Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 1 Sampah Organik : Chapter 24 - MaKaSih


__ADS_3

Aku menceritakan kekuatanku pada Imarine. Ini kali pertama dalam hidupku di mana ada orang yang benar-benar serius dan percaya dengan apa yang kuceritakan. Gadis itu terus mengangguk, dia bertanya sesekali untuk kejelasan, tidak ada sedikit pun rasa curiga maupun perasaan negatif atas apa yang aku ucap.


Walaupun begitu, memang mustahil untuk tidak terkejut. Imarine membuat ekspresi sedikit berlebihan di awal ketika aku memberi tahunya.


“Hah!? Kamu bisa baca pikiran?”


“Bukan ... tapi, aku bisa baca perasaan kamu. Aku bisa tahu emosi apa yang kamu alami. Kayak marah, senang, sedih, dan lain-lain.”


Imarine menyipitkan matanya. Beberapa saat dia terdiam, sambil memikirkan sesuatu. Setelah selesai, dia membuang muka sambil menggigit jari.


“Apa kamu sadar perasaan aku sekarang?”


“Yah, sekarang kamu merasa senang, ‘kan. Rasanya beda kayak waktu pertama kita ketemu di WC.”


“Eh? Senang saja?” ucapnya balik menghadap padaku dengan wajah bingung.


“Apa yang kamu mau?”


“...”


Imarine tidak menjawab, dia malah berdiri mendekat. Gadis itu melakukan gerakan aneh dengan menggunakan kepalanya. Berjinjit ke atas sambil menatap dekat wajahku, atau menunduk ke bawah mengamati tubuhku sambil sesekali mengintip ke atas.


Rasanya sedikit menyebalkan dilihat seperti makhluk asing.


Tidak sampai di sana, Imarine juga melakukan gerakan melambai tangan ke arah wajahku atau semacamnya. Seperti seseorang yang sedang menguji kesadaran penglihatan lawannya.


“Kamu lagi ngapain?” kataku yang masih diam melihat tindakan anehnya.


“Hmn ...,” pikirnya sambil menaruh tangan di dagu. “Hah ... kayaknya memang kamu gak bakal ngerti,” lanjut gumamnya sambil kembali duduk di kursi.


“...”


Aku berusaha bertanya apa maksud tindakannya. Tapi, Imarine malah mendesakku untuk melanjutkan cerita tentang kemampuanku. Terlihat jelas kalau dia ingin aku mengabaikan hal tersebut.


Menuruti keinginannya, aku terus bercerita tentang kisahku yang penuh penderitaan. Kekuatanku yang memaksa aku untuk lebih waspada terhadap lingkungan. Hal yang perlu ditangani secara hati-hati agar tidak menderita rasa sakit.


Imarine akhirnya tahu kenapa aku menghindar dan selalu menyendiri di depan kelas. Tapi, penjelasanku terhenti ketika sampai pada bagian sebelum aku bertemu Amalia. Tentu saja aku tidak bisa bertindak sepihak karena ini bukan tentang kisahku saja.


Aku berniat untuk membawanya pada Amalia, tapi bel istirahat sudah berbunyi dan akhirnya pertemuan itu ditunda hingga pulang sekolah. Rasanya cukup misterius ketika aku bisa menceritakan rahasiaku pada orang lain. Sekarang aku tahu kenapa Azarin bisa terhapus bebannya setelah dia meneriaki penderitaannya padaku.


“...”


Ngomong-ngomong Amalia aku tambahkan ke pengecualian. Dia memiliki hubungan erat dengan sihir dan kekuatan. Jadi, entah kenapa aku tidak merasakan hal tersebut ketika bercerita padanya. Ini seperti ... ‘ah, dia ‘kan juga punya kekuatan, tentu saja dia percaya’.

__ADS_1


Aku mencoba melihat Handphone-ku sebelum kembali ke kelas. Di sana ternyata ada balasan pesan yang Amalia kirimkan.


Amalia : Aku sudah ketemu Azarin, sepulang sekolah aku minta buat ketemuan lagi buat ambil mana-nya.


Oh ... itu berita bagus. Jadi, sekarang Azarin ada pada kondisi yang cukup untuk bisa diambil pecahan emosinya.


Kaivan : Kamu nanti ketemu Azarin di mana? Aku juga bakal bawa Imarine ke sana, mungkin saja dia juga bisa dihisap mana-nya.


Target awalnya malah Imarine, tapi kami sekarang mendapat dua orang sekaligus. Aku cukup senang, karena hasil yang didapat menjadi dua kali lipat. Seperti pepatah, satu dayung dua tiga pulau terlampaui.


Duut, duut ....


Aku menerima pesan dari Imarine. Akibat mengalirnya percakapan, dia juga meminta nomor ponselku jika nanti dia ingin bertanya tentang kekuatanku lagi.


Imarine : Kaivan ... Azarin bakal ketemu Amalia nanti pulang sekolah. Aku juga bakal ikut buat nemenin, kalau kamu bagaimana?


“...”


Ternyata isi pesannya adalah pengulangan kabar berita, membuat hubungan ini seperti segitiga.


Tapi, walau begitu ... aku tetap senang melihat isi pesan tersebut. Itu karena ....


Ima, sekarang kamu sudah berhenti memanggil Amalia dengan sebutan cewek bisu.


Sekolah kembali berjalan seperti biasa. Ketika bel pulang berbunyi, aku tetap berdiam diri di kelas untuk beberapa saat. Tentu saja hal ini sudah kuberi tahu pada Amalia, kekuatanku masih berfungsi seperti hari lainnya. Lagi pula ritual menghisap mana juga sepertinya perlu keadaan sepi, mereka juga akan menunggu beberapa saat sampai sekolah mulai kondusif.


Ketika sampai di tempat tersebut dan mulai berbalik ke sisik lain gedung, aku melihat Amalia menyambutku di dari kejauhan, diikuti dengan Imarine dan Azarin di belakangnya.


“Ah ... kalian nunggu lama?” tanyaku pada mereka.


“Sangat lama ... kita nunggu satu jam, lho,” jawab Imarine di sana.


“Bukannya satu jam ngaret itu sudah biasa di negara ini?” ucapku yang berhenti di samping Amalia.


“...”


“...”


Hn? Ada apa?


Kedua gadis di depanku memandangku dengan tatapan dingin. Imarine dan Azarin sekarang mengeluarkan emosi negatif yang cukup mengganggu. Terasa sedikit menusuk dan pahit.


Apa mereka semarah itu tentang kedatanganku yang menunda satu jam?

__ADS_1


Amalia mengambil alih perhatianku, gadis itu berusaha memberi tahu padaku kalau dia sudah siap menghisap mana Imarine dan Azarin. Botol sihirnya bereaksi terhadap kedua gadis itu sekarang, dia juga bilang kalau ritual itu memungkinkan untuk membius mereka berdua secara bersamaan.


Hmn ....


“Amalia,” bisikku padanya. “Gak apa-apa kalau misalnya aku ceritain semua tentang pencarian mana ini ke mereka? Kamu gak punya kontrak yang bisa kena hukuman kalau kekuatanmu ketahuan sama orang lain, ‘kan?”


Hari ini dia sudah bersih dari menstruasinya, jadi tidak gelombang kesakitan yang membatasi kami berkomunikasi lewat kertas.


Amalia menulis catatan dan memperlihatkannya secara tertutup layaknya manager dan penasihatnya.


Gak apa-apa, kok. Kamu juga sebenarnya termasuk orang luar yang gak ada hubungannya. Gak ada salahnya kasih tahu ke mereka ..., tapi buat apa?


Aku menjelaskan singkatnya hubunganku dengan Imarine pada Amalia. Gadis itu mengerti dan tidak keberatan. Melihat kalau kasus yang dialami mereka cukup besar, tidak ada salahnya untuk membeberkannya sedikit.


Azarin dan Imarine masih melihatku dengan tatapan sinis. Di sana aku berusaha mengabaikannya dan maju ke langkah selanjutnya.


“Ima, Azarin ... kalian tahu kenapa aku sama Amalia minta buat kumpul di sini?”


Ketika aku bicara dan mendekati mereka, wajah Imarine menyambutku dengan senang, sedangkan Azarin berbalik dan menghindari tatapanku.


“Kalau aku di sini cuman nganter Azarin, semua urusanku sih sudah selesai waktu istirahat tadi,” ucap Imarine.


“Oh, jadi Azarin masih punya urusan di sini? Apa itu?”


Azarin masih menyampingkan wajahnya. Dia masih menolak untuk bertatap muka denganku. Namun, di sana Imarine berusaha membujuk dengan sedikit mendorong bahunya. Gadis itu melakukan bisikan dan sentuhan lembut agar Azarin luluh hatinya untuk terbuka padaku.


“... Makasih,” gumamnya sambil menunduk dengan suara patah dan kecil.


“Hn? Air ASI?”


“Ma-Ka-Sih!” teriaknya yang akhirnya mulai mengangkat wajah melihatku kembali.


“Hmn ... sama-sama ... aku terima itu, walaupun sebenarnya yang berusaha itu kamu sendiri.”


“Aku sendiri gak akan bisa sampai kayak gini,” ucapnya kembali dengan pelan membuang wajah.


Yah ... Azarin punya pribadi yang sedikit tomboi. Ucapan terima kasih mungkin terasa sangat memalukan baginya.


Setelah selesai, aku menjelaskan pada mereka berdua kalau tindakanku sebenarnya didasari oleh pencarian mana. Imarine tampak menerimanya dengan mudah, sedangkan Azarin cukup bingung mendengar perubahan topik yang tiba-tiba.


Beberapa kalimat kuutarakan demi menenangkan mereka, sesuatu yang menjamin kalau pengambilan mana tidak berakibat apapun.


Amalia masuk ke mode sihirnya. Dengan memegang pisaunya, gadis itu melakukan ritual hingga dua lingkaran sihir terbentuk di sampingnya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2