
Aku mulai membuka bekal makan siangku di sana. Entah kenapa pembicaraan ini mengarah ke hal yang tidak serius bagiku, setidaknya tidak kupedulikan.
Menaruh kantung plastik di atas meja, mengambil minum dan bungkus roti, lalu secara perlahan mulai menghabiskan bekal tersebut.
“Ivan? Woi, kamu dengar gak?”
“Aku dengar, tapi aku masih gak ngerti jalan pikiran kamu,” kataku yang mengunyah makanan. “Kamu minta cegah sesuatu yang bahkan gak tahu bakal kejadian atau enggak.”
“Apa maksudnya, Van? Bukannya cewek kalau nunda jawaban itu artinya mau nolak halus? Kalau dia mau dia juga bakal langsung terima, 'kan?”
Apa benar begitu?
Setahuku sebagai orang yang punya kekuatan deteksi emosi. Perempuan adalah salah satu yang sering menyembunyikan perasaannya. Dibandingkan menolak, kemungkinan seperti sengaja menunda malah lebih besar.
Aku tahu hal tersebut, beberapa perempuan bahkan sengaja menunda membalas pesan ketika sedang chat-ingan dengan lelaki yang disukainya. Mereka yang melakukan itu bertujuan memberi kesan tidak terlalu berharap, berusaha agar terlihat tidak menunjukkan perasaannya.
Jadi, pada kasus Septian, ada juga kemungkinan si perempuan itu hanya ingin menguji perasaannya. Membiarkan dia berlarut dan menunjukkan kalau dirinya tidak menyimpan perasaan apapun.
“Apa kamu punya bukti kalau cewek itu bakal nolak nanti?” tanyaku.
“Semenjak aku nembak, dia selalu ngejauh dan ngerasa canggung.”
“Itu masih normal.”
Aku malah heran kenapa Septian tidak merasakan apapun. Bukankah hal yang wajar sedikit menjauh pada tahap ini? Kegugupan menghadapi lawan jenis yang berpotensi dalam hubungan cinta adalah hal umum..
“Dia sengaja ngejauh setiap aku deketin.”
“Sama kayak yang barusan, masih normal. Aku malah protes tentang sikap kamu yang deketin dia.”
“Kenapa? Aku cuman mau dekat sama Fany. Memangnya salah kalau aku datang ngobrol ikutin dia, datang belajar bareng ke meja dia, datang buat nungguin di gerbang biar pulang bareng? Enggak, ‘kan!?”
“...”
Aku terdiam mendengar ucapannya, terhenti mengunyah makanan dan bingung atas apa yang dia ucapkan. Septian tidak tahu kalau Septian bisa terhipnotis oleh perasaan cinta. Gelombang emosi yang dikeluarkan tidak sedikit pun menunjukkan kebohongan, dia tidak bercanda.
Tentu saja salah, setidaknya lakukanlah ketika kalian sudah resmi pacaran.
Terheran dan tidak tega menjawab langsung, aku memalingkan pandangan ke arah Imarine.
“...”
Tapi, Imarine tidak menjawab dan cenderung menggeleng-geleng kepala mengangkat bahu. Dia lepas tangan dan tidak ingin berkomentar tentang hal ini. Seakan tahu dan menyerah terhadap keadaan Septian.
__ADS_1
“Menjauh itu wajar. Kalau kamu terus deketin dia, dia gak bakal punya waktu buat mikir.”
“Tapi, aku ‘kan suka sama dia,” potongnya sedikit menyentak.
“Suka atau enggak, semua orang juga punya waktu privasi di mana dia gak mau diganggu. Kamu juga ada ‘kan ... waktu tertentu yang gak mau ada satu orang pun masuk ke wilayahmu,” ujarku yang kupelajari dari perkataan Imarine.
“Ah ... bener juga. Aku gak mau digangguin waktu onani.”
“He?” reaksiku yang terkejut mendengar kata tak terduga keluar. “A-ah ..., iya, kayak gitu lah kira-kira,” lanjutku yang menyetujuinya.
Bukan berarti apa yang dikatakannya salah. Jika dia bilang seperti itu, memang benar kalau waktu tersebut sangat privasi. Tapi, jika kamu menaruhnya seperti itu, entah kenapa terkesan seperti gadis yang kamu suka itu menjauh karena ingin masturbasi.
*Whoush ....
Perasaan pahit muncul. Sumbernya dari Imarine. Dia sepertinya terganggu dengan pembicaraan barusan. Melihat ke arah kamu dengan wajah sedikit kerut memandang jijik.
“Kalau gitu ... apa nunda dua hari itu wajar? Bukannya itu sudah cukup buat mikir jawabannya? Apa dia cuman mau nge-harkos saja?”
Aku kembali terdiam mencerna perkataannya. Septian mengatakan itu dengan lantang seolah arti ucapannya begitu besar. Berbeda dengan pendapatku yang mungkin setara dengan orang normal
Tentu saja sangat wajar.
Untuk seorang yang sedang dilema antara dua pilihan penting, waktu segitu masih umum. Justru, menurutku dua hari masih termasuk singkat.
“Hah ...,” tarik nafasku akibat mendengar kebodohan sikapnya. “Kamu bakal beneran ditolak kalau sikap kamu terus kayak gitu.”
“Iya.”
“Masa, sih?” tanyanya berbalik pada Imarine di samping.
“Un,” lalu jawab gadis itu sambil mengangguk. “Kamu ngerti ‘kan, Van. Septian itu orangnya kayak gini. Kalau dibandingin, dia itu lebih nyebelin dari pada kamu.”
Sejak kapan Septian berubah menjadi budak cinta. Dari ingatan lamaku, sikapnya yang sekarang berubah menjadi lebih menyebalkan. Di sini aku malah prihatin dengan perempuan yang jadi target Septian.
Oke, aku mengerti maksud Imarine membawanya ke sini.
*****
Septian terlihat punya pribadi yang terbuka terhadap pergaulan sekitar. Dia dengan santai bisa menghampiri perempuan yang disukainya. Itu hal yang luar biasa dan bisa menjadi nilai tambah di mata perempuan. Tapi, jika terlalu berlebihan juga malah berefek jelek.
Aku sendiri tidak akan mampu melakukannya. Jika kulakukan, berbagai emosi negatif akan menyerangku. Perasaan jijik dari perempuan karena sok akrab, dan perasaan cemburu dari lelaki yang mengutuk perbuatan tersebut.
__ADS_1
Lelaki berambut cepak itu tidak jahat secara keseluruhan. Sikap ingin memiliki yang kuat membuatnya posesif pada orang yang disukai. Terlebih lagi dia adalah orang terbuka yang tidak ragu mengakui perasaannya secara langsung. Akan timbul masalah merepotkan jika dia tidak bisa mengendalikan nafsunya.
Aku menarik nafas panjang, menghabiskan seluruh roti dengan satu suap sebelum akhirnya kembali bicara.
“Kalau begitu ceritain dulu cewek yang kamu suka,” ucapku mengalihkan. “Kita juga harus tahu, kira-kira perasaan dia kayak gimana ke kamu.”
Selera orang berbeda-beda. Ada orang yang tidak keberatan diperlakukan possesif dengan timbal balik selalu mendapat perhatian, ada juga orang yang ingin waktu bebasnya tidak direbut. Di mana batas yang perempuan itu maafkan untuk dijadikan seorang kekasih juga tergantung sifatnya.
“Boleh saja, sih. Tapi, apa aku harus sebutin siapa orangnya?”
“Kalau kamu gak mau sebut ya jangan. Sebutin saja apa yang bikin kamu suka sama dia.”
“Hmn ...,” pikirnya beberapa saat sambil mendekatkan wajah ke meja melihat ke bawah. “Mukanya cantik?”
Yah, normal, atau malah sangat biasa sampai aku tidak punya kata untuk berkomentar tentang itu.
“Selain itu?” tanyaku.
“Dadanya besar?”
Ah ... aku sedikit jijik dengan hal tersebut. Bukan karena aku menentang ideologinya, tapi karena dia mengucapkan dengan jelas di hadapanku.
*Whoush .....
“...”
Rasa pahit terasa kembali di lidah. Gadis di sampingku kembali tersinggung dengan percakapan barusan, mungkin karena dia juga salah satu perempuan pemilik dada besar. Walaupun sedikit kesal karena entah kenapa dia seperti melemparkan semua emosi tersebut padaku.
Sebenarnya aku juga pernah mengucapkan hal sama dengan Septian, tapi hasil emosi yang diciptakan berbeda. Kalimat yang kukatakan bertujuan memanipulasi gelombang emosi. Aku bilang paras Imarine dan bentuk tubuhnya karena keperluan.
“Selain itu?” tanyaku kembali. “Kalau bisa jangan sebut fisiknya. Aku gak butuh petunjuk buat nebak dia siapa sekarang.”
“Sifat, yah ...,” pikirnya kembali mendekatkan wajah ke meja. “Baik? Cewek baik?”
“Kamu serius jawab itu?”
“Aku dari tadi serius, memangnya salah kalau aku bilang dia baik? Itu memang kenyataan.”
Tidak benar-benar salah. Tapi, aku kecewa padanya karena dia hanya menggambarkan gadis itu secara umum.
“Kamu gak bisa kasih tahu lebih detail lagi?”
“Entahlah, aku juga gak terlalu kenal dia. Lagian, kalau suka sama orang gak perlu ada alasan juga gak apa-apa, ‘kan? Aku suka sama dia ya mungkin karena sudah takdir.”
__ADS_1