
Masa pemulihan memang sulit. Aku tidak punya tangan untuk beraktivitas, setiap gerakanku sangat terbatas dari bagian tangan, bahu, perut, bahkan kaki, semuanya dalam keadaan rusak. Setiap ada sensasi gatal di bekas luka, aku hanya bisa berharap dia hilang sendirinya.
Secara keseluruhan kak Dina di kamarku adalah partner yang menemaniku di setiap kekurangan dan kebutuhan ketika dokter dan perawat tidak ada menjaga. Tapi, jujur saja dia tidak terlalu berperan dan hanya lebih seperti teman bicara.
Aku pernah mengalami gatal di wajah dan mata. Namun, ketika aku meminta kak Dina untuk membantu menggaruk atau setidaknya meniup halus, rasa gatal tersebut tidak kunjung hilang dan malah berakhir menjadi rasa geli yang tercampur.
Pernah juga dalam satu kejadian aku memintanya untuk mengubah posisi tidurku karena keram dan kesemutan yang aku derita. Tapi, karena kepayahannya, dia malah membuatku harus menggerakkan ruas tangan dan jari sendiri demi mendapatkan posisi nyaman tersebut. Beberapa kali badanku membelok di posisi salah hingga posisi tidur yang seharusnya nyaman malah menjadi berat bertumpu di tulang punggung.
Iya ... pada akhirnya, hanya aku dan tubuhku sendiri yang tahu bagaimana mendapatkan kenyamanan. Digaruk orang lain malah geli dan meninggalkan rasa gatal lain, diatur posisi tidur orang lain malah sulit mendapat kenyamanan.
Setelah lebih dari dua puluh jam aku sadar, akhirnya angin kecil keluar di anus. Kentut yang menjadi salah satu tanda utama di mana organ pencernaan kembali bekerja sudah tiba. Itu artinya aku sudah bisa makan seperti normal walaupun dalam porsi yang lebih kecil dan masih digantung oleh infus.
Selama ini aku libur dari mandi penuh di kamar mandi, tentu itu untuk keselamatan dan proses penyembuhan. Untuk kebersihan badan, aku hanya mendapat lap air hangat dari perawat laki-laki. Walaupun kak Dina keluargaku, tapi tentu aku tidak ingin berada di situasi canggung dia menggosok organ vital. Aku yang sekarang sudah besar hitam gelap dengan warna bagian tubuh dewasa yang menurutku memberi ketegangan pada gadis remaja.
Tiga hari berlalu, lukaku mulai tidak terlalu sakit dan terasa kalau bagian kulit sudah banyak yang mengering menuju kesembuhan. Di masa-masa ini asupan makanan dan obatku sangat dijaga ketat, tim medis tidak hanya merawat luka lewat fisik, tapi asupan nutrisi juga penting. Rasa sulit ketika mereka menyuapiku dan membuatku meminum obat tablet tanpa tangan juga menjadi siksaan tersendiri.
Sensasi tanganku tidak ada, gerakan paket di mana aku menegakkan leher bersamaan air menjadi baru. Aku harus punya telepati khusus di mana titik yang pas untuk mereka memberiku air dan berhenti memberiku air, entah itu dengan kak Dina atau dengan perawat. Dengan dua tangan yang hilang, aku tidak bisa memberi aba-aba apapun selain dengan sentak napas dan getar tenggorokan. Itu kembali menjadi masalah karena hal tersebut menjadi rentan untukku mengalami tersedak.
Di hari ketiga ini, teman-teman sekelas dan staf sekolah mulai berdatangan menjenguk. Tentu tidak semua masuk ke dalam kamar, mereka datang bergantian di rumah sakit dan saling bicara berbagi pengalaman.
Aku sendiri tidak terlalu berharap mendapat perhatian, menerima tamu banyak sekaligus sangat melelahkan bagi indra deteksi emosiku. Jadi, sebisa mungkin aku ingin pertemuan itu berlalu dengan cepat.
"..."
__ADS_1
Namun, satu hal yang membuatku terpikir adalah keberadaan Imarine dan Amalia yang tidak hadir di acara jenguk resmi tersebut. Memang kedua gadis itu berada di kelas yang berbeda denganku, tapi rasanya sedikit aneh ketika orang yang menurutku lebih berkesan penting malah tidak hadir. Terlebih untuk Imarine, aku masih belum mendapat kabar terbarunya sekarang.
Beberapa pertanyaan kuutarakan pada teman sekelasku tentang keberadaan Imarine. Dari jawaban mereka yang mengenalnya, aku tidak mendapat jawaban spesial. Dia sekarang sudah sekolah seperti biasa setelah memang sebelumnya tidak sekolah selama dua hari. Pada akhirnya, aku tidak mendapat informasi apapun yang berguna tentang keadaan Imarine dari orang-orang itu.
Waktu terus berlalu, seminggu sudah aku menghabiskan waktu di kamar menyembuhkan diri. Dari tenaga medis yang mewakilkan riwayat kesehatanku, pertumbuhan dan pemulihan tulang di tanganku berjalan sangat cepat. Ini mungkin kabar baik, tapi dokter yang melihat ini sebagai sesuatu yang tidak normal. Walaupun bentuk tulang yang tumbuh benar-benar sesuai perkiraan, tapi melihatnya berjalan terlalu baik malah membuat kengerian tersendiri baginya.
Apapun itu, aku selama seminggu ini sudah bisa berjalan. Selama hasilnya masih baik, memikirkannya pun hanya akan menambah lelah. Kesampingkan dengan tulang tanganku yang remuk dan butuh pengobatan lanjut, kaki kanan yang sudah sembuh membuat kabar sangat baik. Aku tidak perlu menghabiskan waktu dengan perawat ketika membuang urine harian, kaki yang sembuh membuatku bisa menggunakan kamar mandi lagi.
Pergelangan tangan kiriku masih kaku, tapi bukan berarti tidak bisa digerakkan. Untuk buang air kecil aku masih bisa, mengambil tisu beberapa lembar dengan tangan kaku tersebut masih memungkinkan.
Tiga hari selanjutnya, pergelangan tangan kiriku sudah sembuh. Sekarang gibs yang erat menggenggam dan menjaga posisi tulang sudah dipecah. Tugasku sekarang adalah melakukan olahraga ringan di pergelangan tangan agar kembali normal. Di tahap ini, luka yang tertinggal berupa satu tangan kanan dan beberapa sayatan kulit yang belum sepenuhnya tertutup. Itu artinya, tidak ada perawatan intens lagi, aku bisa dipulangkan sekarang.
Keluargaku menjemput, biaya administrasi diselesaikan, dan aku mulai berkemas berpamitan dengan seluruh tenaga medis yang bersangkutan. Mereka sangat membantuku, bahkan untuk mengurus sesuatu yang privasi ketika aku benar-benar lumpuh. Tapi, dengan ini aku mulai mendapat kebebasanku sedikit, hanya tertinggal dengan sedikit berlatih dengan tangan kiri. Mau tidak mau aku akan menjalani sisa waktu dengan menjadi kidal karena retak tangan kananku jauh lebih parah dari semua luka yang kudapat.
Ini menunjukkan betapa jauh jarak kami sekarang, ini membuktikan kalau kedekatan dan ikatan tidak cukup kuat untuk saling mengawasi satu sama lain. Tapi, aku dengan santai mencoba menenangkan. Kecelakaan tetap kecelakaan, tidak peduli mereka memberikan perhatian lebih atau bukan, aku tetaplah ada di jalan yang kupilih. Tanpa rasa bersalah mereka, gelombang emosi yang kudapat sudah cukup untuk mengetahui betapa khawatirnya mereka. Pada satu titik, aku sendiri merasa emosi tersebut menular langsung hingga aku sendiri merasa bersalah karena membuat mereka cemas.
Keesokan harinya setelah pulang dari rumah sakit, aku memutuskan untuk kembali masuk hadir ke sekolah. Absenku yang terlalu lama juga akan menimbulkan berbagai masalah lain. Jadi, tentu aku tidak ingin menambah repot dengan masalah susulan dengan berbagai guru nanti.
"Huft ... hah ...."
Pagi hari itu aku tidak mendapat perhatian tambahan dari siapa pun. Rumah kembali sepi, dan bahkan kak Dina yang dulu menemani makan juga sudah tidak ada. Orang tua di rumah ini tetap sibuk, bagaimana pun mereka terikat kontrak dan akan berakibat fatal dengan pekerjaan jika diabaikan.
"..."
__ADS_1
Aku melihat meja makan yang di sana sudah ada masakan hangat. Dari tata letak piring dan makanannya, aku bisa mengerti itu buatan kak Dina.
Iya ... kak Dina juga punya urusannya sendiri. Aku yang mengatakan untuk tidak memberikan perhatian lebih sekarang, dan inilah yang kudapat. Kembali ke kehidupan normalku lagi.
Aku sendiri tidak perlu kak Dina untuk mengurus diri, keahlianku mengandalkan tangan kiri untuk makan dan melakukan pekerjaan masih baik. Jadi, situasi di mana aku disuapi oleh kak Dina masih tidak pernah terjadi sekarang.
Aku selesai menyantap sarapan dan mulai pergi. Langkah awal kutuju membuka pintu belakang, mengunci bagian tersebut dan berbalik untuk melanjutkan ke perjalanan utama.
*Flap, flap, flap
Hmn ...?
Tiba-tiba saja aku mendengar kepakan sayap burung cukup keras mendekat. Dari getar suaranya, aku dapat tahu kalau jenis burung itu memiliki ukuran yang besar. Dengan cepat aku mencari sumber suara, melirik ke langit dan melihat ada satu warna gelap sedang bertengger di ujung dinding pagar belakang rumahku.
Iya ... melihat ini, aku juga sudah tahu siapa di sana.
Kaivan, bagaimana keadaanmu sekarang?
Tanya burung tersebut dengan menggunakan telepatinya. Iya ... burung tersebut adalah burung gagak, siluman burung gagak ... Pero.
__ADS_1