Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 50 - Kebun Belakang


__ADS_3

Memecahkan misteri seperti ini lebih terlihat seperti latar fiksi. Pembunuhan berencana yang tertutup di tempat pegunungan, latar tersebut seharusnya sangat merugikan untuk penjahat bisa kabur.


Pembunuhan berencana jarang diliput oleh berita karena memang cukup langka kasusnya. Kebanyakan pembunuhan lebih ke arah luapan emosi sekejap hingga tidak sengaja membunuh orang bersangkutan.


Lalu, di tempat ini, sang pembunuh melakukan aksinya di tempat sepi tanpa akses ke luar. Siapa pun yang melakukannya, dia sepertinya tidak memikirkan akibat jangka panjang.


Dalam dunia nyata, kalaupun dia bisa menyembunyikan identitasnya sekarang, suatu saat semua orang di ini akan berurusan dengan polisi. Ketika saat itu tiba, maka habislah nasib si pembunuh dengan persiapan konyolnya.


Detektif asli bisa sangat mudah menemukan pelakunya. Karena di dalam penginapan ini hanya terdapat sembilan orang ditambah satu anak kecil, maka pilihan para petugas itu menjadi sempit dan pelaku tidak bisa melarikan diri.


Jika dalam cara pikir ini, mungkin Octa juga mengambil salah satu cerita bergenre misteri ke dalam ini. Jadi, jika aku ingin menyelesaikannya, mungkin aku harus mengubah cara pandangku menjadi pengamat cerita.


Langkah kakiku masuk ke dalam dapur, masih dalam perjalanan tubuhku untuk mencari Hanz yang sebelumnya memisahkan diri.


Dapur yang aku masuki itu tertutup dari orang luar. Berbeda dengan dapur terbuka atau setengah terbuka di tempat makan cepat saji, penginapan tersebut tidak membiarkan orang dari luar dapur melihat sang koki memasak.


Ketika aku masuk ke pintu, pintunya saja tidak memiliki jendela, sudah seperti pintu kamar biasa. Mungkin si perancang rumah penginapan ini memang tidak mencari referensi tipe rumah modern.


Di dalam dapur, aku tidak melihat keanehan, hanya dapur sederhana yang punya luas sepuluh meter persegi dengan peralatan lengkapnya. Dari mulai ventilasi, meja preparasi, dan tentu penggorengan, semua alat di sini masih ditata hingga dapat dipakai layak. Biarpun begitu, aku tidak melihat sosok Hanz di ruangan tersebut.


Di ruangan tersebut, ada pintu berlanjut. Salah satunya mengarah ke sebuah gudang persediaan makanan, aku bisa melihat karena pintu tersebut memiliki kaca kecil di atasnya. Lewat kaca transparan tersebut, aku bisa melihat bahan-bahan makanan ditata rapi di ruang ber-AC.


Lalu, ada juga pintu kedua, letaknya di sisi lain dengan pintu gudang. Kali ini pintu kayu biasa, dan jika aku mengingat denah seluruh sudut bangunan, maka pintu tersebut seharusnya mengarah ke bagian luar penginapan.


Jika melihat dua pilihan tersebut, tentu aku memilih pintu ke arah luar penginapan. Pintu belakang tersebut lebih cocok untuk seseorang lewat, dan lagi aku juga sudah mengintip pintu gudang sebelumnya.


*Ceklek


Aku membuka pintu, tersorot cahaya matahari pagi yang mengarah padaku. Bukan berarti menyilaukan, karena langit masih biru gelap untuk bisa memicingkan mataku kala itu. Perasaanku saat itu lebih ke arah mendapat informasi baru. Setelah diam di dalam penginapan tertutup, aku baru tahu kalau ternyata matahari masih menyudut kurang dari lima belas derajat.


"Kaivan ... kah? Ada perlu apa kau ke sini? Kau sudah selesai dengan mayat itu?"


Di belakang penginapan ini ternyata ada kebun kecil dengan tanaman-tanaman sederhana yang dibesarkan sendiri. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi setidaknya cukup untuk menambah bumbu sendiri yang jumlahnya kecil.


Hanz sedang berdiri di antara tanaman-tanaman kecil itu. Pandangan kosong seakan melihat titik jauh layaknya orang buta, dia masih sama seperti sebelumnya. Hanya, kali ini dia berpenampilan seperti koki mengelus tanaman dengan lembut dan kasih sayang.


"Aku diminta buat jagain kamu, Hanz. Maaf saja, kamu masuk dalam orang mencurigakan dan berbahaya sekarang," kataku yang masih berdiri di dekat pintu keluar memandangi dari jauh.


"Ah ... jadi kau tidak menutupinya dariku, langsung memberi tahu seperti ini."


"Semua orang sudah tahu kondisi sekarang, dan kamu juga. Aku gak usah pakai basa-basi, saling curiga di saat ini sudah wajar menurutku."


Latar misteri pembunuhan. Jika aku tidak salah, latar seperti ini di sebuah cerita fiksi biasa tidak berhenti di kematian satu orang. Seiring jalan cerita, sudah hal biasa ketika si penjahat melakukan kejahatan lanjutan. Jadi, mengawasi orang mencurigakan perlu dilakukan, semua demi keamanan dan mencegah kematian kedua terjadi.


"Dengar, Kaivan. Walaupun kau memutuskan untuk menjagaku seperti ini, aku masih bsia menggunakan kekuatanku untuk lenyap dari pengawasan kau. Bukankah lebih baik kau mengawasi orang lain?" kata Hanz mengelak yang masih membelakangiku mengurus tanaman.


"Kalau begitu kenapa kamu gak pakai kekuatanmu itu?"


"Aku rasa aku tidak perlu melakukannya sekarang," jawab Hanz dengan tenang.


"Heh, enggak, Hanz," timpalku dengan deham meremehkan. "Mungkin awalnya kayak gitu, tapi kamu sekarang enggak bisa gitu. Sekali kamu hilang dari pengawasanku, itu artinya kibaran perang ke semua orang di sini."


Aku bicara dengan Hanz dengan nada menantang. Orang yang dahulu aku hormati kali ini aku perlakukan seperti seorang musuh.


Apa boleh buat, setelah apa yang dia tunjukan pada kami semua, aku tidak bisa menganggapnya sebagai manusia baik lagi. Dia dengan tangan yang membunuh tiga orang itu cukup mengerikan. Dengan ketenangannya mengayun kapak, aku bisa membaca kalau tiga orang itu bukanlah pembunuhan pertama yang dia lakukan.


"Kaivan, kau mungkin benar, semua orang di sini akan memusuhiku jika aku tidak menurut di bawah pengawasanmu sekarang," ucap Hanz perlahan dengan jeda sambil berbalik ke arahku. "Tapi, aku yakin tidak ada satu pun di antara kalian yang bisa membunuhku, dan itu juga termasuk kau, Kaivan."


"..."


Aku terdiam, mendengarkannya sambil memalingkan wajah sedikit demi sedikit akibat tekanan atmosfer yang terbentuk.


Hanz adalah satu-satunya orang yang aku kenal tidak bisa dirasakan gelombang emosinya. Setiap aku berada dengannya, semua rasa yang biasa dirasakan di lidah menjadi kosong, bisa dikatakan dia tidak punya perasaan sama sekali. Jika aku berdua dengannya, aku bisa merasakan kalau diriku sendang sendirian.

__ADS_1


Biarpun begitu, instingku bilang kalau dia tidak sedang menggertak, terasa penuh kepercayaan diri dari perkataan halusnya.


Dia adalah orang yang punya kemampuan menghilang secara utuh. Baik mata, telinga, bahkan getaran di kulit, semua tidak dapat dipakai ketika dia sudah menggunakan kekuatannya. Sihir tersebut bahkan cukup kuat, dia bisa membuat orang mengabaikan sebuah kejadian besar menjadi angin sepoi lewat saja. Lalu, telah diketahui kalau aku tidak bisa merasakan gelombang emosi darinya. Dengan semua keunggulan itu, dia bahkan bisa membunuhku sebelum aku sadar.


Huft ... hah ....


Dilihat dari segi ini. Hanz sangat tidak menguntungkan untuk dilawan. Jadi, sebaiknya aku tetap membuat dia berada di sisi kerja sama. Di satu sisi, untungnya dia bukan orang temperamental seperti Geza.


"Hanz," panggilku membuka percakapan lagi. "Apa tujuanmu sebenarnya? Kenapa kamu tunjukin sikap kayak kamu sengaja mau dimusuhin?"


Kali ini aku mengubah cara bicara, dari memojokkan menjadi memberi tangan. Kalimatku diubah, dari pada mengancam, aku lebih memposisikan diri sebagai orang yang percaya.


"Bermusuhan, iya," ucap ulang Hanz dengan nada berlanjut sehalus angin. "Kalau begitu, berikan alasan logis kalau aku harus berteman dengan semua orang di sini?"


"Alasan ... logis? Hanz, bertindak sendirian sekarang sudah jelas merugikan. Informasi terbatas, tindakan setiap orang jadi gak teratur. Kumpul bareng di kondisi sekarang lebih bagus buat naikin persentase keberhasilan," jelasku dengan panjang pada Hanz.


"..."


"..."


Tapi, lelaki dengan wajah tenang tatapan kosong itu tidak membalas. Dia melihat ke arah pandangan jauh di belakangku, tanpa membalas ucapan barusan dan membiarkan kondisi dingin sementara. Sampai akhirnya terdengar sebuah suara jawaban.


"... Hanya itu?"


Eh?


Hatiku tersentak mendengar pertanyaan tantangan dari Hanz. Dia seakan tidak menganggap apa yang kukatakan sebagai nilai dari jawaban yang dia cari.


"Apanya yang hanya itu? Informasi di sini sangat penting, kita ada di dunia buatan yang semua aturan dan cara kerjanya masih gak jelas. Saling tukar hasil pengalaman bisa mempercepat semuanya. Terus yang kedua, kita bisa atur tugas masing-masing. Hasil lebih cepat keluar dan tenaga lebih sedikit keluar. Ini menguntungkan, setidaknya kita gak bakal kerjain tugas yang sama kayak orang lain, buang kemungkinan kegiatan double."


Aku memberinya kalimat beruntun. Ketika dia mengabaikan seluruh kalimatku, rasa ingin menghujat muncul begitu hebat. Dia bersikap seolah tidak peduli, tapi aku hadir menjelaskan lebih lanjut terhadap alasan yang kusebutkan.


"Hmn ... kalau memang itu yang kau katakan. Maka jawabanku dan apa yang kukerjakan masih sama, tidak ada gunanya berhubungan dekat dengan orang-orang di sini," kata Hanz yang berkata monoton sambil menurunkan nada bicaranya seolah tidak tertarik.


"Tidak ada, mungkin memang benar apa yang kau ucapkan itu dan akan lebih menguntungkan jika saling bekerja sama."


"Terus? Kenapa?"


"Masalahnya, kau masih menyamakanku dengan orang-orang di sana. Kesalahan utama di percakapan ini adalah kau yang tidak mengerti latar belakangku sama sekali. Di telingaku, apa yang kau tawarkan itu tidak berharga."


Aku menyipitkan mata lagi, kembali tersulut kekesalan karena cara bicara dan kesombongan orang tersebut. Ini tidak bisa ditutupi, bahkan aku yang seharusnya tidak tergerak selain oleh gelombang emosi pun bisa terpercik api kemarahannya.


"Heh, jadi kamu gak mau keluar dari dunia ini, Hanz?" tanyaku yang kali ini lebih sinis dari sebelumnya.


"Apa yang kau tawarkan itu adalah jaminan dan kemudahan. Tapi, semua itu hanya berlaku untuk orang yang memang tidak punya kepercayaan diri. Tapi, sayangnya aku tidak demikian. Kalau kamu ada di keadaan tidak yakin, maka aku sebaliknya. Tanpa bantuan kalian, aku bisa keluar dari dunia ini sendirian."


"..."


Ah ... jadi begitu.


Hanz dalam kondisi terperangkap di jebakan yang menurut dia tidak berbahaya. Sedangkan aku dan semua pemain lain, berpikir kalau dunia ini bisa jadi akhir dari hidup. Hanz memandangku juga lebih bawah, dia tidak tertarik membuat sebuah jalinan yang tidak menguntungkan baginya. Ketika diajak kerja sama, dia hanya melihat keuntungan bagi pihak kami. Menurutnya kemenangan di dunia ini sangat mudah diraih.


"Kalau gitu, kamu gak punya niat buat bantu aku di sini?" tanyaku pada Hanz.


Menyerah dengan negosiasi, kali ini aku lebih memilih bergantung pada rasa emosional. Tidak perlu untung dan rugi, manusia masih bisa saling membantu dengan didasari perasaan kasih.


"Aku tidak keberatan untuk membantu kau, Kaivan. Tapi, jika kau memutuskan untuk membantu setiap pemain di sini, maka aku tidak dapat menyentuh keputusan kau. Memangnya, apa yang kau harapkan dari bantuanku sekarang?"


"Aku? Cuman aku?" ucap ulang mempertanyakan hal tersebut.


"Iya, untuk beberapa alasan hanya kau yang membuatku tertarik. Jika kau mau, aku bisa saja membunuh semua orang mencurigakan sisa dari pemain yang diduga palsu di permainan ini. Tapi, kau? Kau bahkan tidak membunuh gadis bernama Azarin itu sampai sekarang."


"..."

__ADS_1


Tanganku bergidik, dia mengatakan sesuatu yang mengerikan tapi juga logis secara bersamaan. Aku tidak membantah, tapi aku tidak bisa menerimanya.


Memang benar, Azarin di dunia nyata itu sudah mati. Dari gelagat sikap dan ucapan Hanz sebelumnya, lelaki itu sepertinya sudah paham sejak lama.


Jalan pikir dari orang itu, orang yang mati tidak mungkin hidup lagi. Jadi, semua orang yang muncul berdasarkan orang yang sudah tiada bisa disimpulkan adalah pion. Kalaupun dia selamat di akhir game, bukankah aneh kalau dia bisa selamat di dunia nyata.


Aku paham itu, tapi aku tidak bisa mengangkat kapakku pada Azarin begitu saja. Walaupun dia sudah dikonfirmasi sudah mati oleh seluruh lingkunganku, tapi fakta kalau aku tidak melihat wajah terakhirnya juga kuat bilang dia masih hidup.


"Lihatlah, kau masih ragu untuk keputusan mudah seperti ini. Lalu, kenapa kau menginginkanku di pihakmu? Jika kau mau, bermainlah di dunia ini sepuasmu. Aku tidak akan mengganggu. Tapi, jangan harap aku akan membantu jika kau terus memelihara pikiran naif itu."


Hanz mulai berjalan, dia mendekat tapi bukan ke arahku. Di samping gedung penginapan, ada pompa air sistem jungkat jungkit sederhana. Di zamanku saja, baru kali ini aku melihat salah satunya yang masih berfungsi baik.


Lelaki pandangan kosong itu menggunakan alat tersebut, suara decitan besi pompa air jungkat-jungkit terdengar. Lalu, air yang memancar pun dia tampung dalam gembor alat penyiram manual.


"Apa gak ada cara lain? Selain membunuh?" tanyaku merendah memohon bantuan.


"Aku tidak akan bilang kalau hal itu tidak ada. Dari awal game, tidak ada aturan kalau orang yang ditunjuk pion harus dibunuh. Hanya saja, kau akan terus dihantui oleh pion itu oleh rencana pembunuhannya. Kau mengerti sampai di sini?"


"Jadi, cara tercepat cuman itu, iya."


"Tepat," jawab Hanz yang selesai mengambil air. Suara alirannya berhenti dan dia pun mulai berdiri kembali menuju tanaman untuk disiram. "Menurutku tidak ada yang salah, mereka juga mencoba membunuh, itu artinya mereka sudah siap menanggung risiko untuk dibunuh balik."


"Tapi, Azarin gak bunuh siapa pun sekarang," timpalku tidak menerima.


"Benarkah? Apa kau bisa yakin dengan semua itu?" tanya Hanz yang berhenti sesaat dari menyiram air dan menatap kuat padaku.


"..."


Tapi, aku kembali terdiam tidak bisa membalas lagi. Keyakinanku saja di sana masih setengah-setengah untuk membela gadis tersebut. Ini seperti aku sudah teracuni oleh perkataan Hanz. Ada di tengah-tengah keadaan tidak stabil tidak punya pendirian kuat.


"Sudah aku duga, Kaivan. Kau masih seperti ini," ucap lelaki itu dan mengendurkan atmosfer melanjutkan siraman airnya barusan.


Aku memang tidak punya dasar apa pun, aku di sini tidak dapat mencari siapa yang paling dipercaya. Ketika Hanz bilang 'membunuh semua orang yang mencurigakan', itu jelas dia bilang kalau orang yang diduganya seorang pion lebih dari satu.


*Ceklek


"Hn?"


Suara pintu terbuka, itu adalah pintu belakang gedung yang sebelumnya aku lewati dari arah dapur. Aku cukup terkaget, pasalnya suara tersebut menyadarkanku sesaat dari pikir panjang barusan.


"Hanz, mayatnya sudah selesai diteliti. Sekarang aku bisa lapor semua yang aku temukan."


Lalu, di balik pintu terbuka tersebut muncul seorang anak kecil. Dia adalah sosok yang sebelumnya ditugaskan Hanz membantu kami mengurusi mayat.


"Oke, bagus. Tapi, tunggu satu menit agar aku selesai. Katakan saja padaku nanti ketika sudah di dapur."


"Baiklah, aku akan menunggu di dalam."


*Ceklek


Tutup pintu kembali oleh anak tersebut.


Hanz diperlakukan oleh anak itu seperti orang penting, dia melapor layaknya seorang sekretaris pada atasannya, walaupun untuk beberapa alasan, aku merasakan janggal ketika anak kecil memanggil orang dewasa dengan sebutan namanya langsung.


Hn?


Tunggu, apa percakapan ini tentang informasi?


Aku barusan menyerah untuk mengambil kerja sama dengan Hanz. Tapi, jika saling berbagi informasi, seharusnya hal ini masih memungkinkan.


 


 

__ADS_1


__ADS_2