Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 11 - Dua Jalur


__ADS_3

Kekacauan tentu tidak akan berlangsung terus menerus. Para staf sekolah yang bersangkutan juga perlahan mulai menenangkan orang-orang yang tidak bersangkutan, mereka memberi jalan para siswa yang menumpuk dan membuat kata-kata penenang agar tidak ada desas desus negatif terlalu menyebar.


Penyakit yang paling cepat menyebar adalah berita buruk, berita buruk menyebabkan berbagai emosi buruk, itu menimbulkan efek mental, dan akibatnya bisa lebih buruk dari kabar buruk itu sendiri. Aku tahu, aku mengalaminya, dan aku juga dapat merasakannya. Situasi ini tidak boleh disebar sembarangan, jurnalis sebaiknya menyebar berita sedih dengan dikemas oleh harapan positif.


“...”


Tapi, berita buruk tersebut sebenarnya sudah sempat tersebar beberapa kali. Para penguping garis keras sempat menyebar luaskannya, sejumlah siswa kebetulan juga mendengar, kabar mengerikan di mana siswa dari sekolahku meninggal dengan dugaan bunuh diri.


Tidak ada kabar pasti, tapi kejadian terkait diduga kuat terjadi pada hari minggu kemarin. Belum ada hasil autopsi diberitahu, polisi hanya menduga dari hasil kerja detektif yang menilai tempat kejadian perkara. Sampai saat ini, anggota tersebut masih menelusuri kejadian tersebut. Datang ke sekolah dan menelaah kemungkinan yang bisa menjadi pendorong kasus ini.


Upacara di sekolahku dibatalkan, hari terlalu siang untuk melaksanakan dan kondisi juga sudah tidak kondusif. Sebagai gantinya, sekolah melakukan pengumuman singkat dan banyak kata konotasi penenang hingga orang yang tidak tahu kabar asli akan kesulitan menangkap kejadian di baliknya.


Aku memang termasuk orang yang tahu, dari Amalia sendiri aku tidak menanyakan hal lebih lanjut dari mana dia dengar berita tersebut. Tapi, dapat dipastikan gosip ini benar adanya, tidak hanya aku yang mengetahui hal tersebut. Jika ditotal, mungkin setengah murid sudah tahu, dan untuk spesifik, sepertinya lebih dari tiga per empat dari siswa angkatanku sudah mengetahuinya.


Ketika mendengar nama Azarin, sesuatu yang muncul pertama adalah kasus pertamaku tentang pembullyan Imarine. Lalu, ketika mengingat kasus tersebut, aku juga ingin segera menghubungi Imarine sebagai bentuk kepastian dan penenangan mental.


Dari semua orang di sekolah, mungkin dia adalah orang yang paling menerima efek besarnya.


Aku tidak ada saat hari Minggu di kota ini, semau terjadi begitu saja layaknya pencuri di malam hari. Tidak ada yang mengira hal tersebut secepat ini. Jadi, ketika aku berusaha menghubungi Imarine, tidak ada balasan sama sekali.


Kemunculanku kali ini juga bagaikan pencuri malam hari. Aku orang yang tidak tahu apa-apa. Ketika kucari informasi tentang dia, ternyata gadis tersebut memang tidak ada di sekolah. Jejaknya tidak terlihat, teman sekelasnya juga tidak banyak yang tahu tentang kabar terbaru.


Ada yang bilang Imarine diamankan petugas sebagai saksi dan bukti kuat, ada yang bilang dia membolos karena mengurusi pengurusan mayatnya, bahkan salah satu di antara informan bilang kalau Imarine menderita stres dan tidak ingin sekolah lagi.


Tidak ada yang pasti, tapi jika dia memang stres. Aku ingin memastikannya dengan kemampuan deteksi gelombang emosiku. Mungkin rasanya sakit, tidak enak, atau bahkan bisa membuatku mual. Tapi, entah kenapa aku merasa kedatanganku di depan gadis tersebut begitu penting.


Seberapa besar aku berusaha mencari keberadaan Imarine, tidak ada kabar pasti darinya.


Sempat terpikir olehku menggunakan kekuatan Amalia yang membuat dia menghilang dari perhatian dan membobol informasi tempat tinggalnya. Tapi, kantor guru sedang ramai oleh banyak petugas, kekuatan Amalia ada batasnya, dia tidak bisa mengacak-acak dokumen di tempat ramai dan lolos begitu saja. Semakin banyak orang, semakin banyak gerakan, maka akan semakin tipis juga efek dari kekuatannya.


Kondisi sekolah pada masa belajar juga tidak kondusif, beberapa guru telat masuk dan bahkan hanya memberi titip tugas saja.


Namun, semua kesulitan tersebut ternyata tidak berlangsung selamanya. Di saat bingung dan hampir menyerah, ada satu pertolongan yang datang menghadapi kami.


*Duut, duut ...


“Hn?”


Ponselku berdering. Aku mengambil dan melihat displaynya. Di sana terlihat ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak diketahui.


Aku biasanya mengabaikan pesan tersebut karena tidak jarang kalau isinya hanya sebuah spam. Tapi, untuk kali ini tidak, karena sekilas potongan pesan tersebut terlihat. Itu adalah informasi utama yang aku butuhkan sekarang.


Apa ini Kaivan?


Aku bisa bantu cari alamat rumah Imarine, kalau kamu tanya aku, aku cewek temannya Azarin yang waktu itu ikut bully Ima. Rumah Azarin sama Imarine dekat, makanya aku tahu. Dulu pernah aku mau ke rumah dia tapi gak jadi. Tapi, aku tahu alamatnya.


Aku menelan ludah, tidak disangka hasil dari usahaku bisa berbuah dengan cara seperti ini.


Mungkin bisa dibilang pencarianku tidak berguna, tapi bisa juga tidak. Gadis ini salah satu dari teman Azarin, dan dia tahu kalau aku sedang mencari kabar Imarine serta alamat rumahnya dari gosip hari ini yang sedang berkeliling kelas.


Tanpa pikir panjang, aku pun membuka percakapan dengannya. Lalu, dia juga dengan cepat memberikan detail alamat rumah ... bahkan beserta GPS-nya.


Aku gak tahu rumah Ima di mana, yang aku kirim itu rumah Azarin yang kayaknya sudah banyak polisi di sana. Tapi, Ima harusnya gak jauh dari sana.


“...”


“...”


Aku dan Amalia saling termenung dan melihat satu sama lain. Ketika mata kami bertemu, di sana lah percakapan terbuka untuk saling berdiskusi ... diskusi tentang tindakan apa yang akan diambil. Apa utamakan keberadaan Imarine yang hilang dan tidak bisa dihubungi, atau lanjut ke rencana Pero mengejar pelaku penyusupan wilayahnya seperti kemarin.


Beberapa alasan kuutarakan, salah satunya adalah tentang pertanyaan ....

__ADS_1


“Amalia ... apa kamu cari Ima sekarang buat diambil mana-nya lagi?”


“...”


Pikiran tersebut muncul. Aku tidak tahu bagaimana Amalia memandang Imarine sekarang, tapi aku tahu bagaimana cara kerja mana-nya. Jika bicara dengan teori yang kutahu, tidak ada yang bilang mana dilarang diisap pada orang yang sama berkali-kali. Lalu, melihat kondisi Imarine, bisa jadi dia menjadi target Amalia lagi.


Gadis tersebut membuat ekspresi datar, dia diam beberapa detik sebelum akhirnya menggerakkan jari untuk menulis kembali menjawab pertanyaan tersebut.


Kenapa kamu tanya itu? Aku sekarang beneran khawatir sama dia.


Tulisnya, lalu membuka lembar baru.


Aku memang ambil mana orang yang aku bantu. Tapi, aku bantu karena aku mau bantu, sampai sekarang aku harusnya masih temenan sama Imarine.


Wajahnya kala itu sedikit kesal melihatku, gelombang emosinya juga sedikit bergetar layaknya ingin memukulku atau ingin berteriak kecil. Tapi, tidak bisa, dia tetap bisu. Sebagai gantinya, ada rasa pedas sedikit, sesuatu yang dia ekspresikan dengan getar tangan dan cengkeram kuat.


“Ah ... baiklah. Aku senang tahu jawaban itu dari kamu.”


Tentu saja!!


Tulisnya kembali dengan cepat, tegas, dan sambil membuat tekuk alis mengerutkan dahinya.


Hampir saja aku berpikir kalau Amalia hanya memanfaatkan semua ini. Mungkin memang benar aku yang diam tanpa tugas juga tidak baik, tapi berharap untuk orang-orang sekitar mendapat masalah juga adalah keburukan bagiku. Dokter mungkin membantu pengobatan, tapi ketika sepi dia tidak selayaknya berharap banyak orang sakit.


Memperlakukan Imarine untuk diisap mana-nya lagi setelah keadaan ini meredup menurutku tidak etis. Layaknya sapi perah yang dikawini berulang demi diambil susunya berulang pula. Ini seperti membantu demi upah.


Amalia sepertinya tidak demikian, dia juga masih punya sisi kemanusiaan kuat di mana mengutamakan keselamatan sebelum upah yang didapat. Kekesalannya murni, dia ingin mengatakan keras karena kalimat burukku yang sempat-sempatnya berpikir demikian di saat genting.


****


Kemampuan gelombang emosi bukanlah kekuatan yang sembarangan. Keberadaan dari kekuatan ini sebenarnya bentuk tebal dari efek dasar manusia. Pada dasarnya, emosi manusia memang sudah alami bisa saling menular. Senang, sedih, marah, atau apapun itu ... mereka semua bisa menyebar hanya dengan saling berdekatan dengan sumber emosi tersebut.


Lalu, tentang depresi dan bunuh diri. Sebenarnya itu juga adalah ketidakstabilan mental di mana orang yang berpikir seperti itu punya masalah berat. Tentang kekhawatiranku pada Imarine sekarang, bisa saja emosi tersebut menular padanya.


Azarin dan Imarine adalah teman dekat sejak kecil, aku takut kalau kesedihan tersebut menular hingga akhirnya keadaan buruk ini menyebar. Bahkan, untuk orang yang berakal sehat, pikiran tentang keinginan bunuh diri bisa muncul saat keadaan memburuk begitu drastis.


Sekolah pun berakhir, aku dan Amalia sekarang mengarah lurus ke arah rumah Pero layaknya rutinitas biasa. Tapi, tujuan utama kami sekarang bukan untuk kembali melanjutkan kegiatan kemarin, melainkan meminta izin untuk berganti fokus pada Imarine hari ini.


Perjalanan tidak terlalu lama, mungkin karena fokusku pada kecepatan berjalan dan mengabaikan waktu saat berjalan. Lalu, setelah sampai, di sana kami pun berhadapan dengan Pero, dia dengan bentuk manusianya sudah siap mendengarkan seluruh laporan yang terjadi hari ini.


Aku kembali mengambil alih untuk menjelaskan, tentang masalah prioritas dan hal yang mungkin menjadi masalah baru jika tidak dipecahkan secara cepat. Imarine sama tidak stabilnya dengan Azarin, dia mungkin punya rasa stres yang sama dan jika tidak ditangani dengan tepat, akan ada berita buruk susulan.


“Jadi, kamu mau mengabaikan penyusup itu sekarang dan pergi ke rumah gadis bernama Imarine itu?”


“...”


“...”


Aku mengangguk pelan ... dan dapat kurasakan Amalia juga ikut mengangguk lebih pelan lagi dariku. Entah kenapa rasanya si siluman gagak ini lebih bernuansa superior dengan tubuh wanita dewasa.


“Sebenarnya aku cukup kecewa ketika kamu tidak menganggap kasusku lebih serius dengan kasus yang kamu bawa. Terlebih, aku adalah makhluk yang memandang sebuah kontrak perjanjian sebagai sumpah. Tapi, baiklah ... aku tidak akan egois.”


“Huft ... hah ...,” hela napasku yang entah kenapa seperti bebas dari cengkeraman kontrak siluman.


“Ekspresimu seperti bilang kalau aku mengizinkanmu.”


“Huh?” responsku refleks karena bingung.


“Tentu saja belum, sampai sekarang aku masih tidak melihat keuntungannya,” ucap Pero yang melanjutkan percakapan dengan nada menekan. “Sebelum aku bilang ‘iya’, coba katakan alasan kenapa aku harus mengabaikan kasusku sekarang?”


Eh?

__ADS_1


Rasa merinding datang, pundakku sedikit bergidik, apa yang kuhadapi layaknya seorang penanya tegas di wawancara yang dengan kuat ingin menguji mental.


“Bu-bukannya aku sudah jelasin barusan?” jawabku menimpalinya dengan pertanyaan, serasa di pikiranku tidak ada sesuatu lagi untuk diberikan.


“Iya, kamu sudah menjelaskannya. Tentang berita kasus kematian dugaan bunuh diri, tentang kekhawatiranmu terhadap gadis bernama Imarine. Aku juga di sini sedikit berterima kasih karena menjadi client Amalia sebelumnya. Tapi,” ucap Pero dengan jeda sedang, bernapas sekali dan akhirnya melanjut, “aku juga punya alasan sama. Kita sudah memutuskan kalau penyusup itu berbahaya, mengisap mana secara paksa dan menyebarkan kematian. Dalam kasusku, nyawa manusia adalah dalam bahaya.”


“...”


Ah ... aku hampir lupa.


Di hari sebelumnya, memang benar kalau kami sempat menarik kesimpulan tersebut. Si penyusup akan mencari orang yang memiliki riwayat sakit untuk menjadi korbannya, entah itu karena pembiasan jejak atau karena syarat ritualnya sendiri.


Getar emosi, kekhawatiran pribadiku terhadap teman, dan segala perasaan negatif lain membuat kepala menjadi kosong.


“Aku ... tujuanku melihat Ima ... aku mau memastikan dia sehat. Dalam keadaan ini, mentalnya mungkin akan terusik. Satu kondisi, bisa saja emosi sekitar menular dan mungkin membuatnya terpikir untuk ikut bunuh diri.”


Perkataanku kala itu semakin cepat, keteganganku yang awalnya sedang menghadap pewawancara berubah menjadi lawan debat. Napasku semakin keras, nada bicara perlahan semakin tinggi, tindakanku yang dibantah serasa diejek layaknya tujuanku dianggap tidak penting.


“Mungkin ... iya,” ulang kata Pero. “Jadi, kamu menaruhkan nyawa gadis itu dalam bahaya sekarang?”


“Penyakit mental gak bisa dianggap remeh, emosi manusia juga cukup kompleks buat dijelasin. Yang penting, masalah ini serius. Tanpa penanganan, kesendiriannya akan berefek buruk. Waktu kita ngomong sekarang, sudah banyak waktu kebuang.”


Ini rasanya sakit, kekhawatiranku yang murni karena rasa simpati dianggap sepele. Itu yang kurasakan, setiap kata keluar selalu diartikan begitu oleh pikiranku. Menurut Pero, dia lebih mementingkan wilayahnya sekarang. Tidak tahu perasaan kami sebagai teman satu sekolah yang pernah bertatap muka menjadi nilai plus akan kemanusiaan.


“Gadis Imarine itu sudah jelas kasusnya. Dia menjadi saksi dan mungkin saja sudah diurusi polisi, seperti penjelasanmu barusan. Kamu tidak perlu ikut lagi, semua itu hanya bentuk paranoidmu. Dibanding kasusku, korbannya lebih luas, tidak tergapai oleh siapa pun, dan pelaku masih menebarkan sayapnya.”


“Iya, mereka juga gak kesentuh sama kita. Kasusmu gak jelas, pencarian kita juga belum pasti berujung jelas.”


Nada semakin tinggi, urat di wajahku mulai menegang, getar pita suaraku seakan memulai seraknya di tenggorokan.


“Membalas ketidakpastian dengan ketidakpastian. Pencarianmu terhadap gadis Imarine juga tidak pasti membuahkan hasil positif. Bisa saja dia tidak di rumah, bisa saja dia sudah diisolasi ke suatu tempat khusus.”


“Satu tempat jelas menjadi tujuan, kesempatan ini gak boleh hilang.”


“Satu tempat jelas juga milikku, waktu berjalan dan penyusup bisa saja hanya bergerak di rumah sakit malam ini, di kota ini— Ah?“


*Wave! Wave! Wave!


“...”


“...”


Tapi, semua itu berhenti ketika Amalia melambaikan tangannya di antara aku dan Pero.


Ketidaksanggupannya menghentikan pembicaraan kami dia luapkan menjadi ekspresi tubuh. Gadis tersebut layaknya melarang kami berseteru. Dia berlari mengganti posisi ke tengah-tengah kami, melompat-lompat kecil, lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil berekspresi keras dengan kerut di wajah.


“Hh ... hh ....”


Amalia ternyata menghabiskan cukup energi ketika melompat barusan. Napasnya terdengar keras dengan dadanya yang kembang kempis.


Sesaat aku ingin bertanya kondisinya yang kewalahan tersebut.


“...!?”


Tapi, ketika tanganku bergerak dan mulut ingin bertanya, gadis tersebut pun menarik catatannya dan mengarahkan tepat di depan wajahku. Sangat dekat, dengan tiba-tiba, hingga cukup kaget dan memundurkan wajahku beberapa senti.


Kenapa gak dua-duanya saja!?


Tulisnya di sana.


 

__ADS_1


 


__ADS_2