Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 15 - Alasan Dan Kerja Sama


__ADS_3

Jika diurut, ada satu sisi ruangan dengan kasur isolasi, satunya meja alat, satunya pintu masuk keluar, dan satunya adalah sisi tembok yang cenderung bersih dengan pintu menuju kamar mandi. Aku sendiri tidak bersandar ke tembok mana pun, berdiri di tengah ruangan membelakangi pasien dan menghadap anak kecil.


“Terima kasih telah memberiku kesempatan. Jika kamu mau mendengar, mungkin kamu akan sadar kalau apa yang kulakukan adalah tindakan yang benar,” kata si anak kecil yang sedang bersandar di tembok sambil melipatkan tangannya.


“...”


Aku tidak segera menjawab, reaksi yang lebih dulu timbul adalah berbalik ke belakang. Dengan suara yang cukup keras di suasana malam kami bicara, bisa saja membuat pasien di sini terganggu.


“Kamu khawatir dengan keadaannya?” tanya si anak kecil tersebut melihat tindakanku. “Tenang, dia tidak akan bangun sampai aku melepas sihirku ... begitu pun orang lain di sekitar, mereka akan menolak untuk datang ke sini sampai aku benar-benar selesai.”


“...”


Hmn ... jadi begitu cara kerjanya.


Obat bius dan pengalih perhatian. Aku belum tahu hal ini secara detail, tapi mungkin Amalia juga punya sistem yang sama. Itu jadi alasan yang masuk akal kenapa gadis tersebut tetap tersembunyi identitasnya. Ritual sihir yang mencolok dirasa dapat menjadi masalah utama.


Walaupun ... iya, aku masih tidak mengerti kenapa semua hal itu tidak bekerja padaku.


“Kamu ... siapa namamu?”


“Kaivan.”


“Kaivan ... huft ... hah ... namaku Geza. Kamu mungkin lihat kalau aku adalah anak kecil. Tapi, aku sebenarnya jauh lebih tua darimu. Jadi, hilangkan pikiran tentang anak kecil di kepalamu.”


Sebenarnya aku tidak sepenuhnya percaya, dari bentuk mana pun dia adalah anak kecil. Sama sekali bukan orang pendek yang telat pertumbuhan, kulit mulus dan bentuk tubuhnya persis sama selayaknya anak di umur sekolah dasar.


Tapi, jika ini tentang sihir yang setara di mana Pero bisa mengubah tubuhnya menjadi burung gagak dan wanita dewasa secara bergantian ... tidak ada pilihan selain percaya.


“Oke, aku bakal coba.”


“Sekarang aku mau jelaskan semuanya. Tapi, sebelum itu aku ingin tahu apa yang kamu tahu selama ini, tentang bagaimana kamu bisa melacakku dan informasi apa saja yang sudah bocor.”


“Aku harap kamu membantah apa yang kuduga. Sama kayak yang aku bilang barusan, kamu yang datang ke sini artinya mau bunuh pasien di sana.”


“Tidak, secara teknis kamu tidak salah.”


Iya, memang dugaan itu sudah kuat dari awal. Tanpa pemberitahuan dia, aku tetap mencurigai hal tersebut mengingat kehadirannya yang sama persis dengan taruhanku sekarang.


“Lalu, tentang tujuannya. Kalau ditanya kenapa kamu melakukan ini, aku cuman bisa bilang kalau kamu melakukannya demi mana. Aku gak tahu syarat ritual sihirmu, mungkin juga ada hubungannya dengan kematian acak dan pemilihan korban.”


“Ah ... ritual sihir, iya. Itu tidak salah, tapi secara bersamaan juga tidak sepenuhnya benar,” kata si anak kecil tersebut dengan sombong mengangguk-angguk karena sadar akan celah kesalahan dari kalimatku. “Baiklah, lanjut saja. Terutama tentang caramu menemukanku di sini.”


“Caraku ... caraku sebenarnya gak ada yang spesial. Aku cuman ikutin jejak dari kekacauan yang kamu bikin, gak ada yang lain.”


“Hmn ... hanya itu?” tanya anak tersebut sedikit ragu. “Padahal aku sedikit berharap mendapat jawaban hebat. Mengingat baru kali ini aku terdeteksi oleh orang lain.”


“Gak ada yang spesial, aku cuman datang di waktu di mana memang sudah saatnya kamu tertangkap. Cepat atau lambat, manusia di luar sana akan sadar dengan semua jejak yang kamu bikin.”


Aku sendiri menolak untuk memberitahukan kekuatanku padanya. Jika dia tidak memberi tahuku, informasi tersebut tidak selayaknya diberikan begitu saja. Memang benar terlihat kalau dia tidak menghunuskan senjatanya padaku, tapi bukan berarti aku harus lengah. Semakin sedikit kelemahan yang musuhmu tahu, semakin tinggi kemungkinan kamu bisa bernegosiasi dengannya.


Di sini aku juga masih menjaga konsentrasi, kesadaranku sedikit diuji akibat gelombang emosi yang membusuk di ruangan tersebut. Rasanya sedikit mirip dengan ritual sihir milik Amalia, lingkungan di sekitar layaknya bergerak keras layaknya gelombang emosi membentuk badai tersendiri.


“Baiklah ... aku anggap ini adalah kecerobohanku. Mungkin karena sudah terlalu lama melakukan hal ini, tanganku sedikit tergelincir hingga sempat lalai menimbulkan bekas.”

__ADS_1


Sampai sekarang aku tidak merasakan sebuah perasaan di mana si anak ini menyesal atas perbuatannya. Sikapnya mengatur nada bicara, sikapnya ketika mengatur alur pandang padaku, dan sikapnya dengan gerak tubuh dan tangannya, dari semua itu dia masih berlagak layaknya aku ada di bawahnya.


“Apa kamu tahu, apa yang kamu lakukan ini sebuah tindak kriminal,” kataku dengan nada sedikit kesal.


“Tidak apa, kamu dan semua orang lain pasti akan melihat begitu pada awalnya. Aku tidak menolak, aku juga tidak akan menyalahkanmu karenanya. Hanya saja, aku akan kecewa jika kamu berhenti di keputusanmu sekarang.”


“Huh? Apa maksudnya?” kembali tanyaku dengan nada serak. “Kamu mau bilang kalau pembunuhan atas pengambilan mana itu tindakan yang benar?”


“Benar ... salah ... itu semua tergantung sudut pandang,” katanya sambil memainkan pandangan. “Kamu menimpuk batu ke arah kepala orang, itu bisa salah. Tapi, kalau kamu menimpuk pencuri yang sedang kabur, itu bisa benar. Tidak ada yang benar-benar salah, tidak ada yang seratus persen benar. Semuanya ... berubah-ubah.”


“Jadi, kamu mau bilang kalau pembunuhan demi tumbal sihir itu benar?”


“Kaivan ... aku tidak melakukan pembunuhan,” jawabnya sambil meninggikan suara santai membantah ringan. “Aku hanya penyihir ... penyihir yang mengabulkan permintaan. Jika permintaan itu adalah kematian, maka itulah yang akan aku berikan. Lalu, soal ritual sihir, hal itu bukan tujuan utama ... kamu juga tahu ‘kan artinya?”


Dia menanyaiku lagi, percakapan kami lebih ramah walau sebenarnya punya topik yang berat. Semua mungkin bisa terasa lebih nyaman, yang membuat hal ini menjadi sesak adalah niat pembunuhan dan riwayat masa lalu si anak ini. Aku tidak mendengar secara jelas berapa jumlah orang yang dia bunuh. Tapi, dari percakapannya dia sendiri secara tidak langsung menyetujui semua tuduhanku.


Memang benar kalau Amalia sebagai penyihir datang pada manusia yang punya masalah, tapi tentu tidak secara gamblang. Gadis itu memilah kata-kata, memilah kondisi, melihat berbagai sudut pandang, lalu menimbang solusi terbaik untuk masalah tersebut ... setidaknya itulah yang kulakukan selama ini.


Jadi ....


“Aku masih gak bisa bilang kalau apa yang kamu lakukan itu kebenaran,” ucapku sambil menelaah.


“Ah ... tentu saja ... aku masih belum selesai menjelaskan. Pemberhentianku hanya ingin mendengar pendapatmu lebih lanjut.”


“Apa sekarang aku disogok sekarang? Apa kamu ingin kabur dariku setelah tertangkap seperti ini?”


“Aku tidak tahu bagaimana pandanganmu. Tapi, aku sama sekali tidak takut ... Kaivan. Kondisi di mana aku ingin kabur itu tidak ada. Jika aku mau, aku bisa saja memisahkan kepala dari badanmu sekarang.”


“Sudah kubilang, aku bukan pembunuh,” kembali ucap Geza meninggi dan menegaskan posisinya yang bukan penjahat. “Aku tidak akan membunuhmu jika kamu tidak menginginkannya, aku hanya membunuh jika benar-benar diperlukan. Jika kamu bertanya tentang alasan aku bicara sekarang, itu semua bukan aku ingin kamu membiarkanku kabur. Tapi, aku hanya ingin kamu mengerti dan mungkin bekerja sama.”


Bekerja ... sama ...?


Aku mengerutkan wajah, melihat anak tersebut layaknya pandangan jijik sekaligus bingung. Maksudku, apa dia serius ingin menyebarkan ideologinya tentang membenarkan pembunuhan?


“Kayaknya itu gak mungkin, apa yang aku ingin lakukan sekarang itu bikin kamu berhenti. Gak ada yang lain.”


“Kaivan ... Kaivan ... kenapa kamu begitu sempit?” tanyanya dengan nada layaknya merendahkan.


“...”


Anak tersebut mulai bergerak, dia mulai mengubah tumpuan berdiri yang awalnya ada di punggung. Dengan sedikit bahasa tubuh unik memijat lehernya, Geza si anak lelaki itu berjalan melewatiku, dapat kurasakan ujung kepalanya melewati sekitar dadaku di samping.


“Coba bayangkan, Kaivan. Jika kamu ada di posisi orang di sana. Dia punya kehidupan buruk, tersiksa oleh penyakitnya begitu lama, dengan modal tenaga medis yang sedikit, dia hanya punya kemungkinan sembuh di bawah lima persen,” kata Geza sambil melihat ke ranjang pasien yang sedang diisolasi.


“AIDS memang belum ada obatnya, tapi bukan berarti kita bisa gitu saja bunuh penderitanya,” jawabku dengan sinis sambil membalikkan tubuh, mengikuti arah pandangnya yang sedang menjelaskan.


“Dia sakit sangat parah ... dia sudah tidak meminta hidup, Kaivan,” katanya menegaskan. “Keluarganya sudah membuangnya, teman dan kekasihnya sudah takut akan kengerian penyakitnya. Akan tetapi, tenaga medis sudah tidak menjamin kesembuhannya.”


“...”


Geza mulai tersenyum, dia bereaksi positif ketika aku mulai merespons dengan tampang negatif kalimatnya. Aku bisa merasakannya, walau gelombang emosi si orang sakit menyegak mengganggu, tapi perubahan gelombang emosi bisa lebih sensitif oleh indra deteksi emosiku.


Anak itu mulai berjalan, mengambil jalan menyamping lewat di hadapanku dari sisi kiri ke kanan. Bukan untuk meraih sesuatu, dia melakukan gerakan tersebut hanya karena tidak ingin berdiri diam.

__ADS_1


Pandang mataku mengikutinya. Dengan mata yang kendur ototnya, wajahku seakan ikut akan perkataannya yang secara keseluruhan tidak salah.


“Hidup lebih lama hanya menambah penderitaan, tapi kalian tetap memaksanya untuk hidup lebih lama. Apa tujuan kalian? Jika memang tidak bisa disembuhkan, untuk apa dia menderita lagi? Apa kamu dan orang-orang ini ingin melihatnya menderita lebih lama?”


“...”


“Kulitnya dipenuhi rasa perih dan gatal, perutnya selalu gemuruh rusak tidak bisa bekerja, bahkan setiap napasnya sudah terasa sakit dengan organ yang rusak. Lalu, kalian orang sehat yang tidak merasakan sakitnya dengan santai bilang, ‘tahanlah semua ini’? Apa kalian kira mereka akan menerimanya?”


Terus berjalan bulak-balik di hadapanku. Ujung kepalanya yang lewat di pandangan bawahku seakan merasakan sebuah hipnotis tersendiri. Perkataannya yang menusuk layaknya aku orang salah cukup rumit untuk kuterima.


“Ta-tapi, tetap saja semua ada obatnya. Separah apapun penyakit, dia punya kemungkinan buat sembuh.”


Ucapanku sedikit acak, kata-kata keluar begitu saja layaknya tidak senang karena kepercayaan tersebut dibantah oleh Geza. Tapi, kesulitan di mana aku tidak punya alasan bagus juga tidak berubah, pada akhirnya ucapan keluar tidak berdasar.


“Obat-obat tidak menyembuhkan penyakitnya, semua benda-benda di sini hanya menunda kematiannya. Padahal, jika dia mati lebih dulu, dia tidak perlu merasakan rasa sakit berlarut-larut. Apa kalian benar-benar menikmati pemandangan ini?”


“Bukan ... bukan itu, semua yang diberikan adalah bentuk perjuangan. Karena ... aku percaya gak ada orang yang mau mati di dunia ini. Dia sudah berjuang, semua sudah berjuang, tidak ada yang mau kematian.”


*Step!


Tiba-tiba saja langkah Geza si anak kecil ini berhenti, sentak sepatunya sangat keras di ruang sepi malam hari.


“...”


“...”


Aku di sana terbawa untuk diam, rasanya dia sedang melamun dan sedikit kesal dengan jawabanku barusan. Dari berbagai atmosfer yang datang, ada rasa pahit yang bercampur pedas di lidahku sekarang.


“Aha, ahaha, ahahaha ....”


“...”


Tapi, semua itu hancur tiba-tiba. Anak tersebut tertawa berat secara bertahap. Suaranya begitu mengerikan, atau bahkan cenderung menjijikkan karena dibawakan oleh anak kecil. Walaupun begitu, tekanan yang dia sampaikan cukup terasa.


“Hahah, Kaivan,” panggilnya yang sempat berdeham dan memalingkan wajahnya tepat ke arahku. “Apa kamu tahu cerita katak direbus?”


“Katak ... direbus?”


Aku tidak terlalu mendalami banyak cerita, tapi setidaknya pengetahuanku tentang dongeng-dongeng tidaklah dangkal. Dari mulai cerita terbentuknya gunung dari seorang anak yang menyukai ibunya sendiri, cerita seorang pria yang membangun seratus patung demi wanita impiannya, atau kisah seorang anak yang dikutuk jadi batu.


Dari sekian cerita, beberapa juga sedikit tersirat fabel kecil. Tapi, cerita tentang katak direbus sama sekali tidak lewat di kepalaku.


“Itu cerita sederhana. Menurutmu apa yang terjadi jika katak hidup ditaruh ke dalam air panas? Apa dia akan diam?”


“Katak bukan hewan yang tahan panas, jadi jelas dia akan kabur dan melompat dari air panas.”


“Iya, benar ... iya, itu normal. Semua makhluk hidup punya insting untuk mendeteksi bahayanya masing-masing dan kabur jika diperlukan,” ucapnya cukup riang layaknya telah dimengerti. “Tapi, Kaivan ... apa jadinya jika katak ditaruh di air dingin yang dipanaskan secara perlahan?”


“Hn? Perlahan?” ucap ulangku menelaah maksud pertanyaan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2