Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 37 - Malam Pertama Di Hutan


__ADS_3

Mengembara bersama Farrel di dalam hutan ternyata menjadi mudah. Lelaki itu punya stamina kuat, tidak mudah mengeluh, dan terus konsisten dengan sikap serta keputusannya. Ketika menemukan air, dia juga menentukan titik aman untuk dijadikan tempat tinggal sementara. Dibandingkan goa, tempat kosong seperti pinggiran sungai atau pesisir laut jauh lebih aman.


Kami membagi tugas, tidak berkeliaran cukup jauh untuk sementara mengumpulkan barang-barang. Aku mengumpulkan kayu di sekitar, sedangkan Farrel membangun tempat berteduh dan mengambil air bersih untuk persediaan.


Farrel melarangku untuk berkeliaran terlalu jauh sendirian. Jika ingin melakukan penjajahan, maka bertindak berdua sangat disarankan. Tidak ada yang tahu apa yang akan kita dapatkan di perjalanan jauh, tersesat di satu sisi akan membuat banyak masalah lain.


Mengumpulkan kayu di hutan lembab ternyata cukup sulit. Kadar air yang tinggi di udara menyebabkan ranting pohon yang kutemukan sebagian besar basah. Jadi, pencarianku saat itu tidak terlalu membuahkan hasil. Biarpun begitu, Farrel bilang kayu tersebut bukan berarti sia-sia.


Sepatu dan celana bagian bawahku mulai lengket dipenuhi oleh tanah. Baju yang berlengan pendek juga menyebabkan banyak sentuhan asing kudapat di tangan, beberapa respons iritasi mulai kurasakan.


Saat rasa letih memuncak dan ingin mencari tempat beristirahat duduk, aku di sana menemukan sesuatu yang tidak terduga.


Box ...?


Benda tersebut berbentuk kotak besar, tersembunyi di salah satu pohon besar dengan banyak pengecoh seperti lilitan akar, lumut, dan dedaunan. Namun, aku bisa tahu pasti benda tersebut adalah box dengan desain modern.


Aku pun mendekat, datang sampai tepat berdiri di depan kotak yang besarnya sekitar setengah meter kubik.


Daun-daun sekitar aku sapu dengan tangan, akar pohon aku potong dengan kapak. Setelah semuanya cukup bersih, aku pun akhirnya bisa menemukan mekanisme cara membuka kotak tersebut.


*Open ....


"Ah ... jadi begitu, iya," ucapku bergumam sendiri setelah melihat isi dari box tersebut.


*****


Aku tidak tahu pasti bagaimana waktu berjalan. Sesuatu yang dapat aku pahami adalah jalan cahaya yang mulai meredup dibanding sebelumnya. Belum dipastikan apa tempatku sekarang memiliki pengaturan siang dan malam, tapi lebih baik kembali secepatnya untuk melaporkan berita ini.


Posisiku kala itu tidak terlalu jauh dari Farrel yang berjaga di tempat peristirahatan dekat sungai. Jadi, bukan hal sulit bagiku mencari jalan pulang.


Di sana aku melihat Farrel, dia seperti sedang membersihkan sesuatu di sungai. Dari kejauhan, dapat aku dengar percikan air, tapi dengan sudut pandang di belakang, aku hanya tahu kalau dirinya sedang berjongkok di pojok sungai.


"Farrel, kamu lagi apa?" tanyaku yang sambil datang mendekati lelaki itu.


"Cuci batang kayu, rongga kosongnya mungkin bisa kita pakai jadiin gelas."


"Kalau gitu buang saja, kita gak perlu kayu itu sekarang," tukasku dengan nada dingin pada Farrel.


"Huh? Buang? Oh, jadi kamu punya tempat minum yang— Eh!?"


Respons Farrel terkejut ketika melihatku, tenggorokannya tersentak hingga desak udara memutus kalimatnya. Dia yang berbalik untuk mengikuti arah suara pun disuguhkan pemandangan mengejutkan. Kerut wajahnya terlihat bingung, mencoba memahami apa yang terjadi padaku sekarang. Lalu, pertanyaan yang keluar dari mulutnya adalah ....


"Di hutan ini ada supermarket?"


"Heh, memang kayaknya itu yang paling masuk akal," ucapku sedikit berkilah. "Bukan, bukan supermarket. Aku dapat ini semua dari dalam box."


"... Box?"


Benda yang kubawa pada Farrel adalah satu paket kayu bakar, korek api basis gas modern, pisau tempur yang biasa dipakai tentara, dan botol minum aluminium. Kayu bakar ini sangat bersih dan tertata rapi, diikat dengan sebuah tali yang terlihat bermerek. Korek api yang kubawa memiliki api biru besar yang dapat membakar kayu dengan mudah. Dari dua benda tersebut dan dengan kondisi yang kualitas super, tidak mungkin bisa ditemukan di hutan belantara begitu saja.


Aku menceritakannya, kalau aku menemukan box yang isinya rapi tiga benda ini. Lalu, jika ini memang basis game, itu berarti box seperti ini masih tersebar di banyak tempat. Begitulah menurut insting dan akal sehat aturan survival game.


"Hmn ... box," gumam Farrel menaruh tangan di dagu sedikit berpikir. "Oke, sekarang ganti rencana. Tujuan utama kita cari box lebih banyak lagi. Daripada bergantung ke ilmu kolot, lebih baik taruhan ke isi box itu."


Aku pun mulai melanjutkan, berkeliling kembali bersama Farrel mencari box tersebut. Lalu, benar saja, kami secara bertahap menemukan box lain di berbagai tempat dengan isi yang berbeda dengan kualitas pabrik.


Mulai dari senter, tas gendong, makanan kaleng, pakaian tebal, sepatu khusus, dan bahkan sampai di tahap kotak P3K. Kelihaian kami mencari benda tersebut terus diasah dan secara bertahap mendapat hasil yang positif. Dari mulai tampilan anak sekolah biasa, kami pun berubah menjadi duo dengan perlengkapan lengkap bertahan hidup modern.


Waktu pun mulai larut, dari atas sela-sela pohon terlihat kalau cahaya mulai meredup menjadi gelap. Aku dan Farrel tentu menyadarinya, kami pun kembali ke tempat pinggir sungai untuk beristirahat dan membuka perbekalan yang didapat dari box sebelumnya.


Sayang kami tidak menemukan tenda. Jadi, di sana kami hanya membuat tempat berteduh sederhana dengan memanfaatkan dua pohon dan rangkaian kayu ditambah alas pakaian bekas. Setidaknya formasi tersebut sudah cukup nyaman untuk dipakai sehari-hari.


Gelap malam sudah membuat suhu menurun, kami pun mulai menyalakan api unggun demi kehangatan. Tidak ada yang sulit sekarang, semua berjalan dengan mudah dan bahkan sempat kami merasakan kesenangan.


Di sana aku sudah selesai makan, dan mulai membaringkan tubuh beristirahat di atas alas pakaian. Namun, Farrel masih duduk berhadapan dengan api unggun. Makanan kaleng yang dia santap belum sepenuhnya habis.


"Farrel," panggilku mengajaknya bicara.


"Ada apa? Kamu masih lapar?" lalu jawab lelaki itu menduga-duga.


"Bukan, bukan itu."

__ADS_1


"Terus kenapa? Kamu mau kencing?"


"Kalau itu masalah privasi, aku bisa urus sendiri."


"Sayangnya harga diri itu gak berlaku sekarang, Ivan. Malam itu bahaya, pergi sendiri bisa bikin kamu nyasar atau terperosok jatuh. Buat sekarang, privasi gak berlaku."


"..."


"..."


"Oke, aku ngerti," jawabku dengan jeda dan sempat membiarkan suasana menjadi kosong.


Memang benar, bertindak sendirian selalu berisiko besar. Ketika dalam kegelapan malam, hal tersebut akan menjadi besar di mana kemungkinan tersesat menjadi lebih tinggi.


Tapi ....


"Tapi, bukan itu maksudku," susul ucapku mengembalikan pembicaraan.


"Kalau gitu kenapa?"


"Aku ... aku cuman mau tanya. Gimana perasaanmu waktu tiba-tiba muncul di tempat asing kayak gini. Maksudnya, sebelumnya kamu bilang kalau kamu punya banyak pertanyaan, 'kan? Kenapa gak tanya sekarang? Jujur saja aku masih bersalah karena bawa kamu ke urusan mistis kayak gini."


Apa yang dikatakan Verdian padaku tidak salah juga. Dia cukup marah ketika dibawa ke dalam dunia ini. Tapi, sepertinya dia juga mencoba menahan amarah tersebut di depan kak Dina mencoba untuk terlihat keren.


Ada sedikit anomali ketika pria yang sempat ingin memukul kak Dina bisa menahan diri sampai seperti itu. Namun, hal yang pasti adalah dendamnya padaku yang didorong oleh fakta aku membawa ke dunia asing seperti ini juga tidak terbantahkan. Justru, dari semua respons, dia yang paling manusiawi. Dibawa ke dunia dan menjalani paksa permainan berisiko nyawa, tentu orang akan menyalahkan pembawa masalah yang menariknya ke dalam game tersebut.


Jadi, aku punya kejanggalan di hati. Farrel dengan redup gelombang emosinya membuatku juga semakin bertanya. Apa dia menahan emosi? Merasa sunkan karena aku adalah teman lamanya? Jika iya, aku juga punya pertarungan emosi di dalam hati sekarang.


Dia tidak terikat dengan sihir, dan orang yang tidak kuceritakan langsung tentang sihir. Jadi ....


"Apa kamu kesal sudah dibawa ke sini?" Lanjut tanyaku pada Farrel.


Suasana hening pun terjadi. Farrel tidak menjawab segera pertanyaan itu dan membentuk atmosfer sunyi sementara. Suara peletak dari api unggun terdengar berulang kali, letupan api yang membakar kayu jadi satu-satunya suara, bahkan pada titik tersebut lelaki itu tidak menggerakkan tangannya lagi melanjutkan makan.


"Hmn ... aku bohong kalau aku bilang gak kesal. Ingatan terakhirku, sebelumnya aku lagi makan roti bakar rasa cokelat keju. Aku dipanggil ke sini waktu baru makan satu potong. Ahaha, harusnya kalian tunggu sampai aku habisin semuanya dulu."


Itu masih jawaban pengalih. Walaupun setengahnya dia berusaha jujur, tapi setengahnya lagi dia menahan agar tidak memberikan kata buruk yang menyakiti perasaanku.


Suasana mulai melembut, gerak dan napas kami tidak terlalu kaku, dan Farrel juga kembali melanjutkan makannya. Dengan tindakannya tersebut, aku juga merasakan rileks di tubuhku lagi.


"Sebenarnya, Ivan. Aku sudah tahu kalau kamu punya sesuatu kayak sihir dari lama."


"Hoo ... Kamu tahu? Dari kapan?"


"Aku tahu kalau memang ada yang beda di kamu itu sudah dari umur SMP. Tapi, aku gak tahu kalau itu artinya sihir kayak gini."


"Terus, waktu kamu sudah tahu. Gimana pendapatmu?"


"Gak ada yang berubah, kita masih tetap temenan sampai sekarang. Malah, mikir kayaknya kecelakaan yang bikin kamu ke rumah sakit ... itu juga karena insiden sama sihir, 'kan?"


"Iya, memang benar," jawabku tanpa basa-basi. "Aku gak usah bohong lagi kalau misal kamu tahu tentang sihir."


"Hmn, jadi benar, iya. Ternyata, selama ini kamu memang lagi usaha keras buat lawan beban berat kayak gini," gumam Farrel bicara sendiri dengan nada bicara yang dituturkan ke langit. "Kamu tahu, belakangan ini kamu berubah, Ivan. Responsmu terasa lebih hidup, dan kamu lebih bertahan dengan percakapan orang lain dibanding dulu."


"Di ingatanku, gak ada yang berubah."


"Enggak, kamu berubah. Dulu kamu cuman bisa ngomong sama satu orang, itu juga lebih biasa singkat, padat, dan kelihatan banget kamu mau kabur dari itu. Aku sempat ngira kalau kamu punya penyakit mental. Tapi, lolos sebentar kamu sudah dekat sama banyak cewek di sekolah. Ahaha, orang memang gak boleh dipandang sebelah mata."


"Banyak cewek? Di bagian mananya?"


"Cewek yang dadanya terkenal paling besar, Imarine. Cewek bisu yang susah agak misterius, Amalia. Mereka berdua itu cewek yang di gosip lelaki susah buat dideketin, bahkan sama teman sekelasnya. Padahal, mukanya cantik-cantik saja."


"aku kenal mereka cuman kebetulan. Ima karena kondisi waktu, Amalia karena dia juga berhubungan sama sihir. Itu saja."


"Tapi, tetap saja kalian sudah dekat, 'kan? Itu baru yang di sekolah. Masih ada kak Dina juga."


"Apa kamu hitung itu jadi cewek? Dia 'kan kakakku."


"Tapi, 'kan kakak tiri?"


"Tapi, dia kakakku."

__ADS_1


"Ahaha, padahal tag kakak tiri lumayan terkenal di internet."


"Tag maksudnya gimana?"


"Oke, gak tahu sih gak apa-apa," kata Farrel mengalihkan pembicaraan. "Kalau kamu gak hitung kakakmu, gimana soal cewek seksi yang gak pakai bawahan itu?"


Cewek seksi? Ah ....


"Maksudnya Pero? Dia bukan manusia."


"Oh, pernyataan yang luar biasa. Padahal, di mataku dia cuman cewek umur dua puluhan. Tapi, memang aneh juga dia, apalagi dari namanya."


"Bahasa gampangnya, dia itu siluman. Jadi, aku juga gak anggap dia cewek."


"Kamu bilang kayak gitu lagi, tapi di mataku dia cuman cewek montok yang gak kekurangan bahan buat bajunya."


"..."


Untuk beberapa alasan, sebenarnya aku sempat melihat beberapa bagian tubuhnya sekilas. Siluman gagak itu memang punya kesadaran yang minim tentang privasi, karena memang Pero dididik sebagai hewan selama hidup. Tapi, aku juga berusaha memperlakukannya seperti manusia, begitu pun dia yang masih menghargai budaya manusia tentang hal tersebut.


Percakapan pun berakhir. Farrel yang selesai menyantap makanan mulai mencari tempat yang nyaman untuk membaringkan tubuhnya. Kami di sana bersebelahan, layaknya pesta menginap laki-laki. Dengan jarak sekitar lima belas senti, kami tidur membiarkan kaki berdekatan dengan api unggun untuk kehangatan tidur bersama.


"Farrel," panggilku yang masih belum pulas tertidur.


"Kenapa, jangan bilang kalau kamu mau dibacain dongeng tidur," lalu jawab Farrel yang kembali menjawab canda.


"Bukan, aku cuman sedikit kepikiran saja tentang hutan ini. Rasanya agak aneh kita keliling hutan dan gak ketemu satu bahaya pun."


"Bukannya itu bagus?"


"Itu memang bagus, malah enak kalau memang kita bisa selamat tanpa kesusahan. Tapi, apa kamu gak ngerasa janggal? Semua di sini berjalan terlalu lancar."


"Iya, memang agak aneh. Di hutan kayak gini harusnya ular, monyet, buaya, lintah, laba-laba, atau binatang lain berkeliaran. Tapi, kita gak ketemu satu pun dari mereka. Yang ada cuman serangga kecil yang pasif."


"Dari mulai sungai sumber air, box suplai, dan gak adanya hewan buas. Dunia ini jadi terlalu gampang buat orang bisa bertahan hidup."


"Kita memang bukan bertahan hidup, harusnya kita juga pecahin teka-tekinya, 'kan?"


"Iya, aku tahu. Tapi, di aturan game survival. Ada satu aturan di mana hal tersebut menjadi game. Satu faktor di mana kita gak boleh cuman diem nungguin doank."


"Dan kamu bilang faktor itu gak ada di sini sekarang?"


"..."


"..."


Waktu terus berjalan, malam yang sepi masih terus menghiasi malam tersebut. Tidak ada suara dari kami, tidak ada gerak besar dari kami. Hanya meletup dari api sumber api dan suara aliran air.


Namun, di saat itu aku dan Farrel layaknya sedang berkomunikasi jarak jauh. Hati ke hati kami saling mengerti kode masing-masing.


Napas kami berhenti, konsentrasi ditajamkan, mata kami mulai menyipit saling mengintip satu sama lain. Walaupun badan kami saling berlawanan tidur menyamping, di sana sesaat aku merasakan sebuah hubungan.


Suara peletup api mulai mengecil, cahaya meredup, dan suhu pun kembali mendingin. Kayu bakar di sana sudah kehabisan bahan bakarnya, sudah berlalu cukup lama untuk dia menyala dan sampai pada akhirnya api tersebut harus padam.


*Pltak


Suara meletup api unggun terakhir berbunyi, mengikutinya kayu bakar pun ikut padam menyisakan bara panas. Lalu ....


"... RwAAaAaaaARWh ...!!"


Di detik yang sama terdengar teriakan keras yang kasar, layaknya monster buas dengan ukuran besar. Suara tersebut menggelegar ke seluruh sisi hutan, menggerakkan daun pohon, membuat burung bertebaran, dan menggetarkan permukaan air di sungai.


"Hh!?"


"Hh!?"


Aku dan Farrel pun masuk ke posisi siaga, berdiri dari tempat tidur itu sambil mengangkat senjata.


Iya, tentu saja tidak mungkin semudah itu.


 

__ADS_1


 


__ADS_2