Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 58 - Kedatangan Amalia Di Kamar


__ADS_3

Sakit di perutku tidak berlanjut. Pukulan dari Imarine memang kuat bertenaga hingga membentuk lekuk di perut, tapi itu tidak seberapa dengan seluruh rasa sakit yang biasa kurasakan belakangan ini.


Aku keluar dari kamar, turun ke lantai satu dan izin untuk mengambil minum di dapur. Suplai air minum sangat membantu untuk mendinginkan tubuh, mungkin hal itu juga yang bisa menenangkan pikiranku sekarang.


Melewati aula, aku melihat Pero, karena malam baru berjalan satu perempatnya, siluman gagak itu masih sigap duduk di meja penerimaan. Mungkin beberapa orang akan merasa tenang ketika ada orang menemani kesendirian. Tapi, posisi Pero kala itu lebih ke arah mengerikan dibanding menenangkan. Sikap duduknya yang seperti robot menatap lurus malah memberi kesan dia mirip seperti boneka horor di malam hari.


"Ah ... Kaivan."


Sampai akhirnya dia memalingkan dan mengucap namaku.


"Ada yang bisa kubantu malam ini," lalu lanjut tanya sang siluman gagak.


Aku yakin diriku tidak takut sesuatu yang sejenis dengan hantu. Akan tetapi, apa yang diperlihatkan Pero padaku cukup menyeramkan. Dia duduk di salah satu sudut ruangan aula di mana hanya sudut tersebut yang memiliki cahaya redup lampu.


Penginapan ini jauh dari pemukiman utuh, sumber listrik murni berasal dari generator kecil, oleh sebab itu kami harus menghemat bahkan untuk penggunaan lampu.


Semua itu bersinergi dengan baik ketika Pero bicara denganku dengan kalimat template resepsionis. Entah kenapa sesuatu yang seperti itu terasa merinding.


"Gak ada, aku cuman mau ambil minum," jawabku pada Pero agar membiarkanku lewat/


"Kalau begitu. Silakan ke dapur, di sana masih ada koki kita."


"..."


Iya, makan malam belum lama lewat. Mungkin saat ini Hanz masih sibuk dengan pekerjaannya membersihkan dapur.


Aku pun berjalan sesuai anjuran, melewati ruang makan dan kemudian membuka pintu dapur. Ruang makan sendiri saat itu sedang kosong, semua makanan dan minuman yang semula disediakan sudah ditarik kembali. Jadi, terpaksa aku menemui Hanz langsung.


*Ceklek


Aku membuka pintu dapur.


*Pelentang


Lalu, tepat saat pintu terbuka, aku dapat mendengar kegaduhan dari ruang kerja dapur tersebut. Aliran air dari keran, tumbukan beberapa bahan aluminium, dan gesekan dari spons bersabun.


"Hn? Ivan? Kamu gak tidur?"


Yang bicara bukan Hanz, maupun anak kecil bernama Ann yang selalu bersamanya. Dia adalah Farrel, wakil dari kami yang menggantikanku untuk mengawasi Hanz. Ketika biucara, dia sedang duduk dekat dengan pintu masuk dapur melihat Hanz dari kejauhan.


Kondisi Hanz yang mencurigakan masih belum dicabut, setidaknya bagi Farrel itu sendiri. Dia menawarkan diri dari tugas itu setelah memberikan waktu untukku beristirahat atas kerja keras memimpin rapat merenungkan siapa pelaku pembunuhan.


"Aku cuman mau minum," kataku pada Farrel walau tidak melihat wajahnya.


Awalnya aku ingin mengambilnya sendiri, tapi barang-barang di dapur itu terlalu banyak hingga sulit untuk aku mencari sumber yang tempat. Ditambah dengan kegaduhan dari Hanz, aku jadi sulit masuk ke dalam lingkup kerjanya.


"Ann, ambilkan dia air minum."


Sampai akhirnya Hanz bicara sendiri memerintahkan gadis kecil di sana.


Posisi gadis itu ternyata duduk tidak jauh dari Farrel, di sampingnya dan hanya berjarak setengah meter. Aku tidak sadar keberadaannya barusan, tahu-tahu tubuhnya lewat dari samping dan masuk ke lingkup kerja dapur milik Hanz.


Gadis itu berjalan cukup jauh, dia mengambil satu pijakan kecil yang disembunyikan di bawah meja, lalu mengisi gelas dengan air sesuai pesanan untuk selanjutnya diberikan.


Seperti biasa, setiap gerakan anak tersebut begitu mungil aku lihat. Dia bergerak, berlari kecil, menggapai tempat tinggi, dan bahkan mendekatkan muka ingin melihat setiap detik air jatuh pada gelas.


Walaupun bicaranya lancar dan cenderung dewasa, dia masih punya sifat polos dan bersih di hatinya. Entahlah, tapi seperti itu yang kurasakan sekarang. Dia juga begitu imut ketika menyodorkan tangan beserta gelas padaku.


Setelah mendapat apa yang diinginkan, aku pun mulai pergi dari dapur dan meninggalkan mereka dengan satu atau dua kata pamit.


"Tunggu, Kaivan."


Namun, di sana Hanz memanggil.


"Ada apa?" jawabku berbalik badan melihat ke arahnya.


"Aku hanya ingin bertanya. Sampai saat ini, apa kau serius sedang mencari siapa pelaku pembunuhan itu?"


"Aku gak pernah main-main."


"Benarkah?" tanya Hanz sambil sedikit memainkan nadanya. "Selama yang aku lihat, kau mungkin memang tidak bermain. Tapi, di saat yang sama, kau juga tidak benar-benar serius dalam hal ini."


Alisku tergidik sedikit. Ucapan tersebut aku ambil sebagai sebuah hinaan atas semua kerja kerasku. Padahal, aku tidak melihat Hanz benar-benar bekerja selain dengan tugasnya sebagai koki di sini.


"Cuman gara-gara aku gak bisa tunjuk pelakunya, bukan berarti aku gak serius, Hanz," kataku dengan sinis.


"Ah ... seperti itu, iya," jawab Hanz dengan nada khasnya yang menggemulai layak angin. "Kalau begitu, di saat kau tahu siapa pelaku ini, apa kau yakin bisa membunuh dia?"


"..."


Nada dingin itu terdengar dan terasa hingga menggigil seisi ruangan. Farrel yang mendengar juga sepertinya tidak ingin protes, dia juga malah ikut tegang walau bukan dirinya yang menjadi target.


Dalam pengumpulan bukti, aku masih fokus untuk mencari siapa pelakunya. Belum terpikirkan tentang apa yang aku akan lakukan selanjutnya. Dipikir bagaimana pun, semua anggota di sini adalah orang-orang yang punya hubungan denganku.


Tapi, mau tidak mau aku harus memutuskan. Mereka yang ditetapkan pelaku adalah pion yang disiapkan oleh Octa di dunia ini. Mereka yang membunuh adalah dipilih dan mengabaikan kehendaknya sendiri. Aku adalah korban, dipaksa memerankan orang yang tidak aku kendalikan sebelumnya, begitu pun si pelakunya.

__ADS_1


Huft ... hah ....


"Soal itu, kita bakal tahu nanti kalau pembunuhnya sudah ketemu."


*Ceklek


Kataku sambil menutup pintu dapur meninggalkan seluruh penghuni ruangan.


*****


Aku benci mengakuinya, tapi memang aku sedang menghindar dari kenyataan tersebut. Pasalnya, aku tidak ingin membunuh siapa pun. Walaupun Hanz bilang kalau mereka bukan manusia, walaupun memang di antara kami ada yang bernilai kepalsuan, tapi aku tetap tidak ingin mengacungkan senjata pada mereka.


Biarpun begitu, di waktu dekat aku tetap harus memutuskan. Keraguan yang melibatkan perasaan memang menghambat banyak keputusan. Jadi, sebisanya aku mencoba menggunakan logika.


Aku membawa gelas air sebelumnya di tangan, melewati aula tengah dan naik ke tangga agar bisa masuk ke kamarku. Mungkin dengan keadaan yang lebih kondusif di tempat sepi bisa membuat kepalaku dingin.


Tap, tap, tap ....


Langkah kakiku menelusuri lorong lantai dua yang sebagian besar terbuat dari kayu. Mungkin tidak terlalu keras hingga membuat berisik seisi penginapan, tapi sentaknya berdetak jelas merambat di ruas kaki hingga tengkorak telingaku.


Aku memasuki kamar, meletakkan gelas penuh air, dan duduk di kasur untuk kembali mengistirahatkan tubuh.


Hmn ...?


Aku melihat ke sudut ruangan, sebelumnya aku ingat kalau lampu di kamar ini kutinggalkan dalam keadaan menyala.


"..."


Beberapa detik aku melamun karena kejanggalan di kepalaku.


Entahlah, mungkin hanya ingatanku yang salah.


Sampai pada akhirnya aku mengangkat bahu menerima semua ini. Hal seperti cukup lumrah terjadi ketika aku juga mengalami amnesia sesaat setelah melewati keluar kamar atau sesuatu seperti ruangan baru.


Aku berdiri dari kasur, berjalan ke sisi ruangan untuk kembali menekan sakelar lampu yang didesain menempel di dinding.


*Tap


Suara sentak sekelar tersebut bersama sembur cahaya yang sebenarnya redup karena berwarna kekuningan.


*Stare~


"Hn?"


Tanpa ragu, aku pun melihat ke arah yang dicurigai. Sedikit menengok dan menggerakkan mata tidak cukup melelahkan. Hal tersebut bisa kulakukan sambil berjalan dan kembali ke arah kasur. Karena, tatapan yang kurasakan bukanlah sebuah ancaman, lebih seperti ke tindakan penyusup yang tidak diketahui tujuannya.


Huft ... hah ....


Aku bernapas, mengabaikan tatapan pada orang yang sedang melihat di sisi lain ruangan, dan kembali duduk di kasur untuk melemaskan lagi ototku.


"Ada apa, Amalia," ucapku yang memandang ke bawah, tidak bertatap langsung karena sudah tahu identitas si orang tersebut.


"..."


Aku di sana tidak mendengar jawaban.


Iya, tentu saja. Amalia adalah gadis bisu, dia tidak bisa berkomunikasi dengan cara normal selayaknya aku bicara dengan Imarine sebelumnya. Berbeda dengan biasanya, kali ini dia datang tanpa ada Pero di menemani. Jadi, siluman gagak yang biasa mewakilinya pun sekarang tidak bisa menjelaskan kondisinya.


*Stare~


Tapi, secara bersamaan Amalia tidak kunjung pergi atau setidaknya berusaha untuk berkomunikasi denganku sekarang. Dia hanya menatapku dari sudut ruangan tanpa ekspresi yang signifikan.


"Kamu tahu, kalau kamu mau ngomong, kenapa gak pakai cara lamamu yang tulis di catatan itu?"


"..."


"Mungkin sebelumnya kamu memang gak punya alat. Tapi, dunia yang kita tempatin sekarang agak beda. Kita berperan jadi murid lagi, dan harusnya kamu juga punya alat tulis sekarang."


"..."


Masih diam tidak menjawab.


Jujur tidak enak rasanya bicara sendirian. Ini seperti aku tidak punya harga untuk dapat dibalas kalimatnya. Mungkin Amalia memang bisu, tapi setidaknya dia masih punya gerak tangan atau setidaknya usaha untuk bisa membalas pembicaraanku barusan. Tidak perlu hal besar, mengangguk, menggeleng, atau setidaknya lirikan mata sudah cukup. Namun, kali ini dia tidak menimbulkan reaksi seperti itu sedikit pun.


Hingga pada satu titik aku melihat dia menggerakkan tangannya ....


*Ceklek


... Untuk menutup pintu.


Suara tersebut tentu terdengar jelas olehku, bersama dengan pintu itu terlihat cahaya dari lorong luar memudar dihadang oleh pintu. Sekarang kami berdua di kamar, tapi belum sama sekali rasa protes muncul pada gadis tersebut.


"Kenapa ditutup? Kamu mau bicara privasi soal sihir lagi?" tanyaku sedikit mengerutkan alis.


"..."

__ADS_1


Yang ada di kepala hanya rasa penasaran yang diungkap sebagai pertanyaan.


*Step, step, step ....


Lalu, belum sempat rasa penasaran pertama terjawab, Amalia sudah melakukan tindakan baru. Dia berjalan dan mendekat ke arahku.


"Kalau kamu mau bicara sesuatu tentang sihir, kamu sudah bisa terbuka sekarang."


"..."


"Gak lagi alasan buat sembunyi-sembunyi. Jadi, kamu bisa ngomong bebas dan malah jelasin semuanya nanti waktu sudah kumpul."


"..."


*Step, step ....


"Hmn?"


Berkali-kali, aku berusaha bicara pada Amalia. Tapi, tetap tidak ada respons. Beberapa kali, aku melakukan kontak mata dengannya, tapi tiada jawab dari gadis tersebut. Kalimatku diabaikan, pandanganku tidak dibalas, Amalia sekarang bergerak sendiri tanpa terikat kontak apa pun denganku.


Setelah menutup pintu, dia berjalan dan mendekat padaku. Dari sisi ujung pintu, menuju sisi kasur tempatku duduk. Di setiap langkahnya, pembicaraan barusan lewat begitu saja tidak dibalas. Sampai sekarang, dia berdiri tepat di depanku, dengan ekspresinya yang datar.


Sungguh aneh, bahkan untuk orang aneh seperti Amalia.


"Serius, ada apa, Amalia? Aku tahu, kamu bisu, tapi harusnya kamu tahu cara jawab omonganku pakai—"


*Whoush ....


"Hh!?"


Gelombang emosi.


Perasaan yang pekat. Tidak lain dan tidak bukan ini berasal dari Amalia. Lonjakan ini begitu hebat terasa di mulutku dan hidungku. Padahal aku yakin tidak ada hal yang bisa membuat Amalia bergetar perasaannya.


Jika memang ada yang bisa mempengaruhi keadaan sampai separah ini di waktu yang tidak terduga tanpa faktor jelas. Maka, aku hanya bisa menduga satu sebab di mana hanya Amalia yang bisa menjadi sumbernya.


Kekuatannya.


Dia sedang menggunakan kekuatannya. Seperti biasa dulu dia menggunakan emosi kemarahan untuk meningkatkan kekuatan fisik, lonjakan emosi yang kurasakan sama kerasnya seperti saat itu. Akan tetapi ....


Apa ini? Ini bukan kemarahan.


Aku memejamkan mata dan memegang mulut karena sebuah rangsangan kuat. Pasalnya, gelombang emosi ini berbeda, bukan meningkatkan kekuatan fisik dan memaju jantungku, lebih seperti menggelitik dan memberikan sebuah rasa unik, sesuatu yang penuh di lidah oleh rasa ....


Manis.


Aku mencoba menaikkan pandangan, melihat wajah Amalia yang sementara ini tepat berdiri di hadapanku.


"Hah, hah, hah, hh, hah, hmn, ah. hah ...."


"H-hn?"


Ekspresi datar yang sebelumnya ada di wajah menghilang, dia sudah mengganti penuh auranya. Gadis tersebut bernapas keras, berulang-ulang, mengembang kempis dadanya, dan dengan wajah yang memerah seperti sedang mendidih kepanasan.


"Wo-woi, Amalia—"


*Grip


"Hh!?"


Amalia mencengkeram bahuku, cukup kuat hingga kalimatku terpotong di sana.


Aku yakin kala itu dia tidak sedang menggunakan kekuatan kemarahannya. Tapi, di saat yang sama, kekuatannya kala itu tidak kalah kuat.


*Push


Buk.


Tidak berhenti sampai di sana. Amalia yang sudah memegang bahuku pun melakukan gerak lanjut dengan mendorong tubuhku hingga jatuh ke kasur. Baru kali ini aku didorong kuat dengan kondisi seperti itu, ternyata rasanya cukup menegangkan juga.


Posisiku di bawah, tidur terlentang sambil dikunci bahu oleh Amalia yang di tas. Tidak terlalu rapi tidur normal, paksa dorong, kemiringan terbentuk dan meninggalkan beberapa bagian kaki menjuntai di sisi kasur.


*Gluk


Tapi, itu tidak penting. Kondisi sekarang yang aku hadapi jauh lebih mengkhawatirkan.


"Hah, hah, hh, ahmn, hah," napas berat Amalia yang panas mulai terpapar sedikit ke permukaan kulitku. "Kalau kayak gini, aku sekarang bisa ngomong sama kamu, Ivan."


"..."


Ha?


 


 

__ADS_1


__ADS_2