
Tubuhku jatuh tengkurap, tapi di sana aku dengan cepat membalikkan tubuh ke posisi terlentang agar tanganku terbebas.
"RAuwgh!!"
Bug, Bug, Bug ....
Monster ogre itu sudah dekat, dia masih memukul dan menebas pohon di sekitar. Kebetulan, pohon-pohon yang ada di dekatnya berukuran besar hingga menghambatnya.
*Krek, krek ....
Rekahan kayu terdengar begitu dekat dan jelas, wajah dari monster itu mulai terlihat dengan jarak pandang yang pendek. Dia memandang tepat ke arah wajahku, dengan ekspresi buas mulut penuh liur.
"Hh, hh, hah, hh ...!"
*Dug, dug ... dug, dug ....
Aku mengeluarkan pisau di saku yang ada di dada, menggunakannya untuk memotong beberapa tanaman yang membelit kakiku barusan. Dorong, tarik, dorong, tarik, layaknya menggunakan gergaji aku memotong ikatan tersebut.
Detak jantungku terpacu begitu kencang, tanganku sampai gemetar karena rasa takut menghadapi monster tersebut. Akar-akar di sana beberapa ada yang alot, dan sebagian lagi ada yang keras mengandung selulosa. Bagian tanaman menjalar tidak berkayu dapat aku potong dengan mudah, tapi untuk batang yang keras punya ketidakcocokan dengan sisi pisau.
Bugkh!
"RRrrRRgh, Rgh, ARghh, RwAWaagh ...!"
Monster itu terjepit di antara pohon, tapi pohon tersebut adalah penghalang terakhir yang menghalangiku dengan sang monster. Ukurannya cukup besar, dan dia butuh sedikit usaha untuk menembusnya. Batangnya sangat besar dan kokoh, dan entah kenapa dia malah kesulitan untuk merobohkan dua pohon terakhir tersebut.
*Krek, krek, krek ....
Tapi, tenaganya masih cukup untuk merekahkan kayu tersebut. Dengan dorongan, dia terus membuka sela pohon tersebut agar tubuhnya masuk sedikit demi sedikit. Kemudian, di rekahan tersebut dia juga mulai menjulurkan tangannya, berusaha mendekat sebisa mungkin untuk menjangkau kepalaku.
"I-Ivan!"
Farrel datang, dia mengeluarkan kapak yang ada di pinggangnya dan segera membantuku memotong batang tanaman berkayu sisa barusan. Berbeda dengan pisauku, Farrel dengan hantaman kuat sisi tajam dapat memotong kayu tersebut dengan mudah.
*Krek!
Pohon di sana pun kembali merekah, kali ini sela yang dibuat mereka menjadi lebih besar dan mampu membuat tangan monster tersebut masuk lebih dalam. Kala itu Farrel masih perlu membantuku keluar karena ada batang yang masih mengikat. Tapi, di waktu yang sama aku ada di jarak yang terjangkau oleh monster tersebut.
*Flash
Tentu aku tidak diam saja. Ketika monster itu hampir menjangkau tubuhku dengan tangannya, di sana aku melakukan pembelaan diri dengan menyorotnya menggunakan lampu senter. Cahaya dari lampu tersebut sudah sangat terang, dan ketika makhluk malam dengan penglihatan tajam mendapat cahaya terang, mereka akan mendapat gangguan yang lebih parah.
Beberapa karnivora malam seperti burung hantu dan mamalia bermata besar bisa melihat dalam gelap. Tapi, dia juga akan mengalami kebutaan sesaat ketika mendapat cahaya terlalu terang. Aku di sini memanfaatkan hal tersebut, senter tersebut sudah sangat terang bagi manusia sendiri.
"RrGH!?"
Monster itu seperti dugaan menerima dampaknya. Si makhluk besar berotot itu memicingkan mata, menggerung ganas, dan menutup wajah dengan sebelah tangan berontak karena cahaya tersebut. Tapi, di saat yang sama dia masih tidak menarik satu tangannya lagi. Itu menjadi bahaya karena dia ada di jarak yang cukup untuk menggapaiku. Dengan julur tangan acak ke berbagai arah, hanya masalah waktu sampai dia menemukan posisiku walau dengan keadaan mata tertutup.
*Stab
__ADS_1
Perasaan terancam itu membuatku kembali melakukan perlindungan diri. Telapak tangan monster besar yang menjulur dan bergerak acak itu aku serang dengan tancap pisau, dalam dan sedikit menyayat permukaan kulitnya.
"GHAafawgh!!"
Sang monster terlihat kesakitan, dia menarik tangannya dan bergerak mundur sebagai bentuk pertahanan diri.
"Oke, sip, Ivan."
Lalu, dengan ulur waktu yang kulakukan Farrel ternyata sudah selesai dengan akar pohon. Aku pun dibantu berdiri, sedikit mendapat ancang-ancang, lalu didorong bersama oleh Farrel agar bisa kabur dengan cepat.
Monster itu mulai kembali mengamuk, dia mundur beberapa langkah untuk menerobos pohon tersebut dan mengejar kami kembali.
Pohon yang sudah miring dan merekah melebar pun tidak bisa menopang dorongan tersebut. Mereka runtuh dan akhirnya berhasil ditumbangkan. Si monster berlari, dia mengejar kami dengan cara yang sama sambil menyingkirkan banyak pohon yang menghalangi. Medan yang terjal dan sempit memudahkan kami untuk melarikan diri. Kecepatan dan kekuatan makhluk itu jauh di atas, membuat kami hanya dipandang seekor binatang melata baginya.
"Hah, hh, hh, hah ...."
Kami pun berlari, terus berlari menjauhi makhluk tersebut. Amuk hebat dia yang membanting segala pohon dan rintangan membuat kami ketakutan, getar langkah kaki dan raungannya terus menggelegar setiap detiknya. Mungkin sekarang kami bisa berlari lebih jauh, tapi tentu tidak selamanya.
Tubuhku penuh dengan keringat, suhu yang keluar di setiap napas sudah memanas akibat pembakaran energi berlebih. Keadaanku sudah letih karena berjalan seharian mencari box, dan sekarang dipaksa untuk kembali bergerak.
Untungnya di sana keberuntungan masih memihak. Kami yang berlari terus pun menemukan goa di ujung persimpangan. Farrel memberi tahuku, dan aku jawab setuju sambil menyorot goa tersebut dengan senter yang masih menyala sejak tadi.
Goa itu cukup dalam, sedikit lembab dengan sedikit aliran air, dan punya ruang yang luas.
Awalnya goa menjadi tempat ambigu karena kami tidak mengetahui apa saja yang hidup di dalam. Tapi, kali ini yang aku pikirkan adalah sebuah keselamatan. Batu lebih keras dari kayu, dengan postur tubuh yang seperti itu, seharunya monster itu tidak dapat membelah gunung atau meruntuhkan pintu goa dengan pukulannya.
Berlari, cukup jauh, meliuk-liuk ke dalam goa yang untungnya masih memiliki ruang luas. Sampai pada akhirnya, kami pun mulai sadar bahwa suara dari monster itu sudah kecil terdengar di telinga. Jadi, untuk sementara Farrel dan aku menurunkan kecepatan dan beristirahat dari lari.
"Hah ... hah ... hah ...," hela napasku yang kelelahan dengan dada kembang kempis. "Kita, hah ... kita sudah aman?"
"Gluk— Hah, hah ... hah ... kayaknya sudah. Lubang tempat masuk goa terlalu kecil buat dia. Jadi, gak mungkin dia kejar sampai masuk ke sini," jawab Farrel menelaah.
Getar tanah sudah tidak terasa dari tempat kami berdiri, suara raungan monster itu sudah menyatu dengan nyanyian hutan di luar sana. Semua yang ada di luar, sekarang digantikan oleh suasana unik dari goa yang kami tempati.
Suara tetesan air, atmosfer lembab, pantulan khas setiap aku ada getaran membuat perasaan asing. Aku hanya pernah ke goa satu kali, dan itu juga adalah hasil dari pariwisata di mana orang yang mengunjungi begitu ramai. Berbeda dengan kali ini, tidak ada orang yang memadati, hanya aku dan Farrel di sini.
Goa yang asli ternyata lebih berdebu, lebih lembab, lebih tenang, lebih gelap, dan lebih banyak menyimpan bahaya. Permukaan di sini tidak rata, dan aku sangat mungkin untuk terjatuh kembali ketika berjalan. Untuk saja Farrel bisa menuntunku lebih baik dari dugaan.
"Huft ... hah ... kamu tahu yang barusan itu binatang apa?" tanyaku pada Farrel.
"Kenapa kamu pikir kalau aku tahu?" jawab Farrel membalas dengan sedikit sinis.
"Bukannya kamu sering ke gunung?"
"Aku ke gunung itu gunung yang aman, memang dari awal sudah ada pemandu dan terbuka buat umum. Ular jarang kelihatan, serigala gak pernah ada, apalagi binatang aneh kayak tadi."
Iya ... itu memang wajar. Kami hidup di daerah yang sudah bisa dikategorikan ke dalam kota. Banyak kendaraan bermotor dan jalan beraspal luas di setiap sudutnya. Tentu jika dia bilang wisata ke gunung, maka tidak akan jauh bergeser keadaannya dari kotaku tersebut. Jika aku hidup di kota dengan dasar alam yang kuat seperti pulau Borneo, mungkin dia akan punya lebih banyak pengalaman dengan hewan buas.
"Kalau gitu, aku ganti pertanyaannya. Menurutmu itu binatang apa? Dan kenapa dia kejar kita kayak barusan?"
__ADS_1
"Aku gak tahu, dari tampangnya kayak gorila. Tapi, gorila warnanya biru dan gak seganas itu. Amuk barusan kayak jelas banget dia mau bunuh kita."
"Iya, aku juga yakin kalau gorila harusnya bukan nokturnal. Dia lebih kayak binatang yang gak bakal nyerang kalau gak diganggu."
Kami selayaknya diserang oleh sebuah hewan yang hanya dipinjam bentuk tubuhnya. Layaknya film, di dalam tubuh hewan tersebut terdapat pribadi yang jauh berbeda, jauh lebih ganas dan mematikan, dan terasa kalau dia punya dendam pada manusia.
Banyak film yang melambangkan ular sangat berbahaya, atau banyak ada film fantasi yang menggambarkan hiu sebagai hewan pembunuh luar biasa. Padahal, dalam kehidupan asli mereka cenderung layaknya standar hewan pada umumnya. Membunuh manusia karena kesalahan dan bertahan hidup.
"Kalau gitu, kata kamu sendiri gimana hewan itu?" tanya Farrel yang membalikkan pertanyaan.
"Anggap saja itu adalah guardian. Di game survival memang sudah biasa ada pembunuh yang bikin kita harus buru-buru buat selesaiin gamenya, atau memang seenggaknya bikin game jadi lebih susah."
"Tapi, dia gak kejar kita sampai ke goa. Apa itu artinya di goa juga ada monster kayak dia lagi?" tanya Farrel memastikan.
"Aku gak bisa jamin kalau memang gak ada. Tapi, aturan game itu adil, setiap kesulitan pasti ada celahnya. Game yang gak bisa diselesaiin itu bukan game. Bisa jadi tempat ini memang safe area. Kalau lihat posisi box suplai yang kita dapetin semua asalnya dari luar, berarti memang benar kalau dia datang jagain kita buat gak keliling lagi waktu malam."
Sampai sekarang ingatan untuk menjawab pertanyaan tentang game ini tidak muncul. Sensasi gelombang sihir yang mengalir memberiku petunjuk sepertinya tetap tidak berlaku untuk kasus tersebut. Mungkin Octa si pembuat dunia memang sengaja membiarkan kami mencari informasi di tentang hutan ini sendirian.
"Aku aneh, memangnya kamu yakin kalau aturan di game dipakai buat kasus sekarang?" tanya Farrel mulai meragukan.
"Cuman ini yang aku tahu sekarang. Fakta kalau ada box suplai disebar luas, itu sudah masuk aturan klise di game. Kamu mungkin gak tahu, tapi aku kenal orang yang melemparku ke dunia aneh ini. Aku juga simpulin berdasarkan pribadi dia," jelasku menjawab keraguan Farrel.
"Hmn ... begitu, iya."
Walaupun begitu, aku tetap tidak punya bukti meyakinkan. Farrel yang tentu tidak bodoh bisa mempertanyakan hal ini, dia tentu tidak bisa menggantungkan nasibnya pada kesimpulan 'tak berdasar. Oleh sebab itu, kecurigaan tersebut memang ciri dari dia yang bisa bertahan di dunia ini.
"Tapi, Farrel," panggilku mengalihkan topik pembicaraan. "Sebelumnya, makasih kamu mau selamatin aku barusan."
"Selamatin?"
"Iya, barusan kamu sampai balik lagi bantu aku yang jatuh. Kalau kamu gak bantu, aku harusnya sudah mati sekarang."
"Gak usah bahas. Itu malah bikin aku jijik, Ivan. Aku cuman bertindak hal yang wajar. Gak mungkin aku tinggalin kamu gitu saja."
"Enggak juga, kamu yang ketakutan lihat binatang besar kayak tadi dan aku yang jatuh, respons kamu yang ninggalin dan selamatin diri juga masih wajar."
"Sendiri itu kematian, aku masih butuh orang walaupun gunanya cuman sedikit buat bisa lolos di hutan. Kalau kamu mati, aku bakal susah buat selamat juga."
"Terserah katamu, aku cuman mau bilang makasih."
"Aaa ... Ivan? Kamu geger otak?" tanya Farrel dengan nada bertanya dan memundurkan langkah menaikkan waspada.
Suasana di sana mulai memburuk. Farrel yang mendengarkanku bertutur kata halus membuatnya merasa tidak nyaman. Di sampai di satu titik di mana Farrel punya bayangan kalau aku lagi sakit, bertindak layaknya orang yang berbeda, bertindak layaknya orang gay menurutnya.
"Heh, memangnya seaneh itu kalau aku bilang makasih ke orang? Heh," ucapku yang kembali mengembalikan nada sinis seperti biasa.
__ADS_1