Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 27 - Kontrak Berdarah


__ADS_3

Aku tersungkur, menundukkan kepala setengah badan ke bawah, dan tidak bisa berdiri akibat lemas seluruh tubuh. Badanku bergetar, dari ujung jari, sampai setiap sendi di gigi, setiap ketakutan dari ingatan yang kulihat masih bersisa sampai sekarang.


Kepalaku dipenuhi rasa ambang, rasa pusing layaknya otak tidak bisa digunakan. Bersama dengan lemas tubuh, aku pun memegang kepala dengan tangan kiri.


*Drop, drop ....


Hangat, basah, merah, dan berasa seperti besi.


Sensasi tersebut dirasa mengalir di telapak tangan kiriku yang sedang memegang kepala. Bersama dengan itu, aku pun melihat sebuah tetesan darah. Ternyata rasa pusing yang kualami juga sebagian berasal dari anemia kekurangan suplai oksigen di otak. Sepertinya serangan ke arah kening tersebut membuat luka sungguhan hingga darah mengalir keluar.


“OOoooOhhhHH ... bagaimana tidurmu barusan ... Kaivan?”


Di saat rasa tahan sakit tersebut, aku mendengar suara serak yang tidak asing. Entah kenapa setelah sekian lama waktu berjalan, suara Octa lebih terdengar menyebalkan dibandingkan menakutkan sekarang.


“A-apa ... hah ... apa yang barusan kamu lempar?” tanyaku dengan napas yang sedikit tersendat.


“Aku melemparkan sedikit sihir padamu. Dengan ini kamu punya sedikit ingatan dari setiap manusia para penghasil mana milikku. Bagaimana, apa kamu punya pendapat sekarang?”


“Hah! Hah ....! Jadi, kamu pikir aku bisa jatuh gitu saja?” tanyaku sedikit serak dengan tatapan tajam.


“OoOOoohhHH ... iya, ekspresi itu. Aku suka ketika seorang dengan kesombongan dan kestabilannya pun akhirnya bisa jatuh dalam ketegangan emosi. Kamu tahu, walaupun kalimatmu berusaha kuat, ekspresi sudah jelas kalau sekarang kamu menaruh dendam padaku.”


“...”


Aku sebenarnya juga sadar, di setiap napasku yang tegas ada amarah yang terpendam, di setiap tatapan yang kuutarakan ada rasa ingin menghantam. Berbagai hujatan sudah ada di dalam pikiranku, ingin menjejalkan dia dengan berbagai pelampiasan kekerasan.


Tapi, di satu sisi aku juga berusaha berpikir logis, mencoba menjawab dengan kalimat netral seakan tidak terpancing.


“Hah! Hh ... hah ....”


Walaupun, sepertinya hal tersebut tetap tidak mungkin dilakukan dengan kondisiku sekarang.


“Baiklah, permainan akan dimulai. Aku akan memberikanmu ingatan lanjutan tentang permainan yang akan kamu lakukan nanti. Jadi, persiapkan dirimu sekarang selagi bisa. Aku akan membuat dimensi sihirnya.”


Huh?


Di kalimat selanjutnya, Octa berbicara seakan aku melangkah balik terhadap keputusanku. Dia sangat percaya diri dan mengambil start lebih dulu kalau aku akan mengikuti game yang dia sebutkan sebelumnya.


“Si-siapa yang bilang aku bakal ikut?” tanyaku yang masih dalam keadaan tidak stabil. “Bukannya perjanjian sudah ada? Bawa aku keluar dan bebasin aku sekarang.”


“Tidak, tidak, Kaivan ... tidak ada kesepakatan lagi di antara kita. Aku sudah memasangkan bom waktu di kepalamu. Jika kamu pergi sekarang. sihirku akan meledak suatu saat nanti. Mau atau tidak, kamu tetap perlu mengikuti perintahku jika ingin hidup.”


“E-eh!? Tu-tunggu— Gkhuak!” ucapku yang tidak sengaja dipotong oleh batuk. “Hah, hah ... apa kamu serius?” tanyaku dengan nada tegas mengancam.


“Sebelumnya aku terlalu banyak memberikan keringanan. Pada akhirnya, manipulasi dan sabotase lebih cocok untukku.”


“Dasar licik,” ucapku kembali dengan sinis.


“Sebut saja semaumu. Aku tidak peduli. Jika kamu bisa menangkan game ini, aku akan mengakui kalau memang ada manusia yang punya nilai.”


“...”


Octa di sana sedang menulis sesuatu di kertas. Aku tidak bisa melihatnya, bersama dengan pandangan buram dan efek anemia, aku dalam kondisi lemah dan hampir pingsan. Darah di kepala terus mengalir, luka di kepala tersebut membuat oksigen di kepala tetap tidak bisa tersuplai sempurna.

__ADS_1


Tapi, aku masih bisa merasakannya, Octa siluman berbadan besar itu mulai berjalan mendekat ke arahku.


“Oke, Kaivan. Tanda tangan di kertas ini, dan menangkan game di dalamnya. Buktikan kalau kamu memang pantas mendapat perhatianku,” ucapnya sambil menunjukkan kertas bertulisan asing tepat di depan wajahku.


“Heh, dari mana aku tahu kalau game ini adil? Melihat kelicikanmu barusan, gak aneh kalau kamu pasang banyak jebakan yang bikin aku kalah,” kataku kembali dengan nada sinis.


“Kecuranganku cukup sampai di sini, aku hanya ingin menaruh sedikit motivasi padamu. Game ini berbasis kontrak sihir. Asas adil tidak bisa lepas bahkan untuk diriku sekali pun. Lagi pula, aku sudah menegaskan kalau kamu tidak punya pilihan sekarang. Mati di sini, atau terima tawaranku.”


“...”


Aku tidak menjawabnya. Aku masih sempoyongan dengan kondisiku yang parah.


Darah di keningku masih tidak bisa berhenti, seberapa kuat aku menekan dengan tangan kiri, tetap saja ada alir dan tetes yang terlewat. Pandanganku semakin kabur, aku hampir ambruk dan tidak benar-benar tidak punya tenaga.


“OOoooOOOooHhh ... maaf, aku lupa kalau sepertinya kamu memang butuh bantuan.”


“Hn?”


Telingaku masih berfungsi, tapi otakku tidak sejalan. Dia mengatakan satu kalimat yang sebenarnya tidak kupahami maksudnya apa. Aku melihat kertas yang sebelumnya ditunjukkan Octa kembali ditarik, terasa kalau tubuh besar itu sedang berdiri dan menjauh dariku sejenak.


Begitu aku hampir pingsan dan tertarik gravitasi ambruk mencium lantai ....


*Grip


“Hgkht!?”


Octa memegang kepalaku. Tangannya yang besar dapat menggapai seluruh sisi dari ujung kepala hingga ke telinga layaknya sedang memegang bola voli. Tapi, dia tidak memegangku demikian. Begitu tangannya menapak, siluman besar itu langsung merenggut tangannya untuk mencengkeram rambutku dengan kasar.


“Satu tetes darah dan tapak bagian tubuh, lalu kamu akan masuk. Satu, dua, ti—GA!”


“Gkhakh!!?”


Octa di sana membanting kepalaku keras ke lantai. Dia yang sebelumnya tidak mendapat respons dariku pun mulai mengambil jalan pintas. Dengan menaruh kertas kontrak sihir di lantai, tanda tangan dariku bisa diselesaikan dengan setetes darah dan cap dari keningku langsung. Jadi, satu benturan kepala itu sudah bisa membuatku menyelesaikan persyaratannya.


*Shine, shine, shine ....


“Baiklah, semua selesai. Kita lihat apa yang kira-kira kamu akan tunjukkan padaku, Kaivan.”


Baru saja aku lepas dari ilusi, sekarang aku harus menghadapi sebuah serangan hebat. Tubuhku yang lemas tidak dapat melawan, aku tidak bisa mengaktifkan kekuatan gelombang emosi karena tidak ada katalisator di sekitar sini. Jadi, yang kurasakan hanya ambang kepasrahan.


Bersama percikan darah yang mengalir di kepala, pandangan buram di mana kepalaku mencium lantai, dan sebuah cahaya sihir menyilaukan ... aku, kembali kehilangan kesadaran.


*****


Rasa sakit terakhir yang kurasakan adalah hantaman keras tepat di tengkorakku. Ketika Octa membanting kepala ke lantai agar darah dan kulitku menapak di kertas kontrak, sesaat itu juga aku merasakan kalau saraf di tubuhku mulai berhenti bekerja.


Aku berada di perasaan melayang, tubuh mengambang tanpa tapak, terbaring di ruang kosong. Tapi, di sini aku tidak sepenuhnya pingsan, aku dapat sadar kalau aku sedang dalam sebuah ruang yang kosong tanpa ada secuil pun benda yang kupegang.


Aku berusaha meraba diriku sendiri, perlahan, dengan perlahan. Namun, hasilnya sama, tidak ada sensasi sentuhan layaknya saraf normal merasakan rangsangan.


Aku tidak bisa berdiri, karena posisiku sendiri tidak ada di ruang yang memungkinkanku untuk berdiri. Tidak ada tapak, tidak ada gravitasi, tidak atas dan bawah. Setiap pergerakanku di sana tidak memiliki arah selain dari bayanganku sendiri. Kosong, hampa, dan entah kenapa semakin lama semakin membuatku takut.


Sampai pada akhirnya, entah berapa lama berlangsung, aku menemukan satu titik cahaya.

__ADS_1


Tidak ada hal lain di ruang kosong sihir ini. Aku pun di sana tidak punya pilihan lain dan tidak punya kegiatan selain untuk mengejarnya.


Di ruang kosong tersebut aku juga bingung, apa aku bergerak harus dengan mengayun layaknya berenang, atau berjalan walaupun tidak menapakkan kaki ke dasar. Apa pun itu, aku mencoba keduanya, menggerakkan kaki dan tangan secara bersamaan.


Biarpun begitu, aku tidak merasakan sesuatu di tubuh layaknya sensasi berenang maupun berjalan, masih kosong mati rasa di seluruh tubuh. Akan tetapi, di saat yang sama aku mulai sadar, ternyata titik cahaya tersebut mendekat dengan sendirinya.


Semakin terang, semakin besar, hingga memenuhi tubuh dan penglihatanku.


Sekali lagi, mataku mulai dipenuhi berkas putih.


Aku refleks menutup mata di sana, memegang kepalaku dan kelopak mata agar terhindar dari sinar. Tapi, di sana aku tetap tidak bisa lolos dari cahaya putih. Sampai akhirnya ....


“Hh!?”


Napasku tersentak luar biasa.


“Hh! Hah ...! Hah ... hah ....”


Beberapa kali aku mengatur napasku kembali. Rasa terkejut sekaligus tidak biasanya tubuhku di keadaan tidak stabil membuat getar di setiap sendi.


“Hah ... hah ....”


Walaupun begitu, aku tetap bisa menyesuaikan dengan cepat. Tidak seperti sebelumnya, aku sekarang tidak merasakan sakit di tubuh. Apa yang kurasakan murni hanya karena panik dan terkejut—


Hn?


Tunggu, tidak ada rasa sakit?


Aku meraba bagian tubuhku, posisi tangan yang menutupi mata ternyata masih bertahan sampai sekarang. Dengan tatapan kosong, aku mulai memeriksa luka yang sebelumnya terukir di tubuh. Lalu, di sana aku mulai sadar.


Hilang.


Luka di kening hasil tusukan dari Octa, luka di bahu dan perut hasil tikam oleh Geza, dan bahkan ....


Eh?


Aku lupa kalau sebenarnya sekarang aku menggunakan tangan kananku juga untuk memeriksa. Padahal, sebelumnya aku masih ingat tangan tersebut digantung dan masih dibekukan oleh gips.


“Kaivan?”


“Hmn?”


Aku mendengar suara perempuan di belakangku. Menghampiri rasa penasaran dan refleks, aku pun berbaik mencari sumber suara.


“Ah, ternyata memang beneran kamu,” lanjut ucap gadis tersebut setelah melihat wajahku.


“...”


“Aku punya mau tanya kenapa aku di sini. Tapi, dari muka kamu yang bingung, kayaknya memang bukan kamu pelakunya.”


Gadis itu bersikap dewasa, dia berdiri dengan wajah penuh percaya diri sambil berpikir layaknya orang bijak. Aku tidak tahu kalau dia bisa menilai situasi ini dengan tenang, tapi aku mengerti kalau dirinya punya sesuatu yang lebih ke arah pemikiran logis dibandingkan perempuan lain.


“Imarine ....”

__ADS_1


 


 


__ADS_2