
Jarak gedung sekolah yang mereka telusuri ternyata cukup jauh. Tapi, itu semua tidak terlalu lama sampai pada akhirnya berpisah. Aku tahu kedua dari mereka mengambil jurusan yang berbeda, itu artinya kecil kemungkinan mereka mendapat mata kuliah yang sama.
Ketika berpisah, aku ditanya oleh Hanz untuk memutuskan melanjutkan mengikuti yang mana, apakah mengikuti kak Dina atau si laki-laki pacarnya. Mengingat aku yang masih bergantung dengan kekuatan Hanz, tentu kami tidak bisa berpisah begitu saja.
Aku memutuskan untuk mengikuti kak Dina. Selain karena aku belum menemukan masalah utama, bisa saja penyebab kejanggalan memar di tubuhnya memang berasal dari faktor lain.
Ketika mereka berpisah, aku mengikuti kak Dina selayaknya seorang anak yang mengikuti ibunya. Untuk sementara, terkadang aku lupa kalau aku dalam pengintaian. Suasana yang nikmat dari lingkungan universitas rimbun membuatku menikmati ini sebagai tour singkat. Jujur saja aku juga masih anak SMA yang tidak mengetahui lingkungan perkuliahan seperti apa.
Keadaan cukup berat ketika kak Dina masuk ke lingkungan ramai seperti ruang kelas belajar. Campuran dari banyak gelombang emosi membuatku tidak bisa fokus terhadap perasaan kak Dina. Jadi, selama waktu itu aku lebih memperhatikan gerak-geriknya.
Selama sekolah dan dua mata kuliah aku masih tidak menemukan kejanggalan apa pun. Justru sesuatu yang kulihat hanyalah kegiatan normal seperti biasanya. Melihat ini aku sedikit lega dicampur khawatir, lega kalau masalah tidak terlalu hebat dilawan kak Dina, dan khawatir kalau apa yang kulakukan hanyalah kegiatan sia-sia.
Kak Dina memang tidak terlalu terkenal di dalam kelasnya. Tapi, teman-temannya memperlakukan dia selayaknya rekan yang bisa diandalkan.
Aku selama di kelas selalu diam tepat di belakangnya, sudah seperti arwah penjaga yang menjadi pengikut setia. Dari sini aku mendapat kalau perlakuan di lingkungannya cukup hangat. Orang lain bertanya, dia menjawab, orang lain bicara, dia terkadang diajak, dan ketika sang dosen bertanya, dia juga bisa mengikutinya dengan baik.
Mata kuliah pun berakhir, dia ada di waktu bebas dan membuatnya diam di salah satu taman bersama beberapa temannya. Ekspresinya memang tidak sebahagia yang lain, senyumnya memang tidak selebar teman-teman lain. Tapi, aku masih bisa merasakan kalau dia tidak terbebani dengan lingkungan ini.
Itu sebuah kesimpulan setelah aku mengamatinya, sampai aku ingat kalau jam tersebut adalah jam makan siang.
Untuk beberapa alasan aku mulai lapar, apalagi ketika sebagian besar dari teman kak Dina dan kak Dina itu sendiri sudah mulai membuka bekal masing-masing. Emosinya tentang membangkitkan nafsu makan menular padaku.
“Hanz, apa kamu lapar?” tanyaku pada lelaki yang masih memegang bahuku sampai sekarang.
“Aku baik-baik saja. Tapi, kalau kau menginginkannya, aku tidak keberatan,” jawabnya dengan lembut dengan sedikit senyum.
“Oke, kalau gitu aku beli sedikit— A-ah ....”
Aku tersadar dengan sesuatu, sekejap niatku untuk melangkah pergi terhenti dengan hambatan yang baru muncul tersebut.
“Ada masalah?” tanya Hanz padaku yang sadar dengan gerakku yang kaku.
“Aku lupa kalau aku masih pakai seragam sekolahku.”
“Apa itu masalah?”
“Masalah, untuk mental dan bisa jadi menjadi masalah besar,” jawabku sambil sedikit berpikir. “Mungkin ini cuman bikin rasa canggung dan malu waktu aku kelihatan. Tapi, kemungkinan terburuknya adalah aku ditanya sama beberapa orang dan jadi pusat perhatian sampai akhirnya ketahuan kalau aku penyusup.”
“Hmn ... apa wilayah universitas itu tempat yang sangat tertutup untuk dimasuki?”
“Aku belum tahu tepatnya, tapi memang lebih baik kalau aku gak sampai kelihatan sama orang-orang.”
Sebenarnya kemungkinan untuk diabaikan masih lebih tinggi dibandingkan dianggap sebagai penyusup. Aku tidak tahu dengan universitas lain, tapi sepertinya universitas yang kulihat sekarang memiliki wilayah yang cukup besar dan terbuka sangat luas. Aku tidak akan kaget jika ada satu atau orang asing yang tidak berhubungan dengan universitas secara langsung sedang berkeliaran di lingkungan ini.
__ADS_1
Namun, alasanku mengatakan hal tersebut adalah sebagai masalah pribadi di mana instingku sebagai introvert dan menghindari keramaian karena kembali lagi pada kekuatanku untuk deteksi emosi.
“Baiklah, aku mengerti jalan pembicaraan ini,” ucap Hanz di sampingku. “Intinya, kau ingin aku pergi membelikanku makanan, ‘kan?”
“Iya, di saat itu aku bakal diam di tempat yang gak kelihatan.”
“Un,” jawabnya mengangguk kecil dengan tatapan kosongnya. “Aku tidak keberatan sama sekali.”
Letak kantin di wilayah kampus itu cukup jauh dari tempatku berdiri sekarang. Jika aku pergi terlalu jauh dari kak Dina, bisa saja aku kehilangan jejak. Jadi, solusi terbaiknya adalah dengan aku yang tetap menjaga jarak di tempatku sekarang.
Aku memberi permintaan untuk dibelikan bekal makanan pada Hanz. Dalam keadaan terburuk, kak Dina bisa saja bergerak saat dia tidak ada. Di saat seperti itu, aku mungkin akan bergerak dan mengikutinya. Menurutku, Hanz punya insting kuat dan kemampuan hebat, jadi menghilang dan melangkah sedikit tetap akan membuat dia bisa menemukanku dengan kekuatannya.
Aku pun mulai bersembunyi di satu sudut, mengambil tempat strategis agar tidak terlihat tapi sekaligus bisa mengawasi kak Dina di tempat tongkrongannya. Tempat itu ada tersembunyi dan berdempetan dengan pohon yang tidak memiliki kursi sama sekali. Mungkin sedikit menyedihkan jika aku terlihat sedang berdiri di sini, tapi itu tidak masalah jika aku tidak terlihat.
Ketika semua sudah bagus, aku mulai memberi satu lembar uang dan menu roti untuk diberikan pada Hanz. Aku mungkin meminta membelikan saja sudah termasuk merepotkan, tapi kala itu aku ingin menambah satu permintaan demi keegoisanku.
“Kalau bisa, kamu cepat belinya.”
“Kau bisa mengandalkanku.”
*Shade
Hanz mulai menggunakan kekuatannya dan menghilang secara perlahan dari hadapanku. Selama ini aku yang ikut menghilang tidak melihatnya langsung, ternyata aku jadi ingat kalau lenyap menjadi bayangan itu cukup menegangkan untuk dilihat.
Huft ... hah ....
Waktu cepat berlalu di sana, roti yang dibawa oleh Hanz juga sudah dibagi dua untuk dimakan bersama. Kami menjalani waktu bersama, terus fokus dalam pengamatan tapi tetap tidak bisa menghasilkan.
Suasana di sana begitu damai, ini seperti aku adalah orang bodoh yang membuntuti orang bias. Sesuatu yang tersisa dan bisa kudalami hanya angin lembut dan daun coklat berjatuhan di bawah pohon tempatku mengamati.
Semua berjalan normal, hampir semua ... sampai akhirnya aku menemukan sesuatu yang janggal di sana.
*Whosuh ....
“Hn?”
Aku kala itu sedang fokus menghabiskan bekalku. Tapi, entah kenapa rasa di lidahku menjadi tidak enak. Roti isi saus dengan sosis yang seharusnya berasa gurih pedas malah menjadi menyengat pahit.
“Hnmg!?”
Awalnya aku panik karena hampir memuntahkan makanan tersebut. Tapi, dengan cepat aku meminum jus yang dibeli dan dibawa bersamaan oleh Hanz. Biarpun begitu, rasa jus apel tidak mempengaruhinya, aku tetap tersiksa dengan rasa pahit di mulut.
“Gluk, gluk— Hah ... hah ....”
__ADS_1
Ah ... iya, ini gelombang emosi.
Aku pun dengan segera membereskan makananku, melihat ke sekeliling dan seperti biasa mencari sumber gelombang emosi tersebut. Di sana aku tidak melihat sumber dari orang yang berkemungkinan khusus mengeluarkan gelombang emosi tersebut. Tapi, ketika aku menilik, ternyata suasana di sekitar sudah semakin ramai.
Hentak-hentak kaki berserakan, bisik-bisik orang mulai terdengar, dan beberapa pengumuman peringatan disebar. Mungkin jumlah orang di sini tidak terlalu banyak, berbeda dengan kasus ketika kematian Azarin di sekolah, kali ini jumlahnya masih renggang selayaknya jumlah kelompok satu ekstrakurikuler.
Dari keramaian yang terbentuk tersebut, aku mulai bisa melihat arah pusatnya. Lalu, ternyata itu sampai di kak Dina. Wanita itu ternyata sudah berpindah tempat beberapa meter dari tempat sebelumnya ketika aku fokus dengan makanan.
“Eh? Apa itu?”
Responsku sedikit bingung, pasalnya sekarang aku melihat sedikit bentrok dan pertengkaran di pusat keramaian itu. Mungkin aku akan mengabaikannya, biasa juga para lelaki hanya berkelahi oleh sesuatu yang spele. Tapi, kali ini tidak, di pusat pertengkaran itu ternyata ada kak Dina. Dia sedang adu mulut dengan lelaki pacarnya itu. Entah kapan laki-lakinya datang, tapi dia yang sekarang dalam posisi tidak senang memasang ekspresi penuh urat pada kakakku.
“Tch.”
Aku mendecakkan lidah, membuat keyakinan kuat untuk menghampirinya. Dari jarak yang lebih dari lima belas meter ini, gelombang emosi kemarahan tersebut akan menimbulkan dampak buruk.
“Tunggu, Kaivan.”
*Grip
“Hn!?”
Ketika aku ingin melangkah cepat menerjang pertengkaran tersebut. Aku merasakan cengkeraman kuat di bahu yang menarikku untuk maju.
“Ha-Hanz ....?”
Aku hampir melupakan kalau aku sekarang sedang dalam pengaruh sihirnya. Hanz yang di sampingku di kala sedang makan sampai sekarang masih memegang bahuku sebagai syarat kontak fisik. Lalu, di kondisi tersebut juga dia memanfaatkannya sebagai tindakan untuk menghentikanku.
“Kita belum mengerti kondisinya, untuk sesaat aku tidak melihatnya, demikian juga dengan kau. Kurasa akan lebih baik kita mendekat dan lebih jelas dulu menelaah kondisi.”
“...”
Untuk sementara aku menenangkan diri. Memang benar juga aku tidak boleh terobos begitu saja hanya karena melihat pertengkaran. Bisa jadi apa yang terjadi tidak seburuk yang kelihatannya, bisa inisiatif itu hanya membuatku jatuh dalam jurang rasa malu.
Aku pun di sana menjawab dengan angguk kecil. Dibandingkan dengan rasa panik yang barusan yang bergerak dipenuhi keinginan berlari, kali ini aku lebih tenang dan berjalan mendekat layaknya orang yang pura-pura lewat.
Di sana aku mulai berjalan bersama melewati orang-orang yang berdiri menghalangi jalan menonton pertunjukkan sesaat. Beberapa dari mereka yang tidak banyak itu ada di posisi acak hingga aku perlu berjalan zig-zag untuk lewat.
Di saat itu, aku terus berjalan, rasa pekat gelombang emosi terus kurasakan semakin pekat. Sampai pada saatnya aku pun harus menghadapi sumber utamanya di jarak lima meter. Jarak yang cukup untuk mendengarkan percakapan mereka.
“... Din, dari tadi kamu telepon kamu ke mana, Ha!? Bukannya aku pernah bilang jangan dekat-dekat sama mereka lagi!?”
Hmn? Apa ini? Pertengkaran kekasih sungguhan?
__ADS_1