Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 52 - Merasuknya Latar Belakang


__ADS_3

Hanz tidak berdalih, dia tidak bersikap panik layaknya orang yang sedang tersudutkan. Jujur saja, aku tidak terbayang bagaimana orang seperti Hanz bisa mengekspresikan ketegangan. Tapi, sesuai dengan gambaran, dia mengatakan sebuah evaluasi tersebut tanpa rasa ketakutan sama sekali.


"Jadi, barusan itu kamu serahin diri buat ditangkap?" tanyaku pada Hanz.


"Tidak, tidak sama sekali."


"..."


Berbeda dengan pernyataan sebelumnya, Hanz malah menolak untuk menyimpulkan seperti ini. Iya, aku sendiri sudah mengerti, tidak mungkin tantangan mencari penjahat akan berakhir semudah itu.


"Aku hanya bilang berdasarkan bukti yang barusan, maka arahnya padaku. Tapi, jika dipikirkan lebih jeli, sebenarnya aku lebih berpikir kalau si penjahat ini memang sengaja mengarahkan dosanya padaku."


"Hoo ... gimana caranya kamu tahu?" tanyaku dengan nada menantangnya.


"Pertama, sesuatu yang paling mengarahkan padaku adalah pisau dapur. Benda itu hanya ada di dapur, pisau milikku yang paling tajam dan disimpan di gudang makanan untuk memotong daging ikan tahap pertama."


"Masuk akal, orang awam yang jadi pengunjung harusnya gak tahu ada pisau itu di penginapan ini."


"Tapi, sayang, Kaivan," timpal Hanz dengan nada lembut khas sambil tetap memandang kosong di matanya. "Kita bisa katakan kalau pelaku ini bukan orang awam. Pengecoh-pengecoh ini seakan bilang kalau pembunuhan tersebut adalah hasil dari rencana matang. Di dalam rencana tersebut, tentu dia harus paham seluruh alat dan tempat di sini."


"Hmn ... dari hasilnya yang termasuk rapi, memang cuman masuk akal kalau ini adalah hasil rencana," ucapku mengangguk setuju.


"Lalu, kedua, Kaivan. Ann bilang kalau ada kemungkinan si korban diracun agar dia tidak sadarkan diri atau mengalami gangguan fisik. Itu sebabnya dia tidak bisa melawan dan mengeluarkan kapak di sakunya. Jadi, dia hanya membiarkan dirinya menjadi korban tanpa perlawanan."


"Bukannya itu masih kemungkinan?"


"Memang benar," jawab Hanz kembali. "Tapi, itu tidak membantah kalau aku sebagai koki pengatur makanan yang bisa melakukan hal semacam itu."


Hmn ....


Aku sendiri tidak paham bagaimana cara kerja racun di tubuh. Sesuatu yang aku tahu adalah berita paling umum yang pernah jadi berita yaitu racun sianida. Tapi, untuk mendapatkan, membuat, dan cara meracuninya, aku rasa hal tersebut butuh waktu untuk belajar.


"Kalau gitu, kemungkinan besar pelakunya ada di dalam lingkup staf penginapan, begitu?"


"Melihat semua ini, memang kesimpulan paling cepat adalah merujuk pada staf penginapan. Tapi, jika kita bisa secepat ini berpikir begitu, artinya si penjahat memang melakukan setting demikian."


"..."


Di saat yang sama, Hanz memberi bukti dan pembelaan. Dia menunjuk kalau bukti itu mengarah padanya, tapi dia juga membuktikan kalau hal tersebut bukan bukti yang absolut.

__ADS_1


"Lalu, satu hal lagi."


"Hn?"


Sebelum percakapan benar-benar berakhir, Hanz mencoba mengatakan kalimat tambahan.


"Aku tidak memaksa kau untuk percaya padaku. Tapi, dari ingatan yang diberikan tentang seluruh latar belakang koki. Aku tidak melihat kejadian pembunuhan ini."


Kata-kata tersebut keluar dengan nada merendah. Cukup jarang dia mengeluarkan hal tersebut, biasanya dia lebih seperti tegas menyerang lawan bicara walau nadanya halus. Tapi, kali ini dia tidak yakin dengan kepercayaan atas perkataannya. Bukan karena dia seperti berbohong, melainkan lebih seperti dia tahu kalau dia tidak pantas dipercaya.


"Iya ... untuk sementara aku bakal percaya itu."


Kami dibawa ke dunia ini bukan dengan aturan lagi. Namun, kali ini kami diberikan ingatan latar belakang orang yang kami mainkan. Contohnya seperti aku, sekarang diriku ada di posisi sebagai murid dan anggota kelompok belajar dari sekolah tertentu.


Laki-laki yang aku mainkan ini termasuk orang membosankan yang cenderung terbawa oleh masalah di lingkungannya. Untuk status yang lain, aku rasa tidak ada yang menarik darinya, hanya siswa biasa yang punya sedikit gelar cerdas dari teman sebaya lainnya.


Di dalam ingatan tersebut, terdapat ingatan rurut dari awal si siswa ini memutuskan pergi ke penginapan dan apa saja yang dilakukannya. Lalu, aku mengerti kalau siswa yang aku mainkan ini bukanlah pelakunya, aku bukanlah pelakunya. Jadi, sebenarnya cukup masuk akal jika Hanz berkata itu demi pembelaan. Walaupun memang tidak ada bukti kalau ucapan tersebut benar.


*Knock, knock ....


Dari pintu depan di ruang makan, terdengar ketuk pintu yang berupa izin masuk seseorang.


Tapi, tanpa menunggu aba-aba dariku, orang di baliknya pun membuka dan masuk.


"Ivan."


"Ada apa, Farrel?"


Iya, orang tersebut adalah Farrel, dia datang dan langsung menyapaku, mengabaikan Hanz dan Ann yang sebenarnya masih ada di dalam ruangan.


"Kita sudah selesai bersihin mayatnya. Tinggal kubur di gunung kalau mau."


"Kalau gitu, lakukan saja."


"Ha? Maksudmu aku kubur mayat itu sendirian? Kamu pikir itu gampang?" ucap Farrel sedikit menyentak.


"Bukannya masih ada orang lain di sana?"


"Laki-laki cuman aku di sana, sisanya gak ada yang bantu banyak. Tadinya aku bisa kerjain sendiri, tapi lama-lama aku mulai cape."

__ADS_1


"Boleh saja, tapi kalau aku ke sana, itu artinya aku harus lepas dari pengawasan Hanz."


"Hanz ...?"


Percakapan kami terhenti sesaat, posisi Farrel yang di pintu masuk menyipitkan mata dan mengarahkan wajah pada Hanz di belakang. Aku sempat ikut terpancing, sedikit melirik dan melihat kondisi Hanz kala itu. Tapi ....


"Dia juga laki-laki, 'kan? Kalau gitu harusnya dia juga bisa bantu."


Farrel lebih dulu mengajakku bicara. Dia mengatakan hal tersebut seakan Hanz sedang tidak mendengarkan. Mungkin ini sebagai bentuk halus, dia tidak ingin memerintah orang itu, tapi di saat yang sama dia punya kekesalan karena dilimpahkan tugas yang berat sendirian.


"Tunggu dulu, dari awal aku tidak pernah setuju kalau mayat itu dikubur dan diurus seperti tubuh mayat lainnya. Kenapa aku harus menerima tugas yang aku sendiri tidak pernah putuskan."


"Tch," decak lidah Farrel yang kembali kesal.


Aku tidak tahu apa penyebab dia menjadi temperamental sekarang, tapi memang alasan dari Hanz sangat merepotkan dan terlalu egois.


"Stop," kataku sambil mengangkat telapak tangan menghentikan adu pandang mereka berdua. "Hanz, kamu gak usah bantu, cukup datang dan lihat saja kalau mau. Jadi, aku bisa bantu Farrel di sana."


Itu adalah keputusan tengah. Aku meminta Hanz untuk berpindah posisi. Jadi, tidak perlu diam di dapur, mengawasi Hanz bisa dilakukan jika Hanz sendiri ada di dalam jangkauan penglihatanku, tidak peduli aku sedang bekerja atau tidak.


"Ah, kalau begitu baiklah. Aku mungkin akan terlambat membuat kalian sarapan. Tapi, itu semua keputusan kalian."


Pria dengan pandangan kosong itu menyetujuinya dengan cepat. Berbeda seperti respons sebelumnya yang kekanak-kanakan, kali ini dia bersikap lebih dewasa.


"Kenapa dia bisa langsung nurut sama kamu, Ivan?" tanya Farrel padaku sedikit membisik.


"Aaa ...."


Aku termenung cukup panjang, karena aku juga tidak mengerti bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.


"Tidak ada alasan khusus. Entah bagaimana kau melihat penampilanku, tapi diriku masih seorang koki sekarang. Jadi, sebisa mungkin aku tidak ingin tanganku menyentuh daging darah manusia."


Dari pojok belakang, ternyata Hanz dapat mendengarkan kalimat tersebut. Dengan respons jawabnya yang tegas dan terus terang barusan, aku dan Farrel merasakan kaget yang serupa.


Jika dipikir kembali, aku juga tidak ingin menyentuh darah manusia yang telah mati. Tapi, ketika aku mengambil sosok sebagai seorang koki, aku lebih tidak ingin lagi menyentuh darah manusia. Makanan bagi kami umat manusia terkadang cukup diperhatikan segi kebersihannya. Jadi, alasan tersebut tidak terdengar egois lagi. Ketika dia menjaga kebersihan, Hanz sekarang lebih seperti orang yang menjaga kehormatan makanan dan menghormati pula orang yang akan memakannya dengan baik.


 


 

__ADS_1


__ADS_2