
Aku tidak mengerti dengan perempuan. Terkadang mereka berbohong, terkadang mereka menipu, dan terkadang mereka berharap untuk sesuatu dari orang tanpa diberi tahu. Semua itu terlalu egois, memaksa semua orang mengerti dirimu, tapi mengabaikan satu hal kalau orang lain juga sama-sama manusia.
Tapi, itu hanya sebagian kecil dari perempuan. Terkadang ada sebagian dari mereka yang baik. Dengan ketulusan hati meminta maaf, dengan ketulusan hati berkata jujur, dan terkadang menilai dirinya sendiri terlalu banyak meminta. Entah kenapa seseorang yang jujur akan terlihat tulus, dan orang yang terus menuntut hak dimengerti terlihat murahan.
Aku tidak meminta untuk dikasihani, apa yang kudapat adalah hasil dari keputusan yang sudah dipilih. Tapi, Imarine mengabaikan hal itu, padahal untuk kondisinya sendiri dia sudah berat untuk dipikirkan.
“Sebenarnya kamu gak usah repot-repot pikirin itu, Ima,” kataku menenangkan. “Dari awal aku gak berharap apapun dari kamu.”
“...”
Imarine tidak menjawabku, dia memberiku pandangan datar lain yang berupa kebingungan. Tapi, itu hanya sekilas, karena perasaan yang lebih pekat tetap rasa kesedihan berkecambuk di hatinya.
“...”
“Apa kalimat kedua barusan harus banget kamu bilang?”
“Gak usah marah, aku bukan berarti beneran gak berharap apapun dari kamu. Lebih tepatnya aku gak berharap banyak dari siapapun di lingkunganku.”
Manusia saling memanfaatkan, aku tahu karena umur orang-orang di sekitarku masih ada di keadaan bodohnya. Mereka tidak matang, masih berpikir untuk melangkah maju dengan menjadikan orang lain pijakan. Tapi, tentu orang lain tidak mau jadi pijakan, jadi umumnya akan ada orang yang kecewa pada satu keadaan karena orang tertentu.
Aku adalah orang yang tidak berharap, aku tidak berniat penuh menjadikan orang pijakan dan tidak berharap penuh pula untuk berlari bersama saling gandengan. Apa yang kurasakan dari hubungan manusia lebih banyak sandiwara dari pada ketulusannya. Tapi, tentu tidak semua, aku hanya bicara tentang kebanyakan orang.
“Itu gak bikin aku marah, itu lebih bikin aku mikir kalau kamu orang yang gak punya perasaan,” jawab Imarine menukas ucapanku barusan.
“Aku punya perasaan, tapi perasaan itu lebih sering terlupakan karena kekuatanku. Aku gak punya banyak kesempatan merasakan perasaanku, orang di sekitar cenderung lebih berasa dari pada punyaku sendiri,” kataku menjelaskan sambil melihat ke atas, melihat langit selayaknya membayangkan bersama.
“...”
“Jadi, Ima. Kamu juga boleh meminjam bahuku buat nangis. Apa yang aku rasakan sudah jelas mau gimana pun kamu sembunyiin itu,” lalu aku melanjut sambil menengok ke arah gadis tersebut.
“...”
Iya, ekspresi sedih tergambar dari wajahnya. Semakin lama semakin meleleh dan larut dalam keadaan, kerut-kerut di dahi akibat urat yang tidak beraturan mulai jelas terbentuk. Aku bisa sedikit melihat kalau isak tangis hampir pecah saat tatapan kami bertemu.
“Enggak,” ucapnya sambil menggeleng.
Hn?
Tapi, ekspresi itu terhenti. Imarine seperti menolak perasaan itu timbul dan menolak pula menunjukkannya penuh di depanku. Ini seperti keinginan bersin yang ditahan, rasanya cukup tanggung karena aku bisa merasakan gelombang emosinya.
“Ada apa?” tanyaku dengan polos karena refleks.
“Maaf, tapi bukan berarti kamu salah. Kamu ... kamu cuman gak tahu perasaanku saja.”
Perasaanmu?
Aku yakin kalau deteksi emosiku sekarang tidak salah. Apa yang dia katakan juga adalah petunjuk besar kalau apa yang kukatakan adalah benar. Tapi, kenapa dia bilang kalau aku tidak tahu perasaannya?
“Bukannya kamu tahu aku punya kekuatan sihir?”
“Iya, perasaan tentang tahu perasaan orang lain, ‘kan?” ucapnya menjawab dan mengulang balik pertanyaan kepastian. “Tapi, kekuatanmu gak sempurna. Kamu tetap gak tahu perasaanku yang sebenarnya.”
Ah ... iya, benar.
Aku memang punya sesuatu untuk mengetahui hasil dari perasaan tersebut, gelombang emosi yang kurasakan dengan kulit dan mulutku bisa membedakan macam-macam emosi. Tapi, tentu itu hanya jawaban kasar, aku tetap tidak bisa membuktikan bagaimana perasaan itu muncul. Sesuatu yang bisa kulakukan hanya mencocok-cocokkan, satu hasil disambung ke satu kejadian, setidaknya itu lebih baik dari pada tidak punya petunjuk sama sekali.
__ADS_1
“Ima, jadi kamu membenciku sekarang?” tanyaku dengan nada turun merendahkan tubuh dan suara.
“Tentu saja, aku benci kamu dari awal.”
“Heh, kamu bahkan gak nahan diri waktu pertanyaan kayak gini,” ucapku dengan awal berdeham dan kembali menurunkan suara karena sedikit terpojok.
“Kamu gak pernah nahan diri waktu ngomong sama aku, dari awal kamu gak anggap aku cewek. Makanya aku juga kayak gini ke kamu.”
“Apa boleh buat, orang yang bilang gak dianggap cewek itu memukulku saat aku mencoba bicara.”
“Itu respons yang umum waktu kamu masuk paksa dan nyerang daerah privasi seseorang.”
“...”
“...”
Kami sedikit beradu mulut. Percakapan tersebut sudah cukup lama dan memberikan nostalgia ketika terjadi. Aku yang sembrono dengan tindakanku dan responsnya juga yang tidak kalah lurus membalas semua tindakan tidak sopanku.
Tapi, pada satu titik kami cepat berhenti. Keadaan itu membuatku ingat dengan sesuatu yang kulakukan pada Imarine dahulu. Sesuatu yang telah memberiku dosa kesalahan dan penyesalan karena melihat takdir di jalan yang begitu pedih sekarang.
“Maaf, Ima.”
Kali ini aku yang meminta maaf.
“Buat apa?”
“Tentang ... Azarin. Aku gak sanggup buat cegah semua ini terjadi. Kamu boleh benci aku sekarang, karena mungkin semua ini gak terjadi kalau aku gak ganggu hubungan kalian.”
“...”
Imarine menurunkan pandangannya, dia bereaksi cukup negatif, gelombang emosi atas pekatnya rasa sakit dan kesedihan dapat kurasakan lagi. Tapi, itu tidak terlalu parah seperti sebelumnya yang berbau sampah organik, apa yang kurasakan darinya masih cukup normal untuk tidak dikategorikan sebagai penyakit mental. Biarpun begitu, tetap perasaannya bukan hal yang pantas dibiarkan.
“Hn?”
“Huft ... hah ...,” hela napas Imarine sambil menaikkan wajahnya dan kembali menengadahkan kepalanya. “Dengar iya, Kaivan. Nasib Azarin itu bukan di tangan kamu, apa yang kamu lakukan benar, dan kamu gak usah minta maaf buat itu.”
“Entahlah ... kalau akhirnya dia menjadi seperti ini, aku gak yakin itu tindakan yang benar.”
Kematian tentu bukan hasil yang bagus. Bisa saja apa yang kulakukan hanya memberikan beban pribadi hingga dia tidak bisa melepaskannya, bisa saja apa yang kulakukan hanya membuat dia tertutup dan menyerah pada kehidupan secara diam-diam, bisa saja jika aku membiarkan pembullyan kala itu sesuai perintah Imarine akan menghasilkan hasil di mana mereka berdua bisa hidup.
“Keputusanmu sudah benar, yang salah mungkin aku. Waktu itu aku larang kamu buat ketemu Imarine. Itu mungkin kesalahan besar karena Arin punya mental yang rapuh, dia harusnya gak ditinggal sama penyelamatnya lebih cepat.”
“Penyelamat?” tanyaku mengulang kata memastikan.
“Maksudnya kamu, Ivan,” jawab Imarine dengan nada lesu. “Aku waktu itu minta kamu jangan ketemu Arin, mungkin itu yang jadi penyebabnya.”
“Bukannya itu permintaan dari Azarin?”
“Bukan, itu murni dariku,” jawabnya dengan tegas. “Arin gak tahu apa-apa soal itu, dan dia anggap kamu gak datang ke dia lagi karena memang keputusan kamu. Padahal, itu cuman aku yang egois.”
Aku sedikit terdiam, menganalisis apa yang diucap dari mulut Imarine barusan.
Aku sendiri bisa mendeteksi kebohongan, rasa ketika seseorang menyembunyikan atau berdalih dapat dideteksi mulutku. Tapi, aku tidak merasakan itu sekarang. Imarine jujur, setidaknya begitulah indraku bekerja. Tapi, jika dia jujur sekarang, itu artinya ada kontra dengan kejadian sebelumnya di mana dia berkata kalau aku harus menjauh dari Azarin. Aku mengira itu adalah murni dari permintaan Azarin dan tidak mendapat gelombang emosi dari kebohongan.
Tapi, bisa jadi aku sedikit ceroboh untuk mengabaikan atau lupa, yang lalu lupakan dan aku lebih fokus pada pembicaraan sekarang.
__ADS_1
“Ima, aku gak bisa lihat hubungan dari tindakan itu dan hasil buruk yang terjadi sekarang? Kenapa kamu sebut itu egois?”
“...”
“...”
Imarine menatapku dengan tatapan datar. Wajahnya seakan berkata kalau apa yang kutanyakan itu sangat mengesalkan, tapi secara bersamaan dia sadar kalau apa yang terucap di mulutku tidak benar-benar salah. Perasaan yang campur aduk, gelombang emosi yang kurasakan juga sedikit membingungkan. Rasa kesal dan marah tertutup bersamaan dengan khawatir dan kesedihan.
“Huft ... hah ...,” hela napas Imarine melepas lelahnya lagi. “Aku gak bisa kayak kamu, apa yang aku lakukan gak bikin Arin tenang dan bahagia. Aku gak bisa tahu isi hatinya yang asli. Ujung-ujungnya, aku cuman paksa dia berbahagia, pakai topeng setiap hari. Jadi, kamu gak salah soal Arin. Kamu sudah ada, aku yang paksa kamu hilang.”
“...”
“Kamu mungkin mikir kalau kesalahanmu itu karena gak bisa cegah hal ini. Tapi, aku gak salahin kamu sama sekali. Justru kesedihanku sekarang gak ada hubungannya lagi sama Arin. Kesedihanku sekarang sedih karena kamu gak tahu alasan aku sedih.”
Tidak tahu ...?
Aku mulai mengerti apa pembicaraan tersebut. Kejadian ini mirip seperti ketika aku berhadapan dengan Geza. Berapa kali pun aku bilang mengerti, dia tetap tidak menerimanya. Ketika aku bilang mengerti, dia malah berbalik marah. Kemarahannya ada karena dia berpikir kalau aku tidak mengerti. Tapi, melihat respons Imarine yang sekarang, bukan berarti aku mendapat inti percakapannya.
“Aku malah jadi gak ngerti kamu mau ngomong apa. Maaf ...,” ucapku merendahkan nada bicara.
“Gak apa-apa. Mungkin cuman Amalia yang ngerti perasaanku sekarang. Kamu sama kekuatan kamu bukan berarti bisa mengerti semua orang. Waktu aku dengar kabar kamu ke rumah sakit, aku mulai takut, takut karena kesedihanku akan berlanjut lagi. Tapi, kamu yang datang dan mau minta maaf sekarang malah bikin aku kesal.”
“Maaf ....”
“...”
*Whoush ....
Gelombang emosi.
Iya, jelas sekali kekesalannya ketika aku mengucapkan kata maaf.
Aku tidak bermaksud membuatnya kesal barusan, apa yang keluar dari mulutku berniat tulus untuk memohon keringanan dari kekuranganku. Tapi, aku juga sadar kalau apa yang kulakukan barusan sangat mengesalkan. Nilai maaf yang keluar tidak membentuk harga yang bagus, sesuatu yang diterimanya dianggap sebagai ocehan. Tanpa sadar, aku juga melakukan respons yang sama yang pernah Amalia lakukan padaku.
“Huft ... hah ...,” hela napas Imarine, kali ini bertujuan menenangkan emosinya. Gadis itu mulai berdiri membereskan barang-barangnya bersiap pergi menjauh dariku. “Intinya, aku gak marah sama kamu, aku gak naruh dendam sama kamu, atau aku gak berpikir kalau semua ini salah kamu. Justru, waktu aku tahu kamu dapat luka parah, aku lebih khawatir dan berharap kamu bisa berhenti dari kegiatan sihir Amalia.”
“Kalau aku berhenti, itu artinya Amalia bakal pergi sendiri. Aku gak bisa tinggalin dia gitu saja.”
“Iya, aku tahu itu. Kamu gak akan berhenti bantu Amalia, makanya sebelumnya aku minta Amalia buat berhenti langsung, bukan buat suruh kamu berhenti. Kalau Amalia berhenti, kamu juga akan berhenti. Tapi ....”
“Tapi, gak mungkin semudah itu berhenti.”
“...”
Tentu saja, aku tahu jawaban dari permohonan tersebut. Amalia terikat kontrak dengan siluman gagak itu. Dia ada di kondisi di mana dirinya perlu menanggung apa yang telah diputuskan. Kekuatan sihir bukan sesuatu yang enteng layaknya game di mana ada save, continue, dan restart. Dunia nyata telah dia taruh pada sebuah batas, dia tidak bisa melanggar kontrak yang tentu bisa memberinya sebuah hukuman. Jika aku meninggalkannya sekarang, aku malah tidak bisa tenang memikirkan nasib gadis tersebut.
“Maaf,” ucapku sekali lagi dengan nada tulus merendahkan suara.
“Tch,” tapi dibalas Imarine dengan decak lidah sinis. “Terserah kamu mau apa. Kamu bebas, aku gak berhak atur kehidupan kamu. Tapi ....”
“...”
Imarine sedikit memberi jeda. Beres-beres barang di mana dirinya siap untuk pergi tertahan sebentar, dia berdiri dan membelakangiku sekitar dua langkah sebelum akhirnya melanjut bicara.
“Tolong, jangan bikin dirimu terbunuh.”
__ADS_1
“...”
*Step, step, step ....