Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 34 - Komunikasi Empat Sudut


__ADS_3

"Ivan," panggil Farrel menyambutku di ruangan tersebut. "Kamu dapat petunjuknya? Sekarang kita disuruh buat pilih partner dan pilih kamar masing-masing."


"Iya, aku dapat," jawabku tanpa ragu sambil berjalan mendekat.


"Ternyata memang bukan aku saja yang alamin kayak gitu."


"Hoo ... responsmu jauh lebih santai dari pada yang kukira," kataku sambil mengangkat sebelah alis.


"Aku punya alasanku sendiri. Apa yang kulihat dibandingin sama insiden berdarah barusan, ini gak ada apa-apanya," timpal Farrel sedikit memutar. "Lagian, Ivan. Bukannya kamu juga punya hutang pada orang-orang di sini?"


Aku memandang orang di sekitar. Memang benar kalau sebelumnya aku mengatakan sebuah kalimat di mana penjelasan akan diberikan tentang aku dan Hanz setelah berpindah ruangan. Jujur saja, sebenarnya aku tidak melihat informasi ini penting untuk kelangsungan dan keselamatan. Tapi, sisi lain untuk menenangkan diri, mungkin hal tersebut masih tergolong penting.


Satu dan dua orang semakin mendekat ke arahku, mereka berkumpul layaknya lingkaran. Semua seperti itu kecuali kak Dina dan Verdian. Sampai detik ini, mereka masih menjaga jarak denganku.


"Oke, aku bakal cerita. Hanz memang aku kenal, hubungan kami masih gak jelas, tapi satu hal yang penting kalau kami saling mengenal. Aku gak tahu, alasan dia datang ke sini bareng kita, mungkin alasannya sama kayak kalian yang kebawa paksa ke tempat ini gara-gara aku. Sampai saat ini, aku gak tahu apa yang dia bilang itu benar. Tapi, tiga orang yang barusan dia bunuh itu memang beneran aku gak kenal," jelasku pada orang-orang yang berkumpul di sana. "Sampai di sini apa masih ada yang mau ditanyain?"


*Raise


Di salah satu sisi ada Pero, dia mengangkat tangan layaknya sedang masuk dalam kegiatan belajar.


"Hn? Ah, iya. Ada apa, Pero?" jawabku yang kemudian disusul dengan turunnya tangan Pero.


"Sebelumnya dia pergi, aku lihat kalau dia menghilang berubah jadi transparan. Apa itu kekuatannya? Apa kamu tahu soal itu, Kaivan?" tanya Pero dengan detail.


"Iya, aku tahu," kataku sambil mengangguk kecil memejamkan mata sesaat. "Aku gak tahu dia penyihir atau animus. Tapi, aku yakin kekuatannya itu bikin dia menghilang sempurna. Beda kayak sebagian kekuatan Amalia. Punya dia jauh lebih kuat efeknya."


"Hmn ... kalau begitu kita sekarang dalam bahaya, Ivan," dengan nada merendah menurunkan semangat.


"Apa maksudnya?"


"Dia punya kekuatan menghilang, artinya kita tidak tahu kapan dia datang dan kapan dia kabur. Dia bisa bebas melakukan aksinya persis seperti insiden barusan."


"Ah ...."


*Whoush ....


Berbagai emosi negatif muncul. Ketakutan dan kecemasan, asam dan rasa dingin di mulut yang sedikit demi sedikit dijejalkan ke mulut mulai terasa menjijikkan.


"Mungkin benar katamu, Pero. Tapi, di sini aku masih coba percaya sama Hanz."


"Oh, jadi kalian sudah sedekat itu?"


"Kami gak sangat dekat, jumlah waktu temu kami masih lebih sebentar darimu. Namun, satu hal yang pasti, dia pernah selamatin aku dan gak pernah bohong."


"Hmn ... kalau kamu bilang begitu, aku tidak bisa membalas. Kemampuanmu membaca emosi tidak kuragukan sama sekali," jawab Pero mengangkat tangannya memundurkan diri.


"Ah, soal itu. Sebenarnya aku gak bisa tahu isi hati Hanz. Dia salah satu yang masuk dalam pengecualianku buat deteksi emosi."


Namun, di sana segera aku balik timpal dengan jawaban negatif. Hal yang sebelumnya terdengar meyakinkan kini berbalik menjadi rapuh tanpa bukti.


"Tunggu, lalu dari mana kamu bisa mengetahui kalau orang itu bisa dipercaya?"


"Maaf, Pero. Sekarang, kita gak punya pilihan selain percaya."


"..."


Semua terdiam, dari Amalia sampai ujung Farrel, mereka semua menikmati kesunyian atmosfer tersebut.


"Apa ada pertanyaan lagi?" tanyaku memastikan.


"Iya ...," ucap Farrel di sampingku menggaruk kepala sambil mengeluarkan nada panjang. "Sebenarnya aku masih punya banyak pertanyaan, Ivan. Cuman, kayaknya aku nanti saja tanya waktu berdua."


"Ah, maaf," ucapku yang mulai mengerti ekspresinya. "Kayaknya orang yang paling gak ngerti di sini itu kamu, iya, Farrel."


"Santai, masih banyak waktu."

__ADS_1


Jawaban dari Farrel yang pasif di sini dapat kuperkirakan. Seperti kondisinya di awal, dia adalah salah satu yang tidak mengetahui banyak hal tentang sihir. Jika aku menjelaskannya tanpa awal yang baik, itu hanya akan menambah rasa bingungnya.


Hal beruntung adalah dia termasuk temanku. Aku tahu kepribadiannya dan memang karena dia punya emosi stabil membuatku bisa nyaman. Bahkan, dengan semua perubahan ini, dia masih bertahan dan tidak menyiksaku dengan perasaan histeris layaknya orang yang ada di film horor.


Namun, dari semua itu, aku melihat Imarine dan Azarin yang lebih pasif dari Farrel. Ini membuatku penasaran dan sedikit bertanya dalam hati. Mungkin apa yang dikatakan Hanz tentang orang mati masih membuat mereka dalam keadaan rancu tidak ingin menerima keadaan. Biarpun begitu, aku tetap tidak berniat mengikuti langkah Hanz begitu saja.


"Oke, sekarang mau kita mulai saja? Mulai buat tentuin partner masing-masing?" tanyaku mengakhiri situasi sepi tersebut.


"Entahlah, Ivan. Kayaknya kamu kita gak usah tentuin kelompok. Semua yang di sini sudah punya pasangannya dari awal."


Aku melihat ke belakang, dan ke samping tempat di mana semua orang berdiri dengan masing-masing posisinya. Amalia berdekatan dengan Pero, Imarine berdekatan dengan Azarin, aku dengan Farrel, dan ....


"..."


Kak Dina dengan Verdian.


Aku tidak keberatan dengan tim tersebut, kalau mungkin bisa membuat partner dengan cepat dan diterima semua kalangan, memang seperti ini bentuk utamanya.


"Kak Dina," panggilku sambil mendekat.


Tapi, aku sedikit kesal ketika melihat kak Dina harus dipasangkan dengan pacarnya tersebut.


"Kakak yakin mau satu partner sama Verdian? Kalau kakak mau, kakak bisa sepasang sama aku—"


"Woi, apa maksudnya, ha!?"


Belum sempat aku dan kak Dina melakukan komunikasi, orang bernama Verdian masih bersikeras memisahkanku. Sepertinya dia masih menanam kuat dendam padaku akibat kekalahan telaknya kala itu.


Tubuh Verdian menghalangi wajah kak Dina dariku, dia memutus kontak mata kami dan memaksaku untuk berhadapan dengannya.


"Maksudnya apa ...? Heh, harusnya kamu juga sudah tahu alasannya, Verdian," jawabku dengan sinis menatapnya.


"Aku gak salah di sini, kamu yang salah. Kalau gak ada kamu, harusnya gak akan ada masalah. Lihat sekarang, kamu bawa kita semua ke tempat aneh saling jual nyawa. Memangnya minta maaf saja cukup, ha!?"


"Aku gak punya pilihan, kalau aku bisa pilih, aku juga gak bakal bawa kalian ke sini."


"Dan sampai sekarang kamu masih ngatur-ngatur sok benar."


"Di sini kita cuman perlu kerja sama."


"Aku gak bisa kerja sama ke orang yang menuduhku."


"Aku gak tuduh, aku cuman gak mau bikin taruhan yang bikin kak Dina luka lagi."


"Luka, kapan aku bikin dia luka!? Yang ada kamu sampai masukin dia ke sini buat saling bunuh—"


"Stop!"


*Push ....


Kak Dina mendorong kami, dua arah saling menjauhkan kami agar menghentikan adu mulut tersebut. Walaupun sedikit kesulitan, tapi dengan kekuatan kak Dina, dia bisa memaksaku dan Verdian mundur sekitar dua langkah.


"Kalian, kalian kayak anak kecil. Kalian bikin malu, tahu gak!?" ucap kak Dina sedikit menaikkan nada suaranya.


Pertengkaran tersebut sempat mengambil pusat perhatian. Orang lain di sekitar mulai berjalan mendatangiku secara perlahan.


"Iya, tenang, Kaivan," kata Pero sambil memegang pundakku. "Masih ada solusi untuk kalian berdua agar mendapat kesepakatan bersama."


Aku meredam emosi, berusaha berpikir logis dan menerima pendapat dari orang lain. Di sini Pero sepertinya adalah yang paling stabil. Walaupun dia tidak mengetahui hubunganku dengan Verdian, tapi arti apa yang aku lakukan tersampaikan padanya.


"Di sini ada enam kamar, Dari jumlah kita sekarang, masih mungkin dua orang punya kamar khusus sendirian masing-masing."


"Hn?"


Aku berpikir sesaat, menelaah maksud dari Pero di sana. Dari pada melanjutkan pertengkaran tidak jelas, aku pun memilih untuk mundur lagi sesuai kehendak sambil melihat ke sekeliling.

__ADS_1


Kalau tidak salah jumlah kami sekarang ada sembilan orang. Jika ada enam kamar dan masing-masing bisa diisi dua orang. Seharusnya jumlah tersebut mampu menampung dua belas orang. Bahkan, jika aku anggap Hanz dan partnernya mengambil satu kamar, ternyata memang cukup untuk dua kamar diisi hanya oleh satu orang.


Aku sempat mensyukuri hal tersebut. Tapi, semua ini berkat pembunuhan yang dilakukan Hanz di awal. Mengambil perasaan lega atas keadaan ini sedikit membuat perasaan bersalah, biarpun begitu aku tetap perlu mengambil sisi positif dari keadaan buruk tersebut.


"Hmn ... sebelumnya kita diminta buat pilih partner. Partner itu dipilih dan dijadiin teman sekamar. Apa ini gak langgar aturan buat pakai kamar sendiri—"


*Whoush ....


"Eh?"


Ingatan kembali muncul, entah kenapa perasaan ketika ingatan muncul sama layaknya gelombang emosi lewat di pikiranku. Mereka semua terasa di kulit dan lidah, hanya saja ingatan bersifat lebih ke arah hambar 'tak berasa.


Isi ingatan tersebut adalah tentang bolehnya memakai kamar untuk sendiri. Awalnya peserta yang berjumlah tiga belas di sini akan mengalami kelebihan jumlah untuk membagi kelompok dengan dua orang. Namun, kehadiran Hanz yang membunuh tiga orang di awal membuat keadaan ini jadi semacam pengecualian.


Peserta yang tidak mendapat kelompok tidak dapat melanjutkan permainan, dia cepat atau lambat akan mati dimakan oleh peraturan game. Karena sekarang jumlahnya berlebih, satu kelompok bisa mengambil tempat tidur terpisah sebagai alasan keamanan. Bahkan, itu juga bisa dilakukan di waktu mendatang.


"..."


Aku memegang kepala, sedikit mengelusnya dan berpikir sejenak sebelum akhirnya menggeser tatapan pada Pero.


"Kamu melihatnya, Ivan?" tanya Pero di sampingku.


Aku tidak langsung menjawab. Responsku di sana lebih dulu melihat sekeliling dan memastikan kalau reaksi yang serupa mereka tunjukkan. Lalu, benar saja, beberapa dari mereka juga mengalami hal serupa memegang kepala layaknya orang pusing. Sesuatu yang persis kualami ketika merasakan gelombang emosi.


"Iya, aku lihat," jawabku dengan tegas.


"Hmn ... setiap kita punya pertanyaan tentang dunia ini, ingatan itu selalu muncul menjawab pertanyaan. Sangat sulit bilang kalau ini hanya sebuah kebetulan."


"A-ah ... ini mungkin bukti, kayaknya kita masih diawasi dari jauh," ucapku sambil melihat langit-langit yang sebenarnya tidak ada apa pun di sana.


Ini cara yang unik untuk si pembuat dunia menyelesaikan masalah. Octa mengambil jalan pintas di mana dia tidak perlu datang berulang kali menjelaskan pada kami jika muncul pertanyaan mendadak. Tapi, di sini punya faktor lain di mana setiap pemain akan mengetahui semua peraturan tambahan dan trik kecil yang mungkin digunakan.


"..."


Atau ... memang belum bisa dipastikan. Ada kemungkinan Kalau ingatan tersebut akan berbeda setiap orang yang dituju. Dalam berbagai kondisi, aku masih penasaran bagaimana sang pion, yang manusia palsu ini mendapat ingatan.


"Baiklah, setidaknya masalah utama tentang moral kalian sudah selesai," ucap Pero yang menyimpulkan. "Atau, sampai sekarang kamu masih tidak mengizinkan kakakmu bersama dengan orang itu sampai akhir?"


"..."


Pero menatapku dengan tatapan jahil. Lalu, di saat yang sama aku merasakan tusuk-tusuk jarum gelombang emosi dan tatapan tajam dari Verdian.


Di tingkat ini, aku merasa bodoh untuk melanjutkan pertengkaran lebih jauh. Pero menggunakan nada memancing agar membuatku malu dan melukai harga diri. Dia bahkan sudah mengerti bagaimana cara memperlakukanku agar mengendalikan secara tidak langsung.


"Huft ... hah ...," hela napasku mengeluh. "Pasang saja kamarku dekat sama kak Dina," lalu lanjutku sambil pergi meninggalkan mereka.


Verdian tidak membalasku juga. Dia mungkin sadar kalau protes lebih jauh akan menghasilkan pertengkaran tidak berguna lagi. Walaupun tersisa ekspresi dan gelombang emosi kebencian, dia tetap mengalah dan menurut pada keputusan tersebut.


Aku mulai berkumpul dengan pemain lain. Imarine, Azarin, Farrel, dan Amalia ada di satu posisi, sedangkan Pero dia datang bersamaan denganku.


"Maaf soal tadi," ucapku sebagai ganti salam pada kelompok tersebut.


"..."


Di antara mereka tidak ada yang menjawab. Semua diam dan melihatku dengan perlahan datang mendekat.


Aku dapat merasakan gelombang emosinya. Hampir dari mereka sebenarnya sedikit tergerak dan penasaran dengan situasi barusan. Namun, tidak ada yang berani memutuskan untuk bertanya. Mereka lebih memilih diam, mengira kalau suasana akan lebih canggung untuk digali lebih lanjut.


"Kalau gitu, apa kita masih harus pastiin kelompok dua orang itu sekarang? Aku masih kira kalau kelompok sudah kebentuk. Aku sama Farrel, Imarine sama Azarin, terus Amalia ... kamu sama Pero. Ada yang keberatan?" ucapku menjelaskan pada mereka.


"..."


Mereka saling menatap partnernya masing-masing. Dengan pandangan saling meyakinkan, sepertinya memang tidak ada yang benar-benar menolak kelompok tersebut.


"Aku anggap itu sebagai jawaban positif. Jadi, sekarang kita mulai ke kamar masing-masing," ucapku yang mulai membubarkan diri. "Dan Farrel, kamu ke sini," lanjutku mengajaknya pergi."

__ADS_1


__ADS_2