
Ketika aku sampai di tempat yang seperti penginapan ini, seluruh pakaian untuk setiap orang berubah sesuai dengan perannya masing-masing. Tapi, dari perubahan tersebut aku masih membawa sabuk bergantung kapak yang sebelumnya diberikan. Hanya satu senjata itu dan memang sengaja diberikan dari awal.
Dari semua faktor, hanya kapak yang kami bawa yang dapat mematahkan latar belakang kisah misteri pembunuhan di penginapan ini. Jika setiap orang murni bertangan kosong, mungkin akan terbentuk nuansa asli dari kisah misteri ini. Tapi, semua itu tetap keputusan Octa, mungkin dia lebih mengutamakan keadilan setiap pemain sekarang.
Dari penjelasan Ann, Verdian yang sudah terkapar tidak bernyawa dan memainkan peran mayat pun ternyata masih mempunyai kapak tersebut diikat di pinggang. Semua orang yang memeriksa cukup keheranan, dan ternyata setelah mengecek kembali, memang seluruhnya punya kapak tersebut.
Tidak terkecuali Ann si gadis kecil. Hanya saja dia segera melepaskan kapak tersebut dari pinggangnya dan meletakkan di meja dapur ini karena tidak nyaman membawa barang berat.
Lalu, mendengar fakta tersebut apa yang aneh dari kepemilikan kapak di tubuh Verdian?
Ternyata, jawabannya adalah kapak tersebut tidak keluar dari sarungnya. Itu cukup tidak masuk akal, jika memang Verdian dibunuh oleh seseorang menggunakan kekerasan fisik. Setidaknya dia punya satu atau dua kesempatan membela diri dan mengeluarkan kapaknya. Tapi, hal tersebut tidak dilakukannya.
Aku sempat menanyakan, bisa saja itu adalah pembunuh dengan kematian seketika. Tubuh Verdian di keadaan mengenaskan kepala terpisah. Jika dia dibunuh dengan tebasan di kepala dari belakang, tentu tidak ada kesempatan untuk melawan sama sekali.
Namun, di sana Ann menggeleng dan tidak setuju dengan kemungkinan tersebut.
Memenggal kepala manusia ternyata hanya bisa dilakukan oleh profesional dan dengan senjata khusus. Bagian leher ternyata tidak serapuh itu, hanya orang yang punya kemampuan sekelas tentara perang zaman dahulu yang bisa melakukannya. Masuk akal jika pembunuhan dilatar belakangi abad pertengahan. Tapi, kali ini tidak, dari latar tempat dan pakaian para pemain, keduanya menunjukkan kalau kejadian ini terjadi pada zaman modern sekitar abad 19 atau 20.
Jika pun memang satu kemungkinan ada orang yang ahli punya kekuatan super untuk memenggal kepala manusia dengan sekali tebasan, orang tersebut masih perlu senjata yang cukup besar seperti pedang tajam dua tangan. Tapi, senjata yang ditinggalkan di dekat mayat adalah pisau dapur biasa. Tentu dengan alat itu hampir tidak mungkin untuk memenggal kepala manusia. Dari panjangnya, berat mata pisau, dan ketajamannya, dilihat dari mana pun itu hanya pisau biasa untuk memotong sayur, walaupun kali ini sudah bercecer darah terlihat dipakai untuk membunuh.
Jika dihitung secara kekuatan dan nalar. Bahkan kapak yang kami punya sebagai bekal utama juga tidak cukup untuk memenggal putus leher manusia secara sempurna dengan sekali tebas. Itu terbukti dan sudah dicoba oleh Hanz. Aku mungkin kembali tidak enak membahas pembunuhan tersebut, tapi topik pembicaraan kembali mengarah ke sana demi informasi.
__ADS_1
Hanz menggunakan kapak untuk membunuh tiga orang tersebut. Tapi, dia tidak sampai sanggup untuk menebas putus secara sempurna kepala masing-masing korbannya. Walaupun nadinya putus dan memancarkan darah, tapi tulang belakangnya masih bersisa hingga tetap menyambung.
Aku masih ingat, aku yang membereskan mayat tersebut mengumpulkannya di satu titik. Karena lehernya yang putus hanya bersisa tulang, aku harus ekstra hati-hati untuk memindahkannya di tempat yang lebih layak.
Tapi, itu semua cerita jika si penjahat memang menggunakan senjata pisau dapur yang ditinggalkan di mayat. Aku kembali bertanya, bisa saja senjata yang asli digunakan ternyata masih dibawa oleh sang pembunuh.
Ann pun menggeleng kedua kalinya, dia tetap kuat dengan pendirian.
Sejak tadi, aku sedang berhadapan tiga sudut dengan Hanz dan Ann. Tapi, karena Ann terus bicara di topik mengerikan ini, perasaan campur aduk terus bermunculan. Apa yang kualami mungkin mirip seperti Geza, melihat tubuh anak kecil di percakapan horor berdarah membuat dinding tersendiri, hanya saja Ann jauh lebih dewasa dan tenang dibandingkan Geza kala itu.
Mayat Verdian punya tempat kejadian perkara yang cenderung bersih. Menurut Ann, itu tidak mungkin, dan pernyataan tersebut juga diiyakan oleh Hanz. Mereka berdua menjelaskan kalau pembunuhan yang melibatkan penggal kepala seharusnya akan mengakibatkan cipratan darah yang jauh lebih banyak. Dari posisi mayatnya saja, setidaknya Hanz yakin akan ada bekas darah yang memancar mengotori meja, kursi, tembok, dan bahkan langit-langit.
Namun, kasus kali ini tidak demikian. Bekas darah dari mayat Verdian hanya tercecer dengan radius satu meter. Itu tidak mungkin terjadi jika kepalanya dipenggal dan pembuluh nadinya aktif memompa darah.
Ann pun menjelaskan. Luka di leher Verdian mungkin tersayat sempurna satu kali tebasan. Tapi, jika dikatakan kalau itu adalah penyebab kematian, rasanya kurang tepat. Kemungkinan besar pemenggalan kepala itu adalah sebuah trik mengecoh sang pelaku.
Selama aku bicara dengan Hanz di kebun belakang sebelumnya. Mereka semua ternyata sudah meneliti tubuh Verdian dengan teliti. Selain dipenggal, ternyata tubuh tersebut juga punya banyak bekas tikaman di dadanya. Jika dihitung, ada sekitar dua puluh tusukan di berbagai sisi paru-paru, lambung, dan bahkan jantungnya.
Mungkin bisa saja kami menyimpulkan dia mati karena ditikam berulang. Tapi, jika demikian, maka hal tersebut bertentangan dengan teori pertama kalau sebenarnya Verdian punya senjata yang tidak dipakai.
Aku kembali membahas tersebut, dan Ann juga menyetujuinya. Kemungkinan dia mati ditikam juga adalah sebuah pengalihan, setidaknya begitu menurut bukti yang dikumpulkan barusan. Luka tusukannya juga terlihat tidak terlalu parah berdarah, sama seperti kepala yang dipenggal, ceceran darah tidak terlalu berantakan.
__ADS_1
Penyelidikan selanjutnya hanya bisa dilanjutkan dengan autopsi. Ada kemungkinan kalau Verdian di sini dibunuh dengan racun. Lalu, si tubuh ditikam dan dipenggal secara manual sebagai pengecoh. Tapi, hal tersebut hanya sebuah jalan akhir karena tidak ada kesimpulan lain. Tidak ada bukti konkret, tidak ada yang bisa melakukan pemeriksaan bekas racun di tubuh korban sekarang. Jadi, semua itu hanya teori pelarian.
Laporan tentang mayat pun sudah selesai di sana. Untuk kabar tubuh Verdian sekarang, orang yang masih tersisa di ruang makan barusan melanjutkan kerja dan mengubur mayat seadanya di belakang satu tempat yang sedikit lebih jauh dari penginapan.
Percakapan itu hampir ditutup. Hanz di sana sudah puas mengangguk dan membiarkan Ann istirahat tidak perlu bicara lagi.
"Tunggu sebentar."
Tapi, aku di sana menghentikan penutupan tersebut. Semua rasa lega dan penutupan dibatalkan karena ucapku yang meminta lanjut.
"Hanz, dari cerita informasi barusan, menurutmu siapa yang jadi pelakunya?"
Lalu, aku melanjut bertanya ke topik terpenting yang terlewat di sana.
"..."
Suasana di sana sedikit mencekam. Hanz tidak menjawab langsung, aku melirik ke arah Ann juga dia tidak ingin menjawab. Beberapa detik sampai aku menemukan titik terang, akhirnya Hanz bernapas dan mulai memulai kalimat lagi.
"Dari semua bukti barusan, sepertinya hanya diriku yang bisa jadi pelakunya."
__ADS_1