
Carilah siapa penguasa ekosistem. Dia yang bertugas menjaga Gerbang, dia yang memegang konsisten, dia yang tergantikan kepalanya. Bersama dia, dia menunjukkan kebenaran atas nama dewi yang memberikan anugerah.
Kalimat pertama, tentang penguasa ekosistem. Sebenarnya aku tidak mengerti kenapa Octa memberikan kalimat tersebut. Pada akhirnya, aku tidak menemukan penguasa ekosistem di dalam hutan ini. Justru, makhluk hidup yang benar-benar kutemukan terlihat mencolok hanya gajah tua dan monster besar bertubuh mirip seperti gorila.
Jika dilihat dari tempat kediaman monster tersebut yang begitu megah, aku anggap penguasa ekosistem di sana adalah si monster tersebut. Lagi pula, dengan kekuatan yang dimiliki sang monster, dia bisa membuat seluruh hewan takluk di hadapannya. Walaupun pada akhirnya hutan ini hanya sebatas hutan kosong.
Kalimat kedua, menunjukkan kalau sesuatu yang ditunjuk oleh teka-teki ini mengemban tugas khusus. Penjaga gerbang, memegang konsisten, dan tergantikan kepala, semuanya adalah kata di mana hal tersebut mendeskripsikan dengan detail.
Penjaga gerbang artinya tugas, jika dikatakan sebuah pekerjaan, itu berarti ada lowongan pekerjaan. Jika ada penjaga gerbang, itu artinya ada gerbang yang dijaga. Hutan ini tidak punya hal mewah yang bisa disebut gerbang, kecuali kuil pahatan di tebing batu tempat kediaman monster tersebut. Dia yang tidur di sana layaknya seorang satpam mendapat banyak kembali petunjuk.
Namun, satu kata sifat sangat bertentangan, yaitu yang tergantikan kepalanya. Dalam sebuah aturan kalimat, tergantikan itu artinya sebuah ketidaksengajaan dan bersifat lampau. Aku tidak tahu sejauh mana Octa memahami hal tersebut dan membentuk teka-teki ini. Tapi, petunjuk yang merujuk dan mendukung pendapatku ada di dunia ini.
Tulang mayat manusia bertubuh besar itu dilihat oleh tidak memiliki tengkorak. Dia mati tidak dikubur dan bersandar di tembok memegang kapak. Mati tanpa kepala sangat mungkin disebabkan oleh kecelakaan dari pihak kedua. Jika melihat petunjuk ini, bisa saja si mayat tersebut mati karena tugasnya menjaga gerbang.
Kalimat ketiga menunjukkan sebuah mimpi dan harapan, sebuah berkah dan sesuatu yang entah kenapa terdengar tidak nyata bagiku. Tapi, bukan berarti itu kalimat sia-sia. Hal tersebut sangat mendukung dengan dugaanku setelah kalimat kedua. Apa yang dibuat oleh Octa adalah sebuah rekap ulang legenda pendek yang pernah diceritakan padaku.
Jika melihat kondisi di hutan bersama seluruh faktornya, legenda hanya berjalan separuh. Lalu, aku di sini akan membantunya berjalan utuh.
"Kamu yakin, Ivan? Kamu mau ambil risiko ini?" tanya Farrel yang berdiri sebelum melakukan perpisahan.
"Heh, aku orang yang bisa selamat dari luka tangan kaki patah dan tikaman perut. Aku gak bakal mati semudah itu," jawabku dengan nada sombong.
"Itu menurutmu," kata Farrel yang lebih cenderung ke arah menangkap kalimatku netral. "Dari segi fisik, harusnya aku lebih cocok buat tugas itu."
"Enggak, Farrel," ucapku sambil menggeleng. "Dari segi pengalaman, tugasmu sudah paling cocok. Aku gak tahu medan hutan dan gak tahu cara manfaatin hutan. Kalau segi fisik, kita gak beda jauh, tapi pengalaman bersahabat sama alam, kamu jauh lebih jago."
"Iya, itu juga. Bukannya aku bisa lebih jago buat pancing monster itu?"
"Kamu mungkin ngira kalau tugas utama ada di aku. Tapi, sebenarnya tingkat keberhasilan itu ada di kamu buat penghambat si monster. Semua orang bisa jadi penggantiku sekarang."
__ADS_1
"Tetap saja, Ivan. Beban utama mungkin ada di aku, tapi risiko utama ada di kamu."
"Oke, cukup, Farrel," kataku sedikit tegas menutup percakapan. "Gak ada waktu lagi. Kalau kamu memang gak mau aku mati, buktiin itu pakai hasil kerjamu."
"..."
Farrel terdiam mendengar hal tersebut. Dia seperti ingin mengemban tugas lebih berat padanya, tapi di saat yang sama dia juga tahu kalau hal tersebut tidak mungkin berdasarkan kondisi. Menurut rencana, memang apa yang sudah kuputuskan adalah solusi paling efektif.
"Ivan," panggil Farrel sekali lagi setelah jeda. "Masih ada pilihan buat tunda rencana ini sampai besok."
"Enggak, kita gak bisa lama-lama di sini," kembali jawabku sambil menggeleng. "Aku bilang kalau hari ini bisa jadi hari terakhir. Tapi, satu aturan yang pasti, di dunia ini kita cuman bisa habisin waktu tujuh hari. Dilihat dari jumlah peserta dan aturan sifat si pembuat dunia, kayaknya habis ini juga masih ada game bodoh lagi. Heh,"
"..."
Farrel kembali diam sesaat.
"Oke, kalau gitu aku berangkat sekarang."
Di sana aku pun berbalik, mengarah ke tempat kediaman monster yang sedang tertidur, dan kemudian beralih kembali ke atas untuk melihat matahari. Walaupun masih tersisa cahayanya di langit, tapi warnanya sudah menjingga tanda ingin terbenam.
Oke, aku juga mungkin harus kerja sebisa mungkin sekarang.
Batinku sambil berjalan memulai rencana.
*****
Cahaya matahari memudar, di langit bahkan hanya tersisa warna biru kelabu tanda waktu terbenam telah tiba. Aku sekarang kembali berdiri sendiri, di depan kuil batu pahatan gunung tersebut sedang berhadapan langsung dengan sang monster.
Huft ... hah ... huft ... hah ....
__ADS_1
Atau, lebih tepatnya aku sedang melakukan pemanasan ringan. Dari pada berdiri tidak melakukan apa-apa, tubuhku lebih baik untuk terus digerakkan kecil agar tidak mendingin. Pasalnya, aku punya rencana untuk berlari lebih dari tiga kilometer di hutan hujan dengan medan yang sulit.
Untuk saat ini, semua persiapan dariku sudah selesai, aku menggunakan semua kemampuan yang aku punya untuk merangkai banyak perangkap sederhana. Sisanya adalah tentang bagaimana aku menjalani sentuhan akhir.
Tas dan seluruh barang bawaan yang berat dibawa oleh Farrel. Sekarang, pakaianku lebih ringan, peralatan sisa yang ada di tubuhku hanya kapak ringan di awal game dan pisau yang keduanya digantung menyatu dengan tubuh. Semua ini demi kemampuan berlari yang lebih cepat, kelincahan untuk mengubah gerakan di medan rumit adalah kunci dari ini semua. Walaupun kekuatan insting dari deteksi emosi kemarahan tidak dapat kugunakan sekarang. Tapi, aku harap sebagian dari tubuhku dapat mengingat sensasi tersebut.
Hmn ....
Aku melihat ke langit, sorotan cahaya dari matahari semakin redup. Bahkan, sekarang aku bisa melihat sisi matahari itu sedang tenggelam. Di ujung timur ini, pepohonan sedikit gundul karena kurang lembab. Lalu, dengan sisi tinggi dari gunung, terbenam matahari terlihat lebih cepat dari yang seharusnya.
Oke, sudah waktunya.
Sorot cahaya mulai habis, garis tegak lurus di mana sisa dari belahan matahari terus menggeser dan mengecil. Terus berlalu beberapa detik, hingga tiba pada saatnya aku bisa melihat matahari tersebut lenyap dari pandanganku.
*Wake up
"Ughkh ...!"
Di ujung tempat kuil pahatan batu itu berada, aku dapat melihat getarannya. Monster tersebut yang awalnya tidur tenang tanpa ada gerakan pun tiba-tiba mengeluarkan aura hebat. Matanya terbuka tegas secara sentak, geram berisik mulutnya menggelegar, dan tubuhnya yang secara bertahap masuk ke posisi siaga.
Dia di sana langsung mengarahkan pandangannya padaku, posisi berdiri tepat di hadapannya membuat dia juga tidak dapat menghindar. Kami di sana saling menatap, dan bahkan sudah tahu kalau pertandingan akan dimulai.
Heh, lihat saja, Octa. Monster ini masih dapat kukalahkan.
__ADS_1