu lebih baik jika dikatakan dengan perlahan. Tapi, itu tidak masalah, aku sendiri tahu ke mana aku pergi.


Pero terbang di depanku membimbing arah. Burung itu tidak terbang bersamaan dengan lariku, melainkan pergi hinggap dari tempat satu ke tempat lainnya. Sistemnya seperti checkpoint, setelah diam di tiang listrik, dia berpindah ke salah satu atap rumah, sesuai dengan rute yang dia tunjukan.


*Whoush ....


Gelombang emosi.


“...”


Jarakku sudah dekat, sekarang aku ada di gang sempit yang diapit oleh tembok dan gedung komersil tua. Dari sini aku bisa merasakan emosi seseorang yang tidak biasa, terasa gelap dan penuh kehampaan.


Aku mulai berbelok dan sampai di area bawah tol itu. Pero yang awalnya memimpin pun berhenti terbang dan membiarkan aku menyusulnya.


Ah.


Di sana aku melihat Amalia, dia berdiri di depan Imarine yang terduduk. Dengan tatapan menantang, gadis yang awalnya bisu itu dengan tegas mengibarkan bendara ingin melindungi Imarine.


“Kamu siapa?” tanya Azarin


“Gak penting aku siapa, yang penting aku ke sini biar kamu berhenti nyiksa cewek ini. Lagian, aku sekarang pakai seragam sekolah yang sama, kejam sekali kamu tidak mengingatku.”


“Ck, kenapa di sini juga masih ada orang yang ganggu,” gumam Azarin dengan suara kecil. “Dengar, yah ... aku gak punya salah, yang salah itu cewek itu. Kalau gak mau luka, mending kamu pergi sekarang,” lanjutnya dengan suara yang lebih lantang.


“Keduanya kutolak. Aku tidak punya kewajiban untuk memilih, dan situasimu juga tidak bisa menekanku untuk memilih,” jawab Amalia.


Cara bicara Amalia berubah drastis. Cara dia berekspresi, cara dia memilih kata, dan cara dia menanggapi keadaan. Begitu tenang tapi juga dingin.


Hah ... hah ....


Aku ada di sisi lain. Masih ada jarak sekitar sepuluh meter antara aku dengan gadis-gadis itu. Walaupun terdapat jarak yang cukup jauh, tapi aku bisa merasakan emosi negatif yang begitu pekat. Rasa dari kebencian, kemarahan, dendam, kesedihan, dan depresi ... semua bercampur dan membuat sensasi luar biasa menjijikkannya.


Mereka semua membuat wajah yang cenderung tenang, tapi berkebalikan dengan gelombang emosinya. Ini semua malah membuatku semakin merinding karena bagiku hal tersebut dekat dengan sifat psikopat.


Hah ... hah ....


Mereka belum melihatku, mungkin karena hawa keberadaanku masih tipis. Posisiku yang masih merapat dengan salah satu tembok juga penyebabnya.


*Whoush ....


Pergerakan gelombang emosi.


“HuaaAaaAkh ...!” teriak Azarin yang melaju sambil melayangkan tinjunya.


“Heh.” Tapi, Amalia masih terdiam berdiri di depan Imarine dengan senyum tipisnya.


Dug, dug ....


Detak jantungku berdetak cukup kencang.


Hhnkg!?


Emosi ini ... berbahaya. Sesuatu yang keluar dari Amalia adalah hal yang sangat buruk. Jika dibiarkan, Azarin tidak akan dilepas hanya dengan pukulan. Amalia di sana memikirkan hal yang jauh lebih buruk, benar-benar buruk hingga aku yang merasakan emosinya tidak aneh untuk muntah sekarang.


Aku berlari menuju mereka, jarak antara Amalia dan Azarin sama jauhnya denganku, layaknya segitiga sama sisi. Dengan mengandalkan seluruh tenaga terakhir, tubuhku mulai menerjangkan diri. Meluncur ke arah mereka untuk menghancurkan atmosfer ini.


Bug.

__ADS_1


“...”


“...”


Aku datang tepat waktu. Mereka terkejut dengan kehadiran tubuh asing yang tiba-tiba membatasi mereka bertarung. Itu adalah tubuhku yang dijadikan pelindung menghalangi lajur tinju Azarin.


Ghu-ghuak!?


Pukulan itu tepat mengenai perut, tubuhku menghadap ke arah Azarin dan terpaksa mendapat serangan di bagian depan. Rasanya cukup sakit, tenaganya tidak kalah dengan Imarine, layaknya preman yang biasa memukuli orang hingga babak belur.


“Ck, kamu lagi,” decak kesal Azarin yang mulai sadar dengan kedatanganku.


Bug, Buk ... BUGKH ....!


Akh, ghakh, bghuak!?


Ketika aku berhasil menghalangi pukulannya yang pertama dengan perut, Azarin malah melanjutkan pukulan keduanya di tempat yang sama. Itu membuatku meringkuk setengah berdiri, kehilangan tenaga untuk berdiri dan mulai bertumpu pada lutut setengah berdiri.


Belum selesai dengan itu, Azarin juga menerjang perutku lagi dengan lututnya. Ketika tubuhku hampir kehilangan tenaga dan ingin ambruk, dia malah menarik tubuhku ke atas dan memberi pukulan telak di wajahku.


Hah ... hah ....


Kini aku tergusur maju karena efek pukulannya. Terkapar di rumput di depan Amalia yang masih berdiri di sana.


*Whoush ....


Hkgh!?


Gelombang emosi.


Dari efeknya yang begitu tinggi, aku tahu kalau ini milik Amalia. Gadis itu datang mendekat dan mencoba memberiku sedikit bantuan. Entah apa yang dipikirkan gadis ini, dia mengangkat kepalaku yang kemudian ditaruh di pahanya. Gadis tersebut menatap wajahku dengan seksama, sedikit demi sedikit mulai mengelus pipiku.


“Tak akan kumaafkan,” gumam Amalia di posisi yang setengah duduk memangku kepalaku, nafsu dan nadanya begitu sinis seperti sedang mengutuk seseorang.


Aku mencoba mendapat kesadaran, mengumpulkan tenaga di tengah-tengah lautan emosi ini. Rasa amarah yang menggebu-gebu membuatku kehilangan konsentrasi.


Dug, dug ....


Perasaan ini kembali. Aku yang tidak bangkit bukan tersiksa karena pukulan Azarin. Tapi, aku sedang menahan sesuatu yang hampir meledak di dadaku. Rasa pedas, mata perih, dan gejolak darahku yang meningkat. Jika terus dibiarkan, baik aku maupun Amalia akan larut dalam emosi.


*Klak.


Hngh!? Amalia? Tunggu, apa kau serius?


Aku melihat Amalia mengeluarkan cutter dari sakunya. Dia dengan kemarahannya sedang menggenggam benda itu dengan keras layaknya sebuah senjata.


Woi, woi, woi ....


Emosi di sekitar semakin memburuk, tatapan Amalia penuh dengan dendam sinis. Membayangkan hal yang mungkin terjadi dengan cutter yang dipegangnya saja membuatku takut. Aku tidak ingin kejadian ini diwarnai insiden berdarah. Hal tersebut tidak akan membawa Imarine pada kebahagiaan, itu hanya menambah luka hatinya.


Sial, apakah ada sesuatu ...? Sesuatu yang bisa kulakukan. Tindakan yang cukup kuat untuk membuat Amalia melupakan kemarahannya sesaat.


“Azarin ... tadinya aku cuman mau kasih kamu pelajaran. Memukulmu dan membuatmu merasakan luka yang sama seperti Imarine," katanya sambil terus menyipitkan mata. "Tapi ..., sekarang aku berubah pikiran, itu semua masih terlalu baik buat kamu, orang kayak kamu itu harus—”


*Pyonk.


“...”


Memutus kalimat yang diucap Amalia, aku yang di pangkuannya diam-diam menaruh tanganku di dadanya.


“... Heh?”


Gadis itu sedikit kebingungan. Tapi ....


Heh, ini belum cukup, yah.

__ADS_1


*Munyu ....


Aku terus melanjutkan tindakan ke level yang lebih tinggi.


Tidak selesai dengan menaruh tangan di dada, aku bahkan melakukan gerakan khusus yang cukup ekstrem. Menekan jariku ke dalam, meraba dengan seluruh telapak tangan di permukaannya. Lalu, dengan sedikit kasar *** payudaranya, sentuhan yang cukup untuk menembus sensasi bra yang dipakai Amalia.


*Munyu, munyu, munyu ....


Tidak cukup sekali, aku mengulang gerakan itu beberapa kali. Menggunakan manuver lincah berkeliling permukaan gunung elastis, melakukan gerakan ke kanan dan ke kiri hingga aku sendiri mulai menikmati sensasi jari tenggelam di kelenturan kulit dada perempuan.


*Whoush ....


Seketika gelombang emosi baru keluar dari tubuh Amalia. Menghapus rasa pedas dan panas, membebaskanku dari beban emosi kemarahan yang selama ini mencekikku dengan kuat.


“Ma-maaf ...!?”


Bukan aku yang berkata, tapi Amalia. Dia dengan cepatnya mendorong mundur tubuhnya untuk menjauh dariku.


Bugkh.


“...”


Membuat kepalaku yang semula di pangkuannya terjatuh ke tanah. Membentur dengan kuat hingga tengkorakku menimbulkan bunyi yang bisa kurasakan di gendang telinga.


"Ah, Ma-maaf ...."


Haruskah aku marah sekarang?


Amalia terduduk selonjor dengan kedua tangan menutupi dadanya. Dia melihatku dengan mata terbelalak panik, terkejut disertai rasa takut dari tindakan yang seharusnya masuk pelecehan seksual.


Tapi, aku mengabaikannya. Itu karena ....


Heh ..., haha, hahaha ....


Memang reaksi tersebut yang kuincar. Emosi besar yang dikeluarkannya sekarang adalah rasa malu, menekan seluruh emosi negatif di sini agar aku mendapat sisi terang. Layaknya oasis, dia menyemburkan keselamatan di tengah siksa neraka. Emosi negatif terasa menggelikan di kulit, berasa licin di mulut. Sensitivitas gelomang emosi yang tinggi pada Amalia membuatku tidak merasakan emosi negatif dari Azarin maupun Imarine.


Aku mulai bangkit. Tubuhku yang lepas dari beban akhirnya bisa melakukan perlawanan pantas pada Azarin.


“Eh ...”


Azarin melihatku dengan ekspresi keheranan. Untuk sesaat dia juga melupakan kemarahannya. Memang benar juga orang akan bingung ketika melihat kejadian tersebut di depan matanya.


“Ck, terserah, aku mau pulang sekarang,” ucapnya sambil melangkah pergi. “Dan kamu denger juga Ima. Gara-gara mereka, hari ini aku kesal, stres berkumpul sampai kepalaku panas. Jadi, siap-siap saja nanti—”


“Tunggu, Azarin!" teriakku menghentikan langkah kakinya. “Aku datang ke sini bukan buat Ima. Tapi, aku ke sini buat kamu. Kamu masih gak boleh pergi sekarang.”


“Huh?” responsnya sambil membuat wajah bingung ejek dengan mengangkat alis dan menyunggingkan buka mulutnya. “Kamu mau apa? Mau minta aku berhenti mukulin Ima? Asal kamu tahu, aku gak bakal—”


“Azarin!” teriakku cukup keras hingga menggelegar ke selurus sisi tembok di sini. “Kamu itu cantik!”


“...”


“...”


“...”


“... HaAakh!?”


Azarin berteriak cukup keras dengan nada kaget dan bingung, sedikit kegugupan muncul dari nada suaranya. Amplitudo yang naik turun membuat suaranya tidak terdengar seram.


 


 


****

__ADS_1


 


 


__ADS_2