
Aku tahu kalau sekarang aku tidak punya harapan menang sama sekali. Seranganku mengenai kulitnya tidak terlalu berdampak, kulitnya mengeras dan dia bilang akan semakin mengeras. Jikalau ada keberuntungan serangan tersebut membuat luka, dia akan meregenerasi dengan cepat hitungan menit.
Pero bilang kalau kondisiku sekarang adalah sebuah keberuntungan. Geza yang memilihku sebagai lawan adalah kesalahan di mana si partner penyihir tersebut sang pria berpakaian pelayan tidak akan mampu mengalahkan Amalia.
Aku bisa melihat kalau pria berpakaian rapi pelayan dengan kacamata monocle itu tidak memiliki aura penyihir. Jika mengambil kesimpulan kalimat sebelumnya, dia memang animus. Lalu, ketika membandingkan kekuatan Amalia dan Pero, terdapat gap yang tinggi di antara mereka. Animus yang melakukan kontrak benar-benar melemah secara fisik.
Ayunan bilah tombak terus kuhindari, dari arah kanan, kiri, atas, bawah, horizontal, maupun menukik vertikal. Geza di sini benar-benar kuat. Bahkan, ketika aku menggunakan bahkan sekelas tiang beton fondasi rumah sakit, dia bisa menghancurkannya dengan mudah.
Aku hanya bisa berlari, menghindar darinya ke berbagai arah, dan memanfaat medan sempit di gedung rumah sakit. Berharap waktu yang aku buat cukup untuk membuat Amalia membantuku nanti. Jika aku kalah lebih dulu, maka Geza akan pergi membantu rekannya dan Amalia juga akan menyusulku kalah. Walaupun aku lebih percaya kalau Pero akan membawa Amalia kabur jika aku kalah di sini.
Kaivan.
Hn?
Aku mendengar telepati Pero lagi memanggilku.
"Hah ... hh ... ada apa?" tanyaku yang mulai memojok dan bersembunyi di salah balik dinding persimpangan lorong. "Apa ini sudah waktunya Amalia membantuku?" lalu tanyaku yang sudah kesal mendapat gangguan tanpa bantuan.
Tidak, aku hanya memperingatkanmu untuk tidak terlalu jauh pergi dari Lia. Aku akan kesulitan menjaga kestabilan sihirku jika terus seperti ini.
"Bisa jelasin pakai kata sederhana? Aku gak bisa pakai otakku sekarang," jawabku yang sedang terjepit tidak bisa berhenti bergerak untuk terus menghindar.
*Whoush ....
Gelombang emosi.
"HAHA!! Kaivan!"
Bugkh!!
Aku melompat dari tempat tersebut, hanya hitungan menit ternyata aku bisa ditemukan dengan mudah. Gelombang emosi kemarahan yang kurasakan juga memberiku isyarat serangan yang dia lakukan. Di saat yang sama, tombak tersebut juga menghantam keras daerah sekitar tempat diamku barusan, buyar menjadi keping-keping bangunan penuh batu dan debu.
"Hah ... hh ...."
Intinya, luka retak tulangmu akan kembali ke asalnya. Kamu akan kembali merasa sakit dan tubuhmu akan remuk ke keadaan normal.
Kembali suara Pero di tengah lariku.
"Kalau begitu aku harus kayak gimana? Datang ke dia dan bikin tulangku bengkok lagi?"
Kalau begitu coba ganti saja strateginya. Dari pada menyerang tubuhnya, kenapa tidak coba serang senjatanya? Kamu hanya perlu merusak senjatanya dan menunggu Lia selesai di sini.
"Merusak senjatanya? Senjata yang sepertinya sudah sekeras adamantite!?"
Adamantite hanya ada dalam fiksi.
__ADS_1
"Aku tahu! Pengibaratan! Aku cuman mengambil kata tersingkat untuk menghemat napasku—"
*Whoush ....
*Dug, dug ....
"Hh!?"
Aku melihat sekilas ke belakang, di saat itu juga tubuh Geza yang kecil itu sedang melompat dan melesat membawa tombak capitnya dan ingin mengempaskan senjatanya vertikal menukik ke bawah. Sangat berbahaya, menahannya akan berakhir dengan aku yang terpojokkan tertahan di lantai, dengan kata lain game over.
Jadi, mencoba pun menukik berbelok. Tapi, sisi yang kosong di lorong tersebut hanyalah bagian kiriku. Untuk beberapa kondisi, lariku sekarang terlalu merapat ke dinding kanan.
Memanfaatkan momentum lariku, aku pun menggunakan tumpuan kaki kanan dan melakukan tolakan.
*Break
"Ghkh!?"
Entah karena tumpuan yang terlalu keras atau gerakanku yang terlalu tiba-tiba, aku kembali merasakan kaki kananku bergeser ke arah yang tidak benar. Rasa sakit itu kembali dirasakan, kondisi di mana kakiku menjadi remuk.
Bug!!
Suara hantaman tombak capit Geza mengenai lantai.
Walaupun gerakan tersebut memberi luka, tapi tetap berhasil untuk membuatku menghindar dari serangan penyihir lobster tersebut.
"Hah ... hh ...," napasku terengah-engah kelelahan. "Woi, Pero. Dari awal kamu terus ngulang kalau Amalia bakal menang, memangnya dia sehebat itu?"
Dia tidak memberiku batas waktu yang jelas, dia tidak memberiku perkembangan pertarungan di sana. Sesuatu yang aku tahu hanya Pero bilang kalau gadis itu lebih kuat, tidak menyebut faktor penting lain seperti keahlian masing-masing petarung di sana. Padahal, dia memilih berdiam di tempat yang lebih dekat dengan Amalia dibanding denganku.
Lakukan saja tugasmu, aku selalu bisa mempertanggung jawabkan perkataanku.
"Tch," decak lidahku yang mengeluh sinis. "Kakiku patah lagi, apa aku sudah keluar zona sihirmu?" tanyaku memastikan.
Tidak sepenuhnya benar. Tapi, aku juga bisa tahu kakimu patah barusan, dan kejadian itu akan terus bertambah seiring kamu menjauh dariku.
Pastikan saja kamu tidak mati. Lalu, untuk pesan, cukup serang satu bagian lemah dari senjata tersebut berkali-kali. Tombak capitnya punya pola unik, pasti ada bagian tipis, bagian rapuh, atau bagian sendi yang mudah patah.
"..."
Aku ingin meminta siluman gagak tersebut mendekatiku. Tapi, aku juga tahu kalau dia akan menolak. Prioritasnya kembali lagi pada Amalia, bukan diriku. Mungkin bisa saja aku mengancamnya dengan keselamatan Amalia agar dia membantuku lebih banyak, tapi entah kenapa aku punya bayangan kalau hasilnya tidak akan baik.
"Kaivan ... Kaivan ... aku mulai bosan dengan petak umpet," ucap Geza dengan keras menggelegar ke seluruh sudut lorong rumah sakit tersebut. "Asal kamu tahu, aku yang sekarang bisa mencarimu lewat bau. Semakin lemah kondisimu, semakin jelas aku bisa merasakannya. Percuma saja ...."
"..."
__ADS_1
Ah ... aku hampir lupa, kemampuannya bukan hanya sekadar tombak capit dan kulit keras. Dari awal dia punya satu kekuatan, kekuatan untuk mendeteksi orang yang ingin bunuh diri itu sendiri. Kemampuan di mana manusia dalam keadaan lemah baik fisik dan mental untuk dia lacak lewat aroma. Jelas saja aku yang sudah kelelahan mulai masuk dalam kategorinya.
Aku yang mendengar itu pun mulai berdiri dari tempat persembunyian. Berjalan keluar dan menunjukkan diri ke hadapan Geza sekarang. Sekarang, kami berhadapan berjarak sekitar lima meter.
"Haha, tidak aku sangka kamu benar-benar berhenti lari."
"..."
Dalam berbagai keadaan, aku juga memang sudah tidak bisa. Selain karena kekuatan deteksinya padaku, terlalu dalam memasuki rumah sakit juga akan melemahkan bantuan sihir dari Pero. Itu artinya, memang tidak ada efek baik untuk terus kabur sekarang.
"Tapi, Kaivan. Sebelum aku membunuhmu, boleh aku tanya tentang tujuanmu sekarang?"
"Tujuan?"
"Aku punya mimpi di mana semua kematian akan lebih lembut rasanya. Rasa sakit penderitaan yang menahun tidak akan dirasakan lagi. Setiap kesedihan individu tersebut tidak perlu dilihat oleh makhluk hidup lain."
"Hah ... hh ...," napasku yang masih diatur karena kacau. "Kamu mau apa setelah dengar itu dariku?"
"Kamu bilang kamu bukan penyihir, gadis di luar yang penyihir. Itu artinya yang kamu lakukan bukan untuk dirimu, tapi untuk gadis itu. Apa tujuanmu? Kenapa kamu membantunya? Apa mimpimu juga sama dengan gadis itu? Jika kamu punya tujuan yang bagus, mungkin aku akan membawanya bersama setelah kematianmu."
Geza masih menganggap tindakannya baik. Dia percaya dengan apa yang dia percaya dan menganggap semua tindakannya benar. Pernyataan tentang benar dan salah terlalu bias. Jika dalam satu dua hal, pembangunan mentalnya terlihat seperti anak-anak, belum sepenuhnya matang.
"Gak usah repot, aku gak butuh bantuanmu terhadap mimpiku," ucapku dengan sinis.
"Haha, sepertinya kamu memang ingin mati dengan kekosongan. Aku tidak mengerti, dari mana kamu bilang kalau aku salah?"
"Harus berapa kali kubilang, kematian gak menyelesaikan masalah. Penyakit selamanya ada, dan kalau semua orang sakit dibunuh, manusia gak bisa berkembang."
"Aku sudah muak dengan kata-kata itu. Sesuatu yang aku tahu ada di atas itu! Kamu tidak mengerti kalau sebenarnya lebih banyak penderitaan di atas sebuah penyakit."
"Kamu yang menutup pikiranmu sendiri. Coba saja bayangkan jika keluargamu sakit dan menderita, apa kamu mau membunuhnya begitu saja?"
"..."
"..."
Responsnya mendadak berubah menjadi lambat. Tombak capit yang dia pegang dengan sigap beranjak turun, bilah ujung tajamnya yang menunjuk ke arahku perlahan mencium lantai di bawahnya. Tenaganya berkurang, dia termenung dalam satu pikiran dalam.
Ini memang satu pertanyaan jebakan. Ketika aku mencoba menganggap hidup orang lain tidak berguna, maka aku mencoba berpikir tentang hidupku sendiri. Ketika aku berpikir tindakan sia-sia untuk orang mengabdi pada orang yang tidak punya harapan hidup, aku kembali meletakkan sanak keluarga dan orang terdekatku menggantikannya.
Sesaat aku mengira kalau aku sudah bisa menyentuh hatinya. Tapi ....
"Hah, hahah, hahahahahaha ....!!"
*Whoush ....
__ADS_1
Eh?