
Hari ini aku bolos sekolah.
Iya, sebenarnya berangkat sekolah juga sudah tidak bisa tertolong dengan percakapanku yang panjang bersama Hanz hari ini. Bagaimana pun juga aku sudah tidak bisa sekolah, waktu habis dan jika aku berangkat tidak akan tepat waktu. Jadi, pada hari itu aku menitip izin pada Farrel kalau keadaanku kembali sakit dan tidak bisa sekolah. Aku harap sekolah bisa menerimanya tanpa pikir panjang, mengingat kondisiku sendiri yang sudah terkenal sebagai pasien operasi.
Tepat sekarang aku sedang menuju universitas milik kak Dina tempatnya kuliah. Kalau tidak salah hari ini dia berangkat lebih siang di jam sembilan atau sepuluh siang. Tapi, masalahnya adalah tempat kuliah tersebut yang luasnya sudah seperti komplek perumahan. Aku akan bodoh jika mencarinya tanpa petunjuk. Jadi, sesuatu yang kulakukan adalah mengambil langkah lebih awal dengan membuntutinya dari rumah sebelum dia berangkat.
Aku sekarang berjalan bersama dengan Hanz. Dengan memegang bahunya dan berjalan saling berdampingan, kami berdua masuk dalam zona di mana orang tidak bisa sadar dengan keberadaan kami.
Awalnya aku sedikit ragu dengan kekuatan Hanz yang bisa membuatku ikut menghilang. Tapi, dia bisa membuktikannya dengan cepat. Aku sedikit heran ketika melihatnya langsung, dan ternyata aku benar-benar tidak terlihat layaknya hantu.
Kala itu, kami mencari orang secara acak. Ketika sudah bertemu, Hanz membawaku tepat di belakang orang tersebut sebelum akhirnya dia menimpuk kerikil ke arah kepalanya.
Respons normal tentu dialami orang tersebut di mana dia merasa terganggu dan menoleh ke belakang. Namun, respons tidak normal dimulai ketika dia sudah berbalik. Pasalnya kami yang tepat di belakang diabaikan begitu saja oleh orang tersebut. Dia hanya melongo, mencari-cari, dan melakukan pandangan jauh sambil meneliti di mana arah kerikil yang dilempar tersebut datang—di mana sebenarnya pandangan tersebut sudah mengarah pada kami. Cukup bersalah karena menjahili satu orang, tapi hasilnya sudah sangat membuktikan kalau aku dan Hanz tidak terlihat olehnya.
Ada waktu cukup panjang sebelum keberangkatan kak Dina. Tentu aku yang berdiri menunggu di luar juga mulai merasa bosan. Apalagi ketika rasa penasaran bagaimana Hanz memandang kondisi ini sebagai beban. Rasanya aku ingin menyediakan dia tempat yang lebih baik untuk tugas ini. Di kasus ini aku tidak bisa merasakan gelombang emosinya, jadi kondisi yang aku khawatirkan masih misteri kebenarannya atau hanya sebatas pikiran berlebih.
“Hanz,” panggilku di tengah kesunyian menunggu.
“Kau perlu sesuatu?”
“Cuman tanya keadaan. Apa kamu yakin mau masuk ke urusan yang mungkin sia-sia kayak gini? Kamu bilang ini menarik, tapi kita di awal saja sudah masuk ke fase bosan menunggu lebih dari satu jam.”
“Jadi, kau khawatir aku tidak mendapat tujuan tentang mencari hal yang menarik sekarang hanya karena harus menunggu?”
“Bisa dibilang kayak gitu.”
Masuk ke masalah orang dan bilang kalau hal tersebut menarik baginya juga sudah cukup ambigu. Aku tidak tahu harus bersikap senang atau tersinggung ketika ada orang yang bersikap demikian. Lalu, sekarang aku perlu merasakan tekanan untuk bisa benar-benar membuatnya puas untuk mencari kesenangan yang dia maksud.
__ADS_1
“Kalau kau berpikir begitu, itu berarti kau masih belum mengerti. Aku hidup di ranah yang lebih membosankan, diam bersama satu individu bersama juga sudah termasuk kehidupan. Aku tidak benar-benar merasa bosan sekarang. Lagi pula ....”
“Hmn?”
Hanz melakukan sedikit jeda di kalimatnya. Bukan karena dia tidak tahu apa yang dia katakan, tapi lebih seperti dia membuat atmosfer tertentu.
“Lagu pula, aku sudah belajar kalau kesenangan adalah hal yang dicari, bukan datang dengan sendirinya.”
“Ah, iya, aku mengerti,” jawabku sedikit mengangguk. “Kondisi itu memang tergantung dengan mental juga. Entah orang itu ada di tengah lingkup candaan, kalau dia gak anggap itu sebagai kesenangan, iya candaan itu gak akan ada efeknya.”
Tentu hal tersebut sudah pernah dibuktikan dengan kekuatan deteksi emosiku. Sejak kecil, aku punya pengalaman datang ke suatu acara perayaan, entah itu dari sekolah atau dari kerabat seperti ulang tahun dan pernikahan. Tentu di acara tersebut keberadaan penghibur layaknya penyanyi atau komedian hadir, dan bukan sebuah rahasia kalau tidak semua orang bisa masuk ke dalam kesenangan yang diberikan.
Terkadang, ada orang yang sudah sedari awal memasang kondisi sedih, terkadang ada orang yang dari hatinya sudah menolak keberadaan si penghibur. Mereka-mereka semua yang memang tidak berharap untuk mendapat kesenangan memang tidak akan mendapatkannya. Jadi, satu hal yang penting untuk bisa bahagia adalah membuka hati untuk bisa bahagia.
“Baiklah, Kaivan. Aku tidak merasa bosan, tapi mungkin sebenarnya kau sendiri yang merasakannya. Jadi, dari pada menunggu di luar, kita bisa masuk ke dalam dan menikmati pemandangan kakakmu lewat sudut pandang ‘tak terlihat.”
“Ah, tentu saja, aku juga sudah mengira kalau kau berkata demikian. Tapi, kau bisa tenang, Kaivan. Kekuatanku bukan hanya membuat kita hilang dari pandangan, karena kekuatanku sudah ada di tahap bisa menghilangkan bunyi dan kesadaran tentang apa yang perubahan.”
“Eh?”
Kembali lagi aku mendengar hal baru dari Hanz, penjelasannya tentang kekuatan tersebut membuatku kembali berpikir. Mungkin aku mengerti bagian dari melenyapkan suara, tapi bagian untuk menghilangkan kesadaran masih tidak masuk dalam logikaku—walaupun memang sihir sendiri bukan hal yang pantas aku patok dengan logika.
“Ah ... respons itu, jadi kau tidak mengerti?” kata Hanz yang sadar dengan ekspresi wajahku. “Jika dijelaskan dengan singkat, kekuatanku itu menghilangkan seluruh faktor keberadaan. Pantulan cahaya, getar bunyi, dan menumpulkan kesadaran orang memperhatikan perubahan lingkungan bersamaan denganku.”
“Aku masih gak tangkap semuanya. Tapi, intinya kita bisa masuk tanpa ketahuan?”
“Tepat.”
__ADS_1
“...”
Aku tidak menyangka kekuatan Hanz bisa sampai sekuat itu. Jika dia benar-benar menggunakannya, dia bisa dengan mudah melakukan tindak kejahatan. Seluruh orang yang menjadi korbannya mungkin tidak akan sadar di waktu tersebut. Layaknya terkena hipnotis sementara.
Tapi, kesampingkan tentang hal tersebut.
“Enggak, makasih, Hanz. Kayaknya itu gak perlu,” jawabku menolak tawaran tersebut.
“Kenapa? Bukankah kau menolak masuk karena risiko tertangkap?”
“Aku memang bilang begitu, tapi sebenarnya bukan itu alasan utamanya. Ini kayak aku punya harga diri buat gak masuk ke daerah privasinya.”
“Apa yang kau katakan, bukankah sekarang kita sedang ingin membuntutinya?”
“Benar, tapi itu bukan alasan untuk datang mengintipnya di rumah. Setidaknya di rumah dia aman dan gak bakal kena masalah. Gak ada alasan buat aku masuk sekarang.”
Aku juga masih tidak mengerti, perasaan manusia dan bahkan perasaanku sendiri masih penuh dengan hal yang tidak bisa diperkirakan. Apa yang kurasakan terkadang sulit dijelaskan, aku menginginkan sesuatu yang secara tidak langsung kontra dengan tujuanku sendiri. Beberapa kali aku membuat alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Tapi, ketika hambatan itu hilang, aku lebih memilih untuk tidak melakukannya untuk dasar hambatan baru.
“Hmn ... aku menganggap kau sebagai orang yang dewasa. Tapi, ternyata kau juga sama mentahnya dengan remaja lain yang plin-plan.”
“Jangan khawatir, Hanz. Belakangan ini juga aku mulai sadar.”
Lingkungan di luar ternyata begitu tidak stabil. Aku memang sudah mengetahuinya, tapi baru belakangan ini aku menghadapi mereka secara langsung. Mungkin aku bisa menghadapi satu atau dua orang secara acak, tindakanku juga tidak terlalu kikuk layaknya seorang pengurung diri. Namun, sesuatu yang muncul belakangan ini benar-benar membentuk mentalku sedikit demi sedikit ke berbagai arah.
__ADS_1