Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 1 - Langkah Menuju Rumah


__ADS_3

Di perjalanan pulang aku sedikit teringat dengan apa yang dibicarakan oleh Geza. Dia yang dikonfirmasi kematiannya oleh Pero membuat apa yang terjadi bersamanya menjadi bermunculan lagi.


Rasa sakit ....


Penyihir lobster yang berwujud bocah itu selalu mengulang hal tersebut. Dia bilang aku belum cukup untuk mengerti rasa sakit sebenarnya. Bahkan, dengan kekuatanku untuk mendeteksi emosi, dia masih tidak bisa menerimanya.


Memang benar, aku tidak bisa merasakan apa yang benar-benar dia rasakan. Sesuatu yang muncul dan terdeteksi sebagai gelombang emosi akan diubah menjadi rangsangan sederhana di kulit dan lidahku. Walaupun sebenarnya aku mengerti, konversi tersebut membuat sedikit gap antara perasaan asli dan gelombang emosi yang kurasakan.


Rasa sakit, iya ....


Geza bilang dia hidup dari seorang ibu tahanan pemberontak yang dijadikan budak ****. Dia lahir dan dibesarkan oleh para pemberontak tersebut, dicuci otak untuk menjadi prajurit mereka, tapi berakhir dengan kesendirian setelah pemberontak tersebut dihabisi.


Aku bukan ahli sejarah, aku masih cukup berpengetahuan untuk bisa mengetahui latar kehidupan negara tempat tinggalku. Beberapa kali sejarah gelap diceritakan dan menjadi topik ajaran utama. Entah apa maksud dari rumus pendidikan, tapi aku mendapatkan sejarah gelap tersebut berkali-kali sebelum aku menginjak sekolah SMA.


Negara yang bersatu belum tentu aman, ancaman dari ******* radikal masih bisa membawa kehancuran.


Geza sendiri bilang kalau dia hidup lebih lama dariku, bertentangan dengan penampilannya. Itu memberi sedikit petunjuk tentang di zaman apa dia hidup.


Pemberontakan yang besar pada zaman sekarang sudah tidak menjadi sorotan. Entah benar karena orang-orang berdamai dan tidak menginginkan perang, atau semuanya karena organisasi pemberontak tersebut yang lebih pintar menutup diri.


Di negeriku, hanya ada satu kejadian di mana kelompok pemberontak besar dan menjamur dilibas habis oleh pemerintah. Ini sesuatu yang pernah kupelajari di buku sejarah, tapi pembahasan itu hanya sedikit dan tidak mendetail. Aku tidak ingat nama kelompok tersebut, tapi aku ingat kalau kejadian tersebut lebih dari lima puluh tahun yang lalu.


Dari awal negara tempatku tinggal punya sejarah di mana banyak kerajaan membentuknya di setiap wilayah. Ketika negara mengumumkan persatuan, banyak penguasa-penguasa raja yang terancam kedudukannya oleh pemerintahan negara.


Namun, itu hanya satu alasan kecil.


Tentu masih banyak solusi perdamaian, masih banyak akal sehat di mana negara dan para anggota kerajaan tidak menimbulkan perang. Lagi pula, kala itu masih ada ancaman dari luar di mana negara lain menyerang dan ingin menguasai.


Selama bertahun-tahun pertahanan dan tekad bersatu masih bertahan. Namun, seiring berlangsungnya waktu, kelompok-kelompok kecil yang punya tujuan sendiri berpisah dari negara mulai bertindak. Tindakan-tindakan mereka banyak merusak hingga menjadi duri di negeri sendiri.


Mereka tidak punya kekuatan, mereka tidak punya kekuasaan, mereka tidak punya kekayaan, dan mereka merasa tidak puas dengan kondisi yang ada.

__ADS_1


Pemberontak layaknya seorang anak-anak. Mereka mengacau, mereka merampas, mereka ingin menguasai, tapi semua itu mereka lakukan tanpa melihat sisi lain atau mungkin efek jangka panjangnya.


Kekacauan menurut buku-buku lain yang lebih terbuka terkadang digambarkan lebih kacau—atau mungkin memang begitu aslinya, dibandingkan dengan buku pelajaran dari pemerintah. Dari berbagai cerita dari buku sejarah gelap, aku merasakan memang kalau kematian bukanlah hukuman, melainkan sebuah hadiah.


Mungkin itu yang dinamakan rasa sakit oleh Geza.


Perampokan dan perampasan masih dianggap biasa, pembunuhan adalah sesuatu yang mereka hindari, karena pada halnya yang mereka inginkan adalah menginjak seluruhnya. Mereka melakukan penculikan perempuan, menjadikannya budak. Mereka melakukan ancaman, menginjak orang-orang dalam kekerasan agar mereka menjadi budak menyediakan seluruh logistik. Mereka melakukan penganiayaan, bahkan orang mati saja dijadikan mainan oleh mereka.


Ketika aku ingat isi dari buku sejarah gelap tersebut, aku jadi semakin sadar kalau hidupku sekarang begitu damai. Dunia tanpa perang di mana tidak ada darah tumpah memang menjijikkan bagi Geza, Dia yang melihat dan bahkan dibesarkan di lingkungan tersebut memandang diriku lebih rendah karena ketidaktahuanku.


Huft ... hah ....


Perjalanan panjang menuju rumahku akhirnya berakhir. Karena waktu sudah sore saat aku mulai berjalan di rumah Pero, maka tidak aneh ketika sampai di rumah langit sudah menggelap.


Dari halaman belakang, aku masuk ke teras dan membuka pintu belakang. Dari tempat tersebut aku merasakan keberadaan kehidupan di dalam rumah. Nyala lampu, suara gaduh dari televisi, dan entah kenapa aura dari pemilik rumah, semua tersebut terpancar sampai aku tidak perlu mengetuk bertanya.


Aku tidak berpikir orang tua di rumah ini sedang ada di rumah sekarang. Memang aku tidak terlalu percaya diri dengan kemungkinan tersebut, tapi kedua orang tersebut biasanya akan terdeteksi dengan keberadaan kendaraan pribadi yang terparkir. Jadi, satu-satunya kemungkinan yang mengisi rumahku hanya ....


*Ceklek


*Whoush .....


“Hn?”


Saat aku membuka pintu, ada gelombang emosi yang cukup keras menebar. Rasa sengatan kecil membuat bahu bergidik, tidak menimbulkan rasa sakit, tapi memberikan kejut juga padaku. Gelombang emosi tersebut tentu berasal dari kak Dina yang sedang di dalam rumah.


“Woi, Kak. Gak usah kaget juga, ‘kan?” ucapku sambil berjalan masuk ke area rumah.


“Iya ... kamu datang gak ngetuk dulu, wajar kalau aku kaget,” jawab kak Dina sedang terduduk di sofa menonton televisi. “Lagian, kamu tahu dari mana aku kaget atau enggak? Jarak sepuluh meter, aku gak bersuara, di pintu belakang cuman kelihatan punggung doank.”


“Heh,” endusku menjawab sedikit sinis. “Harus berapa kali aku bilang, aku punya kekuatan buat rasain seluruh emosi.”

__ADS_1


Topik tentang kekuatanku tentu saja pernah diceritakan pada keluargaku. Saat masih kecil dan polos, tentu aku yang saat itu memilih keluarga sebagai tempat pertanyaan pertama. Aku masih tidak mengerti, kala itu aku menganggap hal tersebut wajar bagi semua orang dan bertanya bagaimana cara meredamnya.


Tapi, mereka sama sekali tidak percaya.


Bukan hanya karena aku masih kecil waktu itu, tapi tentu karena pembicaraanku yang tidak masuk akal bagi mereka. Jadi, sesuatu yang keluar dianggap sebagai abal-abal seorang bocah.


Semua tersebut masih bertahan sampai umurku dewasa sekarang. Walaupun mereka masih tidak percaya tentang kekuatanku, tapi perlakuannya sedikit berbeda. Ketika aku bilang sesuatu tentang kekuatanku, mereka bilang itu hanya sebuah kelebihan kecil yang membuatku menjadi manusia sangat peka. Seperti intuisi yang bekerja setiap saat.


“Hmn ...,” jawab dengung kak Dina. “Ngomong-ngomong ada uang di meja jatahmu dari ibu, ambil sebelum kakak ambil.”


“Eh?” responsku berhenti melangkah dan melirik ke meja belakang. “Mana? Di meja sebelah mana?” lanjutku bertanya mencari uang tersebut.


“Ahaha ... kamu ngaku punya kekuatan, tapi masih ketipu sama gituan.”


“...”


Aku terdiam mendapat perkataan tersebut, melongo melihat meja kosong dan menyadari kenaifan terhadap tipu sederhana dari kak Dina. Rasanya seperti aku terkena senjata makan tuan, kejahilan tersebut semakin menyakitkan karena membantah bukti dari kekuatan yang barusan kusebut.


Huft ... ah ....


Tapi, bukan berarti aku tidak bisa menjelaskan.


“Kekuatanku bukan membaca pikiran, aku cuman bisa rasain emosi. Kalau kakak gak punya niat buat nipu, aku gak bakal tahu.”


“Huh? Gimana maksudnya? Ahaha ....”


“...”


Kak Dina menganggap hal tersebut layaknya permainan, menjahiliku seperti kakak kebanyakan, tawanya yang lebih seperti sombong cukup menggangguku.


*Whoush ....

__ADS_1


“Hn?”


Gelombang emosi lagi. Kali ini bukan rasa kaget, bukan sebuah kebohongan juga, melainkan lebih ke arah sesuatu yang menjanggal busuk.


__ADS_2