Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 2 Jejamuan : Chapter 12 - Anggap Saja Kebetulan


__ADS_3

Inilah perbedaan laki-laki dan perempuan. Laki-laki lebih sulit diatur, mereka terkadang punya ideologi dan pemikirannya masing-masing. Ucapan dan nasehat dari luar malah seringnya tidak didengar jika tidak sejalan dengan pendapat mereka.


Tidak ada yang salah, ucapan Septian juga bisa benar tergantung situasi. Beberapa perempuan juga malah lebih suka dikejar terus sampai dia luluh.


Bahkan, aku pernah lihat kasus di mana perempuan bangga dikejar oleh lelaki lalu mengatakan ‘dia bukan tipeku, aku gak bakal pacaran sama dia’, tapi pada kenyataannya dia senang tentang fakta ada yang menyukainya. Pada akhirnya, gadis itu pun jatuh hati balik dan berpacaran.


Ide yang kuucapkan juga belum tentu benar. Tidak ada yang tahu sampai semua itu benar-benar terjadi. Percaya pada dirimu sendiri, atau percaya pada temanmu. Itu semua pilihan yang bebas kamu pilih jika kalian anggap benar.


Namun, jika terjadi kegagalan, bukan berarti itu celah untuk saling menjatuhkan. Justru itu adalah kesempatan untuk belajar menjadi lebih baik.


“Jadi, itu keputusan kamu, ya,” ucapku menaruh tangan di dagu sambil membuat wajah terkesan.


“Iya.”


“Jika aku jelaskan manfaat untuk menjauhinya sekali lagi, apa kamu gak berubah pikiran?”


“Enggak,” jawab Septian dengan tegas.


“Heh, hahaha ... laki-laki yang berjuang keras mengejar cinta. Iya ..., aku bisa mengerti itu.” Ucapku.


“He~” Suara Imarine yang mencoba merusak suasana heroik. “Memangnya kamu punya pengalaman buat ngerti perasaan cinta?”


“Gak perlu pengalaman. Aku masih punya pengetahuan. Apa kamu lupa kalau aku juga masih dalam masa pubertas.”


Dan nilai tambah yang kumiliki adalah deteksi gelombang emosi. Perasaan membara penuh semangat yang dimiliki Septian muncul sejalan dengan perkataannya.


Aku kagum dengan keteguhan mental yang Septian miliki. Di sini aku menghargainya sepenuh hati sebagai teman.


******


Pada akhirnya aku tidak berhasil membujuk Septian membatalkan acara nonton bersama dengan Fany. Laki-laki itu cukup hebat dalam memegang ideologinya, konsisten dengan kepercayaannya dan tidak membiarkan orang lain merusak. Dibandingkan aku yang mempengaruhi, percakapan itu lebih ke arah Septian yang meyakinkanku.


Istirahat berakhir, aku, Septian, dan Imarine berpisah dan kembali pada spot masing-masing.


“...”


Tidak, sebenarnya aku dan Imarine berdiam diri di tempat itu bersama hingga waktu istirahat habis. Dari segi kenyamanan, tentu saja gedung tak terpakai itu lebih nyaman dijadikan tempat bersantai daripada kamar mandi dekat kelasku.


Sekolah berjalan kembali, tugas-tugas mulai menumpuk karena UTS yang sudah dekat. Tapi, aku tetap tidak bisa menyingkirkan pikiran tentang tugasku sebagai pengumpul mana pembantu Imarine.


Bel pulang berbunyi, tapi bukan berarti itu tanda aku bisa istirahat. Kebiasaan yang dibuat baru-baru ini membuat aku harus pergi bersama Amalia ke rumah Pero. Layaknya sebuah tugas, aku diberi kepercayaan untuk melatih gadis itu menggunakan kekuatannya. Selama ini efek gelombang emosi berlebih yang sebelumnya dia keluarkan sudah berkurang. Itu membuatku sedikit tenang.


Aku menunggu keadaan sepi, dan Amalia juga biasanya menunggu di lorong lantai satu bersama beberapa temannya. Dibandingkan menunggu di gerbang, tempat di sana sedikit lebih ramai dan tidak menjadi tempat menyedihkan untuk menunggu.

__ADS_1


Hmn ... baiklah, sudah waktunya.


Bersiap dengan menggantungkan satu tali tas di pundak kanan, aku mulai pergi untuk menemui Amalia.


“...”


Namun, aku melihat sesuatu yang ‘tak terdua.


“Gak usah jelasin. Kayaknya aku tahu alasan kamu di sini.”


“...”


Selain Amalia, aku juga melihat Fany yang duduk di kursi panjang yang disediakan sekolah. Posisi mereka tepat berada di depan tangga menuju lantai dua, seakan sengaja memilih tempat itu untuk menungguku.


“Septian nunggu lagi di depan gerbang?” Tanyaku.


“Un ...,” jawabnya dengan mengangguk.


Apa ini ... perasaan campur aduk.


Aku kesal dengan perilaku Septian yang terlalu agresif. Tapi, di sisi lain aku juga mendukung perasaannya yang berjuang mati-matian demi cinta.


“Jadi, apa? Kamu mau diantar sampai di gerbang biar Septian gak ngikutin kamu?”


“Semua orang normal juga pasti bisa membaca kondisi ini ..., dan kamu juga ... jangan sembarangan puji laki-laki, itu bisa bikin mereka ke-GR-an dan balik kejar kamu.”


“Eh? Ah ... un,” jawabnya mengangguk.


Selama ini aku tidak tahu jelas latar belakang mereka, mungkin saja Fany tidak sengaja memuji Septian hingga dirinya merasa kalau Fany meninggikannya lalu. Sebenarnya tidak apa-apa memuji, hanya saja jika dilakukan di kondisi tidak tepat dapat menimbulkan masalah seperti ini.


“Hah ...,” jedaku yang mengambil napas, “Amalia ... gak apa-apa kita sedikit mutar gak ke toko antik itu?”


Gak apa-apa ... daripada bulak-balik, mending langsung pulang saja. Rumah Fany beda arah soalnya.


Baiklah kalau itu keinginanmu. Lagipula tidak ada batas waktu khusus yang membuat Amalia harus menguasai kekuatannya segera. Gadis ini juga sepertinya sudah terbiasa dengan keberadaanku, membuat emosinya tidak bergetar terlalu kencang seperti pertama kali bertemu.


Kami mulai berjalan, pulang bertiga dengan formasi aku di depan dan kedua gadis berada satu langkah di belakang.


*Whoush ....


Selama perjalanan, aku merasakan gelombang emosi dari Fany. Sensasi dingin memakan timun di lidah, menggigil di kulit, dan sesekali telinga berdengung, ini adalah ketakutan. Aku baru tahu kalau perasaan inilah yang dia hadapi setiap berhadapan dengan Septian.


Aku mencoba mengintip ke belakang sedikit penasaran. Di sana aku melihat Fany yang menyembunyikan tubuhnya di belakang Amalia. Bahasa tubuh yang dia keluarkan jelas menunjukkan kalau orang itu mencari perlindungan.

__ADS_1


Akhirnya kami sampai di gerbang utama sekolah.


“...”


Dan tepat dengan apa yang ditakutkan Fany, Septian di sana masih menunggu. Melihat tindakannya sekarang aku mulai jijik karena mengarah pada stalker. Wajarnya orang sudah menyerah atau setidaknya berasumsi bahwa Fany sudah pulang lebih dulu. Ini sudah sekitar satu jam dari bel berbunyi.


“Fany,” panggil Septian dari jauh sambil mendekat. “Sekarang kamu pulang gimana?”


“...”


Septian cenderung mengabaikanku yang ada di depan dan langsung menerobos berbicara dengan gadis tersebut. Tentu saja Fany yang sekarang mengambil tindakan menghindar dan tidak dapat menjawab lugas.


“Ian, maaf saja,” kataku yang menoleh ke belakang. “Fany sekarang ada tugas, dia bakal pulang bareng aku.”


“Huh?” reaksinya bingung menghadapku sejenak. “Itu bener, Fany?”


“Un ...,” jawab Fany yang kembali mengangguk menyembunyikan tubuhnya di balik Amalia.


*Whoush ....


Gelombang emosi, rasa asam dari kebohongan.


“...”


Tentu saja aku yang memintanya menyetujui perkataan tersebut. Fany tidak berbohong atas kemauannya, aku yang membuatnya begitu.


Tangan Amalia dipegang satu oleh Fany, hal tersebut yang membuat dia tidak bisa berpartisipasi dalam percakapan ini. Dia hanya membeku tanpa kata sambil sesekali melirik-lirik ke arahku.


“Hmn ... oke, kalau gitu aku ikut, sekalian juga aku sudah lama gak pulang bareng sama kamu, Van.”


He!?


“Tunggu, tunggu, kenapa kamu harus ikut?” tanyaku.


“Gak apa-apa, ‘kan? Apa salahnya akau ikut?”


“Salah ... kamu gak dibutuhin sekarang.”


“Itu bukan kerugian, anggap saja ini kebetulan kita bertemu dan sekalian pulang bareng.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2