Pencicip Emosi

Pencicip Emosi
Arc 4 New Stage : Chapter 20 - Mulai Maju Dan Berangkat Secepatnya


__ADS_3

Aku tidak tahu apa yang melanda kak Dina, dia tidak memberiku sedikit penjelasan agar aku bisa mengerti penderitaannya. Tapi, bukan berarti aku sepenuhnya tidak sadar.


Tentu dengan kemampuan deteksi emosi, aku masih bisa merasakan apa yang menekan hatinya, apa yang dia rasakan di detik-detik dia berhadapan denganku. Perputaran atas kejanggalan rasa takut dan panik mengumpul jelas di mulutku. Itu sebabnya, aku tetap membantunya walau tidak diberi kejelasan.


Aku mungkin bilang kalau memberi uang butuh alasan. Layaknya orang tua yang dimintai uang besar oleh anaknya, tentu orang tua akan bertanya tujuan anaknya meminta. Sebuah atasan yang sedang mendapati permintaan uang besar dari bawahan, tentu dia juga akan bertanya tujuan uang tersebut. Bahkan, dalam keluarga, seseorang yang dalam masalah pun akan ditanya untuk apa uang itu digunakan nanti.


Tidak salah, dan memang masuk akal. Ketika seseorang diminta uang dan ditanya untuk apa, dia sedang memastikan kalau uang yang dia berikan pergi ke arah yang benar. Memberi uang pada orang dengan pribadi sampah suka foya-foya tentu akan mengesalkan.


Namun, kali ini berbeda, aku memandang kak Dina kala itu tidak demikian.


Dia sedang dalam masalah unik. Dari bahasa, tekan suara, ekspresi, dan tentu gelombang emosi, semua dapat tergambar jelas. Di titik tersebut, aku sadar kalau masalah yang dia hadapi sudah pada tingkat si masalah melarang dia untuk bicara.


Layaknya memberi pada seorang pengemis, aku tidak perlu tahu latar belakang dia sebagai pengemis. Jika aku mau memberi, aku akan memberi, walaupun sedikit kasar jika aku melambangkan kasus ini sebagai pengemis.


“Hmn ....”


Dari tadi aku merenung, selalu terlintas lewat warna lampu-lampu kuning di mata. Secara konstan, maupun terkadang terhenti tiba-tiba.


Malam sendiri seharusnya gelap, cahaya bulang tidak mampu menerangi setiap sudut permukaan bumi. Jadi, sumber cahaya yang kudapat berasal dari lampu, tiang lampu dengan cahaya kekuningan yang berjejer sepanjang jalan raya.


Iya, benar, aku ada di jalan raya. Tepatnya di dalam bus angkutan umum bersandar di jendela melihat renung ke arah jalan raya.


Di sampingku, atau lebih tepatnya di samping seberang tempat dudukku ada Amalia. Dia duduk di sana memberi jarak saling memojokkan diri. Mungkin sebagai insting, atau rasa malu, atau mungkin hanya karena memang disuguhi kesempatan keadaan bus malam yang kosong, kami tidak duduk berdekatan sekarang.


Kami sekarang ada di jam yang lowong, tidak terlalu malam tapi sudah lewat masa aktif untuk bisa menikmati kosongnya kendaraan umum. Jika ditanya ke mana arah kami pergi, tentu saja jawabannya adalah tempat sumber gelombang sihir yang dikatakan Pero.


Keberangkatan kami hanya berjarak sekitar satu jam setelah kak Dina keluar dari rumahku. Setelahnya aku, Amalia, dan Pero memutuskan untuk menyegerakan berangkat ke tempat terkait. Dengan sedikit persiapan dan makan malam singkat dari suguh instanku, kami pun sekarang sudah ada di setengah perjalanan.


Hubungan sosialku belakangan ini sedang dalam keadaan yang aneh. Amalia, Imarine, dan kak Dina, semua orang di sana belakangan ini sedikit dingin padaku. Aku dan dengan setiap perempuan itu seperti terhalang oleh dinding—walaupun aku masih tidak tahu dinding apa yang terbentuk di sana.


Imarine seperti memarahiku akan suatu hal, tapi dia sangat yakin kalau dia tidak marah secara pribadi. Isi kalimatnya seakan bilang kalau dia kesal karena aku mengira dia sedang kesal. Tanpa bisa memperbaiki atau setidaknya mendapat kejelasan tentang kesalahanku, kami berdua belum bertemu lagi.


Amalia juga sedikit aneh. Belakangan ini aku tidak mengerti apa yang dia pikirkan, dia seperti melekat padaku untuk alasan yang tidak jelas. Jika aku menyimpulkan dia ingin memanfaatkan kemampuanku untuk mengumpulkan mana, hal itu terasa kontra dengan kekhawatirannya selama ini. Ketika ada orang yang membusung dada bersedia payudaranya disentuh, aku hanya bisa memiringkan alis kebingungan.


Lalu, kak Dina, kali ini juga ada di posisi yang rentan. Hubungan saudara kami belum pernah sampai separah ini, tamparan dan sentaknya kala itu benar-benar sakit menusuk. Biarpun begitu, pertemuan kami di rumah kala itu sedikit normal, entah kenapa aku dan dia punya kebiasaan untuk melupakan masalah ketika bertengkar sementara.


Ini seperti waktu kosong, ketika kak Dina marah, dia akan menjauh untuk melupakan sesaat kemarahannya hingga sampai satu waktu aman kami bertemu dengan wajah baru. Bukan karena kami lupa dengan masalah, tapi kami berusaha bersikap profesional mengingat kami tinggal di rumah yang sama. Walaupun dia bersikap biasa, gelombang emosinya masih bergejolak. Walaupun kami terlihat tidak canggung, tapi sebenarnya kedua dari kami sedang menahannya bersama.


Huft ... hah ....


Rasanya pegal juga diam di satu posisi. Jadi, sesambil bernapas panjang, aku pun mengubah posisi duduk dari bersandar ke jendela menjadi tegak menghadap ke depan.


*Stare~


“Hn?”


Aku merasakannya, sebuah pandangan dan insting di mana otakku merasakan sedang diawasi. Itu adalah kemampuan umum, beberapa artikel yang kubaca memang mengucap kalau manusia memang punya kemampuan tersebut.


Suasana bus sudah sepi, satu-satunya hawa keberadaan yang kutahu hanya ada di seberang samping. Jadi ....


*Glance

__ADS_1


“...!?”


Aku melirik ke arah Amalia, menggerakkan leher bersama arah pandang tepat menuju gadis tersebut.


“...”


“...”


Biarpun begitu, apa yang kulihat sekarang adalah Amalia yang sedang menghindari tatapan.


Aku bisa merasakannya, gelombang emosinya sesaat bergerak tepat ketika aku ingin berbalik, kejut ringan di mana dia sedikit panik ingin ketahuan. Malah, aku masih berpikir betapa bodohnya dia masih menyembunyikan hal tersebut dariku.


Gadis itu duduk dengan punggung tegak lurus, mengarahkan mata sejajar dengan pandanganku agar tidak bertatapan, dan berlagak sedikit kikuk menaruh dua tangan di atas paha.


Aku tidak mengerti dengan Amalia, dia berbeda dengan perempuan biasanya yang sangat pandai berbohong. Gadis ini seakan masih kecil dan tidak berguna dalam berbagai hal karena sifat ketidakdewasaannya tersebut.


Halo, Kaivan, apa kamu dengar?


“Hn?”


Sebuah panggilan telepati, berdengung di dalam kepalaku langsung.


Tentu itu berasal dari Pero. Berbeda dengan hari itu yang dia berada di dalam sangkar burung, kali ini siluman gagak tersebut dibawa dan ditaruh di dalam tas gendong yang dibawa Amalia. Keterbatasan persiapan akan waktu dan efisiensi membuat dia perlu berkorban untuk dibawa layaknya benda mati.


“Ada apa?” ucapku sedikit berbisik ke arah tembok agar tidak berisik.


Aku tidak tahu di mana arahmu sekarang, tapi aku ingin memintamu agar Amalia mengatur kembali posisi tasnya. Kamu tahu, sayapku sedikit bengkok dan dudukanku tertekan. Jadi, kumohon, bisa-bisa aku pingsan di sini.


Aku melihat ke arah Amalia lagi, tepatnya pada tas yang dibawa di mana di dalamnya terdapat Pero dalam bentuk burung gagak. Ukuran tas tersebut termasuk dalam kecil, jika dibandingkan dengan sangkar burung, tentu umumnya dia sedang terjepit sekarang.


Apa boleh buat.


“Woi, Amalia,” panggilku dengan suara rendah mengunci pandangan ke arahnya.


“...?”


*Pat ....


Aku menepuk halus sisi kiri dari kursi sebelah sambil berkata, “Duduk di sini, jangan jauh-jauh dariku.”


“...?”


Amalia tentu merespons, dia melihatku dan memandang sesaat, memiringkan kepala sambil membuat ekspresi keraguan. Tapi, pada akhirnya dia juga memutuskan untuk menurut, mengangkat pantat dari tempat duduk itu dan berpindah tepat di sampingku.


Aku tidak melihat alasan dia harus menjauhiku sekarang. Tapi, dari awal aku juga memang tidak terlalu dekat dengan gadis tersebut secara personal, jadi memang mungkin ini adalah hubungan yang normal.


Jalan bus ini terasa lancar, tidak ada perubahan kecepatan hingga kondisi di dalam bus pun stabil. Jadi, Amalia juga dengan lancar bisa berpindah. Walaupun gelombang emosi darinya yang pekat membuatku kesal, tapi bukan berarti itu adalah alasan memperlakukan dia buruk.


“Amalia, buka saja tas itu biar Pero keluar,” kataku menunjuk tas Amalia yang sedang ditaruh di pangku pahanya.


Awalnya Amalia merespons lambat, dia masih bertanya untuk apa aku memerintahkannya begitu. Tapi, di sisi lain dia juga mulai mengerti, keadaan bus yang sepi masih memungkinkan untuk mengeluarkan Pero tanpa ada yang melihat.

__ADS_1


Tidak lama setelah resleting dibuka, keluarlah segera burung gagak tersebut. Dia berjalan dengan merayap menuju pahaku sambil mengepak lemas kedua sayapnya. Melihatnya saja, aku sudah tahu kalau burung tersebut sedang kehabisan tenaga.


Ah ... akhirnya bebas.


Ucap Pero yang sebenarnya hanya terdengar olehku.


“Kamu tahu, dari awal aku gak pernah usulin kamu buat masuk ke tas kayak gini. Selama kamu jadi burung baik yang damai, cuman bertengger di pundak dan gak ganggu, orang juga gak bakal peduli,” kataku yang menyambut Pero di pangkuan paha.


Aku pernah berkunjung ke daerah pemukiman yang masih bernuansa pedesaan, di sana tidak jarang ada orang yang membawa ayamnya ke dalam angkutan umum. Di satu sisi, aku pernah melihat beberapa pemandangan kalau penumpang dengan santai membawa kucing atau anjing peliharaannya. Itu artinya, selama tidak merepotkan orang lain, hal tersebut adalah wajar.


Itu mungkin pendapatmu. Tapi, aku adalah burung gagak. Gambaran orang tentangku sebagai hewan pertanda sial cukup membuat trauma.


“Gagak pertanda sial itu gosip lama waktu zaman orang belum banyak kenal teknologi. Lagian, satu gagak muncul di mata gak bikin seram, kalau kamu datang bersama semua koloni baru bisa bikin cerita lain.”


Biarpun begitu, aku ingin bisa mengurangi kontak pandang dengan mereka.


“Heh, kamu bilang gitu sambil bertengger istirahat di paha. Ujung-ujungnya juga gak ada yang mau masuk pengap di dalam tas.”


Aku tidak tahu rasanya dikurung dalam tempat sempit yang gelap dan tidak stabil, dan di saat yang sama aku juga tidak ingin mengalaminya. Mungkin aku suka tempat sempit seperti kamar yang bisa membuatku tenang, tapi tempat sempit tersebut akan nyaman jika cukup besar untukku melakukan pergerakan dasar.


Pero terhuyung-huyung berjalan menggunakan cekernya. Cukup unik melihat burung dalam kondisi tersebut. Tapi, aku tahu dia sedang kelelahan menahan rasa letih akibat ditaruh di dalam tas. Jadi, ketika dia menjatuhkan tubuhnya di paha, aku secara refleks mengusap kepala dan memijat beberapa sayapnya sebagai pelayanan relaksasi.


*Touch, touch ....


“Hn?”


Di saat aku sedang asyik membelai-belai bulu burung gagak tersebut, terasa sensasi sentuhan lembut dari samping. Itu adalah Amalia, dan dengan cepat aku pun menoleh padanya.


“...”


“...”


Mata kami bertatapan sejenak, tapi tentu dia tidak bisa membalas dengan suara.


“Ada apa?” tanyaku yang mengendurkan ekspresi.


“...”


“Hn?”


Gadis itu pun memberi catatan padaku, layaknya cara biasa dia berkomunikasi denganku. Tapi, berbeda dengan biasanya di mana dia memampangkan catatan ke muka, kali ini dia lebih halus dengan menggeser catatan sejajar perut layaknya teman sebangku yang memberikan contekan.


Kaivan, kamu bisa bahasa burung? Kenapa kamu bisa ngobrol sama Pero waktu dia jadi burung gagak?


Tulisnya di catatan.


Ah ... iya, ternyata informasi ini masih baru baginya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2