Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 3 Manis Sengat Semut Asam Format : Chapter 17 - Antar Pulang


__ADS_3

Setelah Geza si anak kecil itu pergi, aku pun turut keluar dari rumah sakit. Jam di sana sudah menunjukkan pukul sebelas malam, sebagian besar staf sudah pulang dan pelayanan dari resepsionis juga telah berhenti. Tapi, cahaya-cahaya utama di lorong masih menyala, ini membuat gedung yang luas punya sedikit hawa kehidupan walau suasana sepi tetap kental di setiap sudutnya.


Jalanku mengarah pada pos satpam di luar. Di sana masih ada petugas yang berjaga, tapi sepertinya mereka sedang melakukan pergantian shift. Ketika aku sampai, terdapat lebih banyak orang yang berkumpul di satu tempat. Si bapak yang kutemui, dan petugas-petugas dari yang kutemui di dalam rumah sakit sebelumnya hingga yang berwajah baru.


Bapak yang bicara denganku dan mengizinkan menginap sepertinya sudah mau pulang, terlihat dari penampilannya yang memakai jaket dan membawa tas pribadinya. Sebelum pergi, pria itu sedikit melakukan pertemuan dan pembicaraan singkat seputar laporan pekerjaan.


Aku menunggu di tempat duduk bagian luar, tidak ingin mengganggu lingkungan mereka para petugas rumah sakit. Bisa saja gelombang emosi negatif muncul ketika aku sebagai orang asing datang begitu saja di tengah-tengah mereka.


Ketika mereka selesai, bapak satpam yang sebelumnya itu pun menghampiriku.


“Woi, kamu,” panggilnya. “Kalau mau tidur, bilang saja ke mereka. Nanti bakal dikasih bantal sama kain buat selimut. Tapi, ingat saja buat pergi besok pagi.”


“...”


Aku mungkin membalas tatap bapak tersebut saat bicara. Tapi, untuk kembali balas berkata, rasanya aku tidak punya tenaga untuk hal tersebut. Responsku kala itu hanya mengikuti pandangannya dan secara bertahap berpaling melihat ke bawah terjun bersama lamunan.


Pikiranku masih terasa kosong, sensasi melayang-layang layaknya habis mengerjakan ujian matematika telah melanda. Seluruh percakapan dengan Geza masih berputar-putar dan terngiang di kepalaku.


“Hah ...,” tarik napas bapak tersebut dengan keras mengeluh. “Kamu sudah ngomong sama pasien di sana?”


Bapak tersebut adalah satpam, tentu seluruh aksi yang kulakukan sudah atas izinnya.


Letak ruang isolasi aku tanyakan darinya, waktu malam juga staf sudah tidak bekerja dan cenderung tidak akan mengganggu jalan pelayanan medis. Jadi, ketika aku bilang ingin bicara dengan pasien tersebut, pria tersebut mengizinkannya dengan berbagai syarat untuk tidak mengacau.


Biasanya pasien punya penunggu masing-masing seperti keluarga dan teman, jadi kedatangan orang asing akan ditangkal oleh mereka. Tapi, tidak dengan pasien tersebut, dia benar-benar sendiri di kamar isolasinya. Terkadang sikapnya juga sudah tidak terkendali karena sakit yang tiada ujung, permintaan untuk diberi suntik mati juga sudah terkenal ke seluruh pekerja rumah sakit. Bahkan, dia juga sempat menolak untuk diberi obat oleh perawat, ini yang menyebabkan orang-orang semakin sulit menanggapinya.


“Iya ... saya belum ngomong sama dia sih, Pak. Tapi ..., hmn ... aku ngerti kondisinya, lihatnya saja sudah bikin sakit.”

__ADS_1


Sempat setelah Geza pergi dan sebelum aku pergi ke pos satpam untuk melihat kondisi dia. Penderitaan karena sakitnya bahkan bisa kulihat saat kondisi dia sedang tidur.


Wajahnya dipenuhi warna pucat, bibirnya pecah-pecah, kulitnya berkerut selayaknya tanah kering, dan bahkan tulang-tulang serta pembuluh darahnya telah timbul karena minim lapisan daging di tubuhnya.


Setiap detik dia bernapas, terlihat usahanya untuk menggaruk badan yang gatal. Tapi, di saat yang bersamaan tangannya terlalu lemas untuk itu. Di setiap detik dia bernapas, terdengar serak-serak di mana dia ingin batuk. Tapi, di saat bersamaan otot dadanya terlalu lemas untuk menyentakkan udara tersebut. Pada akhirnya, dia hanya tergelepak lemas, tidak bisa melawan bahkan untuk mempertahankan diri dari berbagai rangsangan tersebut.


“Heheh, kamu baru lihat waktu dia tidur saja. Huft ... hah ... sebenarnya orang itu bisa lebih parah lagi waktu bangun.”


Ah ... iya, aku mengerti. Keadaan di mana aku sebagai orang asing yang baru melihat dan tidak berpengalaman membuat pendapat jadi terdengar lebih lemah. Dibanding orang asli dari staf yang lebih lama berkecimpung di dunia ini, ucapanku mungkin hanya dikira pendapat sekilas saja.


“Tapi, kenapa kamu mau ketemu orang itu? Bukannya orang biasanya takut sama penyakit parah gitu?” lanjut tanya si bapak tersebut.


Ketika aku minta untuk ditunjukkan pada kamar isolasi, tentu si bapak tersebut sempat melarang. Dia tidak melihat sisi baik dari menjenguk di tengah malam seorang pasien di ruang isolasi yang pasalnya para perawat juga harus berperlengkapan khusus. Tapi, aku punya keinginan, melihat seorang yang punya keinginan bunuh diri dengan mata kepalaku sendiri.


Hanya berbekal sedikit pengaman, aku menuju tempat tersebut. Mungkin bisa saja kesempatanku berbicara dengannya dapat menambah semangat, walaupun pada akhirnya tidak ada hal besar terjadi.


Bapak tersebut juga awalnya ingin mengantarku ke tempat tersebut. Tapi, kembali lagi penolakan aku ucap padanya.


Selain aku yang bertaruh dengan kedatangan Geza di mana hal itu adalah masalah spesifik untukku, si bapak tersebut juga memang malas. Perut buncit mungkin salah satu faktor penghambat, dengan ukurannya sekarang, dia tidak bisa melihat ujung sepatu saat berdiri tegak.


“Bukannya saya sudah kasih tahu, Pak? Saya cuman mau tahu dan mungkin saja bisa bantu.”


Pembicaraan ini sebenarnya sudah pernah kuutarakan. Tapi, sepertinya bapak tersebut kembali mengulang karena sedikit tidak puas. Wajar saja, orang normal tidak akan bertindak sejauh ini untuk orang asing yang bahkan tidak pernah dia temui sebelumnya. Terlebih, itu adalah tindakan berisiko, mengunjungi tempat isolasi saat tidak ada staf, sendirian, dan tanpa alat safety.


“Hmn ... sebenarnya gak ada larangan buat kunjungan. Apalagi orang itu mungkin bakal senang kedatangan tamu entah itu dari pihak yang gak jelas. Tapi, kamu juga harus jaga badanmu yang sekarang,” ucapnya sedikit menggaruk kepala karena gugup. “Iya sudah, bapak pulang dulu.”


Pria tersebut kembali membenarkan posisi tas gendong yang dia bawa. Sambil mengambil kunci motor di jaketnya, dia pun mulai berjalan ke arah area parkir.

__ADS_1


“Pak, tunggu ....”


Tapi, aku memanggilnya, menahannya untuk pergi lebih jauh.


“Apa lagi?”


“Hmn ... bapak sekarang pulang sendiri pakai motor?”


“Iya.”


“...”


“...”


Aku mungkin tamu yang merepotkan. Tiba-tiba meminta menginap malam, meminta masuk ke tempat terlarang seperti kamar isolasi, dan sekarang masih menawar untuk satu pelayanan dari bapak tersebut. Rasa malu mungkin dirasakan sedikit, tapi untuk sesuatu yang besar hingga membuatku mundur, aku tidak merasakannya.


Gelombang emosi membuatku tahu apa yang dirasakan seseorang saat berhadapan denganku. Ketika dia benar-benar membencinya, di saat itulah aku mundur. Jadi, rasa malu lebih seperti penghias saja, tidak benar-benar menghalangiku dalam melakukan sesuatu.


“Boleh aku numpang?”


Ucapku padanya yang ingin pergi dari rumah sakit dengan cepat.


 


 


****

__ADS_1


 


 


__ADS_2