Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 38 - Pengejaran


__ADS_3

"... RWaAAaaAAAAwhgGfht ...!!"


Suara keras monster itu membangkitkan kami, dari tidur ke posisi berdiri dengan siaga. Atmosfer mulai berat, tekanan dan getar gemuruh di sekeliling bermunculan setiap detiknya.


Kami berdua berdiri saling memunggungi, berjaga dengan melihat ke sekeliling menjaga arah masing-masing. Kegelapan malam ini membuat aku dan Farrel tidak dapat melihat jelas. Namun, mata manusia bisa membiasakan diri dengan penerangan rendah karena bentuk corong matanya. Jadi, di kegelapan tersebut mata kami masih bisa melihat buram.


"Farrel, kamu tahu suara hewan apa barusan?" tanyaku sambil menyipitkan mata tanpa menurunkan konsentrasi mengawasi.


"Kedengarannya kayak beruang, tapi volumenya setara singa. Yang jelas bukan dari serigala," jawab Farrel dengan suara pelan posisi siaga.


"Singa gak hidup di hutan kayak gini. Kalaupun ada, gak mungkin dia muncul malam hari," ucapku menimpali pembicaraan Farrel.


"Iya, benar. Tapi, kecil kemungkinan itu dari beruang. Binatang itu memang bahaya dan bisa ganas, tapi lebih sering menghindar dan cuman melawan waktu anaknya terancam."


"Artinya masih gak jelas, iya."


Dugkh dugkh, dukgh ....


Dentuman keras menggetarkan tanah. Suara dan efek getarnya terasa layaknya gempa lokal. Mengetahui ini, dapat diperkirakan kalau makhluk yang mendekat punya ukuran yang besar.


Aku secara perlahan maju, mengambil barang-barang di tas gendong agar nanti tidak meninggalkan barang berharga. Dengan pengawasan Farrel, aku di sana mencari senter untuk penerangan di gelap malam.


Aku mungkin merasakan suara langkah kaki raksasa di jarak yang dekat. Tapi, aku yakin kalau langkah kaki tersebut bukan berarti berjalan lurus menuju tempat kami. Makhluk tersebut bukan seperti sudah menemukan kita, dia hanya berkeliling melakukan urusannya dan kebetulan lewat di tempat kami.


Raungan barusan terdengar seperti dia marah, tapi setelahnya tidak ada gerak agresif dari makhluk tersebut untuk menerjang dan membabi buta lingkungan. Kurasa, dia hanya melakukan itu sebagai insting saja.


"Sip, ada," gumamku mengambil senter di tas dan bersamaan membawa tas itu untuk digendong.


"Oke, kamu siap, Ivan?"


"Iya, aku siap," jawabku menghadap ke arah Farrel sebari mengangguk. "Tempat ini sudah gak aman."


Aku pun di sana menunduk, berkata demikian sambil menyalakan senter untuk penerangan.


"Woi, bodoh! Jangan nyalain senter!" ucap Farrel dengan urat tetapi menahan volume suaranya.


"Eh?"


*Switch

__ADS_1


Aku tidak punya respons cepat untuk mengikuti perintah Farrel. Keputusan untuk menyalakan senter juga awalnya murni keputusanku. Karena sebelumnya dia bilang kalau malam sangat berbahaya untuk penelusuran akibat kemungkinan terperosok, aku pun berinisiatif menggunakan penerangan.


Namun ....


*Glance


"Hh!?"


Cahaya terang dari senter membuat posisi kami begitu mencolok. Sorot senter berkualitas itu bahkan setara dengan lampu lima puluh lima watt. Jadi, tepat ketika aku menggeser tombol on, gerak dan tatapan mata tajam dari satu sudut menusukku. Matanya begitu tajam, besar, dan berkilau di kegelapan malam. Dari arah dataran tinggi, menghampiri sumber cahaya, hingga akhirnya posisiku diketahuinya.


"RWaAAaAaAAafFgh ...!!"


Suara tersebut berasal dari monster. Refleksku membuat aku dan si monster sempat bertatapan. Dia memiliki tubuh besar dengan tinggi lebih dari tiga meter, bentuk tangan yang besar hingga hampir menyentuh tanah, dan wajah gorila bertaring besar. Jika disimpulkan, wujudnya lebih mirip seperti bentuk monster ... Ogre?


Farrel di sana mengambil langkah cepat, dia yang sadar posisi monster tersebut pun langsung berlari ke arah berlawanan.


"Hn?"


Akan tetapi, dia terhenti sejenak. Di ujung daerah sebelum memasuki hutan, lelaki itu berbalik dan sebelum melanjutkan tindak kaburnya.


"Woi, Ivan! Kamu ngapain? Lari, bodoh!"


Aku di sana sempat melamun, melihat bentuk monster tersebut secara detail karena penasaran. Pasalnya, makhluk itu tidak memiliki ciri-ciri layaknya hewan yang hidup di dunia pada umumnya. Walaupun kakinya lebih kecil dibanding tubuh bagian atas yang dipenuhi otot kekar, tapi dia dapat berdiri dengan dua kakinya itu.


"Hh!?"


"RwaAAauGH ...!!"


Bug, bug, bug, bug ....


Monster itu mulai bergerak, dia berlari mengejarku layaknya makhluk buas kelaparan. Bersama raungannya yang menyeramkan memekikkan telinga, aku juga bisa mendengar suara pohon-pohon ditebas olehnya untuk membuka jalan.


"Woah, hh, hh, hah ...!"


Dadaku mulai kembang kempis, adrenalin atas ketakutan dari penampakan monster kuat bringas membuat napas dan detak jantungku terpacu. Getar-getar tanah, suara batang pohon yang merekah, dan raungan dari monster itu terus membuat tubuhku diubah ke mode bertahan hidup.


Lariku di sana ringan, tapi penglihatanku sangat terbatas karena gelap malam. Untungnya di sana ada Farrel. Dia selama ini tidak jarang melakukan camping ketika melakukan hobinya mendaki gunung. Itu artinya, dia lebih tajam dalam insting berjalan di rerumputan hutan malam dibandingkan diriku, mengikutinya akan lebih efisien dari pada membuka jalan sendiri.


Farrel berlari ke arah yang aku tidak tahu tujuannya. Dia dengan lincah berlari melewati akar pohon, bermanuver di medan acak bebatuan, dan bahkan melakukan lompat tinggi untuk menghindari rintang lain.

__ADS_1


Di tempat tersebut bukan hanya ada pohon besar, tetapi semak dan tanaman hijau kecil tanpa kayu juga mengganggu. Beberapa kali daun-daun dari semak dan ranting kecil mengait ke pakaian mengganggu phase lariku.


Bahkan ....


"Ivan, awas!"


"Hn?"


*Smack


"Ghkah!?"


Dari balik tubuh Farrel, tiba-tiba saja muncul batang pohon pendek yang menampar keras ke arah muka. Batang tersebut layaknya tumbuh menyamping menghalangi jalan Farrel. Ketika lelaki itu membuka jalan, dia mendorong dan membengkokkan batang tersebut, lalu lanjut melepaskannya ketika dia sudah jauh menembus jalan.


Peringatan Farrel adalah untuk menghindar dari batang pohon tersebut. Efek dorongan yang dia lakukan menyebabkan gaya pegas di elastisitas batang kecil tersebut, membuat rasa sakitnya akan berlipat ganda ketika menampar wajah.


"Aahtf!"


Namun, sayang. Aku tidak dapat menyadari hal tersebut dan mendapat rasa sakit di muka.


Lariku mungkin terganggu karena tampar keras batang pohon itu, tapi aku tetap memaksakan berlari dengan menahan rasa sakit sambil memegangi wajah. Pohon tersebut telah menimbulkan sebelah mataku perih terpukul ringan. Jadi, aku sedang berusaha berlari mempertahankan phase dengan melihat sebelah mata.


"Woi, Ivan. Lari yang cepat!" teriak Farrel dari depan yang semakin lama semakin jauh.


Aku sedikit kesal, tapi juga tidak bisa protes karena mendengar langkah kaki raksasa tersebut semakin mendekat. Jadi, di tengah-tengah kesusahan, diriku berusaha menguatkan tenaga lari dan memacu kecepatan lebih kuat lagi.


*Trip


"Hh!?"


Bug.


Namun, di saat itu aku malah mengacaukannya. Kaki yang dipaksakan untuk berlari cepat malah tidak stabil, konsentrasi yang dipakai meningkatkan kecepatan malah berakhir dengan kecerobohan. Akar pohon yang menjadi medan utama tidak terlihat hingga menyebabkanku tersandung dan jatuh.


"RuWAaAahHH ...!!"


Raungan monster itu mendekat, aku bisa melihat setiap batang pohon yang dia robohkan bersama dengan perawakannya yang semakin jelas. Dia bisa melihatku, dan fokus menyergap lurus ke posisiku ketika melihat kakiku tersandung.


"I-Ivan!?" teriak Farrel dari kejauhan dan mencoba balik arah menyelamatkanku.

__ADS_1


 


 


__ADS_2